
Bukan untuk sembarang hati
Aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti
Aku rela berlelah untukmu
Perlahan Reinard menaiki anak tangga menuju ke rooftop. Semakin dekat dia dengan tujuannya, semakin jelas melodi dan lirik lagu yang indah menyapa telinganya. Beberapa kali ia bertanya dalam hati siapa yang
menghidupkan musik diatas sana, beberapa kali pula ia bertanya speaker jenis apa yang menghasilkan bunyi semerdu dan jelas seperti itu.
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati
Bila harus kehilangan dirimu
Bukan untuk sembarang hati
Aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti
Aku rela berlelah untukmu
Gadis itu membuka cepol rambutnya, membiarkan rambut ikal panjangnya terhempas angin. Sesekali ia memejamkan matanya menikmati deru angin dan petikan gitarnya. Tempat ini benar – benar menjadi tempat favorit seorang Yura Sabina. Dari sini dia bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus dan menikmati hembusan angin.
“Kalo nggak ada teras ini, mungkin kulit lo udah item..”
Yura kaget, tepat ditelinganya seseorang berbisik.
“Lo?!”
Reinard berdiri di belakangnya tanpa ekspresi, tapi Yura bisa menangkap sedikit senyum tersungging di wajah laki – laki itu, “Sejak ka-
“Suara lo bagus,” potong Reinard, “Nih..” menyodorkan buku agenda berwarna salem kepada Yura.
“Kok bis-
“Penjaga perpustakaan yang ngasih tahu gue kalo lo disini,” potong Reinard lagi seolah tak ingin memberi kesempatan untuk Yura berbicara ataupun bertanya.
“Resek lo!” Yura bangkit dan mulai menguncir kembali rambutnya.
__ADS_1
Sementara itu Reinard tetap diam di tempatnya dan menatap gadis itu lekat. Datar, ya.. begitulah kira – kira ekspresi seorang Reinard, seorang laki – laki yang mendapat julukan ‘Hati Batu Kurang Peka’ dari teman – temannya. Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang laki – laki dan lagi tak bisa di pungkiri
Yura memang gadis yang bisa di bilang sempurna, apalagi saat ia menguncir kembali rambutnya, bagi Reinard itu terlihat seksi. Posisi Yura yang membelakanginya benar – benar sukses membuat Reinard menggigit bibir bawahnya. Leher jenjang itu nampak jelas saat Yura mengangkat rambut ikalnya.
“Thanks bukunya,” ucap Yura dan berjalan melewati Reinard.
Langkah Yura terhenti saat lengannya tertahan, membuatnya mau tak mau membalikkan badan.
“Mau lo apa sih? Cuma ngasih buku agenda gue doang, kan?” tanya Yura.
Reinard menarik pelan kuncir rambut Yura, membuat rambut indah itu kembali tergerai dan jatuh dengan lembut, “Rambut lo cantik,” katanya berbisik di telinga Yura dan menyesap harum rambut gadis itu. Manis, batinnya.
“Biar di urai, gue suka liatnya,” lanjut Reinard tapi tetap dengan ekspresi datarnya.
Pipi Yura memanas ia merasakan darahnya seolah berdesir hebat, dan mungkin sekarang pipinya tengah bersemu merah.
***
Yura mengatur nafasnya, menuruni anak tangga dengan tergesa – gesa membuatnya benar – benar kelelahan. Belum lagi jantungnya yang mendadak bekerja tak seperti biasanya.
“Astaga, gue kenapa sih?” gumamnya.
Drrrrtt.. Drrrrttt..
“Iya hallo?” sapa Yura saat menerima panggilan masuk di ponselnya, “Gue di kelas? Lo dimana?” tanyanya pada si penelpon.
“Oh, gitu. Oke, gue keparkiran sekarang.”
KLIK. Yura mematikan panggilan itu dan memasukkan HP-nya kedalam saku celana. DOSEN NGGAK MASUK! Begitu kalimat yang tertulis di papan whiteboard, dan Yura baru menyadari adanya tulisan sebesar itu.
***
Reinard sudah berada di ruangannya. Ia berdiri di dekat jendela memperhatikan area kampus yang penuh dengan mahasiswa yang lalu lalang dengan aktivitasnya. Matanya tertuju pada area parkiran, ada beberapa mahasiswa yang sepertinya sudah bersiap untuk meninggalkan kampus. Dan lagi, ia mendapati Yura disana, bersama
dengan seorang laki – laki. Mereka cukup dekat dan akrab.
“Pacarnya?” tanya Reinard tanpa ada jawaban, karena tidak ada siapa – siapa di ruang itu selain dirinya.
Cuaca siang itu tampak mendung, angin terus bertiup, dan awan hitam mulai mengepul. Ditambah lagi dengan ekspresi wajah Reinard yang tetap datar dan dinging, seolah menambah beku suhu di sekitar. Namun matanya masih lekat memandang sosok gadis di area parkiran. Cantik, berkali – kali batinnya menggumamkan kata itu, seoalah tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan sosok Yura yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu, dirinya benar – benar di buat tersihir dengan pesona Yura—seorang Yura Sabina.
***
“Lah muka lo kenapa, Ra? Di tekuk terus gue perhatiin daritadi,” tanya Andreas penasaran, sejak kembali dari perpustakaan tadi muka sahabatnya ini terlihat sangat masam, tidak ada celoteh dan senyum yang menghiasinya.
“Gapapa,” jawab Yura singkat.
“Kenapa, Ra? Lo nggak mau cerita sama gue?”
“Hm.”
“Iya udah kalo nggak mau cerita gapapa, tapi itu muka jangan di tekuk terus dong,” bujuk Andreas.
Yura tidak menggubris sama sekali.
__ADS_1
“Ra? Woi? Aelaahh.. gue di kacangin,” tegur Andreas.
“Lo lebih mirip ikan asin ketimbang kacang, Ndre!” celetuk Yura.
“Astaga, mulut lo lama – lama gue shampoin juga deh, Ra!” balas Andreas, “Udahlah, nggak usah nekuk muka gitu! Gimana kalo kita ke toko buku, gue beliin buku mau?”
“Hah? Serius?” tanya Yura antusias.
“Iya.”
“Abang Reas mau beliin Rara buku?” tanya Yura lagi dengan menggunakan nama panggilan mereka di rumah.
“Iya. Rara suka buku, kan?”
“Rara suka banget, makasih Abang Reas..”
Andreas tersenyum kecil melihat ekpresi Yura yang kembali riang, ia tahu persis bagaimana membujuk gadis yang berada disampingnya ini. Mobil melaju dengan kecepatan standar, diluar angin semakin kencang, tapi untuk waktu beberapa menit lalu udara didalam mobil terasa panas dan sesak. Kini suasana itu mulaimencair, seiring dengan senyum dan celoteh Yura yang mulai terdengar.
Gue suka liat senyum lo, Ra. Jadi jangan pernah buat senyum itu hilang dari wajah lo.. batin Andreas sambil sesekali menatap Yura.
***
“Loh? Kok kita ambil rute ini sih? Bukannya mau ke apartement lo dulu, ya?”
Andreas menggelengkan kepalanya pelan, “Nanti aja, Ra. Udah hampir sore, nanti lo malah pulang kemaleman lagi, belum lagi ini juga kayaknya mau hujan.”
“Yahh...” Yura mengerucutkan bibirnya.
“Hahahaha, kenapa? Sebegitu pengennya lo bersihin apartement gue? Gue jadi terharu,” Andreas berkata dengan percaya dirinya.
“Iya bukanlah! Oleh – oleh Rara gimana?”
Andreas langsung mengacak poni rambut Yura, ia di buat gemas dengan jawaban Yura yang seolah mematahkan ekspektasinya.
“Gue kiloin juga deh lo!”
“Ya salah siapa?”
“Apanya?”
“Lo nanya gue?” Yura balik bertanya.
“Iya, Yura!”
“Jawab jangan?” katanya lagi membuat Andreas mengacak rambutnya sendiri seperti orang frustasi.
“Astaga! Lo kebanyakan minum air kobokan deh kayaknya, Ra!”
“Nggak! Ngasal tuh! Gue kemarin nemu micin, terus gue puter, jilat, terus di celupin. Mungkin sekarang baru kerasa efeknya,” jawab Yura tanpa beban.
Andreas turun dari mobilnya, ia berjalan cepat dan membuka pintu mobil tempat Yura duduk. “Silahkan turun Ibu Ratu,” katanya dengan penuh aksen penekanan dan kekesalan tentunya.
Yura turun dari mobil sambil menatap Andreas yang sekarang sedang mengerutkan dahi dan alisnya. Sebisa mungkin ia menahan tawa melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
__ADS_1