
Waktu berlalu begitu cepat, kini Camilla sudah naik ke kelas 11 SMA. Dia semakin tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan baru.
Di hari liburnya, Alex mengajaknya ke suatu tempat, beberapa bulan yang lalu mereka baru saja jadian. Ternyata Alex sudah memiliki perasaan terhadapnya sejak pertama kali mereka bertemu. Camilla tidak bisa menolaknya karena dia melihat ketulusan dari tatapan Alex.
"Honey, Alex sudah menunggumu, apa kamu sudah siap?" Ibunya memanggilnya yang tengah bersiap-siap.
"Yeah, mom. Wait a minute. "
"Wow, you're so beautiful tonight. " Puji Alex dengan senyum yang manis.
"Thank you. Bisakah kita pergi sekarang?"
"Ya. "
Mereka pun segera pergi ke tempat yang masih menjadi rahasia. Alex ternyata mengajak Camilla ke sebuah cafe romantis, mereka pun memesan kopi dan mengobrol sebentar.
"Apa menurutmu rasanya enak? " Tanya Alex
"Yeah, terimakasih sudah membawaku ke sini. Aku sangat suka minuman kopi yang manis. "
"Tidak masalah, aku senang kalau kamu suka tempat ini. "
"Alex, sebenarnya aku ingin jujur padamu. Tapi aku takut kamu akan marah. "
"Apa? Katakanlah, aku tidak akan marah. "
"Seriously? "
"Ya. "
"Apa kamu tulus menyukaiku? "
"Apa kamu perlu menanyakan itu, tentu saja aku sangat mencintaimu, kalau tidak aku tidak akan berpacaran denganmu, benar, kan?"
"Tapi bagaimana kalau aku belum memiliki perasaan sebanyak yang kamu rasakan. I mean, aku belum menyukaimu lebih dari teman. Ku akui, kamu adalah orang yang baik. Kamu pria yang sangat lembut dan pengertian, tapi aku belum merasa suka denganmu."
Alex merasa sedikit kecewa karena pernyataan Camilla barusan. Namun dia masih saja tersenyum menanggapinya.
"Lalu kalau kamu menerimaku sebagai your boyfriend, itu artinya kamu menyukaiku kan, meskipun sedikit?"
"Umm, entahlah, aku tidak bisa menolakmu karena kamu orang baik.".
"Perasaan akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan, aku tidak akan memaksamu sekarang, mungkin suatu hari nanti kamu akan tahu betapa besar aku menyayangimu. "
"Maaf, apa aku membuatmu tersinggung? "
"Tidak, lebih baik kita tidak usah bahas masalah ini, kenapa kita tidak bercerita tentang sesuatu yang lucu?" Alex berusaha mengganti topik pembicaraan.
***
__ADS_1
"Mommy! Aku melihat seorang manusia di sini!" Seru Megan, adik Alex yang masih berusia lima tahun. Dia penasaran dengan isi ruang bawah tanah, namun tak menyangka dia malah menemukan sesosok pria yang sedang tertidur, entah berapa lama dia tertidur.
Suara teriakan Megan berhasil membuat Joshua terbangun dari tidur panjangnya. Dia seperti orang linglung yang baru saja bangkit dari kematian. Joshua melihat sekelilingnya yang gelap dan seorang gadis kecil yang sedang menatapnya penuh tanya.
"Apa kamu sungguh manusia? " Tanya gadis kecil itu sambil mendekati Joshua.
"Ya, kamu siapa? "
"Namaku Megan, umurku lima tahun. Lihatlah dirimu yang sangat berantakan. Sejak kapan kakak tinggal disini? " Selidik Megan.
"Bukankah baru kemarin aku tertidur?"
Megan menggeleng cepat dan mencoba menjelaskan kalau dia tidak pernah melihat Joshua sama sekali sebelumnya.
"Megan, ada apa baby? " Tanya sang ibu yang langsung masuk ke dalam ruang bawah tanah.
"Lihat mom! Kakak ini tertidur disini, rambutnya sangat berantakan dan pakaiannya sudah kekecilan. " Jelasnya mengamati Joshua dengan cermat.
"Ya ampun, bagaimana bisa kamu tidur disini? pasti tidak nyaman. Apa kamu tidak punya tempat tinggal, nak? "
"Bukankah ini rumah saya?"
Jawaban Joshua membuat kedua orang itu semakin bingung. Namun ibu Megan tak ingin ambil pusing, dia menyuruh Joshua pergi ke ruang tamu.
"Kamu boleh mandi dulu, setelah itu pakailah pakaian milik anak laki-lakiku. Dia seusiamu, pasti baju dan celananya muat. "
"Baik, terimakasih bibi. "
Joshua pun membersihkan dirinya, hal yang membuatnya terkejut adalah ketika ia berdiri di depan cermin. Dia sangat shock melihat dirinya sendiri yang sudah berbeda. Dia bukan lagi anak laki-laki berumur delapan tahun. Lalu berapa tahun lamanya dia tertidur?
Begitu selesai mandi, dia pergi menemui Bibi Karin dan Megan di ruang tamu. Mereka sangat terkejut dengan penampilan Joshua yang lebih rapih.
"Wah, kamu sangat tampan, siapa namamu? "
"Joshua. "
"Oh, tadi kamu bilang rumah ini adalah rumahmu, apa maksudnya? "
"Ceritanya sangat panjang, apa saya boleh tahu kemanakah pemilik rumah ini sebelumnya?"
"Oh, kami tidak tahu karena kami baru meninggali rumah ini selama dua tahun. Kami tidak tahu kemana perginya pemilik rumah ini. "
"Baiklah, kalau begitu."
Saat mereka tengah berbincang, seseorang membuka pintu rumah.
"Mom, aku pulang! " ujar seorang pria yang sepertinya anak dari Bibi Karin. Dia menggandeng tangan seorang gadis yang sepertinya seumuran mereka.
"Alex, perkenalkan anak ini namanya Joshua. Apa kamu keberatan meminjamkannya pakaianmu? "
"Tidak mom, aku dan Camilla baru saja pulang kencan."
__ADS_1
"Camilla?" Joshua terkejut karena Alex menyebut nama Camilla, orang yang sangat dia rindukan.
"Joshua? apa itu kau?" Camilla balas bertanya karena ia merasa seperti mimpi bisa melihat sahabatnya lagi.
"Ya, ini aku. Kamu masih Mengingatku? "
"Joshua! " Camilla berlari memeluk sahabatnya dan menangis di pelukannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kamu menghilang waktu itu? Kamu tidak tahu aku sangat kesepian setelah kamu pergi!?" Ucap Camilla mengeluarkan semua isi pikiran dan perasaannya.
"Maafkan aku. Aku akan menceritakan semuanya nanti. "
"Baiklah, Alex maaf aku harus pergi. Bibi Karin, Megan, sampai jumpa besok. Bye semua." Camilla berpamitan pada semua orang. Dia membawa Joshua pergi dari rumah Alex.
"Kamu tahu? Aku tidak menyangka kamu masih hidup?"
"Ya, aku sendiri juga tidak menyangka. "
"Apa yang terakhir kali kamu ingat?"
"Malam itu, aku dan mom bersembunyi di ruang bawah tanah lalu mom bilang dia akan menghadapi pembunuh itu untuk melindungiku, dan tiba tiba aku mengantuk. Lalu aku tertidur hingga sekarang. "
"I Can't believe that. Kamu sudah tertidur selama sepuluh tahun, Josh. That's crazy. "
"Apa kamu tahu dimana dad dan Johnny sekarang?"
"Mereka sudah pergi sepuluh tahun yang lalu, paman Dave menjual rumah itu dan kini Alex yang menempatinya. Terakhir kali mereka bilang akan pindah ke New Meksiko."
"Terimakasih sudah memberitahuku semua itu. "
Camilla tersenyum, namun dia tidak bisa berhenti menatap sahabatnya.
"Joshua, tolong jangan pergi lagi. Aku sudah merindukanmu selama bertahun tahun. Menetaplah dirumahku dulu, kumohon. " Pinta Camilla.
Joshua tersenyum tipis, dia pun mengangguk pelan.
"Really? Thank you Josh. "
***
Mom sangat terkejut melihat Camilla membawa pria lain selain Alex. Sudah bertahun-tahun Camilla tidak pernah mengenalkan pria lain kecuali Alex.
"Mom, dia Joshua."
"Joshua?" ibunya sedikit bingung dengan penjelasan putrinya. Maklum saja, Joshua bukanlah bocah berumur delapan tahun lagi, jadi ibunya sedikit tidak mengenalinya. "Maksudmu Joshua putra Dave? Joshua kakak Johnny? " Lanjut Ibunya memastikan tebakanya tidak salah.
"Yap, dia Joshua anak Paman Dave, dia masih hidup, mom."
"Bibi Catrine, bolehkah aku memelukmu?" Ucap Joshua yang sudah sangat merindukan bibinya itu.
__ADS_1
"Ya, kemarilah. "
Mereka pun berpelukan hingga air mata Bibi Catrine tak kuasa bertahan di pelupuk mata.