
Joshua tidak bisa tertidur lagi, dia hanya duduk di teras rumah Camilla sambil memandangi langit hitam. Entah apa yang sedang ia pikirkan, setelah sepuluh tahun tertidur, inilah pertama kalinya ia bisa menghirup udara bebas lagi.
"Josh, kamu belum tidur?" Camilla yang hendak masuk ke kamarnya mengurungkan diri karena melihat Joshua masih terjaga.
"Aku sudah cukup tidur selama bertahun-tahun. "
"Oh, boleh aku duduk disampingmu?"
Joshua mengangguk, sepertinya Camilla ingin menceritakan sesuatu padanya.
"Kamu tahu, semenjak kamu menghilang sepuluh tahun yang lalu, aku sangat kesepian. Setiap kali aku melihat rumahmu, pasti yang ada di ingatanku adalah kenangan masa kecil kita. Aku selalu berdoa, meminta supaya kamu cepat ditemukan, bertahun-tahun aku menunggu tuhan mendengar doaku, tetapi tuhan punya rencana lain. Tuhan mengizinkanku bertemu lagi denganmu hari ini. "
Joshua menatap Camilla lembut, di dalam hatinya dia juga sangat merindukan sahabat kecilnya itu.
"Josh, pasti waktu itu kamu sangat ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku menjadi kamu. Mungkin aku sudah menangis, saat tau ibuku dibunuh demi menyelamatkanku."
Joshua menggigit bibir bawahnya karena ia membayangkan kembali kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya merasa trauma hingga saat ini.
Camilla tersadar bahwa Joshua butuh seseorang yang menguatkannya dan membuatnya melupakan semua kejadian mengerikan yang pernah dialaminya.
"Josh, are you alright? Don't worry, kamu masih memiliki aku dan keluargaku, lalu ayahmu dan adikmu juga masih ada." Hibur Camilla sambil mengusap pelan bahu Joshua. Lalu Joshua menggenggam tangan Camilla erat, sambil tak kuasa menahan air matanya. Bayangan ibunya yang tersenyum dan suara tangisan ibunya yang membuatnya merasakan sakit kembali.
"Andaikan saat itu aku dan mom masih bersembunyi, apa pembunuh itu tidak akan menyakiti mom?"
"Entahlah, tapi semua ibu di dunia ini lebih memilih dirinya yang disakiti daripada harus melihat anaknya tersakiti. Itulah pengorbanan seorang ibu. Kamu harus bersyukur karena memiliki ibu yang berjiwa besar sehingga kamu masih hidup sampai sekarang." Nasehat Camilla.
"I think so." Joshua menghapus air matanya sambil tersenyum tegar.
"Apa kamu masih ingat cerita Kakek Holland? Menurutku kisahnya hampir mirip denganmu."
"Maksudmu?"
"Seorang anak laki-laki yang bersembunyi dari monster mengerikan. Lalu dia terbangun setelah delapan tahun berlalu. Ibunya meninggal karena menyelamatkannya. Bagaimana bisa kamu lupa cerita itu?" Camilla menatap penuh sangsi.
"Owh, sekarang aku telah mengingatnya. Apa maksud cerita itu? Mengapa cerita itu sangat mirip dengan kejadian yang kualami?seolah-olah cerita itu tahu semua yang akan terjadi di hidupku?"
"Yeah, itu yang aku pikirkan dari tadi. Mungkin saja kisah itu nyata, tapi bagaimana penulisnya bisa mengarang cerita itu?"
"Bagaimana kita bisa tahu? Kakek Holland sudah tidak ada lagi. Kalau saja Kakek Holland masih hidup, kita bisa bertanya padanya. " ucap Joshua, raut wajahnya berubah menjadi murung.
__ADS_1
Saat mereka saling melemparkan pertanyaan yang tidak mereka tau jawabannya, Bibi Catrine menghampiri mereka.
"Camilla, bukankah besok kamu masuk sekolah?" Tegur Bibi Catrine melihat anaknya masih mengobrol hingga larut malam.
"Iya, mom."
"Joshua, Bibi sudah menelfon paman yang sedang di luar kota. Paman bilang dia akan menyekolahkanmu di sekolah yang sama dengan Camilla." Kata Bibi Catrine memberitahu kabar baik.
"Benarkah, mom? Yeayy!" Camilla berteriak senang sambil memeluk Joshua kemudian bergantian memeluk ibunya.
"Terimakasih, bibi. Aku pasti sudah sangat merepotkan kalian karena menumpang di rumah ini. "
"Sama sekali tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Entahlah, kalian sangat baik denganku. "
"Joshua, pasti akan lebih menyenangkan kalau kamu sekolah bersama Camilla."
"Ya, itu sudah pasti, mom." Sambung Camilla.
***
Sarapan pagi yang lezat sudah disiapkan oleh Bibi Catrine. Camilla terlihat sangat menikmati makananya, begitu juga dengan Joshua. Mereka sudah seperti sebuah keluarga yang sedang berkumpul.
Menu makanan yang disediakan adalah omelet telur berisi sayuran, daging, dan juga keju, lalu Hasbrown atau pancake kentang. Makanan itu adalah makanan kesukaan Camilla sejak kecil. Makanan seperti itu disebut American Breakfast, karena sering disantap oleh orang-orang Amerika.
"Ya, mom. Ini sangat enak. Joshua kamu juga harus tambah, kamu pasti kelaparan selama ini. "
"Terimakasih, ini enak sekali Bibi, bibi sangat pandai memasak." Joshua berkata jujur.
"Tidak perlu terlalu memuji, Joshua. "
Mereka berdua telah menghabiskan sarapan, tiba-tiba seseorang memgetuk pintu rumah Camilla.
"Permisi, Bibi Catrine. Apa Camilla sudah siap?" Tanya Alex yang rupanya sedang menunggu pacarnya.
"Ya, biar kupanggil. "
***
"Hai Alex, apa Joshua boleh ikut menumpang mobilmu? Dia sekolah di tempat kita mulai hari ini."
"Yup, baiklah. Mobilku sudah kunyalakan mesinnya, ayo kita berangkat bersama. "
__ADS_1
"Terimakasih Alex, aku sempat mengira kamu tidak akan mengizinkan dia ikut dengan kita, ternyata aku salah."
"Aku bukan orang yang pelit memberi tumpangan."
"Ups, maafkan aku, hehe."
Mereka pun sampai di sekolah pukul 07.30.
Di sekolah banyak sekali anak-anak yang menanyakan semua hal tentang Joshua, terutama anak perempuan yang mendadak sangat kepo. Joshua bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka, karena kebanyakan mereka menanyakan alamat rumahnya, dan hal-hal yang merupakan privasinya. Lagipula Joshua tidak mungkin memberitahu kalau dia tinggal bersama Camilla atau rumor-rumor aneh akan menyebar. Joshua harus merahasiakan beberapa hal termasuk kisahnya yang tertidur selama sepuluh tahun, supaya mereka tidak curiga.
"Guys, kalian terlalu banyak bertanya, sebaiknya kalian semua jangan terlalu mengurusi hidup orang. " Kata Alex, terkadang dia bisa menjadi seorang penolong.
"Yah, apa susahnya menjawab pertanyaan kami?" Ujar seseorang yang merasa heran.
"Em, dia mungkin memiliki rahasia pribadi." Camilla membantu menjawab pertanyaan mereka.
"Baiklah, kami tidak akan bertanya lagi."
Selang beberapa menit, Linda datang dan menyapa mereka bertiga.
"Hai, good morning." Sapa Linda membuat kami menoleh serentak.
"Hai Linda, perkenalkan dia Joshua, dia murid baru." Ujarku, Linda hanya mengangguk dan menyalami Joshua.
"Kapan-kapan kita harus hang out bersama, pasti menyenangkan kalau beramai-ramai, ya kan?" Usulku.
"Ya, maaf selama ini aku sangat sibuk jadi jarang bisa bertemu kalian di hari libur. " Terang Linda.
"Kalau begitu besok kita harus pergi berempat."
"Aku setuju, apa kalian ingin berpiknik, mencoba kuliner atau haruskah kita pergi ke teater?" Alex menyarankan tempat yang ingin sekali Camilla kunjungi.
"Ya! Ayo kita pergi ke teater!"
"Yah, aku akan meminta izin ibuku dulu. " Balas Linda, dia memang harus mendapatkan izin terlebih dahulu setiap akan pergi hangout.
__ADS_1
"Aku ikut saja. " Kata Joshua.
Bunyi bel pelajaran pun berbunyi dan mereka duduk di bangku masing-masing. Mereka belajar di sekolah sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.30.