
Hari ini merupakan hari yang sangat menyulitkan bagi Linda, dia sudah dipanggil oleh Mister Bill karena kasus Amber yang melibatkan dirinya, lalu dia mendapat panggilan lagi yang kedua kalinya. Kali ini dia tidak tahu masalah apa lagi yang sampai membuatnya harus datang ke ruang kepala sekolah yang dingin dan membosankan itu.
"Linda kamu disuruh pergi ke ruang kepala sekolah!" lapor ketua kelas yang sangat disiplin.
"Apa lagi? Shit! " ucap Linda dalam hatinya.
Linda melangkah dengan gusar, hatinya sudah memaki-maki semua hal yang membuatnya kesal hari ini. Dia duduk lagi sambil menatap datar ke arah Mister Bill.
"Linda, kamu belum lolos dari masalah hilangnya Amber sebelum dia ditemukan, karena saksi mengatakan kalau kamu orang terakhir yang bersamanya," kata Mister Bill yang lagi-lagi membicarakan tentang Amber. Linda sudah muak disangkut pautkan oleh masalah itu.
"Apa anda punya bukti kalau saya menculiknya? " Tanya Linda sambil memandang kepala sekolah itu dengan tatapan dingin.
"Tidak, tapi polisi sedang mencari bukti, saya tidak mengatakan kalau kamu yang menculiknya, saya hanya bilang kalau kamu memiliki potensi sebagai tersangka karena kamu bersama korban terakhir kali. Mungkin kedengarannya tidak adil bagimu, tetapi juga tidak adil bagi orangtua korban. Kamu hanya perlu menunggu kabar selanjutnya, apakah polisi perlu menginterogasimu atau tidak."
"Satu hal lagi, saya dengar kamu melukai Tommy? Kamu berkelahi dengannya sampai membuat dia harus dibawa ke rumah sakit? Apa itu benar? " Tanya Mister Bill, melontarkan pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya, dan bersikap seolah-olah dia tidak tahu kebenarannya.
"Ya, benar sekali. Saya hanya mencoba membela diri karena dia terus mengganggu saya, saya tidak nyaman dan melawannya," jawab Linda tanpa bertele-tele.
"Kamu tahu kalau perbuatanmu bisa membuatmu di skors? Kamu juga harus bertanggung jawab membiayai pengobatannya."
"Saya mengerti, tapi... "
Ucapan Linda terpotong oleh suara pintu yang terbuka dan kedua orangtua yang masuk tanpa permisi.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan ke anak saya? saya tidak terima, hanya karena kamu anak perempuan bukan berarti saya memaklumimu. Kamu sudah menyakiti anak saya dan kamu harus bertanggung jawab," Tegas seorang ibu dengan emosinya yang tak terkontrol, dia adalah ibu Tommy yang sangat marah karena tahu anaknya terluka sampai harus dibawa ke rumah sakit.
"Anak ibu duluan yang mengganggu saya, menurut saya balasan saya setimpal dengan perilaku anak ibu yang berkata kasar, dia menyebut saya psyco. Apa menurut ibu ini salah saya?" Balas Linda tanpa memunculkan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
"Anak saya berkata kasar, tapi bukan berperilaku kasar sepertimu, you must be a bad girl, you know that? " Ibu Tommy semakin geram karena Linda bersikap seolah-olah dia tidak bersalah sama sekali.
"I don't care if you call me that, i'm a bad girl? yes, i am. are you satisfied? "
"Oh, god! "
Sebelum perselisihan semakin menegang, seorang ibu berpenampilan blazer kantoran masuk ke dalam kantor ruang kepala sekolah. Dahinya berkeringat sedikit karena mungkin ia berlari agar tak terlambat datang.
"I'm really sorry, Mrs. Tina. Mungkin anak saya sudah melewati batas karena membuat anak anda masuk rumah sakit. Setelah mendengar informasi dari Mister Bill, saya merasa sangat bersalah. Sekali lagi, tolong jangan buat anak saya menanggung hukuman yang berat, saya mampu membayar biaya pengobatan anak anda asalkan anda memaafkan kesalahan anak saya," pinta ibu Linda sambil memohon mohon melalui tatapan matanya.
"Tidak mom, Tommy pantas terluka! Dia sudah mengataiku!" Protes Linda sambil meninggikan suaranya meskipun raut wajahnya tidak berubah, tetap dingin.
"Mom tahu sayang, bukan saatnya untuk merasa egois, kita harus bertanggung jawab. Biarkanlah orang lain berkata kasar tapi jangan pernah membalasnya dengan sesuatu yang lebih kasar, mom sudah pernah mengajarimu seperti itu, mengapa kamu tidak pernah mendengarkan mom?"
"Okay, whatever, I'm done, I have to go, mom. " Jawab Linda tanpa mau berdebat lagi, dia pergi keluar tanpa membiarkan siapapun menahannya di ruangan itu.
"Linda, tunggu, kamu belum minta maaf!" Teriak ibunya yang sama sekali tak digubris.
***
"Lihatlah, anak bermasalah datang, upss... " Ujar seorang anak yang bermulut besar atau grande bouche, alias banyak bicara.
"Ouh, kasihan sekali dia, memiliki banyak masalah. Dia baru saja mematahkan tulang tangan Tommy, bisakah kalian bayangkan? Ouch, pasti sangat sakit,." susul anak lain yang bermulut gatal.
"Shut up your freaking mouth! " Linda berkata sambil menatap nyalang ke kumpulan anak yang sedang membicarakannya.
***
__ADS_1
Stigma negatif tentang Linda semakin bermunculan, apalagi karena kasus Amber yang belum terpecahkan serta ditambah kasus Tommy yang menggegerkan satu sekolah. Semua orang menganggap Linda adalah psikopat karena telah membuat Tommy yang dikenal sebagai preman sekolah terkapar di rumah sakit.
Tentu saja Camilla dan Alex khawatir dengan mental Linda karena banyak anak yang mulai membencinya. Meskipun begitu, hanya Camilla dan Alex yang masih setia dan percaya kalau Linda bukanlah pelaku kejahatan Amber.
"Linda menakutkan sekali, kamu tahu kan rumor tentang dia? she's a devil," bisik anak dari kelas lain yang mengetahui rumor tentang Linda.
"Hati hati kalau dia dengar, bisa bisa tulangmu patah juga," ujar sahabatnya memperingatkan.
Linda menyumbat telinganya dengan suara musik rap bervolume keras sehingga ia tidak dapat mendengar ucapan busuk orang-orang itu. Dia terus berjalan di koridor sekolah, meskipun orang-orang sedang menatapnya.
"Alex, rumornya bertambah buruk, kan? Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Camilla yang mulai cemas.
"Aku yakin dia bisa menghadapi masalah ini, lihat saja wajahnya sangat tenang," kata Alex sambil memperhatikan raut wajah Linda yang sangat santai ketika sedang berjalan.
"Dia selalu seperti itu, aku tidak bisa menebak perasaannya karena wajahnya datar sekali."
"Ya, kamu benar. Oh, tapi dimana Joshua?" Alex baru teringat kalau dia belum melihat Joshua sejak dia dan Camilla keluar kelas.
"Bisakah kamu berhenti membicarakannya? Aku masih kesal dengannya. " Keluh Camilla sambil mencebikkan bibirnya.
"Karena ucapannya di kantin? c'mon, dia hanya bercanda."
"Apa maksudmu? Dia jelas mengatakan kalau Linda egois, dia sangat keterlaluan. "
"Tapi kamu sudah lama kehilangan dia, lalu saat dia kembali kenapa kamu malah tak mengacuhkannya?"
"Apa yang kamu harapkan Alex? Aku harus selalu memahaminya meskipun dia melakukan kesalahan?"
__ADS_1
"Tidak, tapi kamu bisa bicarakan masalah kalian dan selesaikan baik-baik. "
"Ya, tapi tidak sekarang karena aku masih marah, jelas? " Camilla berjalan cepat karena tidak mau mendengarkan nasihat Alex lagi.