Yura Sabina

Yura Sabina
Episode 2


__ADS_3

“Hari ini genap setelah kepergianmu karena keputusanku. Tanggal ini terus berulang dan karena itu juga


aku membencinya. Kamu dan semua kenangan itu menyisakan tangis yang teramat


dalam, hingga membekas luka tanpa darah. Aku mencoba sekuat tenaga melumpuhkan


semuanya sebisaku, tapi sia – sia yang aku dapati. Hal yang sulit, teramat


sulit. Entah sampai kapan akan bergulir, yang aku tahu adalah semua yang


terjadi itu benar adanya dan nyata.


-Yura’S-


“Yura!” Panggil seseorang.


“Hai, Andreas,” sapanya. “Udah balik lo? Gimana? Enak dong liburan...”


Andreas mengambil posisi duduk disampingnya, dengan senyum  ramahnya dia mulai bercerita pada Yura tentang


kegiatan yang ia lakukan seminggu yang lalu.


Andreas Mataulhi, begitu nama lengkapnya. Teman satu kampus Yura ini menyandang status


sebagai Reporter di salah satu stasiun televisi. Dia mengambil jurusan yang


sama dengan Yura, Fakultas Ilmu Komunikasi. Andreas termasuk dalam kategori


mahasiswa yang populer, beragam kegiatan yang berhubungan dengan bidang


komunikasi semua ia ikuti, terlebih  lagi


penampilannya yang terbilang cukup keren menjadi penunjang kepopulerannya di


mata kebanyakan mahasiswi dan juga dosen.


“Woahh... Keren! Kapan – kapan boleh dong gue ikut,” seru Yura setelah mendengar cerita


Andreas.


“Hahaha... Lumayankan, sambil kerja sekalian liburan. Yang paling penting.. G-R-A-T-I-S!”


“Yeee... Dasar! Mata gratisan tuh begini,” ledek Yura. “Terus oleh – oleh gue mana?”


“Ada.”


“Ya mana? Tangan lo kosong.”


“Di apartement gue. Nanti pulang dari sini lo ikut gue aja, buat ambil oleh –


olehnya. Lagian nggak enak kalo gue bawak – bawak ke kampus, barang Cuma


dikit,” ujarnya.


“Ah modus lo! Bilang aja lo mau minta bantuin beres – beres apartement,” tebak


Yura. “Iya, kan? Ngaku nggak lo!”


“Hahahah... Lo tu emang temen gue banget dah,” Andreas malah tertawa lepas. “Tolong sih, lo


kan tahu gue tinggal sendiri.”


“Huh!”


Ini yang membuat Andreas terlihat sangat menyebalkan di matanya. Kalau bicara soal


penampilan dan gaya, bahkan kerapiannya berpakaian Andreas patut mendapat


bintang sempurna. Tapi itu semua berbanding terbalik dengan sifat malas dan


suka menunda – menunda pekerjaan rumah. Yura ingat saat pertama kali berkunjung


ke apartement milik Andreas, keadaannya bak kapal yang sudah tersapu ombak dan


berubah menjadi puing – puing.


“Ya? Please,” pintanya.


“Iya! Tapi awas kalo oleh – oleh gue Cuma sedikit, gue obrak – abrik apartement lo!”

__ADS_1


“Hahaha... Iya – iya. Iya udah yuk masuk! Dosen bentar lagi dateng,” ajaknya.


“Lo aja dulu, nanti gue nyusul.”


“Mau ngapain lagi sih, Ra?”


“Bawel! Duluan aja sono! Mau ke kantin bentar, beli minum,” Yura beranjak meninggalkan


Andreas.


Andreas hanya tersenyum memperhatikan punggung Yura yang perlahan menjauh. Jika gadis


lain mungkin sudah mendadak  jaim di


depannya, mencoba mencari perhatian, berusaha selembut dan se-feminim mungkin.


Tapi tidak dengan Yura, ia berperilaku seadanya dan apa adanya. Baginya Yura


berbeda. Tidak heran jika Yura mempunyai banyak teman, caranya memperlakukan


orang mampu membuat siapapun itu nyaman.


Sering kali Andreas menasehati Yura agar sedikit berperilaku anggun dan tenang, karena


dia tahu Yura sudah lama vakum di bidang asmara, gadis manis itu sudah


menyandang status lajang cukup lama. Banyak laki – laki yang tertarik padanya,


tapi sayangnya sikap cuek, ceroboh dan pecicilan Yura seolah menutupi


kecantikannya. Yura bahkan sering berkelit dan merapelkan semboyan yang ia buat


sendiri. Katanya, orang yang bener – bener tulus tidak akan pernah


mempermasalahkan sifat buruk atau baiknya seseorang, tidak mengintimidasi


kelemahan, bahkan menyudutkanya. Baginya tidak ada satupun orang di dunia ini


yang sempurna.


“Semua orang itu punya kelemahan, punya kekurangan! Nggak ada yang sempurna, justru yang bener itu saling


menyempurnakan. Menyatukan kekurangan untuk mencapai kesempurnaan! Bukan malah


lemah yang punya pemikiran kayak gitu!”


“Hem,” Andreas tersenyum mengingat kalimat yang sering kali di ucapkan Yura. “Mungkin


lo bener, nggak ada yang sempurna, yang ada itu saling menyempurnakan,” guman


Andreas.


 


“Selamat bergabung, Reinard!”


“Ya! Sepertinya ini akan terlihat membosankan.”


Ruangan yang cukup luas dan mewah untuk satu orang, ada beragam benda berharga dan


beberapa seni bernilai yang di pajang di dalamnya. Meja kerja yang cukup


elegant juga tersusun disana, sofa yang mungkin di gandrungi dengan harga


puluhan juta juga tak luput dari sisi ruang yang lain.


Julius Caesar sedang duduk di kursinya, bersandar dengan santai, tapi tetap dengan


kewibawaannya. Matanya memandang tajam ke arah taman yang di desain di belakang


ruangannya, melalui dinding kaca itu ia bisa melihat jelas keindahan taman yang


ia tata sendiri.


Sementara itu di sofa duduk seorang laki – laki yang tampak tak acuh dan terkesan cuek.


Menyandarkan tubuh di sofa dengan kaki di angkat naik ke atas meja.


“Ya! Jika sudah tidak ada lagi yang mau di bicarakan, saya permisi!”

__ADS_1


“Reinard Putra..!” Panggil Julius dengan lantang.


“..Caesar! Tolong jangan lupakan lanjutannya, Bapak Julius Caesar yang terhormat!” Gigi


Reinard beradu menahan geram, rasanya ingin sekali ia melayangkan pukulan pada


orang di balik kursi itu.


“Dimana etikamu saat berhadapan dengan orang yang lebih tua darimu?”


“Hem,” Reinard menyungingkan senyum. “Maaf, pak. Saya permisi, kelas saya sudah harus


di mulai.”


12 tahun yang lalu...


“Aku ini anak ayah! Lalu kenapa?!” Tanya Julis dengan nada marah yang tinggi.


“Turunkan nada bicaramu, Julius!”


“Arrrgghhh! Ayah selalu pilih kasih! Bahkan setelah orang itu sudah tidak lagi di dunia ini


ayah masih saja memihaknya!”


PLAK! Sebuah tamparan keras tepat mengenai rahang pipi Julius.


“Jangan lupakan batasanmu, Julius!”


“Hah!”


“Dia itu kakakmu! Belum ada satu hari kita berkabung dan kau sudah membahas ini? Dimana


etikamu?!”


“Dia kakakku, ha ha ha... Ya, dia kakakku. Kakak hasil dari hubungan gelapmu, ayah!”


PLAK!


“Keluar kamu!” Perintah Caesar Altheir pada putranya itu.


Julius melangkah dengan penuh amarah, giginya saling bergemelutuk menahan emosinya


yang sekarang kian membara.


“Ingat baik – baik, Julius!”


Julius mendadak menghentikan langkahnya.


“Armor memang sudah tiada, tapi kau juga tahu seperti apa hukum dan adat yang berlaku


pada keluarga kita. Armor memiliki anak laki – laki dan sudah semestinya ini


menjadi haknya,” terang Caesar.


Julius berbalik arah dan menatap berang kepada ayahnya. “Tapi dia masih terlalu kecil


ayah! Bocah 12 tahun itu mungkin masih mengigau ketika sakit,” sanggahnya.


“Ayah berharap terlalu besar padanya.”


“Ya. Untuk kali ini kau benar... Reinard masih terlalu kecil, tapi yang sudah


menjadi haknya tidak bisa di ganggu gugat!” katanya tegas.


“Tapi, ayah..”


Caesar Atheir mengangkat telapak tangannya sebagai tanda bahwa ia tidak menerima


protes barang satu huruf pun. “Sudah aku bilang cukup, Julius! Reinard akan


tumbuh dewasa cepat atau lambat, mungkin untuk sekarang ia hanya perlu banyak


belajar.”


“Baik! Jika itu yang ayah katakan,” Ucapnya. “Karena ayah bilang ia masih harus banyak


belajar, maka selama ia belajar wewenang itu akan jatuh kepadaku, sampai ia di


rasa cukup pantas untuk menjadi pewaris...”

__ADS_1


Hening. Situasi perdebatan antara ayah dan anak itu mendadak hening, beranjak  menjadi sebuah kebisuan yang dingin.


. . .


__ADS_2