
“Hahaha, iya – iya, bisa jadi gitu. Leo sama Arnold itu sama – sama anak bungsu, Ra. Mungkin karena itu mereka masih belom bisa dewasa.”
“Manja?”
“Hm. Manja dan beruntungnya lagi mereka berasal dari keluraga yang kaya,” ujar Rayan, “Baik Leo ataupun Arnold punya aset masing – masing, mau mereka lulus cepet atau lama, ya tetep aja nggak mempengaruhi masa depan mereka, toh perusahaan bokap mereka bakal jatuh ke tangan mereka,” jelas Rayan.
“Oh, gitu..” Yura membalas dengan anggukan singkat, “Terus lo sendiri? Kok tiba – tiba mau berubah haluan gitu?” tanyanya penasaran.
“Gue iri aja sama temen – temen gue yang lain, seusia gue sekarang mereka udah kerja, udah mandiri, udah punya keluarga, dan kayaknya bahagia gitu, lah gue? Gue kerja aja belom, uang jajan aja masih mintak sama bokap. Beda juga sama kalian di kelas karyawan, yang bisa kuliah sambil kerja, bisa bayar kuliah pakek hasil keringet sendiri,” teranga Rayan, “Lo juga..”
“Hah? Gue?” tanya Yura kaget.
“Iya, bukannya lo kerja? Penulis kan? Gue sering baca hasil tulisan lo,” kata Rayan jujur.
“Serius lo? Wah malu banget gue..” kata Yura kikuk.
“Kenapa malu? Keren – keren kok tulisan lo, gue suka.”
“Thanks. Tapi penulis bukan pekerjaan sih, Yan. Ya mungkin untuk sebagian orang, makanya gue kaget waktu lo bilang penulis itu pekerjaan.”
“Loh kenapa? Itu menghasilkan, kan?”
“Iya sih, gue setuju sama lo, tapi bagi kebanyakan orang penulis itu Cuma sebatas hobi yang di pandang orang sebelah mata. Beda banget sama orang – orang yang status pekerjaannya di akui, pakek jas, berdasi, dandanan rapi, berpenghasilan tetap tiap bulan, belum lagi jenjang karir yang meyakinkan. Lah penulis? Kita mah Cuma pakek baju santai, duduk sembarangan di rumah, rambut di cepol, udah gitu aja.”
“Tapi tetep cantik kok..” gumam Rayan.
“Hah? Lo bilang apa tadi?”
“Hah? Nggak.. m-maksud gue..
Drrrttt..Drrrttt..
“Eh bentar, HP gue bunyi,” Rayan melihat ponselnya, di layarnya tertera nama Leo, “Ya bro? Gue di perpustakaan, oh oke, bentar lagi gue kesana.”
“Em, Ra?”
“Ya?” sahut Yura yang sekarang sibuk dengan buku novelnya.
“Gue cabut ya, thanks banget loh udah mau bantuin gue,” ucap Rayan.
Yura menutup novelnya dan beralih menatap Rayan, “Sama – sama, semangat kakak, semoga sukses ya skripsinya,” ujarnya sambil tersenyum manis dan hangat.
DEG. Jantung Rayan dibuat gusar saat melihat senyum itu. Cantik batinnya.
“M-makasih,”Rayan mencoba menutupi kegugupannya, “Nanti kapan – kapan lo mau kan bantuin gue lagi?” tanyanya hati – hati.
“Hm?”
“Oh, kalo nggak mau gapapa sih, hahaha, gue bercanda aja kok.”
__ADS_1
“Boleh kok, tapi lain kali ada upahnya, minimal lo beliin gue buku atau traktir makan gitu.. hehehe,” sahut Yura masih dengan senyum manisnya.
Senyum Rayan merekah mendengar ucapan Yura, sebenarnya gadis ini memang telah lama mencuri perhatian Rayan, sosoknya yang periang dan bisa berteman dengan siapasaja membuat Rayan tertarik, belum lagi parasnya yang cantik dan manis itu. Tapi baru hari ini dirinya bisa benar – benar sedekat ini dengan Yura, beberapa
kali kesempatan ia lewatkan begitu saja, karena takut Yura tidak akan meresponnya.
“Siap! Oke, gue cabut dulu ya, bye.”
“bye..”
Yura merapikan buku – buku yang ia ambil tadi, menyusunnya kembali ke tempat asalnya. Rayan hanya mengambil dua buku yang dirasanya cocok untuk bahan skripsinya.
“Ini perpustakaan bukan tempat nongkrong..”
Yura membalikkan badannya dan mendapati sosok Reinard yang sudah duduk di tempat Rayan tadi.
“Lo?”
“Kalian nggak ngerti maksud tanda di dinding itu?” tanya Reinard sinis, “Kok ngobrol di perpustakaan..”
“Sejak kapan lo disini?” tanya Yura tak sabaran.
“Ya mungkin gue denger kalian ngomongin apa tadi,” jawabnya acuh tanpa beban.
“Cih. Bukan urusan lo! Suka – suka gue dong mau ngobrol dimana, nggak perlu ijin lo juga. Besok – besok gue pasang tulisan gede noh di depan perpustakaan, DILARANG NGUPING!”
“Ohh.. Pak dosen lagi baca buku ya? Oh, jangan – jangan bener kata Leo, lo dosen jadi – jadian ya? Gadungan kan lo? Ngaku nggak?!” cerocos Yura.
Reinard mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar ucapan Yura, gadis ini benar – benar membuatnya tersudut.
“Hhahah.. kenapa lo? Kok kicep gitu? Hahaha..” gelak Yura saat melihat ekspresi Reinard, “Bercanda kali, Pak. Saya percaya kok bapak dosen yang berkompeten. Ya.. mungkin terlalu muda, umur kita juga kayaknya Cuma beda beberapa tahun, tapi okelah..”
Reinard masih belum bisa berkata – kata, ia hanya diam mendengar ocehan Yura yang menurutnya terlalu luar biasa.
“Tapi, Pak..” Yura sengaja menggantung kalimatnya.
“Apa?” tanya Reinard yang di buat penasaran.
“Bapak nanya saya?” Yura balik bertanya.
“Hah? Ya.. iya, tapi apa?”
“Jawab jangan?”
“Yura Sabina!” Reinard benar – benar dibuat kebakaran jenggot oleh Yura. Belum pernah ada yang mengecohnya sampai seperti ini.
“Eh, bapak udah tahu aja nama lengkap saya. Saya seterkenal itu, ya?”
“Absen lo!” nada Reinard sedikit meninggi.
__ADS_1
“Hahaha, oh gitu. Santai aja kali. Gue Cuma mau bilang, lo jangan terlalu formal, santai ajalah, yang lo ajar ini mahasiswa bukan anak SMP atau SMA, belum lagi kayaknya banyak yang seumuran sama lo,” jelas Yura.
“Itu juga, pakaian lo dibawak santai aja kali, nggak usah kayak orang mau pergi hajatan gitu, kerenan dikit kenapa? Tampang lo mendukung kok, malah gue pikir lo lebih pantes jadi modelling ketimbang dosen, habisnya lo ganteng sih..”
Mata Reinard mengerjap beberapa kali mendengar celotehan Yura. Gadis ini sedikit aneh, batinya.
“Lo sehat?” tanya Reinard kemudian, “Sebegitu kerasnya kah benturan tadi?” katanya sambil memegangi dahi Yura.
“Nggak panas,” ujar Reinard setelah memastikan.
BUG!
“Aww.. Lo kenapa sih? Itu buku tebel banget, malah lo geprak ke kepala gue!”
“Siapa suruh lo pegang – pegang kepala gue? Hah?!” Bentak Yura tak terima dengan perlakuan dosennya itu, “Dasar om – om mesum!”
“A-apa? Lo bilang apa?”
“Udah mesum, tuli lagi, untung ganteng lo!” ledek Yura santai, “BYE! Gue mau keluar, bisa gila gue lama – lama ngeladenin lo!”
“Hah?” kali ini Reinard benar – benar di buat terperangah dengan ucapan Yura, matanya tak lepas dari punggung Yura yang pergi begitu saja, “Woi! Gue yang gila lama – lama, bukan lo! Dasar cewek aneh!”
“Hussssttt!!”
Reinard refleks memelankan suaranya, ketika wanita paruh baya mendekatinya dan merapikan beberapa buku yang tergeletak di atas meja.
“Jangan teriak – teriak, ini perpustakaan,” ujar beliau. Reinard meyakini bahwa wanita dihadapannya ini adalah penjaga perpustakaan.
“Maaf, bu..”
“Ini kayaknya punya Yura..” kata wanita itu lagi, “Tolong kasih ke dia ya, Nak..” pintanya sambil memberikan sebuah buku agenda dengan sampul berwarna salem.
“Oh, i-iya bu..”
“Yura sering sekali kemari, hampir setiap hari malah, dia gadis baik..” ujar beliau, “Anak itu benar – benar periang dan ramah, dia juga suka bantu – bantu ibu di sini.”
“Oh..” Reinard hanya membulatkan mulutnya, ia sedikit tak percaya gadis ajaib bernama Yura itu bisa semenarik itu di mata orang lain.
“Hahaha, ibu memang sudah ndak muda lagi, tapi awas lo, jangan kelewat jengkel sama orang, nanti kalo dia mendadak hilang malah kamu cariin..”
Reinard menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan wanita itu, “Kalo gitu saya permisi dulu, bu.. Sekalian mau ngembaliin ini juga ke dia,” pamit Reinard.
“Bukan di kelas ya, cah bagus..”
“Hah?”
Wanita itu tersenyum hangat, “Yura sudah di rooftop, pasti disana.”
***
__ADS_1