
Reinard memegangi kepalanya, mengingat kejadian belasan tahun lalu membuatnya pusing.
Reinard kecil di paksa untuk mengerti dan menerima semua kenyataan pahit yang
terkuak satu persatu setelah ayahnya tiada. Sepeninggal ayahnya, dia dan ibunya
mendadak di kucilkan oleh keluarga besarnya. Mereka di kirim jauh keluar
negeri, dengan alasan yang cukup meyakinkan waktu itu. Kakeknya meminta Reinard
untuk mengenyam pendidikan di luar negeri.
Semakin dewasa ia semakin memahami masalah apa yang terjadi pada keluarganya, lebih
tepatnya keluarga dari mendiang ayahnya. Aib keluarga yang tak bisa diterima
menjadi pemicu adanya kecenderungan sosial dalam keluarga ini. Tapi bagi
Reinard keluarga kecilnya tidak bersalah, dan lagi ia tidak terlalu tertarik
tentang urusan pewaris yang di perdebatkan oleh kakek dan pamannya itu. Ia
hanya ingin di akui oleh keluarga besarnya, hanya itu. Karena yang terlintas di
pikirannya hanya satu hal, tidak peduli seberapa banyak harta yang kau punya,
jika keberadaanmua tidak di akui orang lain semua hanya akan menjadi bayang
semu.
***
Yura mengambil tempat duduk paling pojok, ia menaruh ranselnya dan mulai menyesap
teh hangat yang baru ia pesan tadi, “Ahh... Otak gue lagi nggak mau nerima
amunisi apapun dari dosen, kayaknya hari ini gue bolos aja dulu,” katanya pada
diri sendiri.
Suasana kantin tampak sepi, lebih tepatnya hampir kosong. Yura melirik jam pintar yang
melingkari pergelangan tangannya, waktu masih menunjukkan pukul sepuluh, ya..
sepertinya dia lebih awal beristirahat. Kemudian matanya beralih pada sosok
yang berada di depan mejanya, pakaiannya teramat formal tapi gelagatnya tampak
aneh. Mungkin mahasiswa baru, batinnya.
PRANG!
Yura kaget, suara itu berasal dari meja di depannya. Laki – laki di depannya itu
tampak terkulai, ia bisa saja tersungkur ke lantai dan kepalanya membentur
kursi atau meja jika Yura tidak dengan sigap menopang tubuhnya.
“Aduuhh... Sshh,” dahi Yura terbentur sudut meja, “Lo kenapa?” tanyanya sambil mendongak dan
mendapati laki – laki yang di topangnya itu masih setengah sadar.
“K-kepala gue,” katanya sambil memegangi kepalanya.
“Neng? Gapapa, neng?” tanya pemilik kantin.
“Mang, tolong bantu Yura bawa dia ke unit kesehatan ya,” pintanya, “Nggak sanggup,
mang, berat..”
“I-iya, neng.”
***
Yura sibuk mencari obat pereda rasa sakit di kotak obat, sementara itu laki – laki
yang ia tolong sudah terbaring di atas kasur dengan kepala yang diberi kain
kompres. Reinard, begitulah akhirnya Yura tahu siapa nama orang itu, karena tanda
pengenal yang di kenakannya.
__ADS_1
“CK. Ssshh..”
“Udah bangun lo?” tanya Yura saat melihat pasien dadakannya itu sadar. “Nih..”
“Apa?”
“Obat, biar sakit kepala agak berkurang.”
Reinard tampak ragu, tapi ia tetap mengambil obat itu.
“Gue Yura, mahasiswa ilmu komunikasi,” kata Yura memperkenalkan diri, “Lo tenang
aja, obat itu aman, dapet dari kotak obat,” terangnya kemudian.
“Oh, thanks,” sahut Reinard.
“Dan nggak expired kok, aman,” sambung
Yura saat ia masih melihat keraguan di mata Reinard, “Ya gue nggak tahu lo
sakit apa, tapi seenggaknya obat itu bisa ngeringanin sakit kepala lo.”
Reinard langsung meminum obat dan menghabiskan segelas air mineral.
“Kurangin kafein, kalo nggak mau sakit kepala lo tambah parah.”
Reinard tampak tertegun mendengar ucapan Yura, matanya nampak mengamati perempuan itu
sekilas dan mendapati ada sedikit goresan lebam di dahinya. Sudut meja, batinnya, Reinard baru ingat
kalau Yura yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Oke, good boy,” puji Yura saat Reinard menenggak obatnya, “Gue kudu masuk kelas, bisa – bisa gue di jemur di bawah
tiang bendera kalo dia tahu gue masih keluyuran di mata kuliahnya. Iya kan, Pak
Reinard,” kata Yura sambil tersenyum.
Panggilan itu membuatnya tersentak, ia meraba saku bajunya, namun Reinard tidak mendapati
benda yang ia cari.
“Hm,” sahut Yura, “Ada di atas meja, pak,” katanya seolah mengerti apa yang di cari
ketemu di kelas,” lanjutnya dan pergi meninggalkan Reinard.
***
“Ra! Darimana aja lo?” tanya Andreas, “Beli minum kok lama banget, lo nggak nyasar,
kan?”
“Mana dulu?”
“Apanya?” tanya Andreas bingung, “Lo di tanya kok malah balik tanya sih?”
“Mana dulu yang harus gue jawab?” jelas Yura, “Pertanyaan pertama atau kedua?” tanya
Yura lagi dengan cengiran khasnya.
“Arrgghhh! Kesel gue ngomong sama lo!”
“Coba balik tanya.”
“Tanya apa Yura Sabina?!” Andreas mulai geram menghadapi temannya satu ini.
“Coba lo tanya, gue kesel juga nggak ngomong sama lo?” ucapnya sambil menjulurkan lidah,
mengejek.
“YURAAA!”
“Iya, maaf. Gue bercanda..”
“Selamat pagi menjelang siang semua...”
Seluruh yang ada di ruangan itu tampak kaget melihat seorang laki – laki masuk ke dalam
kelas mereka. Terutama para mahasiswi yang di buat tercengang dengan kehadiran
sosok itu.
__ADS_1
“Saya dosen baru disini, menggantikan Bapak Glen Anggara,” Tuturnya, “Perken-
“Lo dosen?” celetuk seseorang dari belakang, “Hm, nggak salah? Kampus kekurangan
uang kah nyari dosen macam lo?” ucapnya ketus.
Yura menaikan sedikit sudut bibirnya. Dia baru sadar ada rombongan anak MAPALA di
kelasnya, Leo, Arnold, dan Rayan Octo. Mereka bertiga berada disini untuk
mengejar ketertinggalan, entah sudah berapa lama gelar sarjana belum terselip
di nama belakang mereka. Sebenarnya Yura agak risih dengan keberadaan mereka
bertiga, khususnya Leo, laki – laki itu sering sekali membuat Yura jengah
dengan segala tingkahnya.
“Mending lo ke perpustakaan gih, belajar lebih banyak lagi, baru ngajar kita disini.”
Lanjut Leo.
Reinard mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia melayangkan barang satu atau dua
pukulan kepada mahasiswanya itu. Tapi ia mencoba meredam emosi, terlebih lagi
karena adanya keberadaan CCTV di sudut ruang yang akan terus memperhatikan
gerak – geriknya.
“Mending lo biarin dia ngenalin dirinya dulu,” ujar Yura membuatnya menjadi pusat
perhatian sekarang, tidak terkecuali dengan Reinard yang baru menyadari bahwa
Yura ada di kelas ini, “Selesai dia ngenalin diri, baru lo bisa buat kesimpulan
kenapa dia disini, terus mungkin juga..” Yura menggantung kalimatnya.
“Apa?” tanya Leo tak sabaran.
“Ya.. Mungkin lo bakal tarik kata – kata lo tadi,” jawab Yura tanpa beban, “Bapak mau
diem aja? Nggak jadi ngenalin diri? Atau mau saya kenalin ke mereka?”
“Oh,” sahut Reinard kaget mendengar perkataan Yura, “Hm, oke perkenalkan nama saya
Reinard Putra Caesar...”
Semua yang mendengar nama itu seolah terkesima, begitu juga dengan Leo dan teman –
temannya, ia menelan ludah setelah mendengar kata Caesar pada nama itu.
Nyalinya mendadak ciut. Sementara itu Yura tersenyum penuh kemenangan melihat
reaksi Leo.
“Ada yang mau ditanyakan?”
Seisi kelas hanya diam tidak ada yang berani mengeluarkan bunyi sedikit pun. Tapi tidak
dengan Yura.
“Ya? Kamu..” tunjuk Reinard.
“Maaf, pak. Mungkin minggu depan ini bisa di lanjut lagi, soalnya jamnya udah habis. Next time mungkin bapak bisa mulai lebih
awal,” kata Yura dengan penuh penekanan.
Reinard tahu persis bahwa Yura sedang menyindirnya, “Oh oke, maaf untuk keterlambatan
saya. Tadi saya ada sedikit urusan. Kita lanjut lagi minggu depan,” ujarnya,
“Dan saya mau kelas minggu depan semua mahasiswa sudah lengkap dan siap
menerima materi, dan jangan ada yang telat apalagi masih ada yang di kantin
pada jam saya..” terang Reinard membalas Yura.
“Kamu!” tunjuk Reinard pada Yura, “Iya, kamu. Tolong kumpulkan absen teman – teman kamu
dan bawa ke ruang saya di lantai dua di samping perpustakaan,” perintah
__ADS_1
Reinard, lalu keluar kelas dengan santainya.
“CK!” decak Yura kesal.