
“Udah! Gue pulang.”
“Andreas?” panggil Yura.
“Apaan?” sahut Andreas dari belakang kemudi.
“Ada yang kelupaan.”
“Apa?” tanyanya bingung.
“Turun dulu, sini! Buruan!”
Akhirnya Andreas turun dan kembali menghampiri Yura, “Apa?”
Yura menaikan tangannya dan memainkan jemarinya ke arah Andreas, “Nggak sopan, ya! Sebelum pulang itu cium tangan Ibu Ratu dulu, itu baru namanya anak yang baik. Nanti Ibu Ratu kutuk jadi mermaid loh.. mau?”
“YURA!” pekik Andreas tertahan.
“Hahhahaha..” Yura berlari kecil memasuki pekarangan rumahnya, meninggalkan Andreas yang dibuat mematung karena kesal dengan ulahnya.
“Makasih, Abang Reas. Pulangnya hati – hati, ya..” teriaknya dari arah dalam.
Andreas mengulum senyumnya, ia kesal tapi tak bisa marah. Beberapa kali ia selalu terjatuh dalam kejahilan Yura.
***
“Kak Zen!”
Suara itu terdengar namun agak samar karena tampaknya cukup jauh. Zen Samada memutar tubuhnya keseluruh arah untuk mencari tahu asal suara yang bergema di telinganya. Nafasnya mulai terengah, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, dan jiwanya seolah bergetar hebat.
“YURA!!” pekiknya.
Dirinya tahu jelas suara itu milik siapa—Yura Sabina.
“Kak Zen! S-sakit..” rintihnya.
“Rara kenapa? Kenapa bisa gini, Ra?”
“S-sakit...” airmata mulai mengalir di pipi Yura, gadis itu merintih kesakitan dalam dekapan Zen.
“Ra!!!”
. . .
“Hah...” Zen Samada terbangun dari tidur malamnya, sesekali matanya mengerjap menyesuaikan cahaya matahari yang kini sudah merambat masuk kedalam kamarnya.
“Ra? Rara!” laki – laki itu bergegas keluar kamar dan menuju kamar Yura. “Ra?!” panggilnya lagi tak sabaran.
“Hm? Kak Zen manggil Rara?”
Ada perasaan lega saat mendengar suara itu, Zen membalikkan badannya dan mendapati adik bungsunya itu berdiri di belakangnya.
“Rara darimana? Kak Zen cariin juga,” katanya sambil mendekat dan membelai rambut Yura dengan lembut. Adiknya itu bahkan masih menggunakan piyamanya. “Nggak kuliah?”
“Kuliah kok, habis ini Rara mau siap – siap. Tadi dari dapur, Rara laper, pengen nasgor,” jawab Yura sambil menunjukkan senyuman khasnya.
“Iya udah. Rara sekarang mandi, nanti nasgornya biar Kak Zen yang masak.”
__ADS_1
“Bener?”
“Iya, sayang..”
“Makasih, Kak Zen. Masak yang enak ya, Rara mandi dulu,” katanya dengan riang, “Emmuach, Rara sayang Kak zen.” Yura memberi kecupan selamat pagi pada kakak keduanya itu dan bergegas menuju kamarnya.
“Kak Naran nggak dapet nih?”
Yura menghentikan langkahnya, ia berbalik dan melihat ke arah Naran Todoroki yang berdiri di belakang Zen. “Ck! Oke – oke. Rara inget kok kalo Rara punya dua superhero,” celotehnya.
“Emmuaach. Selamat pagi, Kak Naran,” sapa Yura setelah memberikan kecupan di pipi kanan Naran, “Rara mandi dulu, jangan berantem!”
“Hahaha, iya – iya,” sahut Naran.
“Lo kenapa? Pagi – pagi udah kayak orang kebakaran jenggot. Nyariin Yura sampe segitunya,” selidik Naran.
“Gapapa,” jawab Zen datar.
Naran menaikan satu alisnya menatap penuh tanya pada adik keduanya itu, “Oke. Serah lo! Tapi lain kali pelanin suara, lo bener – bener ngerusak pagi gue,” katanya, kemudian berjalan melewati Zen menuju kamar Yura.
“Mau kemana lo?” satu tangan Zen mencengkram kera baju milik Naran.
“Mau ke kamar Yura, mau minjem toilet,” jawabnya enteng.
PLETAK!
“Eh kampret! Sakit!” Naran mengelus kepalanya yang berdenyut.
“Lo kira udah berapa umurnya Yura? 10 tahun?”
“wait,” Zen menghitung mencongak dengan menggunakan jarinya, “22! Wah parah lo umur adik sendiri nggak tahu!”
“Sakit! BAMBANG!” erangnya, “Sekali lagi gue sleding beneran lo!”
“Dasar cutpatkai! Itu lo tahu, ngapain lo mau masuk nyelenong gitu ke kamar Yura?! Dia bukan anak kecil lagi Naran Todoroki!” geram Zen. “Lo lupa peraturannya? Hah?!”
“Iya tapikan—pengen gitu mandi pakek bathup,” rengek Naran.
“Udah! Banyak alesan lo! Mandi Cuma buat maenan sabun aja belagu, pakek acara mau di bathup,” ledek Zen ketus.
“Lama – lama gue shampoin juga mulut lo, Zen!”
“Udah ayok turun!” Zen menarik paksa Naran agar turun ke bawah.
Rumah ini adalah hasil jerih payah mereka bertiga, desain yang sederhana dan tempat yang strategis menjadi salah satu alasan mereka membelinya. Rumah dua lantai ini terdiri dari 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi, Naran dan Zen berada di lantai 1 berdekatan dengan ruang tamu dan dapur, sedangkan Yura yang dianggap sebagai Tuan Putri Kecil kesayangan mereka menempati kamar di lantai 2 dengan kamar mandi pribadi di dalamnya.
Yura mencuri dengar keributan yang terjadi di depan kamarnya, ia tertawa kecil. Kedua kakaknya jarang sekali akur, setiap hari ada saja yang mereka perdebatkan. Zen Samada adalah sosok yang paling dewasa bagi Yura, sosoknya yang selalu memberi nasehat dan senantiasa melindunginya membuat Yura seolah berada dalam pelukan sang ayah. Tapi hal ini berbanding terbalik dengan Naran—kakak pertamanya, Naran mempunyai pemikiran yang sulit dimengerti, bahkan kadang Yura seperti bercermin saat berhadapan langsung dengan Kakak Narannya
itu, sikap dan tingkah mereka sama bahkan nyaris tidak ada bedanya.
***
“Hari ini Kak Naran sama Kak Zen nggak kerja?” tanya Yura pada kedua kakaknya. Mereka bertiga sekarang sudah duduk manis di meja makan.
“Kak Zen lagi kosong job,” jawab Zen.
“Kalo Kak Naran bentar lagi mau keluar kok, biasa ada panggilan..”
“Iya, Ra, biasa laki – laki panggilan,” ledek Zen.
__ADS_1
Naran mendelik melayangkan tatapan membunuh pada Zen, “Gue garap pakek garpu juga tuh congor!” seru Naran.
“Udah! Ini ribut terus!” sahut Yura.
“Itulah kakakmu yang kedua itu, nyari masalah terus sama Kak Naran,” adu Naran.
“Rara pulangnya agak telat ya, soal—
“Mau kemana?!” tanya Naran dan Zen bersamaan.
Yura menutup mukanya dengan kedua tangan dan menghela nafas panjang, selalu seperti ini, batinnya.
***
Reinard memandangi keadaan disekitar dari ruangnnya. Dari atas sini ia bisa dengan jelas melihat segala aktivitas yang terjadi di luar. Tapi sepertinya pagi ini ia datang terlalu cepat, area kampus masih terlihat sepi, baru ada segelintir mahasiswa yang datang, bahkan ia belum melihat adanya kehadiran dosen lain.
“Yura Sabina,” gumam Reinard sambil menyunggingkan senyumnya. Ternyata ia mendapati Yura yang sedang duduk di pinggiran koridor dengan laptop di pangkuannya.
Gadis itu hari ini tetap mengikat rambutnya, “Hah..” Reinard menghela nafas.
***
Disinilah Reinard sekarang, berjalan perlahan menyusuri koridor kampus. Ia mulai bosan berada di dalam ruangannya, menurutnya menyambangi seseorang pagi ini jauh lebih baik ketimbang berdiam diri dalam
sebuah ruang.
“Kepagian?” tanyanya pada seorang gadis.
Yura menoleh dan menatapnya sinis, “Lo!”
“Iya gue, lo kayak habis liat hantu aja,” Reinard mengambil posisi duduk di samping Yura, “Lo kepagian?” ulangnya.
“CK! Lo kenapa jadi suka nguntit gue sih?!”
“Kebiasaan.”
“Apa?” tanya Yura.
“Lo nanya gue?"
“Hah?”
“Jawab jangan?”
Yura nampak jengkel, “CK! SERAH LO!” ia menutup laptopnya dan bersiap pergi dari sana. Tapi Reinard dengan sigap menahan pergelangan tangannya.
“Apa lagi, Pak Dosen?!” tekan Yura, “Ini kampus loh! Gue teriak nih,” ancamnya.
“Kayak bakal adaa yang dateng aja.”
Yura memperhatikan sekelilingnya, “Oh iya sepi,” bisiknya.
“Iya udah lepas sih! Gue sibuk!” kata Yura.
“Nggak nanya!” sahut Reinard datar dan dingin—ya, seperti biasanya.
“Hah!” mau tak mau Yura kembali ke posisi duduknya, karena ia sadar dosennya satu ini tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah, “Yosh! Mau apa lo dari gue pagi – pagi gini?” tanya Yura. Sekarang gadis itu mengalihkan pandanganya pada Reinard.
__ADS_1