
Apa yang akan kamu rasakan saat pertama kali masuk sekolah? Nervous? Tegang? atau senang? Semua perasaan itulah yang Camilla rasakan sekarang.
"Santai saja, jangan terlalu tegang. " Alex seperti dapat membaca suasana hati Camilla dari raut wajahnya.
"Oh, apa terlalu kelihatan?"
"Ya, tenang saja Camilla, mereka tidak akan memakanmu. Kau tidak perlu takut dan harus percaya diri." Gurau Alex mencoba mencairkan suasana.
"Kuharap begitu."
Saat baru memasuki kelas, beberapa anak laki-laki menyapa Camilla sambil menggodanya.
"Hai, namaku Tommy, kamu cantik sekali. Apa kamu punya pacar?" Tanya seorang cowok yang mencoba mendekatinya.
"Ya, aku bisa menjadi pacar keduamu atau pacar selingkuhanmu." Sahut temannya.
"Aku bisa menjadi simpananmu. Boleh aku minta nomermu?" Susul yang lain.
Di posisi sekarang ini, Camilla merasa sangat kurang nyaman. Dia tidak suka jika ada orang aneh yang menggodanya. Mereka jelas-jelas hanya ingin mempermainkannya. Maka, Camilla memilih untuk diam dan tidak menggubris pertanyaan mereka.
"Kamu sombong sekali, apa aku harus memaksamu menjadi pacarku?" Kata anak bernama Tommy itu.
Dari penampilannya saja, Camilla bisa menilai bahwa Tommy dan teman-temanya adalah geng anak nakal atau bad boy. Camilla tidak ingin bergaul dengan orang-orang seperti itu karena mereka bukan orang yang baik perilakunya. Mereka pasti anak orang kaya yang masuk sekolah karena orang tuanya mampu membayar lebih meskipun kepribadian mereka buruk.
"Maaf, aku tidak tertarik berpacaran dengan siapapun. " Jawab Camilla dengan tegas.
"Wow, wow, wow, kamu langsung menolakku? kamu merendahkanku?" Tommy tampak tersulut emosi dan menatap Camilla dengan kesal.
"Apa yang kalian lakukan? Dia bilang tidak mau. Apa kalian siap dilaporkan ke kepala sekolah karena perilaku kalian yang suka memaksa dan membuat orang lain tidak nyaman?" Alex berusaha menyelamatkan Camilla dari para cowok nakal dan genit itu.
"Siapa kamu? pacarnya?" Tanya Tommy dengan nada yang tidak bersahabat.
"Maybe, owh, apa kamu ingin tahu sesuatu? Ayahku bekerja di kantor pengadilan sebagai hakim. Aku bisa saja mengajukan gugatan agar kalian dihukum."
Tommy dan kedua temannya langsung pergi tanpa berbasa-basi. Mungkin mereka tipe orang yang suka mengganggu orang lain, tetapi bukan tipe orang yang ingin berurusan dengan hukum pengadilan.
"Thanks... " Ucap Camilla.
__ADS_1
"No problem, lupakan ucapan mereka tadi. Terkadang ada orang yang sengaja ingin mengganggu, tapi kamu tidak perlu pedulikan mereka." Kata Alex.
"Ya, kamu benar. Terimakasih sudah menyelamatkanku dari situasi tadi. "
"Hai, kalian. Boleh aku tahu nama kalian?" Seorang perempuan berambut kuning kecoklatan mengajak mereka berkenalan.
"Oh, of course, siapa namamu?" Tanya Camilla mencari tahu.
"Aku Linda, siapa nama kalian?"
"Aku Camilla dan dia Alex, kami bertetangga jadi kami sudah saling kenal. "
"Cool, kalau begitu boleh aku main ke rumahmu pulang sekolah nanti?" Tanya Linda yang membuat gadis itu tercengang. Sudah lama tidak ada teman yang berkunjung ke rumahnya. Tentu saja, Camilla sangat senang karena Linda ingin datang ke rumahnya.
"Ya! Serius kamu mau datang ke rumahku?" Tanya Camilla masih belum yakin.
Linda mengangguk serius. "Mungkin kita bisa mengerjakan tugas bersama?"
"Kalau begitu aku juga ikut, guys. " Sambung Alex.
***
Sepulang sekolah, Linda ikut dengan mereka menaiki mobil milik Alex. Di perjalanan, Alex menceritakan banyak hal tentang dirinya yang terkadang membuat Camilla tertawa karena dia sesekali bercerita hal lucu tentang dirinya di masa kecil.
"Camilla, apa kamu memiliki cerita lucu saat kecil?"
Pertanyaan Alex membuat memori ingatan Camilla kembali ke masa lalu. Dia tersenyum pahit saat mengingat kembali Joshua, sahabat yang dia sayangi. Lalu dia teringat Johnny yang pergi jauh meninggalkannya.
Gadis itu menghela napas pelan, dia berusaha menyembunyikan air matanya yang terlanjur mengendap di kelopak matanya.
"Apa kamu baik-baik saja? Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman. Sepertinya kamu memiliki kenangan pahit yang tidak ingin kamu ingat lagi. " Ujar Alex, dia menjadi sangat merasa bersalah telah membuat Camilla sedih.
"Tidak, aku hanya terlalu emosional jika mengingat masa lalu. Semua itu seperti mimpi, kehilangan seorang sahabat dekat secara tiba-tiba, lalu hidupku berubah. Aku sangat kesepian tanpa sahabatku. " Camilla menundukan wajahnya dan meremas tanganya yang basah karena air mata jatuh ke tangannya.
"Its okay, kamu tidak perlu mengingat hal-hal yang membuatmu sedih, bukan begitu Linda?"
Alex bertanya pada Linda yang sedang melamun di kursi bagian tengah.
__ADS_1
"Apa kamu punya masalah, Linda? kenapa kamu diam saja?" Tanya Camilla, Linda tersenyum kaku, Camilla bisa merasakan kalau Linda juga memiliki masalah pribadinya, tetapi Linda masih menjaga privasinya dan belum bisa bercerita pada mereka. Mungkin Linda butuh waktu.
***
Bibi Catrine dan Paman Erick sudah pulang dari kantornya. Mereka menyiapkan makanan untuk menjamu teman baru putrinya.
"Terimakasih Paman dan bibi. Ngomong-ngomong aku adalah tetangga kalian sekarang. Aku tinggal di rumah sebelah. "
"Wow, aku tidak menyangka kamu menjadi teman sekelas Camilla sekaligus tetangga kami. Siapa namamu anak tampan?" Tanya Bibi Catrine, ia terlihat menyukai Alex karena sikap baik dan sopannya.
"Nama saya Alex."
"Nama yang bagus, lalu kamu siapa?" Bibi Catrine bertanya pada Linda. Entah mengapa Linda sangat pendiam dari sebelumnya.
"Saya Linda. "
"Baiklah, anak-anak silahkan nikmati makanannya. Jangan terlalu sungkan, kalian bisa mengobrol dulu. Bibi harus membereskan rumah. "
"Terimakasih atas makanannya. "
Mereka bertiga telah menghabiskan makanan dan Linda harus pamit pulang karena ibunya sudah mencarinya. Akhirnya Camilla hanya mengobrol berdua dengan Alex.
"Apa masih ada sesuatu yang membuatmu sedih?"
"Em, sejujurnya aku masih sulit melupakan sahabat kecilku. Selama ini aku masih merindukannya, meskipun dia mungkin sudah tidak ada lagi."
"Apa yang membuatmu sering merindukannya? "
"Entahlah, mungkin perhatiannya dan juga cara dia menghiburku saat sedih."
Alex menatap Camilla dengan lembut, dia menggenggam tangan Camilla untuk menenangkannya.
"Kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi. Kamu tidak boleh terus berharap karena kamu yang akan merasa sedih. Kita tidak akan bisa mengubah apapun yang telah berlalu, kita hanya perlu menjalani hidup dan melanjutkan hidup. " Terang Alex, dia sangat pandai menghibur orang lain.
"I hope so. "
"Sekarang kita hanya perlu mengingat kenangan manis, maka pikiran kita juga akan senang. "
"Ya, kamu benar, Alex. Mungkin karena aku kesepian selama ini, jadi aku tidak bisa berhenti memikirkan masa laluku. "
__ADS_1
"Kamu harus berhenti memikirkan hal-hal yang buruk. Camilla, aku harus pulang sekarang atau mom akan mengira aku hilang karena belum pulang sampai sore. See you tomorrow."