
Akhirnya pelajaran hari ini pun selesai, Joshua dan Camilla menumpang pulang menaiki mobil Alex lagi. Sedangkan Linda selalu dijemput oleh ibunya menaiki mobil pribadinya. Linda hampir tidak pernah menceritakan atau mengenalkan tentang ayahnya maupun latar belakang keluarganya, dia bilang dia memiliki masalah keluarga yang rumit untuk dijelaskan.
"Bye, Linda," seru Camilla sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang ditumpangi Linda.
Linda membalasnya sambil tersenyum sebentar, Camilla bisa memakluminya karena Linda memang jarang sekali tersenyum selama di sekolah kecuali saat-saat tertentu. Linda merupakan anak Introvert yang hemat bicara dan hanya membicarakan hal yang penting saja.
Di perjalanan pulang, Camilla begitu menikmati udara sore hari yang masuk lewat jendela mobil yang terbuka. Gadis itu lebih menyukai udara yang asli dibandingkan pendingin mobil atau AC.
"So, guys, apa kalian mempunyai ide kita akan pergi ke teater mana saat liburan?" Tanya Alex memecah keheningan.
"Aku tidak tahu." Balas Joshua, selama bertahun-tahun kotanya telah mengalami banyak perubahan yang membuatnya merasa seperti orang asing karena tidak tahu menahu tentang tempat-tempat yang ada disana. Sepuluh tahun yang lalu kotanya belum semaju saat ini, itulah yang membuatnya sedikit kebingungan.
"Aku sangat ingin pergi ke Angelika film & center cafe, tempatnya sangat sempurna dan mewah, tetapi juga memiliki sejarah Vaudeville," ujar Camilla yang menyukai tempat bersejarah.
"Aku setuju, baiklah nanti ku beritahu Linda kalau dia bisa ikut," balas Alex sambil tersenyum. "Oh, aku hampir lupa bertanya, Joshua sebenarnya waktu itu apa yang terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba kamu ada dirumahku dan tertidur di ruang bawah tanah. Bukannya aku tidak menghargai privasimu, tapi setelah Mom bercerita tentangmu malam itu, aku jadi penasaran. Tapi kalau kamu tidak ingin memberitahuku, aku tidak keberatan. " Lanjut Alex.
"Uhm, ceritanya sangat panjang, intinya dulu rumahmu adalah rumah milik ayahku. Lalu ayahku menjual rumahnya, dan aku tertidur selama sepuluh tahun saat terjadi pembunuhan di kota ini. Aku tahu, mungkin kamu akan sedikit tidak percaya, tapi yang kuceritakan tadi benar-benar nyata," jelas Joshua.
"Ya, yang dikatakan Joshua benar. Aku adalah saksi saat Joshua menghilang sepuluh tahun lalu, lalu tiba-tiba dia kembali."
"Tunggu, jadi selama ini kamu tertidur di sana? Wow, Joshua, ini benar-benar langka. Bagaimana bisa kamu masih hidup sampai saat ini? Saat pertama kali aku menempati rumahmu, kata orang-orang ruang bawah tanah angker, jadi ruangan itu tidak pernah dibuka oleh siapapun, tapi siapa yang akan menyangka kalau ternyata ada manusia di dalamnya. Megan yang menemukanmu secara tidak sengaja," kata Alex.
"Ya, aku sangat berterimakasih pada Megan, kalau saja dia tidak membuka ruangan itu mungkin saja aku tidak pernah terbangun," balas Joshua.
Mereka telah sampai di depan rumah milik Alex, Megan berlari kencang menuju kakaknya. Hal itulah yang selalu dilakukan Megan apabila kakaknya telah pulang. Megan dan Alex memang sangat dekat sekali.
"Kakak Alex!" Teriak Megan kepada kakaknya.
"Megan pelan-pelan, jangan berlarian nanti jatuh, sayang," Bibi Karin mengingatkan putri kecilnya.
Alex pun menggendong adik kecilnya dan memeluknya erat seolah-olah mereka sudah lama tidak bertemu.
"Tadi Megan sudah belajar membaca dan menulis, Mom yang mengajari." Cerita Megan sambil memperlihatkan gigi-giginya yang bersih.
"Wow, Megan pintar sekali. " Puji Alex sambil mengusap rambut Megan dengan gemas.
"Dia Kakak Joshua yang kemarin, kan?" Tanya Megan yang tampak mengenali Joshua.
"Iya."
__ADS_1
"Wah, Megan masih ingat Kak Joshua, ya?" Sambung Camilla sambil tersenyum ke arah Megan.
"Aku ingin digendong Kakak Joshua dan Kakak Camilla." Pinta Megan yang sudah minta diturunkan dari tubuh kakaknya.
"Ya, sudah. Tapi jangan lama-lama, mereka ingin istirahat." Pesan Alex yang disanggupi Megan.
Setelah sepuluh menit bermain dengan Megan, akhirnya Joshua dan Camilla bisa pulang ke rumah mereka dan membersihkan diri masing-masing.
"Camilla, Mom pergi dulu, ya. Kamu dan Joshua baik-baik di rumah. " Kata Bibi Catrine yang sudah siap dengan tas di tangannya.
"Tenang bibi, aku akan menjaga Camilla," jawab Joshua.
***
Joshua dan Camilla memutuskan pergi ke sungai tempat mereka sering memancing dulu. Banyak kenangan di masa kecil yang mereka habiskan di sungai itu.
"Wah, akhirnya aku bisa mencium aroma sungai lagi," kata Joshua sambil menikmati suasana tenang di pinggir sungai.
"Kamu ingat, Josh. Kita pernah memancing disini, lalu kita juga pernah mengobrol bersama ayahmu dan juga Johnny. Saat pulang kita dapat tangkapan ikan yang lumayan banyak."
"Ya, aku tidak mungkin lupa."
"Masa kecil adalah masa yang paling indah sekaligus menyisakan banyak kenangan yang tidak terlupakan," ucap Joshua, Camilla mengangguk setuju.
Setelah itu, Camilla mengangkat roknya agar tidak basah, karena dia masuk ke dalam air sungai yang cukup dangkal.
"Lihat, Josh! Dulu air sungainya setinggi pinggangku, selarang hanya setinggi lututku." Ucap Camilla yang merasa senang karena ia tidak perlu membuat pakainnya basah.
"Kamu sudah tumbuh tinggi, Camilla."
"Ya! Ini menyenangkan!" Seru Camilla.
Ternyata bebatuan di sungai berlumut dan sangat licin sehingga membuat kaki Camilla terpeleset hingga membentur batu yang lumayan keras.
"Apa kamu baik-baik saja?" Joshua segera menolongnya dan menuntunnya ke tepi sungai.
"Ouch! Sakit... " Camilla berusaha menahan rasa perihnya karena lututnya terluka.
"Cepat naik ke punggungku, "perintah Joshua yang sangat khawatir.
__ADS_1
Diam-diam Camilla tersenyum tipis karena perhatian Joshua yang belum berubah seperti dulu. Setelah Camilla naik ke punggung Joshua, keheningan tercipta diantara mereka.
"Mak-makasih," kata Camilla canggung.
"Ya. "
"Sebenarnya kamu tidak perlu sampai menggendongku karena lukaku tidak parah."
"Tapi sulit untuk berjalan, kan?"
"Em, sedikit."
"Waktu kecil Dad sering menggendongku seperti ini, dan membawaku pergi berjalan-jalan ke sekitar area rumah," curhat Joshua.
"Kamu pasti sangat merindukan keluargamu."
Joshua hanya terdiam sambil terus berjalan, sesampainya mereka di rumah, Joshua membaringkan Camilla di kasurnya. Lalu dia mengambil obat-obatan dan mengobati luka Camilla perlahan.
"Kalau sakit, bilang saja. "
Camilla mengangguk pelan.
Alex mengetuk pintu rumah saat Joshua sudah selesai mengobati luka di lutut Camilla.
"Masuk saja," jawab Joshua.
"Apa Camilla ada di rumah?"
"Ya, dia baru saja terjatuh di sungai. "
"Benarkah? Di mana dia?" Tanya Alex yang sangat cemas.
"Di kamarnya."
Alex segera menghampiri Camilla dan mengecek kondisinya. Dia bernapas lega karena Camilla tidak terluka parah.
"Alex, jangan khawatir, aku hanya terpeleset tadi. "
"Lain kali harus hati-hati. " Alex mengusap rambut Camilla halus.
__ADS_1
Joshua melihat mereka sambil berkata di dalam hati. "Kalau saja waktu itu aku masih berada di sisinya, kalau saja aku yang mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Tetapi semuanya sudah terlambat untuk disesali, Alex memang pantas mendapatkan Camilla."