
Hari ini Joshua merasa kesepian, bagaimana tidak, Jeremy dan ayahnya pergi ke rumah nenek yang terletak di kota Colorado. Perjalanannya sekitar 13 jam lebih 15 menit jika diukur dari kota Dallas di bagian Texas yang mereka tinggali.
Hanya dia dan ibunya Jenna, yang memilih tinggal dirumah. Camilla juga pergi berlibur bersama keluarganya ke California, mengingat anak itu sangat ingin pergi ke Disneyland ketika libur sekolah.
"Mom, sedang menonton apa?" Joshua melihat ibunya menggonta-ganti channel televisi.
Jenna menoleh sebentar ke arah anak lelakinya yang ikut duduk disebelahnya. "Hanya melihat berita terbaru."
Joshua mengangguk, mereka menyimak sang pembawa berita yang sedang memberitahu kejadian kriminal atau kasus terbaru.
"Kami mendapat laporan dari tempat kejadian pembunuhan secara misterius di sebuah rumah yang ada di kawasan Dallas, sebuah keluarga berisikan tiga anggota keluarga menjadi korban pembunuhan. Pelakunya belum tertangkap dan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan oleh agent FBI, dokter forensik dan polisi yang bekerjasama. Tidak ada saksi dalam kejadian tersebut, CCTV juga masih dalam tahap pengecekan, pada kamera CCTV yang tertangkap hanya ada sosok berpakaian hitam dan tidak terlihat begitu jelas. Polisi mengatakan lumayan sulit untuk menangkap pelaku karena bukti yang kurang, serta tidak ada jejak yang ditinggalkan. "
Beberapa siaran berita di saluran lain juga tidak berhenti memberitakan kasus pembunuhan yang masih belum jelas penyebabnya. Joshua memegang tangan ibunya, mendengar berita itu membuatnya mulai berpikir negatif.
"Apa yang harus kita lakukan, mom? Mereka bilang pembunuhnya belum tertangkap, kan? " Tanyanya khawatir dan takut.
"Tenang sayang, mom ada disini. Kita akan aman asalkan semua akses masuk dirumah ini dikunci, jangan biarkan orang asing berhasil membobol rumah kita. Sebelum hal buruk terjadi, lebih baik kita bersiap-siap. "
__ADS_1
"Iya, mom. Aku mengerti." Jawab Joshua. Dia mulai mengunci jendela dan pintu hingga rapat lalu mematikan lampu dan pergi ke dalam kamar. Malam ini ia akan tidur bersama ibunya agar merasa lebih aman.
Jarum jam berganti tiap detik dan menitnya, Joshua sudah menguap berkali-kali, tapi pikirannya yang kalut memaksanya tidak tertidur, sebagai anak laki-laki ia harus bisa menjadi pelindung sang ibu meskipun usianya masih delapan tahun.
Anak itu melihat ibunya sudah tertidur, sedangkan ia sendiri masih merasa gelisah. Joshua beranjak dari kasur dan berjalan ke arah ruang tamu, dia menyibak tirai sedikit lalu melihat ke arah jalanan yang ada di depan rumahnya. Sepi. Bahkan tidak ada suara anjing yang menggonggong atau burung hantu di atas pohon.
Matanya menangkap sosok berpakaian serba hitam yang berjalan dengan cepat, tak disangka sosok misterius yang menggunakan penutup kepala berwarna hitam itu berhenti tepat di depan rumahnya. Joshua berusaha memperjelas penglihatannya karena penerangan di luar yang kurang terang. Tetapi sosok itu menoleh ke arahnya dan mendapatinya yang sedang mengintip dari jendela.
Joshua merasa seperti mimpi karena ia tak bisa menggerakan tubuhnya yang membeku melihat sosok itu mulai berjalan ke arah rumahnya. Dengan panik ia menutup tirai dan berlari ke kamar ibunnya.
"Apa? Apa yang kau katakan? Maksudmu kau melihat pembunuhnya? "
"Ya, pembunuh itu ada di luar." Jelas Joshua cemas.
Jenna membawa Joshua ke ruang bawah tanah atau basement yang dijadikan tempat penyimpanan barang-barang lama. Mereka bersembunyi sambil berharap pembunuh itu tidak akan menemukannya.
Suara langkah kaki terasa di langit langit lantai yang terbuat dari kayu, sosok itu berhasil masuk dengan mendobrak pintu yang sudah terkunci rapat. Dari ruang basement, Joshua tak bisa melepas genggaman tangan ibunya yang semakin kuat.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan, mom? " tanya Joshua sambil berbisik.
"Berdoa saja, tuhan akan melindungi kita. " Ucap Jenna berusaha tenang meskipun dalam keadaan yang mencekam.
"Keluar! Siapapun di rumah ini, keluarlah! Aku tahu kalian pasti bersembunyi di suatu tempat! Aku akan menemukan kalian, karena kalian tidak bisa pergi kemanapun, tidak akan ada yang mampu menolong kalian. Tunjukkan diri kalian atau aku yang akan mencari dan menghabisi kalian dengan tanganku sendiri. " Ucap sosok itu, suaranya begitu berat dan tajam, nada ancamannya tampak mengintimidasi siapapun yang mendengarnya.
"Mom, i'm scared." Ucap Joshua yang berusaha menahan tangisnya.
"I know, it's okay, bernapaslah pelan sayang, jangan takut." Jenna mengelus rambut anak lelakinya sambil tersenyum menguatkan.
Suara langkah kaki yang terdengar kencang semakin mendekat, menyadari situasi yang memburuk, Jenna melepaskan tangannya dari Joshua. Dia menatap wajah anaknya sambil sambil memasang ekspresi tegar.
"Mom harus pergi, atau kita berdua tidak akan selamat. Maaf sayang, jaga dirimu baik-baik disini. Aku tahu kau anak kuat dan bisa melalui semuanya sendirian." Pesan Jenna, dia memang ingin menghadapi pembunuh itu demi melindungi anaknya, tapi dia tidak yakin bisa mengalahkannya.
Jenna keluar dari ruang basement diam-diam, dia tidak ingin membuat suara yang akan terdengar oleh sosok pembunuh itu. Dia hendak pergi ke dapur untuk mengambil alat tajam sebagai bentuk perlindungan dan perlawanan dirinya. Tetapi sang pembunuh berada dibelakangnya sebelum Jenna berhasil meraih benda apapun.
Suara teriakan bercampur kesakitan terdengar hingga ke ruang basement. Tak ada kata-kata yang dapat menjelaskan betapa hancur perasaannya menjadi saksi kematian ibunya sendiri. Ada rasa tidak terima, kecewa, dan menyesal karena dia tak bisa melakukan apapun selain harus menerima takdir yang kejam. Joshua memejamkan matanya, berdoa kepada tuhan sampai rasa kantuk menghampirinya dan membawanya tertidur lelap ke alam lain.
__ADS_1