A Long Slepping

A Long Slepping
Pengakuan Linda


__ADS_3

Linda sedikit kedinginan saat masuk ke ruangan Mister Bill yang dilengkapi AC, ia pun menutup jaketnya hingga rapat. Mister Bill mempersilahkan tamunya duduk di hadapannya.


Sebelum berbicara, Mister Bill membersihkan kacamatanya yang sedikit berembun. Kemudian dia menatap bergantian ke Casy dan juga Linda dengan mata yang memincing. Casy sedikit gugup dan takut, sedangkan Linda hanya bersikap datar dan dingin.


"Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Linda benarkah apa yang dikatakan Casy kalau kamu yang terakhir bersama Amber? " Tanyanya langsung ke poin inti.


"Ya, betul. Saya memang sempat mengobrol sedikit dengan Amber kemarin," ujar Linda bersikap tenang.



"Apa yang kalian bicarakan? "Mister Bill melanjutkan pertanyaanya yang lebih serius.


"Amber bercerita kalau orangtuanya akan terlambat menjemputnya, jadi dia meminta tumpangan pulang. Aku membolehkannya ikut denganku lalu aku mengantarnya sampai rumahnya. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa," aku-nya.


"Apa kamu berkata jujur? " Mister Bill menatap Linda dengan tajam.


"Ya," jawab Linda, singkat dan jelas.


"Baiklah, kalau begitu kalian boleh pergi."


"Terimakasih, sir. "


Saat kembali ke kelas, semua anak menatap Linda dengan tatapan yang aneh, Linda bersikap biasa saja dan duduk di tempatnya tanpa mempedulikan sekitarnya.


"Linda, are you okay? Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi? Sahabat harus saling jujur, kan?" Tanya Camilla mencari tahu.


"I'll tell you later."


"Baiklah, don't worry. Aku akan merahasiakannya baik-baik. Aku yakin kamu tidak berbuat jahat, karena aku mempercayaimu. "


"Terimakasih telah mempercayaiku. " Ujar Linda sambil tersenyum singkat.


***


Saat istirahat, kelas dipenuhi oleh orang-orang yang bergosip, Camilla tahu kalau mereka semua sedang membicarakan sesuatu yang buruk tentang Linda.


"Lin, ayo kita pergi ke kantin. Tidak usah dengarkan ucapan yang tidak baik tentangmu. " Ajak Camilla.


"Baiklah, aku juga ingin pergi. "


"Kalian mau ke kantin?" Tanya Alex yang melihat gadisnya hendak keluar kelas.


"Yap, apa kamu mau ikut? " Tawar Linda.


"Oh, dimana Joshua? " Tanya Camilla.


"Dia bilang nanti menyusul. "

__ADS_1


***


Joshua masih mengulang pelajaran yang belum ia pahami tadi, sudah lama ia tidak belajar sehingga otaknya sedikit lambat untuk menyerap pelajaran. Tetapi bukan berarti dia bodoh, hanya saja dia butuh waktu untuk mengasah otaknya kembali.


"Guys, aku lumayan curiga dengan Linda. Apa menurut kalian dia tidak aneh? " Kata salah satu anak yang memulai pembicaraan.


"she's very weird." Sambung yang lain.


"Sebenarnya kemarin sore Amber menelponku, dia mengajakku pergi ke cafe jam delapan malam karena dia sangat ingin minum kopi. Dia bilang sedang bersama Linda di suatu tempat, lalu saat malamnya aku sudah menunggu tetapi Amber tidak juga datang dan aku menghubunginya, tetapi ponselnya tidak aktif. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi, tapi entah apa. " Terang teman dekat Amber yang bernama Acy.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Acy? "


"Maaf, aku tidak berani mengatakannya di depan Linda. Dia sangat menakutkan. "


"Ya, kamu benar, sih. "


"Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kasihan orang tua Amber, pasti mereka khawatir. " Tambah Casy.


"Kita tidak bisa diam saja, kita harus menyelidiki ini!" Tegas Lucy, sahabat Amber.


"Bagaimana kalau misalnya Linda tidak bersalah? Kita tidak boleh bertindak gegabah. " Ujar Casy sambil memikirkan cara lain untuk mencari petunjuk tentang Amber.


"Sekarang yang harus kita khawatirkan adalah Amber, kita harus mencari tahu tentang dia no matter what. Kita selidiki kasus ini bersama, who's agree with me. " Ujar Lucy, dia adalah orang yang paling berani mengambil keputusan diantara lainnya.


"I miss her so much. " Ungkap Acy, sambil menahan air matanya.


"We all miss her, okay? don't be sad. We will find her together, right girls? " Hibur Lucy.


Sebenarnya Joshua tidak ingin mencampuri urusan mereka karena dirinya tidak begitu mengenal Amber, tetapi setelah tak sengaja mendengar cerita mereka, Joshua merasa kasihan dan juga penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


"Wait, um, can I ask to you, guys? " Tanya Joshua menghentikan langkah mereka.


"Ya, why? " Balas Casy.


"Can i help you? "


"For what? kasus Amber? kamu yakin mau membantu kita? bukankah kamu teman dekat Linda? " Selidik Lucy yang merasa bingung.


"Ini bukan tentang aku dekat dengan siapa, tapi karena aku ingin membantu kalian, aku pernah kehilangan seorang ibu, and it hurts me a lot. Kalau kalian tidak keberatan, aku bisa membantu kalian," jelas Joshua, semua anak saling bertatap muka mendengar tawaran Joshua. Mereka tidak menyangka Joshua akan terbuka menceritakan tentang dirinya yang telah kehilangan seorang ibu.


"Ya, kamu boleh ikut. Nanti sore kita akan pergi ke suatu tempat untuk mencari Amber. Tepatnya, kita akan pergi ke rumah Linda, kita hanya akan mengintip sedikit, apakah Amber ada disana atau tidak," jelas Lucy.


"Lalu setelah itu? "


"Kita akan mencari bukti lain. "


"Alright. Sekarang aku harus pergi. Sampai nanti, guys. "

__ADS_1


"Bye, Josh. thank you for being willing to help us!"


"Yeah, no problem. "


***


"Alex, aku punya pertanyaan untukmu, apa kamu mencurigaiku sebagai pelaku kejahatan Amber? " Linda memberikan pertanyaan untuk memastikan kepercayaan sahabatnya.


Alex menggeleng sambil fokus melahap makanan junk food yang sangat lezat.


"Bagaimana denganmu, Cam? "


"Aku mempercayaimu, aku yakin kamu orang yang baik," sahut Camilla sambil tersenyum tulus.


"Bukankah omongan mereka terdengar seperti omong kosong? Mereka hanya mengatakan apa yang ingin mereka katakan tanpa mengetahui kejadian aslinya, that is such a bullshit!" Maki Linda yang mulai emosi.


Joshua datang setelah Alex menghabiskan minuman sodanya.


"Hai, Josh. Mengapa kamu lama sekali?" Tanya Camilla.


"Uhm, ada beberapa materi yang ingin ku pelajari ulang. "


"Oh, kamu sangat giat, Josh. " Puji Alex.


"Aku ingin bertanya, apa pendapatmu tentang kasus Amber, kamu memihak siapa?" Kini Linda melemparkan pertanyaan kepada Joshua.


"I don't know, i don't even know the real story. Menurutku belum ada yang terbukti salah, jadi aku tidak bisa memutuskan siapa yang benar dan salah."


Linda menghentikan kunyahannya, dia menatap Joshua tanpa bereaksi apapun


"Tapi kalian bisa bayangkan betapa khawatirnya orang tua Amber? Semua orang tua akan khawatir kalau anaknya hilang. Ini bukan tentang siapa yang benar atau salah, setidaknya kita semua harus membantu mencari Amber. Linda, tidak bisakah kamu tidak egois terus memikirkan dirimu sendiri? Amber lebih membutuhkan bantuan!"


Linda terdiam di tempatnya, ia bangkit dari duduknya sambil membawa baki makanan. Camilla menyadari bahwa Linda tersinggung dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Joshua.


"Josh, apa yang kamu pikirkan? Kata-katamu sangat kejam! " Tegas Camilla kemudian pergi meninggalkan Joshua. Alex berusaha tidak membela siapapun, ia hanya melanjutkan makan dengan tenang.


"Yah, sebenarnya aku setuju denganmu kalau kita harus membantu mencari teman kita yang hilang. Ku akui kamu memiliki rasa empati yang tinggi, tapi kamu tidak perlu menyebut Linda egois. Itu sedikit keterlaluan, kamu tahu kalau sekarang semua orang sedang memfitnah Linda, apa pantas kalau kamu menyebutnya egois? "


Sebelum sempat menjawab ucapan Alex, mereka berdua mendengar keributan tak jauh dari tempat mereka. Tommy dan teman-temanya mencegat Linda supaya tidak bisa lewat. Bahkan Tommy juga mengatakan hal yang buruk kepada Linda.


"Hei, psyco. Kamu mau pergi kemana? Kamu kira bisa berkeliaran dengan bebas setelah menculik Amber? shameless. " Kata Tommy sambil tersenyum mengejek.


"Get out of the way! Don't **** with me! " Teriak Linda yang mulai dikuasai amarah karena lelah menghadapi orang-orang tolol seperti mereka.


"Wah, apa kamu sedang mengancamku? "


Linda bergerak dengan cepat memukul perut Tommy dan memutar pergelangan tangannya hingga terdengar suara tulang yang retak. Camilla yang melihat hal itu takjub dan tak menyangka bahwa Linda sangatlah kuat.

__ADS_1


"Sudah kuperingatkan! " Desis Linda sambil menunjukkan muka garangnya.


Seketika kumpulan teman-teman Tommy bubar, mereka menuntun sobatnya yang sekarat itu ke ruang kesehatan.


__ADS_2