
“Hari ini genap setelah kepergianmu karena keputusanku. Tanggal ini terus berulang dan karena itu juga
aku membencinya. Kamu dan semua kenangan itu menyisakan tangis yang teramat
dalam, hingga membekas luka tanpa darah. Aku mencoba sekuat tenaga melumpuhkan
semuanya sebisaku, tapi sia – sia yang aku dapati. Hal yang sulit, teramat
sulit. Entah sampai kapan akan bergulir, yang aku tahu adalah semua yang
terjadi itu benar adanya dan nyata.
-Yura’S-
“Yura!” Panggil seseorang.
“Hai, Andreas,” sapanya. “Udah balik lo? Gimana? Enak dong liburan...”
Andreas mengambil posisi duduk disampingnya, dengan senyum ramahnya dia mulai bercerita pada Yura tentang
kegiatan yang ia lakukan seminggu yang lalu.
Andreas Mataulhi, begitu nama lengkapnya. Teman satu kampus Yura ini menyandang status
sebagai Reporter di salah satu stasiun televisi. Dia mengambil jurusan yang
sama dengan Yura, Fakultas Ilmu Komunikasi. Andreas termasuk dalam kategori
mahasiswa yang populer, beragam kegiatan yang berhubungan dengan bidang
komunikasi semua ia ikuti, terlebih lagi
penampilannya yang terbilang cukup keren menjadi penunjang kepopulerannya di
mata kebanyakan mahasiswi dan juga dosen.
“Woahh... Keren! Kapan – kapan boleh dong gue ikut,” seru Yura setelah mendengar cerita
Andreas.
“Hahaha... Lumayankan, sambil kerja sekalian liburan. Yang paling penting.. G-R-A-T-I-S!”
“Yeee... Dasar! Mata gratisan tuh begini,” ledek Yura. “Terus oleh – oleh gue mana?”
“Ada.”
“Ya mana? Tangan lo kosong.”
“Di apartement gue. Nanti pulang dari sini lo ikut gue aja, buat ambil oleh –
olehnya. Lagian nggak enak kalo gue bawak – bawak ke kampus, barang Cuma
dikit,” ujarnya.
“Ah modus lo! Bilang aja lo mau minta bantuin beres – beres apartement,” tebak
Yura. “Iya, kan? Ngaku nggak lo!”
“Hahahah... Lo tu emang temen gue banget dah,” Andreas malah tertawa lepas. “Tolong sih, lo
kan tahu gue tinggal sendiri.”
“Huh!”
Ini yang membuat Andreas terlihat sangat menyebalkan di matanya. Kalau bicara soal
penampilan dan gaya, bahkan kerapiannya berpakaian Andreas patut mendapat
bintang sempurna. Tapi itu semua berbanding terbalik dengan sifat malas dan
suka menunda – menunda pekerjaan rumah. Yura ingat saat pertama kali berkunjung
ke apartement milik Andreas, keadaannya bak kapal yang sudah tersapu ombak dan
berubah menjadi puing – puing.
“Ya? Please,” pintanya.
“Iya! Tapi awas kalo oleh – oleh gue Cuma sedikit, gue obrak – abrik apartement lo!”
__ADS_1
“Hahaha... Iya – iya. Iya udah yuk masuk! Dosen bentar lagi dateng,” ajaknya.
“Lo aja dulu, nanti gue nyusul.”
“Mau ngapain lagi sih, Ra?”
“Bawel! Duluan aja sono! Mau ke kantin bentar, beli minum,” Yura beranjak meninggalkan
Andreas.
Andreas hanya tersenyum memperhatikan punggung Yura yang perlahan menjauh. Jika gadis
lain mungkin sudah mendadak jaim di
depannya, mencoba mencari perhatian, berusaha selembut dan se-feminim mungkin.
Tapi tidak dengan Yura, ia berperilaku seadanya dan apa adanya. Baginya Yura
berbeda. Tidak heran jika Yura mempunyai banyak teman, caranya memperlakukan
orang mampu membuat siapapun itu nyaman.
Sering kali Andreas menasehati Yura agar sedikit berperilaku anggun dan tenang, karena
dia tahu Yura sudah lama vakum di bidang asmara, gadis manis itu sudah
menyandang status lajang cukup lama. Banyak laki – laki yang tertarik padanya,
tapi sayangnya sikap cuek, ceroboh dan pecicilan Yura seolah menutupi
kecantikannya. Yura bahkan sering berkelit dan merapelkan semboyan yang ia buat
sendiri. Katanya, orang yang bener – bener tulus tidak akan pernah
mempermasalahkan sifat buruk atau baiknya seseorang, tidak mengintimidasi
kelemahan, bahkan menyudutkanya. Baginya tidak ada satupun orang di dunia ini
yang sempurna.
“Semua orang itu punya kelemahan, punya kekurangan! Nggak ada yang sempurna, justru yang bener itu saling
menyempurnakan. Menyatukan kekurangan untuk mencapai kesempurnaan! Bukan malah
lemah yang punya pemikiran kayak gitu!”
“Hem,” Andreas tersenyum mengingat kalimat yang sering kali di ucapkan Yura. “Mungkin
lo bener, nggak ada yang sempurna, yang ada itu saling menyempurnakan,” guman
Andreas.
“Selamat bergabung, Reinard!”
“Ya! Sepertinya ini akan terlihat membosankan.”
Ruangan yang cukup luas dan mewah untuk satu orang, ada beragam benda berharga dan
beberapa seni bernilai yang di pajang di dalamnya. Meja kerja yang cukup
elegant juga tersusun disana, sofa yang mungkin di gandrungi dengan harga
puluhan juta juga tak luput dari sisi ruang yang lain.
Julius Caesar sedang duduk di kursinya, bersandar dengan santai, tapi tetap dengan
kewibawaannya. Matanya memandang tajam ke arah taman yang di desain di belakang
ruangannya, melalui dinding kaca itu ia bisa melihat jelas keindahan taman yang
ia tata sendiri.
Sementara itu di sofa duduk seorang laki – laki yang tampak tak acuh dan terkesan cuek.
Menyandarkan tubuh di sofa dengan kaki di angkat naik ke atas meja.
“Ya! Jika sudah tidak ada lagi yang mau di bicarakan, saya permisi!”
__ADS_1
“Reinard Putra..!” Panggil Julius dengan lantang.
“..Caesar! Tolong jangan lupakan lanjutannya, Bapak Julius Caesar yang terhormat!” Gigi
Reinard beradu menahan geram, rasanya ingin sekali ia melayangkan pukulan pada
orang di balik kursi itu.
“Dimana etikamu saat berhadapan dengan orang yang lebih tua darimu?”
“Hem,” Reinard menyungingkan senyum. “Maaf, pak. Saya permisi, kelas saya sudah harus
di mulai.”
12 tahun yang lalu...
“Aku ini anak ayah! Lalu kenapa?!” Tanya Julis dengan nada marah yang tinggi.
“Turunkan nada bicaramu, Julius!”
“Arrrgghhh! Ayah selalu pilih kasih! Bahkan setelah orang itu sudah tidak lagi di dunia ini
ayah masih saja memihaknya!”
PLAK! Sebuah tamparan keras tepat mengenai rahang pipi Julius.
“Jangan lupakan batasanmu, Julius!”
“Hah!”
“Dia itu kakakmu! Belum ada satu hari kita berkabung dan kau sudah membahas ini? Dimana
etikamu?!”
“Dia kakakku, ha ha ha... Ya, dia kakakku. Kakak hasil dari hubungan gelapmu, ayah!”
PLAK!
“Keluar kamu!” Perintah Caesar Altheir pada putranya itu.
Julius melangkah dengan penuh amarah, giginya saling bergemelutuk menahan emosinya
yang sekarang kian membara.
“Ingat baik – baik, Julius!”
Julius mendadak menghentikan langkahnya.
“Armor memang sudah tiada, tapi kau juga tahu seperti apa hukum dan adat yang berlaku
pada keluarga kita. Armor memiliki anak laki – laki dan sudah semestinya ini
menjadi haknya,” terang Caesar.
Julius berbalik arah dan menatap berang kepada ayahnya. “Tapi dia masih terlalu kecil
ayah! Bocah 12 tahun itu mungkin masih mengigau ketika sakit,” sanggahnya.
“Ayah berharap terlalu besar padanya.”
“Ya. Untuk kali ini kau benar... Reinard masih terlalu kecil, tapi yang sudah
menjadi haknya tidak bisa di ganggu gugat!” katanya tegas.
“Tapi, ayah..”
Caesar Atheir mengangkat telapak tangannya sebagai tanda bahwa ia tidak menerima
protes barang satu huruf pun. “Sudah aku bilang cukup, Julius! Reinard akan
tumbuh dewasa cepat atau lambat, mungkin untuk sekarang ia hanya perlu banyak
belajar.”
“Baik! Jika itu yang ayah katakan,” Ucapnya. “Karena ayah bilang ia masih harus banyak
belajar, maka selama ia belajar wewenang itu akan jatuh kepadaku, sampai ia di
rasa cukup pantas untuk menjadi pewaris...”
__ADS_1
Hening. Situasi perdebatan antara ayah dan anak itu mendadak hening, beranjak menjadi sebuah kebisuan yang dingin.
. . .