Yura Sabina

Yura Sabina
Episode 10


__ADS_3

“Ra?” panggil Zen.


“Apa lagi sih, Kak Zen?” balasnya dari dalam.


“Rara kenapa? Kok pulang – pulang nangis,” kali ini Naran yang mengajukan pertanyaan.


“Gapapa!”


“Tuhkan, gitu terus tu jawabannya,” bisik Zen.


“Rara keluar dong.. Liat nih, Kak Naran bawain novel sama boneka mickey, loh...” bujuk Naran.


“Tarok aja depan pintu. Rara lagi males keluar.”


“Yah, jangan gitu dong, Ra. Masa Kak Naran sama Kak Zen dianggap kayak kurir express sih, Ra.”


“Lo aja yang jadi kurir, gue ogah!” protes Naran.


“Gue gasak juga lo! Ini kan Cuma perumpamaan!” balas Zen sengit.


“Ra?” panggil Naran lagi tak mengindahkan tatapan sengit Zen, “Kalo Rara nggak mau keluar kamar, biar Kak Naran aja deh yang keluar.”


“Kan Kak Naran emang udah di luar kamar,” sahut Yura membenarkan.


“Oh iya bener juga,” Naran manggut – manggut tak jelas.


PLETAK!


“Aduh! Sakit, cumik!” Naran merasakan kepalanya berdenyut.


“Lo **** banget sih, Ran!” maki Zen.


“Nggak usah pakek ngejitak sih! Lo bener – bener adik durhaka lo!”


“Makanya kalo **** tuh bagi – bagi, biar nggak numpuk!”


“Ra? Kalo Rara nggak mau keluar kamar, biarin Kak Zen sama Kak Naran masuk, ya?” pinta Zen.


“Masuk aja, emang daritadi pintunya nggak Rara kunci kok.”


PLETAK! Kali ini Naran yang melayangkan pukulan cukup keras ke kepala Zen, “Itu pintu nggak di kunci, BAMBANG!” balas Naran puas.


“Iya gue nggak tahu kalo nggak di kunci,” jawabnya sambil mengelus kepalanya yang sepertinya benjol.


“Makanya kalo makan micin itu pakek ritual, biar nggak **** – **** banget!”


“Apa?”


“Diputer, dijilat, terus dicelupin..”


PLETAK!


“Woi! Zen! Sekali lagi gue sleding beneran lo!”

__ADS_1


KLIK. Yura membuka pintu kamarnya, “Jadi masuk nggak sih?”


“Eh Rara..”


“Ngerumpi kok di depan kamar Rara, berisik tahu!” protesnya, “Mana lama lagi! Udah kayak ibu – ibu beli kangkung di tukang sayur aja.”


“Apa hubungannya, Ra?” tanya Naran.


“Iya! Beli kangkung seiket dua ribu, tapi ngerumpinya dua jam!” cerocosnya, “Iya udah mana buku sama boneka buat Rara?” tagihnya.


“Ini...” Zen menyodorkan kedua benda favorit adiknya itu. “Tapi Rara cerita dulu dong, kok pulang – pulang nangis?” tanya Zen.


“Nanti aja ceritanya.”


“Kapan?” tanya Naran.


“Nanti, tunggu Rara nggak nangis lagi.”


“Loh ini Rara udah nggak nangis lagi tuh,” sahut Zen dan melihat adiknya lebih dekat.


“Iya. Ini Rara lagi istirahat bentar, nanti habis ini mau nangis lagi kok,” selorohnya.


Naran dan Zen saling pandang tak percaya mendengar ucapan Yura. Adiknya satu ini selalu punya kalimat ajaib yang mampu membuat orang di sekitarnya bungkam.


***


“Oh jadi si Antok itu ngebentak Rara?” tanya Naran setelah mendengar penuturan Yura.


Sekarang tiga berasaudara itu sudah berada di ruang keluarga, mereka bertiga sedang membahas tragedi yang menimpa adik bungsunya itu.


“Kok dia bisa bentak – bentak Rara?” tanya Zen, satu tangannya sedang mengambil keripik kentang dari dalam bungkus, “pasti ada sebabnya.”


“Rara nggak ngerti... Tadi kan Rara masuk ke kelas, eh ternyata kelasnya sepi, Cuma ada dia doang..”


“Terus...” sahut Naran dan Zen bersamaan.


“Dia nanya, katanya gini ‘Ra! Darimana? Kok tumben telat?’. Ya, Rara jawa-“


“Tunggu – tunggu!” potong Zen, “Kok telat? Rara bukannya tadi perginya ontime, ya? Ya kan, Nyet?” pandangan Zen beralih pada Naran mencari kepastian.


“Iya. Tadi kan Rara cepet perginya.”


“Ihhhh! Dengerin dulu! Rara belom selesai ceritanya, jangan di sunat – sunat gitu!”


“Oh oke! Lo sih, cumik!” Naran menyikut lengan Zen.


“Rara sebenernya ngga dateng telat, tapi tadi di ajak sama dosen buat nemenin dia, katanya mintak temenin sarapan. Ya awalnya sih Rara nolak, tapi dianya maksa. Jadi Rara ikut...” jelas Rara. Naran dan Zen manggut – manggut menanggapi.


“Terus, apa lagi?” tanya Zen.


“Nah ternyata Andreas itu liat kalo Rara di ajak pergi sama tu dosen, eh pas Rara jelasin kayak tadi dia Cuma bilang ‘Oh’ doang.”


“Nggak ngebentak dong kalo Cuma ‘Oh’ doang,” sahut Naran dengan mulut yang penuh dengan keripik kentang.

__ADS_1


“Habis itu dia bilang gini, ‘gue mau ke kantin, sekalian cari angin, disini panas’. Rara bilang, ‘disini adem kok, AC juga nyala.’ Eh dia bilang lagi, ‘kalo gue bilang panas, ya panas!’ sampe bentak – bentak gitu, mukanya tegang banget kayak orang nahan pup.” Jelas Yura sambil berlakon seperti gestur Andreas, yang membuat Naran dan Zen terksima.


“Rara bakat acting ya, Zen.?” Celetuk Naran.


“Hm... Aku sih, yes!” jawan Zen mempraktekan aksen salah satu juri ajang pencarian bakat.


“Ish! Malah di ledek...” Yura memanyunkan bibirnya.


“Tapi Kak Naran bingung deh,” ujar Naran, “Kok dia marah ya? Nggak mungkin kan dia marah gara – gara nggak di ajak...” selidiknya.


“Dosen yang mana, Ra? Yang sering pakek hells setengah ****** itu? Atau si bapak kumis tebel?” tanya Zen.


“Dosen baru, mungkin seumuran sama Kak Zen.”


“Cowok atau cewek?”


“Cowok...”


Naran dan Zen saling berpandangan, sepertinya mereka tahu akar permasalahannya.


“Ganteng ya, Ra?”


“Emm, jawab jangan?”


“Yura Sabina!” panggil mereka berdua bersamaan.


“Hehehhe... iya – iya,” cengir Yura tanpa dosa. “Ganteng.”


“Iya udah!” ujar Naran.


“Iya udah beneran...” Zen ikut cemberut.


“Apanya?” tanya Yura penasaran.


“Duhhh.. Adiknya Kak Naran yang paling cantik...” Naran mengacak pelan rambut Yura. “Rara nggap peka sih, sama si Antok.”


“Andreas, Kak Naran...”


“Iya itu maksudnya,” ralat Naran.


“Dia itu cemburu!”


“Cemburu?” ulang Yura.


“Iya!” jawab Zen pasti.


“Sama itu dosen?”


“Betuk sekali!” kali ini Naran membenarkan.


“Dosen dingin macam jelmaannya sasuke gitu, mungkin juga dia sepupunya Shino si ninja serangga, di cemburuin?” cerocos Yura.


Zen dan Naran saling pandang tak percaya mendengar ucapan adik bungsunya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2