ZALGA

ZALGA
BAB 3: KERIBUTAN


__ADS_3

Kini zalen telah sampai halaman rumah dan ia memarkirkan motornya di depan rumah.


Melangkahkan kaki memasuki rumah yang tampak sepi tidak terlihat sosok Ratih didalamnya.


" Mama kemana ya kok sepi" gumamnya.


" Assalamu'alaikum ma!"


Tak ada sahutan dari sang mama Ia langsung berjalan ke arah dapur pikirnya mungkin Ratih di sana.


Sesampainya di dapur ia juga tidak melihat ratih ia lalu menoleh ke arah kamar ratih yang tampak terbuka.


" mungkin mama lagi tidur" pikir zalen.


Ia langsung berjalan menuju kamar Ratih mencoba mengecek Ratih apakah ada di sana apa tidak.


Setiba di depan pintu zalen terkejut bukan main melihat kamar mamanya sangat berantakan barang bececeran di mana mana di lantai dan pecahan vas.


" Ini ada apa" tanyanya sendiri.


Ia lalu masuk melihat semua barang yang berserakan di mana mana dan pandangannya tertuju ke sudut ranjang.


ia melihat sang mama yang tengah terduduk lemas di lantai di pinggir ranjang dengan wajah memar di bagian pipi dan pelipis yang sedikit mengeluarkan darah.


Sontak saja zalen langsung mendekat ke arah Ratih dan terduduk memegangi bahu sang mama dengan wajah terkejut dan sedih.


" Ma" panggilnya dengan suara yang sedikit bergetar.


" Ma mama kenapa " zalen sedikit terbata akibat shok melihat Ratih dalam kondisi yang sangat buruk.


Ratih menatap zalen nanar dengan air mata yang terus menerus jatuh dari pelupuk matanya.


" Ayah kamu tadi pulang nak" ucapnya pelan tanpa tenaga.


" Ayah?" Ulang zalen.


Rati mengangguk.


" iya ayah kamu tadi pulang"ulangnya lagi.


" Apa semua ini perbuatan ayah ma? " Zalen menatap manik sang mama penuh tanya.

__ADS_1


Rati tak menjawab ia hanya menangis membuat zalen merasa bingung.


" Ma jawab zalen apa ini ayah yang ngelakuin semua?" Tanya zalen tegas.


ia berharap bahwa ini semua bukan ayahnya yang berbuat atau dirinya tidak akan pernah ingin melihat ayahnya lagi karna sudah berbuat kasar terhadap mamanya.


" Ayahmu tadi pulang dan meminta kalung serta gelang mama.


Entah untuk apa tapi mama tidak memberikannya dan ayah kamu langsung memukuli mama dan membanting semua peralatan di sini "jelas Ratih panjang lebar.


Zalen tertegun ia tidak menyangka jika ayahnya dapat melakukan semua ini terhadap mamanya.


Zalen mengangkat bahu Ratih agar dapat berdiri untuk ia duduk kan di atas ranjang yang sedikit berantakan Ratih pun menurut dan berdiri meski sedikit lemas.


" Ayok ma" dengan hati hati zalen menopang tubuh Ratih agar tidak jatuh dan mendudukkan Ratih di pinggir ranjang lalu pergi ke arah dapur mengambil handuk dan air dingin untuk ia kompreskan.


Setelah mengambil apa yang di butuhkan ia langsung bergegas ke kamar Ratih.


" Sini ma biar zalen kompres" zalen mendudukkan pantatnya di samping Ratih lalu dengan hati hati ia menempelkan handuk yang sudah ia celupkan di air dingin ke area yang memar.


" Sss" ringis Ratih.


" Tahan ya ma" ucap zalen dan terus mengompresnya.


" Tapi ma" bantah zalen.


" Udah nanti mama aja yang kompres sendiri.


Kamu istirahat saja sana" perintahnya tanpa ingin mendengar bantahan zalen.


" Yaudah mama tiduran aja Biar zalen yang beresin ini semua"


Zalen membaringkan Ratih dan menyelimutinya agar beristirahat.


lalu ia mengambil beberapa barang yang tergeletak di lantai meletakkannya ke tempat semula dan mengambil pecahan pecahan vas yang berserakan lalu membungkusnya dengan kain.


Selesai membereskannya zalen melangkah keluar dan menutup pintu perlahan membiarkan Ratih tertidur.


Ia tidak percaya keributan di rumahnya akan terjadi bahkan disaat dirinya tidak ada membuat Ratih terluka seperti itu.


☘️

__ADS_1


☘️


FLESBEK ON:


Terlihat Ratih sedang mencuci di dapur dengan pikiran yang berkelana berfikir tentang nasip kedepan keluarganya ntah dengan tingkah suaminya dan keuangan yang tak mencukupi.


" ya Allah mudah kanlah segala urusan hamba..dan tunjuk kanlah jalan yang benar untuk hamba." ucapnya sendu menyeka air mata yang jatuh ntah kapan dari pelupuk matanya.


Masih dengan pekerjaannya terdengar suara benda jatuh dari arah ruang tamu.


" planggg"suara benda yang nyaring mengejutkan Ratih yang tengah melamun.


" astagfirullah!!" ucapnya terkejut.


Tak ingin menunggu lama Ratih langsung berjalan menuju arah suara.


menutup mulut Ratih terkejut melihat pecahan vas bunga yang berserakan di lantai mengedarkan pandangannya mencari siapa seseorang yang telah melakukan hal ini.


" ratihhhh!!!" teriak seseorang dari arah kamar Ratih.


tersentak dengan suara yang sudah Ratih hafal dirinya langsung berjalan ke arah kamarnya.


" apa yang kamu cari mas!" ucap Ratih menghentikan tangan Indro yang tengah mengacak lemarinya.


" kasih pada ku gelang semua perhiasan mu" pinta Indro suami Ratih dengan nada memaksa.


Menggeleng Ratih berucap.


" kamu mau buat apa sama perhiasanku" tanya Ratih.


" udah gak usah banyak tanya" jawab Indro menyentak Ratih.


Tersentak dengan bentakan Indro ratih mulai gemetaran.


" gak mas aku gak bakalan kasih sama kamu..itu punya almarhum ibu aku..aku gak mau kasih"bantah Ratih hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Indro dan menghempaskannya ke atas kasur.


Dengan emosi yang meluap Indro mencekal leher Ratih tidak terima jika dirinya di bantah.


"berani Lo bantah gue ha!!!" bentak Indro.


Kesulitan bernafas Ratih mencoba melepaskan cekalan tangan Indro namun kekuatannya tidak sepadan dengan Indro.

__ADS_1


" le-lepas mas" ucapnya terbata bata.


Indro melepaskan cekalannya namun dirinya terlebih dulu memukuli wajah Ratih sehingga pelipis serta jidat Ratih memar.


__ADS_2