
Hari mulai gelap bintang bintang serta cahaya rembulan mulai muncul menambah kesan indah di malam hari.
Suasana ramai dengan tingkah Lauren, Dian serta zalen tidak menjadikan rumah menjadi sunyi walaupun tanpa kehadiran sang ayah di sisi mereka.
" hei Di lempar sini bantalnya awas jangan Sampek ketangkep kakak"
perintah Lauren memberi aba aba kearah Dian yang tengah memegang bantal untuk nya umpan kearah Lauren .
" awas kalian ya kakak bakalan dapet bantal itu..lihat saja nanti" tantang zalen bersiap mengambil alih bantal yang Dian pegang.
Dian menoleh kearah Lauren dan zalen bergantian dirinya merasa sedikit ragu melemparkan bantal ke arah Lauren takutnya nanti ke tangkep zalen jadinya ia yang akan kalah.
" kak Lauren yang bener nangkepnya " ucap Dian yang di angguki Lauren .
Ya saat ini mereka tengah bermain umpan bantal di ruang tamu layaknya seorang anak kecil membuat Ratih yang sedari tadi yang tengah duduk di sofa terkikik melihat tingkah ke tiga putrinya yang bertingkah seperti anak kecil.
" ada ada saja mereka" ucap Ratih menggeleng kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berselang 5 menit ketiganya terduduk lemas di atas sofa suara gemuru nafas mereka terdengar di telinga Ratih.
" Ya ampun nafas kalian Sampek segitunya ya"ujar Ratih melihat ketiga putrinya terduduk lemas.
Lauren ,Dian serta zalen hanya menyengir memperlihatkan gigi putih mereka mendengar ucapan mamanya.
__ADS_1
" heheh biasa ma, olahraga malam lebih baik dari pada olahraga pagi" ujar zalen yang mendapat anggukan dari kedua adiknya.
" betul betul betul" timpal Lauren dan Dian serempak.
Ratih menurut saja.
" Iya terserah kalian saja yang penting bahagia" jawab Ratih tersenyum.
Lauren Menoleh kearah jam dinding jarum kecil disana sudah menunjukkan 9 malam .
Menghembuskan nafas berat Lauren pasrah dengan ayahnya yang tak kunjung pulang.
" kenapa?" Tanya zalen menepuk bahu Lauren melihatnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Menoleh Lauren menjawab.
Zalen mengerti dengan kekhawatiran Lauren namun zalen tidak dapat melakukan apa pun untuk ayahnya bahkan mengubah sifat ayahnya saja sangat mustahil.
" kakak ngerti sama ke khawatiran mu ..tapi kalo bisa kesedihanmu jangan kamu nampak in ke keluarga takutnya mereka juga sedih dek" ucap zalen mencoba menasehati .
Zalen mengangguk paham dengan ucapan kakaknya.
" kak zalen" panggil Dian .
Zalen menoleh ke arah Dian .
__ADS_1
" apa" jawabnya.
" aku lapar..kita masak yuk" ajak Dian mengelus elus perutnya yang datar.
" Yaudah yuk kakak juga udah laper..habis energi" ucap Lauren beranjak dari duduknya.
" kalian mau masak apa?" Tanya Ratih menoleh ke arah zalen.
" Masih gak tau ma..mau liat bahannya dulu" jawab zalen diangguki Dian .
" mama juga lapar..mama minta aja boleh" ucap Ratih dengan sengirannya.
Zalen ,Dian dan Lauren tertawa renyah mendengar ucapan mamanya yang terdengar lucu.
" yaudah nanti zalen masakin juga buat mama sama lauren" ucap zalen kemudian berjalan ke arah dapur .
Membuka kulkas Dian ambil beberapa sayuran seperti gobes wortel serta daging ayam.
" cuma ini kak" ujar Dian memperlihatkan bahan bahannya.
" ini udah cukup buat kita...kita bikin sup ayam aja pasti enak" ucap Lauren mengambil daging ayamnya untuk ia bersihkan.
" kamu potong gobes Sama wortelnya kecil kecil kakak bersihin daging ayamnya "
Dian mengangguk.
__ADS_1
" iya kak"