Yura Sabina

Yura Sabina
Episode 4


__ADS_3

“Kalian pernah ketemu?” tanya Andreas tiba – tiba.


“Siapa?”


“Itu, lo sama dosen baru tadi kayak pernah kenal gitu.”


“Ya nggak lah..”


“Tapi kok tadi lo kayak percaya diri banget ngomong sama Leo, sampe segitunya?” sedlidik


Andreas.


“Hah.. Andreas Mataulhi! Gue nggak kenal dia. Gue tadi sempet papasan aja, dia baru


keluar dari Ruang Rektor, terus nggak sengaja deh liat id card yang dia pakek,” terang Yura berbohong.


Andreas tampak mengangguk – anggukkan kepalanya, “Oh..”


Sorry, Ndre. Batin Yura. “Iya udah mana absen


lo?”


“Mau gue temenin?” tawar Andreas.


Yura menggelengkan kepalanya pelang, “Nggak usah, gue bisa sendiri,” tolak Yura.


“Iya udah, gue tunggu di kantin, ya..”


“Lo aja, gue udah tadi, lagian gue juga mau ke perpustakaan.”


“Gue temenin deh,” tawar Andreas lagi.


“Nggak usah, lo makan aja, belom sarapan kan tadi pagi?”


“Hm.”


Yura maju mendekati Andreas yang sudah dari tadi berdiri di hadapannya. “Gue duluan


ya, bye..” Yura menampilkan senyum


manis dan hangatnya, membuat Andrean terkesima. Dalam waktu seperkian detik


jantung laki – laki itu dibuat bekerja dua kali lipat lebih cepat dari


biasanya. Kenapa tiap kali lo senyum jantung gue selalu kayak gini sih? Batin Andreas sambil memegangi dadanya, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu cepat.


***


“Masuk,” kata Reinard setelah mendengat seseorang mengetuk pintu ruangannya.


“Permisi, pak. Ini absennya,” Yura masuk perlahan menuju meja Reinard. Ia memperhatikan Reinard yang sibuk dengan ponselnya.


“Oh, iya makasih.”


“Saya permisi, pak.”

__ADS_1


“Tunggu, duduk dulu!” perintah Reinard yang menghentikan niat Yura untuk segera meninggalkan ruangan ini.


“Hah?”


“Gue bilang duduk,” ulangnya.


“I-iya..”


Reinard membuka lemari yang berada di samping mejanya, mengambil beberapa barang dan membawanya  ke arah Yura.


“Mana dahi lo?”


“Hah?”


“Dahi lo mana?” ulang Reinard dengan nada datar.


“Buat apa?” tanya Yura bingung, ia baru menyadari barang yang di keluarkan dosennya itu adalah kota P3K. “S-saya nggak sakit, pak.”


“Nggak usah formal, ini bukan jam kuliah.”


“Eh..”


“Dahi lo kena sudut meja kan tadi?” tanya Reinard, ia menghadapkan tubuhnya ke arah Yura. “Sini-


“Eh mau ngapain lo?” tanya Yura sedikit menjauh, “macem – macem gue teriak nih,” ancamnya.


“Oke.”


“Hah?”


“Aduhh.. Sakit,” keluhnya.


“Makanya gue obatin, lo diem!”


Yura tak bisa menjawab lagi, ia hanya diam pasrah. Reinard tampak telaten mengobati lukanya. Sebenarnya luka itu tidak terlalu parah, hanya goresan kecil, tapi cukup sakit karena ada lebam disana.


“Thanks,” kata Reinard disela – sela kegiatannya yang masih mengobati luka Yura.


“Buat?”


“Semuanya,” jawab Reinard singkat, “Udah, nanti ganti perbannya kalo lo udah di rumah.”


Yura menganggukan kepalanya, “Makasih, gue permisi.”


Reinard diam – diam memperhatikan Yura, gadis itu berjalan keluar tapi memilih arah yang berbeda. Mau kemana lagi dia? Batin Reinard.


“Ra!” panggil seseorang.


“Ei, Hai Rayan. Kenapa? Absen lo ketinggalan? Masuk  aja, ada noh dosennya di dalem,” kata Yura.


“Nggak kok, gue emang nyari lo.”


“Nyari gue? ada apa?”


“Gue denger lo mau ke perpustakaan tadi, waktu lo ngobrol sama Andreas,” jawab Rayan hati – hati, “S-sorry, gue nggak maksud nguping, tapi-

__ADS_1


“Hahahaha, santai aja kali. Jadi lo mau apa nyari gue?”


Reinard hanya memperhatikan kedua mahasiswanya itu dari dalam ruangannya, tidak cukup sulit baginya untuk melihat keadaan di luar, karena ruangan ini semuanya di dekorasi menggunakan kaca.


Rayan menggaruk kepalanya, “Itu.. gue mau mintak tolong cariin buku yang bisa di jadiin referensi buat skripsi gue, Ra,” ucapnya gugup.


“Oh.. gitu, iya udah ayok!” ajak Yura tanpa canggung.


***


 


“Ra?” panggil Rayan saat mereka sudah berada di perpustakaan.


“Hm,” sahut gadis itu tanpa menoleh sedikit pun, mata dan tangannya sedang sibuk mencari buku yang cocok di jadikan bahan referensi untuk skripsi Rayan.


“Lo serisih itu ya sama anak MAPALA? Emm, maksud gue.. kita bertiga.”


“Iya.”


“Oh..” Rayan bingung harus berkata apa lagi, baginya Yura terlalu jujur dan mungkin terkesan cuek saat menjawab pertanyaannya.


“Nah ini udah ada beberapa buku, tinggal kita cocokin mana yang pas,” Yura meletakkan buku – buku di tangannya ke atas meja dan menarik salah satu kursi, “Jadi, teori mana yang lo am-


“Woi! Lo kenapa? Ekspresi lo kayak habis ketahuan nyolong jemuran tetangga deh, Yan,” tegur Yura saat melihat Rayan tampak canggung dan kicep, “Oh.. Hahaha, keliatan banget ya kalo gue risih liat anak MAPALA di kelas?” tanya Yura.


“Hm.”


“Aelahh, sinian woi! Lo ngapain berdiri si situ? Udah kayak patung pancoran, buru!”


Rayan menurutinya dan menarik salah satu kursi tepat di hadapan Yura.


“Iya gue emang risih sih, tapi sama lo nggak tuh, kalo gue risih mana mau gue nyia – nyiain waktu istirahat gue buat bantuin lo gini.”


“Bener?”


“Iya, Rayan Octo,” jawab Yura, “Gue tu gedek aja sama dua temen lo itu, apalagi si Leo. Mulutnya itu asal cablak aja, rasanya gemes banget gue, pengen banget  tu nyosor mulutnya pakek heels punya Bu Jessie,” celoteh Yura yang di sambut tawa oleh Rayan.


“Lagian gue heran deh sama lo, Yan. Kalo gue perhatiin tampang lo macam cowok bener gitu, ya.. maksud gue nggank begundal awut – awutan kayak anak MAPALA lainnya, apa lagi kayak dua temen lo itu. Belum


lagi gue hampir nggak pernah liat lo buat ulah, tapi kok ya mau aja lo gabung sama mereka,” cerocos Yura.


“Gitu ya?” Rayan tersenyum, dia benar  - benar tidak menyangka jika Yura sebawel ini, dan entah mengapa itu terasa menyenangkan. “Kita bertiga udah sahabatan cukup lama, Ra. Dari jaman SMA, dan sampe sekarang kita masih bareng, gue juga udah terbiasa sama sikap mereka berdua. Kita sempat janji buat wisuda bareng – bareng,” terawang Rayan.


“Barengsih bareng, tapi mau sampe kapan? Sampe spongebob berubah warna jadi putih?” celetuk Yura, “Lah Naruto aja udah nikan noh sama Hinata, tapi lo belom wisuda juga sampe sekarang.”


Rayan tergelak lagi mendengar ocehan Yura, “Hahaha, oke – oke, lo bener. Makanya sekarang gue disini, Ra. Gue mau cepet – cepet wisuda.”


“Bagus dong, terus itu dua kecoa gimana?”


“Leo sama Arnold sih awalnya kecewa sama keputusan gue, tapi akhirnya mereka mau memaklumi.”


“Lagian juga ngapain sih lama – lama kuliah? Nggak capek belajar terus? Belum lagi uang semesteran sama rentetan lainnya yang masih harus di bayar, kan?”


“Iya. Leo sama Arnold mungkin belum terlalu dewasa buat mikir hal macam kayak gitu, Ra.”

__ADS_1


“Belum dewasa gundulmu, udah bangkotan gitu lo bilang belum dewasa? Mereka aja mungkin yang menolak buat jadi dewasa,” sanggah Yura.


__ADS_2