[Cinta Yang Ditolak]

[Cinta Yang Ditolak]
protektif


__ADS_3

setelah mengatakan itu zania menangis dan menunduk meratapi nasibnya,sedangkan arza hanya melihat dengan tatapan dingin.


"apa kau sudah puas menangis sayang" arza bersuara setelah lama hening diantara mereka.


zania berdiri dengan tegak dan menatap mata hitam pekat milik arza,arza tersenyum smirk ketika melihat hidung dan mata zania sudah memerah dan bengkak akibat terus menangis.


"kau tau sayang,aku sebenarnya sangat membenci penolakan namun,dengan dirimu aku bisa sedikit bersabar tapi aku bukan orang yang terlalu baik,aku sabar saat melihat dirimu dekat dengan dokter Rudi,aku juga menerima keputusanmu memutuskan hubungan kita,aku juga cukup sabar saat dirimu tadi berdansa dengan agra,tapi aku tidak akan sabar untuk perkataanmu yang menghina cinta kita" arza melangkah mendekati zania.


zania takut melihat arza yang seperti ini,yang ada dihadapannya bukanlah arza yang dia kenal melainkan orang lain.


"kau takut sayang,tapi sepertinya tidak karna jika kau takut kau tidak akan berani malawanku,kau zania putri Al habib jadi mana mungkin kau takut,dengarkan aku sayang aku tau kau sudah mendaftarkan kuliah S2 di Turki dan kau akan berangkat ke Turki besok pagi,aku diam bukan berarti aku tidak tau tapi aku diam karna aku ingin melihat sampai mana keberanian mu melawanku" arza tersenyum smirk.


"aku sudah mengatakan padamu arza,kalau aku mempunyai impian untuk kuliah di Turki dan itu impianku sejak aku masih berumur 12 tahun" zania berkata dengan berani


"aku tau sayang,aku mengijinkan mu untuk kuliah disana tapi dengan syarat kau harus bisa menyelesaikan pendidikan sarjana mu dalam kurun waktu satu tahun" arza berkata dengan sangat santai.


zania terkejut hingga membelalakkan matanya.


"kau bercanda arza,aku tidak sepintar dirimu yang bisa lulus dalam waktu 9 bulan" zania tersenyum pahit.

__ADS_1


"kalau begitu aku tidak mengijinkan mu pergi ke Turki kau bisa kuliah disini. dan terus bersamaku" arza tersenyum sangat manis.


"aku tidak butuh izinmu karna kau bukan siapa-siapa" zania pergi dari taman meninggalkan arza,tapi tangannya ditahan oleh arza dengan sangat kuat hingga menyakitinya.


"kau milikku zania dan kemanapun kau pergi kau Harus izin kepadaku,karna kau adalah zaniaku kau mengerti" tatapan dingin arza seolah membekukan zania.


"aku membencimu Muhammad arza Al-Jazeera".


"aku mencintaimu zania putri Al habib"


cinta hanya berbeda tipis dengan benci.


"kak Lea liat kak Niza gak,aku cariin dari tadi tapi gak nongol" ujar Ahsan kebingungan.


pasalnya handphone Ahsan ada di dalam tas zania.


"emang ngapain kamu nyariin Niza?" tanya zalea heran, jarang-jarang Ahsan cemas seperti ini dengan kakaknya biasanya dia hanya cuek.


"handphone aku ada di dalam tas kak Niza,kalau ada yang telfon bagaimana" Ahsan semakin cemas melihat tidak ada tanda-tanda zania berada.

__ADS_1


"emang siapa yang nelfon kamu,apa jangan-jangan kamu punya pacar ya Ahsan" zalea menatap Ahsan menyelidik.


"kakak apaansih mana ada aku punya pacar,gebetan sih ada itupun kalau kak Niza tau langsung dimarahin aku" Ahsan barkata dengan wajah lesu.


zalea tertawa ngakak,dia heran dengan adiknya zania entah kenapa zania sangat protektif terhadap Ahsan.


ahsan tersenyum bahagia ketika orang yang dicarinya sedang menuju ketempat dirinya berada.


"kak zania dari mana ajasih,capek tau aku nyariin" zania baru datang langsung disambut dengan wajah masam Ahsan.


"tumbenan kamu nyariin kakak,biasanya juga cuek" zania membalas dengan tersenyum simpul.


"handphone aku sama kakak" jawab Ahsan malas.


"halah cuman handphone aja ribet,aku kira apaan udah kek orang ilang istri aja" zania tertawa lalu mengeluarkan handphone Ahsan dari tasnya.


"dia takut kamu buka handphone nya,karna ..." belum habis zalea berbicara,Ahsan sudah duluan menutup mulutnya dengan tangan nya.


zania menatap curiga kearah Ahsan.

__ADS_1


"gak kok kak gak ada apa-apa" jawab Ahsan kikuk.


__ADS_2