Yura Sabina

Yura Sabina
Episode 3


__ADS_3

Reinard memegangi kepalanya, mengingat kejadian belasan tahun lalu membuatnya pusing.


Reinard kecil di paksa untuk mengerti dan menerima semua kenyataan pahit yang


terkuak satu persatu setelah ayahnya tiada. Sepeninggal ayahnya, dia dan ibunya


mendadak di kucilkan oleh keluarga besarnya. Mereka di kirim jauh keluar


negeri, dengan alasan yang cukup meyakinkan waktu itu. Kakeknya meminta Reinard


untuk mengenyam pendidikan di luar negeri.


Semakin dewasa ia semakin memahami masalah apa yang terjadi pada keluarganya, lebih


tepatnya keluarga dari mendiang ayahnya. Aib keluarga yang tak bisa diterima


menjadi pemicu adanya kecenderungan sosial dalam keluarga ini. Tapi bagi


Reinard keluarga kecilnya tidak bersalah, dan lagi ia tidak terlalu tertarik


tentang urusan pewaris yang di perdebatkan oleh kakek dan pamannya itu. Ia


hanya ingin di akui oleh keluarga besarnya, hanya itu. Karena yang terlintas di


pikirannya hanya satu hal, tidak peduli seberapa banyak harta yang kau punya,


jika keberadaanmua tidak di akui orang lain semua hanya akan menjadi bayang


semu.


***


Yura mengambil tempat duduk paling pojok, ia menaruh ranselnya dan mulai menyesap


teh hangat yang baru ia pesan tadi, “Ahh... Otak gue lagi nggak mau nerima


amunisi apapun dari dosen, kayaknya hari ini gue bolos aja dulu,” katanya pada


diri sendiri.


Suasana kantin tampak sepi, lebih tepatnya hampir kosong. Yura melirik jam pintar yang


melingkari pergelangan tangannya, waktu masih menunjukkan pukul sepuluh, ya..


sepertinya dia lebih awal beristirahat. Kemudian matanya beralih pada sosok


yang berada di depan mejanya, pakaiannya teramat formal tapi gelagatnya tampak


aneh. Mungkin mahasiswa baru, batinnya.


PRANG!


Yura kaget, suara itu berasal dari meja di depannya. Laki – laki di depannya itu


tampak terkulai, ia bisa saja tersungkur ke lantai dan kepalanya membentur


kursi atau meja jika Yura tidak dengan sigap menopang tubuhnya.


“Aduuhh... Sshh,” dahi Yura terbentur sudut meja, “Lo kenapa?” tanyanya sambil mendongak dan


mendapati laki – laki yang di topangnya itu masih setengah sadar.


“K-kepala gue,” katanya sambil memegangi kepalanya.


“Neng? Gapapa, neng?” tanya pemilik kantin.


“Mang, tolong bantu Yura bawa dia ke unit kesehatan ya,” pintanya, “Nggak sanggup,


mang, berat..”


“I-iya, neng.”


***


Yura sibuk mencari obat pereda rasa sakit di kotak obat, sementara itu laki – laki


yang ia tolong sudah terbaring di atas kasur dengan kepala yang diberi kain


kompres. Reinard, begitulah akhirnya Yura tahu siapa nama orang itu, karena tanda


pengenal yang di kenakannya.

__ADS_1


“CK. Ssshh..”


“Udah bangun lo?” tanya Yura saat melihat pasien dadakannya itu sadar. “Nih..”


“Apa?”


“Obat, biar sakit kepala agak berkurang.”


Reinard tampak ragu, tapi ia tetap mengambil obat itu.


“Gue Yura, mahasiswa ilmu komunikasi,” kata Yura memperkenalkan diri, “Lo tenang


aja, obat itu aman, dapet dari kotak obat,” terangnya kemudian.


“Oh, thanks,” sahut Reinard.


“Dan nggak expired kok, aman,” sambung


Yura saat ia masih melihat keraguan di mata Reinard, “Ya gue nggak tahu lo


sakit apa, tapi seenggaknya obat itu bisa ngeringanin sakit kepala lo.”


Reinard langsung meminum obat dan menghabiskan segelas air mineral.


“Kurangin kafein, kalo nggak mau sakit kepala lo tambah parah.”


Reinard tampak tertegun mendengar ucapan Yura, matanya nampak mengamati perempuan itu


sekilas dan mendapati ada sedikit goresan lebam di dahinya. Sudut meja, batinnya, Reinard baru ingat


kalau Yura yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


“Oke, good boy,” puji Yura saat Reinard menenggak obatnya, “Gue kudu masuk kelas, bisa – bisa gue di jemur di bawah


tiang bendera kalo dia tahu gue masih keluyuran di mata kuliahnya. Iya kan, Pak


Reinard,” kata Yura sambil tersenyum.


Panggilan itu membuatnya tersentak, ia meraba saku bajunya, namun Reinard tidak mendapati


benda yang ia cari.


“Hm,” sahut Yura, “Ada di atas meja, pak,” katanya seolah mengerti apa yang di cari


ketemu di kelas,” lanjutnya dan pergi meninggalkan Reinard.


***


“Ra! Darimana aja lo?” tanya Andreas, “Beli minum kok lama banget, lo nggak nyasar,


kan?”


“Mana dulu?”


“Apanya?” tanya Andreas bingung, “Lo di tanya kok malah balik tanya sih?”


“Mana dulu yang harus gue jawab?” jelas Yura, “Pertanyaan pertama atau kedua?” tanya


Yura lagi dengan cengiran khasnya.


“Arrgghhh! Kesel gue ngomong sama lo!”


“Coba balik tanya.”


“Tanya apa Yura Sabina?!” Andreas mulai geram menghadapi temannya satu ini.


“Coba lo tanya, gue kesel juga nggak ngomong sama lo?” ucapnya sambil menjulurkan lidah,


mengejek.


“YURAAA!”


“Iya, maaf. Gue bercanda..”


“Selamat pagi menjelang siang semua...”


Seluruh yang ada di ruangan itu tampak kaget melihat seorang laki – laki masuk ke dalam


kelas mereka. Terutama para mahasiswi yang di buat tercengang dengan kehadiran


sosok itu.

__ADS_1


“Saya dosen baru disini, menggantikan Bapak Glen Anggara,” Tuturnya, “Perken-


“Lo dosen?” celetuk seseorang dari belakang, “Hm, nggak salah? Kampus kekurangan


uang kah nyari dosen macam lo?” ucapnya ketus.


Yura menaikan sedikit sudut bibirnya. Dia baru sadar ada rombongan anak MAPALA di


kelasnya, Leo, Arnold, dan Rayan Octo. Mereka bertiga berada disini untuk


mengejar ketertinggalan, entah sudah berapa lama gelar sarjana belum terselip


di nama belakang mereka. Sebenarnya Yura agak risih dengan keberadaan mereka


bertiga, khususnya Leo, laki – laki itu sering sekali membuat Yura jengah


dengan segala tingkahnya.


“Mending lo ke perpustakaan gih, belajar lebih banyak lagi, baru ngajar kita disini.”


Lanjut Leo.


Reinard mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia melayangkan barang satu atau dua


pukulan kepada mahasiswanya itu. Tapi ia mencoba meredam emosi, terlebih lagi


karena adanya keberadaan CCTV di sudut ruang yang akan terus memperhatikan


gerak – geriknya.


“Mending lo biarin dia ngenalin dirinya dulu,” ujar Yura membuatnya menjadi pusat


perhatian sekarang, tidak terkecuali dengan Reinard yang baru menyadari bahwa


Yura ada di kelas ini, “Selesai dia ngenalin diri, baru lo bisa buat kesimpulan


kenapa dia disini, terus mungkin juga..” Yura menggantung kalimatnya.


“Apa?” tanya Leo tak sabaran.


“Ya.. Mungkin lo bakal tarik kata – kata lo tadi,” jawab Yura tanpa beban, “Bapak mau


diem aja? Nggak jadi ngenalin diri? Atau mau saya kenalin  ke mereka?”


“Oh,” sahut Reinard kaget mendengar perkataan Yura, “Hm, oke perkenalkan nama saya


Reinard Putra Caesar...”


Semua yang mendengar nama itu seolah terkesima, begitu juga dengan Leo dan teman –


temannya, ia menelan ludah setelah mendengar kata Caesar pada nama itu.


Nyalinya mendadak ciut. Sementara itu Yura tersenyum penuh kemenangan melihat


reaksi Leo.


“Ada yang mau ditanyakan?”


Seisi kelas hanya diam tidak ada yang berani mengeluarkan bunyi sedikit pun. Tapi tidak


dengan Yura.


“Ya? Kamu..” tunjuk Reinard.


“Maaf, pak. Mungkin minggu depan ini bisa di lanjut lagi, soalnya jamnya udah habis. Next time mungkin bapak bisa mulai lebih


awal,” kata Yura dengan penuh penekanan.


Reinard tahu persis bahwa Yura sedang menyindirnya, “Oh oke, maaf untuk keterlambatan


saya. Tadi saya ada sedikit urusan. Kita lanjut lagi minggu depan,” ujarnya,


“Dan saya mau kelas minggu depan semua mahasiswa sudah lengkap dan siap


menerima materi, dan jangan ada yang telat apalagi masih ada yang di kantin


pada jam saya..” terang Reinard membalas Yura.


“Kamu!” tunjuk Reinard pada Yura, “Iya, kamu. Tolong kumpulkan absen teman – teman kamu


dan bawa ke ruang saya di lantai dua di samping perpustakaan,” perintah

__ADS_1


Reinard, lalu keluar kelas dengan santainya.


“CK!” decak Yura kesal.


__ADS_2