
DEG.
Reinard langsung melepas genggamannya, jantungnya menimbulkan respon aneh saat matanya dan mata Yura bertemu. Tadi itu apa? Tanyanya pada diri sendiri.
“Woi! Yaelah, gue nanya, lo ngapain nyamperin gue pagi – pagi gini?” ulang Yura, karena dosennya tidak memberikan respon sama sekali, “Kalo nggak ada kepentingan gue per-
“Temenin gue makan di kantin,” potong Reinard, “Ayo!” ajaknya.
“Hah?”
“Mau gue gandeng biar lo bisa jalan?”
“Gue nggak mau!” tolak Yura.
“Gue nggak nanya lo, mau atau nggak. Ini perintah!”
“Wah otak lo geser,” celetuk Yura, “Gue nggak ma-
Reinard meraih tangan Yura dan menggenggamnya erat, laki – laki itu benci penolakan. Ia menarik Yura perlahan dan membawanya ke area parkiran.
KLIK. Sekali tekan saja mobil berwarna putih itu berbunyi, menandakan kuncinya sudah terbuka.
“Woi! Woi! Lo mau nyulik gue?” Yura berusaha melepas genggaman tangan Reinard, tapi sayang tenaganya kalah jauh dari laki – laki ini.
“Gue nggak terima komentar apapun, Yura Sabina!” jelas Reinard.
“Wah bener – bener lo! Jangan – jangan lo beneran dosen gadungan ya? Lo tukang culik, kan? Perdagangan manusia, ya? Ngaku nggak lo?!”
“Masuk!” Reinard menunjuk pintu mobil dengan dagunya, mengisyaratkan pada Yura agar segera masuk.
“Nggak mau!” tolaknya lagi.
“Mau gue iket, terus gue sumpel tuh mulut pakek kaos kaki?”
“Wah ni anak! Kalo ada truk aja, udah gue lindes lo!” cerocos Yura.
“Satu... dua... ti-
“Iya – iya!” Yura membuka pintu mobil, “Lo nyeremin lama – lama! Nggak pantes lo jadi dosen, sumpah!”
“Ra!” panggil Reinard.
“Hm?"
“Bisa diem?”
“Gue diem pas tidur,” jawabnya enteng.
“Iya udah tidur sono!”
“Nggak mau!”
“Mau tidur sendiri atau gue yang tid-
“Oke, gue tidur sendiri.”
Reinard menahan tawa saat Yura memotong kalimatnya dan sekarang gadis di sampingnya itu benar – benar memejamkan matanya.
***
“Udah sampe!”
“Tahu!”
“Lah? Gue kira lo tidur..”
“Nggak!” Yura keluar dan membanting pintu mobil.
Reinard menutup mulutnya rapat – rapat berusaha menahan tawa melihat tingkah Yura.
__ADS_1
Love Story Coffee, batin Yura saat ia turun dari mobil. Suasananya tampak asri, banyak pengunjung, dan ada beberapa pengamen cilik.
“Gue baru tahu kalo ada cafe yang udah buka sepagi ini,” kata Yura, “Lo mau ngopi?” tanyanya.
“Disini juga jual sarapan, hampir tiap hari gue mampir ke sini, soalnya ngga terlalu jauh dari rumah gue.”
Yura mengangguk, “Siapa?” tanyanya kemudian.
“Gue..” Reinard menyahut pasti.
“Nanya!”
“Arrrgghhh.. CK!” Reinard berdecak kesal. Lagi dan lagi, dirinya selalu terkecoh oleh ocehan Yura.
Sekarang gadis itu sudah melenggang masuk kedalam cafe dengan santainya. Yura memandang sekitar, suasana cafe ini cukup nyaman, pikirnya.
“Keren..” ucap Yura kagum dengan desain di dalamnya.
“Suka?” tanya Reinard yang mengekor dari belakang.
“He’em, banget. Desainnya keren, tapi nggak terlalu mencolok, belum lagi lagu – lagu jazz yang di putar, terus kayaknya nyaman lagi tempatnya,” puji Yura.
“Masih ada dua lantai lagi di atas.”
“Hah? Seriusan lo?”
“Iya.”
“Di teras itu, khusus buat mereka yang perokok, atau juga yang nge-vape, terus di dalem sini khusus area tanpa asap. Di lantai dua ruang VIP, ada sekitar lima ruangan, buat mereka yang mau ngadain acara, kumpul – kumpul, atau bisa juga di pakek buat meeting,” terang Reinard.
“Terus – terus kalo lantai tiga?” tanya Yura antusias.
“bisa dibilang itu rooftop.”
“Hah? Serius?”
“Iya. Cuma orang – orang tertentu yang bisa naik kesana. Nggak di buka buat umum.”
“Selamat pagi, Pak...” sapa seorang pegawai cafe. “Ada yang ketinggalan ya, Pak?” tanya pegawai itu.
“Hah? Emm itu-
“Pak? Di tempat ini formal banget ya panggilannya?” potong Yura. “Orang ini katanya mau sarapan, mbak..” jawabnya sambil menunjuk ke arah Reinard.
“Maaf, mbak. Dia itu yang punya tem-
“Iya, mbak. Saya mau pesen espresso satu,” sahut Reinard cepat, “Lo mau apa, Ra?”
“Hah? Gue?”
“Iya...”
“Terserah deh, jangan yang pahit aja.”
“Oke, lo tunggu disini bentar, biar gue pilih menunya,” ujar Reinard.
“Mbak, tempat menunya dimana ya? Bisa tunjukin saya?” Reinard berkata dengan penuh aksen penekanan kepada pegawai cafe itu.
“I-iya, ma-mari, Pak..”
Mereka berdua pergi menjauh meninggalkan Yura yang penuh tanya dan kebingungan.
***
“Panggil semua pegawai, suruh masuk ke ruang saya!” perintah Reinard.
Tidak sampai lima menit ruangan itu sudah penuh, ada sekitar lima belas orang.
“Oke saya nggak bisa lama – lama, langsung saja,” Reinard memulai. “Saya nggak mau ada orang yang tahu kalau saya adalah pemilik cafe ini, paham? Termasuk gadis yang di depan itu..” ujarnya.
__ADS_1
“Maaf, pak..”
“Iya?”
“Dia pacarnya bapak?” tanya salah seorang barista.
“Dia mahasiswa saya.”
Semua yang ada hanya diam dan menganggukan kepala mendengar pernyataan Reinard.
“Oke! Sudah selesai, kalian boleh kembali bekerja.”
“Baik, pak..” sahut mereka hampir bersamaan.
“Dan ya satu lagi,” kata Reinard membuat semua pegawainya kembali memperhatikannya, “mulai hari ini gadis itu bebas keluar masuk rooftop, paham? Namanya Yura, Yura Sabina.”
***
“Woaahh... Keren banget!”
Reinard dan Yura sudah berada di bagian paling atas gedung cafe.
“Gue kira bakal kosong, kayak rooftop biasanya, tapi ini...” berkali – kali Yura berdecak kagum, “Gila! Ini keren banget, sumpah! Ada taman, ayunan, kolam renang, ini... ini kayak bagian atas hotel, iya kan? Gue bener, kan?”
Reinard sendiri hanya diam memperhatikan Yura, senyumnya tampak sesekali mengembang melihat bagaimana senang dan semangatnya respon Yura.
“Kata lo nggak di buka buat umum, tapi kok kita...”
“Oh itu, gue temen deketnya yang punya cafe,” ucapnya berbohong, “Jadi gue bebas keluar masuk...”
“Oh iya? Wah beruntung banget lo, gue juga kepengen, tapi kayaknya nggak mungkin kali ya, toh gue kenal juga nggak sama yang punya.”
Reinard tahu ada nada kecewa di kalimat itu, “Lo juga bisa kok.”
“Hah?”
“Tadi juga gue udah izin, jadi lo bebas dan kapan aja bisa ke sini,” jelasnya.
“S-serius lo?” tanya Yura tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Iya.”
“Gue punya akses bebas gitu masuk ke sini?”
“Iya.”
“Kapan aja?”
“Iya.”
“Bener nih?”
“Astaga! Iya, YURA SABINA!”
“Hehehe, iya udah kalo gitu...” Yura beranjak dari duduknya.
“Eh? Mau kemana lo?”
“Mau ketemu sama yang punya cafe.”
“Hah? Mau ngapain?”
“Mau bilang makasih lah, dia baik banget kali..”
“Ng-nggak usah,” cegah Reinard gugup.
“Loh? Kenapa?”
“Itu... Oh iya, dia udah pergi, tadi katanya ada urusan. Dia itu jarang di tempat...”
__ADS_1
“Oh... Iya udah deh, kapan – kapan aja.”