Above The Kings

Above The Kings
Ingatan yang belum kembali


__ADS_3

“Dimana ini?”


Begitu membuka matanya, Kazuto melihat sana sini. Sebuah lingkungan yang belum pernah dikunjunginya kini berada di sekitarnya.


“Apa yang terjadi?”


Tanpa alasan yang jelas, Kazuto berada di tempat itu. Walaupun tidak asing, ia tetap tidak mengetahui tempat dimana ia berada saat ini.


Kazuto segera beranjak dari posisi berbaringnya. Ia terduduk di atas kasur dengan pikiran kosong layaknya seseorang yang terbangun dari koma.


Begitu melihat sebuah cermin besar, ia langsung menghampirinya,


“Siapa aku?”, tanya nya kepada dirinya yang berada dalam cermin.


Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian maid memasuki kamarnya,


“Sudah waktunya, Tuan”, ucapnya sembari menunduk penuh kesopanan.


"Tuan? Dan juga siapa dia?"


Kazuto menatapinya cukup lama.


“Ehem.. Baiklah”


Kazuto berjalan keluar kamar diikuti oleh maid itu. Melihat lorong yang dilewatinya, ingatan samar samar muncul di benak Kazuto. Meski begitu, ia tetap tidak bisa mengingatnya dengan baik.


Begitu keluar dari lorong, ia melihat sebuah singgahsana besar yang dihiasi oleh emas, berlian dan zamrud. Di depannya, terlihat lima orang sedang menunggu kehadiran Kazuto.


Dengan penuh keraguan, Kazuto duduk di singgahsana itu. Maid yang mengikutinya tadi, bergabung ke barisan lima orang tersebut. Mereka semua menundukkan wajahnya, sehingga Kazuto tidak bisa melihat wajahnya.


“Angkat wajah kalian!”, perintah Kazuto kepada mereka berenam.


Lagi lagi, begitu Kazuto melihat wajah mereka, terbesit sekelebat ingatan melewati benaknya. Seakan akan, ia pernah melihat mereka di suatu waktu.


Masing masing dari mereka berpenampilan berbeda dan wajahnya pun beragam. Walaupun terlihat seperti manusia normal, yang membedakan mereka adalah tanduk dan telinga runcing.


“Kami, keenam Jenderal Kehancuran (The Six Generals of Destruction), siap melapor!”, ucap yang paling kiri.


"Woah!”, Kazuto terkagum kagum mendengar nama itu.


“Silahkan..”


Lalu, berdirilah seorang yang paling kanan, yaitu si maid yang menjemput Kazuto,


“Saya, Lucia, Sang Malaikat Pelayan (Servant Angle), melapor! Terjadi kegaduhan di depan istana. Sebagian bahkan melempari kita dengan batu dan buah racun. Itu jelas sekali mengganggu para maid yang bekerja di luar. Bagaimana menurut Anda?”, jelas si maid itu.


“Hmm.. Baiklah.. Aku akan melihat situasinya nanti”, balas Kazuto.


Kazuto tiba tiba terkejut, salah satu ingatannya kembali,


“Tuan, Hyashin, Sang Mimpi Buruk (Nightmare) siap melapor! Di arah barat, pasukan salib sedang mendirikan tenda. Dilihat dari gerak geriknya, mungkin mereka akan balas dendam kepada kita atas perlakuan kita pada mereka satu bulan yang lalu”, jelas seseorang yang berpenampilan seperti ninja itu.


“Ehm.. Baiklah.. Kerja bagus untuk kalian berdua”, Kazuto memuji mereka karena laporannya.


“Terima kasih, tuan”, sahut mereka berdua.


“Untuk saat ini, aku akan keluar sebentar”, Kazuto beranjak dari singgahsana nya.


Di perjalanan, ia diikuti oleh seorang pria yang tadi berada di barisan paling kiri.


“Dia mengikutiku?”


“Tuanku, Anda melupakan ini”, seorang maid menghentikannya.


Maid itu memakaikan Kazuto jubah hitam hingga menutupi kakinya. Kemudian, ia memakaikan sebuah cincin ke jari manisnya.


“Ini?”


“Benar. Untuk menambah kesan penguasa Anda, Anda harus memakai jubah dan cincin ini”, ujar pria yang mengikutinya.


“Apa maksudnya ini?”, pikir Kazuto sambil melihat lihat jubah dan cincin yang baru dipakainya.


“Baiklah..”


Kazuto melanjutkan langkahnya menuju luar istana. Karena, menurut laporan Lucia, sedang terjadi keributan di sana.


Sesampainya di luar, ia melihat ratusan orang berada di depan pagar istana. Mereka terus berteriak sambil melempar batu dan buah racun ke halaman istana.


Pria yang mengikutinya dari tadi terlihat geram saat melihat mereka melempari istana sucinya dengan benda yang kotor.


“Tuan, haruskah aku membunuh mereka semua?”, tanya nya.


“Membunuh?!”


“Ahh.. Ehm.. Tunggu dulu.. Mungkin kita bisa mendengar alasan mereka berada di sini”, Kazuto terkejut mendengar perkataannya barusan.


“Baiklah..”, ia kembali tenang.


“Kalian semua!”, teriak Kazuto kepada mereka.


Teriakannya itu disertai petir yang menyambar sekitar istana. Karena itu, mereka langsung terdiam ketakutan.


"Petir apa itu?!”


“Serahkanlah salah seorang dari kalian kepadaku!”, lanjutnya.


Lalu, gerbang besi yang menjulang tinggi mendadak terbuka dengan sendirinya. Dan masuklah seorang perwakilan untuk menjelaskan semuanya secara rinci.


Pria itu memberi hormat kepada Kazuto terlebih dahulu.


“Maaf atas kelancangan saya, Paduka. Mereka mengadakan unjuk rasa di sini karena ladang ladang mereka kering. Air sungai yang seharusnya mengalir ke sana, kini terhalang oleh bendungan yang baru saja Anda buat tempo hari”, jelas pria itu.


“Cuma itu?!”


“Maaf menyela, Tuanku. Para pekerja hanya melaksanakan tugasnya seperti yang Anda suruh”


“Baiklah.. Aku akan membukanya nanti”


“Terima kasih, Paduka”, pria itu beranjak dari hadapan Kazuto.


Lalu, ia memberitahukan kepada yang lainnya akan penyelesaian masalahnya. Mereka pun meninggalkan lingkungan istana.


“Akhirnya selesai. Kau, periksa sekeliling istana! Mungkin saja ada hal serupa seperti itu”, suruh Kazuto kepadanya.


“Baik, Tuanku. Saya, Marcus, Sang Asisten Dewa (Assistant of God), akan melaksanakan tugas dengan sepenuh hati”


Setelah masalah pertama selesai, Kazuto kembali ke dalam. Kemudian, jubah dan cincin yang ia pakai dibuka oleh seorang maid.


Lalu, Kazuto masuk ke kamarnya.


“Hahh.. Apa maksudnya ini semua?.. ”, berbaring di kasur.


Tak terasa, akhirnya Kazuto memejamkan matanya lalu tertidur.


“Aku ingin.. pulang”


Kazuto terlelap dalam tidurnya. Kira kira satu jam kemudian, Lucia memasuki kamar Kazuto tanpa sepengetahuannya. Tak lama dari itu, ia pun terbangun.


“K-kau!?”, Kazuto terkejut melihat Lucia berdiri di dekat pintu.


“Tuanku”


“Aku ingat!”


Bagi Kazuto, penampilan Lucia terbilang unik namun mempesona. Dengan ciri khas mata tertutup dan telinga runcing, serta paras yang cantik menjadikan dirinya menjadi yang paling menawan di antara tiga perempuan lainnya di Six Generals of Destruction.


Enam anggota Jenderal Kehancuran mengemban misi yang berbeda beda. Masing masing dari mereka ditugaskan di tempat yang berbeda pula.

__ADS_1


Yang pertama, Marcus, Sang Asisten Dewa (Assistant of God), merupakan asisten sekaligus sekretaris Kazuto. Biasanya, ia terjun ke lapangan untuk memantau langsung kegiatan para maid dan pekerja di berbagai tempat. Dan juga, dia selalu berada di ruangan Kazuto setiap kali Kazuto di situ.


Kedua, Tetra, Sang Pelahap Langit (Sky Eater) atau sering disebut Tet si naga. Wanita ini adalah satu satunya ras naga di kerajaan Kazuto. Ia ditugaskan untuk memimpin semua pasukan kerajaan yang terdiri dari berbagai ras. Seperti namanya, ia bisa bertransformasi menjadi naga raksasa yang mampu menutupi langit.


Ketiga, Lubis, Sang Pengawas (The Watcher), memiliki tugas yang serupa dengan Marcus, yaitu mengawasi para maid dan pekerja. Hanya saja, jika ia melihat tanda tanda akan bahaya, ia harus langsung melapor, baik kepada Marcus ataupun langsung kepada Kazuto.


Keempat, Alcia, Sang Malaikat Kegelapan (Angel of Darkness), ditugaskan untuk mengawasi semua pekerjaan yang diberikan kepada anggota Jenderal Kehancuran. Wanita ini mendapat wewenang dari Kazuto untuk menghukum mereka jika mereka berbuat salah atau lalai. Ia berasal dari ras malaikat dan merupakan kakak dari Lucia.


Kelima, Hyashin, Sang Mimpi Buruk (Nightmare), ditugaskan untuk mengawasi garis pertahanan negara. Jika ia melihat hal yang mencurigakan di perbatasan, ia akan melaporkannya dengan telepati langsung kepada Kazuto. Jika diberi izin, ia akan langsung memusnahkannya dalam sekejap.


Keenam, Lucia, Sang Malaikat Pelayan (Servant Angle). Merupakan gabungan antara ras elf dan malaikat. Ia menjabat sebagai pemimpin semua maid yang berada di istana. Dan juga, ia sering bersama Kazuto dalam waktu tertentu.


Sejauh yang Kazuto ketahui, kekuatan Lucia sangatlah menyeramkan. Dalam wujud aslinya, ia dapat menundukkan ras ras tertentu hanya dengan suaranya. Walaupun begitu, Kazuto tidak takut. Karena, jika Kazuto dapat mengendalikan makhluk kuat seperti itu, berarti kekuatan Kazuto jauh lebih tinggi darinya. Hanya saja, ingatan Kazuto belum kembali.


“Aku mau makan”, Kazuto beranjak dari kasur.


“Tuanku, ini”, Lucia memberikan jubah hitamnya.


“Merepotkan sekali aku harus memakai jubah ini”


Kazuto berjalan sendirian ke ruang makan. Karena, ia menyuruh Lucia untuk mengontrol sana sini.


“Apa aku mengingat tempat ini?”


Di depan pintu, Kazuto disambut oleh dua orang maid yang ada di situ. Mereka menyiapkan kursi dan hidangannya.


“Ah.. Mereka gesit sekali”


“Silahkan”, ucap mereka berdua.


Kazuto menyantap hidangan yang telah disiapkan sembari mencari cari ingatan awalnya.


“Sejak kapan aku ada di sini? Apakah keenam orang itu akan terus mematuhiku? Aku harus mencari jawabannya”


“Makanan ini enak..”


Kedua maid yang ada di situ terlihat senang karena mendapat pujian dari Kazuto.


“Terima kasih, Tuanku!”


Kazuto pun memutuskan untuk berkeliling sebentar. Setiap kali para maid bertemu dengannya, mereka antusias memberi hormat kepada Kazuto.


Beberapa lorong dan ruangan sudah Kazuto lewati. Hingga, ia menemukan sebuah ruangan asing.


"Heaven (Surga)?”, Kazuto membaca tulisan yang tertera di atas pintu.


Ia pun membukanya. Begitu pintu terbuka, ia melihat puluhan maid sedang berdandan di dalamnya. Bahkan sebagian ada yang masih memilih model pakaian yang akan dipakainya.


Sontak, pandangan mereka semua tertuju kepada Kazuto yang terdiam dengan mulut terbuka di depan pintu.


"A-a-a-apa itu!?"


“Tuanku, kemarilah!”, “Tuan Kazuto melihat kita!”, “Aku belum siap!”, mereka dibuat heboh.


Karena terkejut, Kazuto langsung menutup kembali pintunya.


“Mereka..banyak sekali!”, bersandar.


Di kejauhan, terlihat Tetra sedang menyusuri lorong. Begitu melihat Kazuto, ia langsung menghampirinya.


“D-dia!? Si naga?!”, Kazuto terkejut setelah merasakan aura kekuatannya yang sangat besar darinya.


“Tuanku”, berlutut kepada Kazuto.


“A-ah ya.. Apa yang sedang kau lakukan?”, tanya Kazuto.


“Saya sedang mempersiapkan pasukan untuk pertahanan”


“Benar juga. Hyashin bilang akan ada pasukan salib menyerang”


“Komando berada di tangan Anda”, lanjut Tetra.


“Baik!”, Tetra segera melanjutkan pekerjaannya.


Setelah itu, Kazuto mendapat ingatan tentang Tetra.


Tetra atau Tet si naga adalah salah satu petinggi yang paling berperan di istana. Ia mengatur semua yang berkaitan tentang militer dan pertahanan. Bahkan, Hyashin pun berada di bawah komandonya.


Untuk masalah kekuatan, masih belum diketahui seberapa kuat Tetra dalam wujud naganya. Yang jelas, jika ia berubah menjadi wujud terakhirnya, beberapa negara akan berada dalam bahaya.


Perempuan berwajah dingin ini sebenarnya memiliki hati yang lembut. Ia sering bertegur sapa dengan para maid dan pekerja. Hanya saja, ia terlalu fanatik kepada Kazuto. Apapun yang Kazuto suruh, Tetra akan langsung melakukannya tanpa ragu.


“Omong omong, aku ingin sekali menguji kekuatanku”


Setelah menyusuri lorong, Kazuto melihat sebuah gerbang besar bertuliskan arena. Ia pun memasukinya untuk memastikan.


Di dalamnya, ia melihat hamparan yang luas yang dikelilingi oleh semacam bangku penonton.


“Baiklah.. Ayo mulai!”


Dengan perintahnya, muncullah beberapa golem dari bawah untuk dijadikan target latihannya.


“Pertama, aku ingin memunculkan-”


Sebelum Kazuto selesai bicara, mendadak muncul makhluk yang ingin ia panggil,yaitu naga.


“A-apa ini?! Padahal aku belum selesai bicara! …. Oh!”


Kazuto baru saja mengaktifkan salah satu dari keempat tekhnik suci yang dimilikinya, yaitu Inaudible Summoning (Pemanggilan tak terdengar).


Tekhniknya itu sangat luar biasa. Kazuto bisa memanggil makhluk apapun hanya dengan memikirkannya saja. Dan juga tidak mengurangi energi yang dimiliki Kazuto sedikitpun.


“Aku ingat ini!”, Kazuto terlihat senang.


“Tapi aku tidak tau alasan aku berada di tempat ini”


“Tuanku..”, Marcus mendadak muncul di hadapan Kazuto.


Sontak Kazuto terkejut akan kemunculannya yang tiba tiba. Tetapi, Marcus seperti membawa kabar penting untuk disampaikan.


“Seekor Titanoboa sedang menuju kemari. Apa harus ku musnahkan?”


“Musuh? Kebetulan sekali!”


Kazuto meminta Marcus untuk mengantarnya ke luar istana. Di sana, terlihat para maid berlarian masuk ke istana untuk berlindung.


Titanoboa diwujudkan sebagai seekor ular yang dikatakan mampu melubangi sebuah gunung saking besarnya ukuran ular itu. Bagi para bawahan Kazuto, hal itu tidak menjadi masalah. Mereka bisa membunuhnya dengan mudah. Tetapi, kebetulan sekali Kazuto ingin menguji coba kekuatannya.


“Tuanku?”


Kazuto berjalan menuju ke wilayah luar istana dengan santainya. Lalu, ia mengangkat tangannya.


“Slash of Light!”


Tepat sebelum menghantam Kazuto, ular itu terbelah menjadi dua bagian. Karena itu, cipratan darahnya mengotori pakaian Kazuto.


“Ahh.. Aku harus mandi”


Kazuto pun berendam di sebuah bak mandi yang disiapkan khusus hanya untuknya.


Tak lama kemudian, seorang maid memasuki kamar mandi Kazuto hanya dengan berbalut handuk.


“Ehh!?”, Kazuto terkejut.


“Izinkan saya membersihkan tubuh Anda”


“Tidak.. Ehem.. Baiklah”

__ADS_1


Hari hari pun berlalu begitu cepat. Kazuto sedikit demi sedikit mengingat hal hal yang berkaitan di dunia itu.


Semua bawahannya melakukan tugas mereka seperti biasa. Dan yang terpenting, pasukan salib belum melakukan pergerakan lagi.


“Tuanku, mereka sudah berkemas”, lapor Hyashin.


“Bagus.. Tetra, siapkan pasukan!”, Kazuto bersemangat mengetahui musuh sudah bergerak.


“Dengan senang hati, Tuanku”


Pada sore menjelang malam, pasukan militer yang dipimpin Tetra pun mulai bergerak menuju ke perbatasan. Kazuto memimpin rombongan itu di barisan bersama Tetra dan Hyashin.


Untuk Marcus dan yang lain, mereka diberi tugas untuk menjaga istana jikalau ada serangan tak terduga.


“Kita sudah sampai!”, teriak Hyashin kepada seluruh pasukan.


Rombongan berhenti di kaki sebuah pegunungan. Di baliknya, pasukan salib sedang menaiki pegunungan itu.


“Tetra, Hyashin, kalian ikuti aku”


“Baik, Tuanku”


Mereka bertiga bersembunyi di balik pepohonan untuk mengawasi saat pertempuran berlangsung. Di saat seperti itu, Kazuto bertanya kepada mereka,


“Hey.. Apakah aku melakukan kesalahan?”


“Apa maksud Anda?”, Tetra bertanya balik.


“Maksudku, aku pernah berbuat kesalahan hingga memicu pertempuran ini”


Mendengar itu, Tetra dan Hyashin langsung berlutut.


“Tidak, Tuanku! Anda tidak memiliki kesalahan sama sekali. Kesalahan hanya ada pada kami, sebagai Six Generals of Destruction!”


Akhirnya, Kazuto memahami sesuatu dari mereka berdua. Mereka tidak ingin Kazuto menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi.


Terbukti bahwa tingkat kesetiaan mereka sangatlah tinggi kepada Kazuto.


“Mereka datang!”, bisik Kazuto.


Pasukan salib langsung menyerang pasukan Tetra yang sudah menunggunya di kaki gunung. Pertempuran besar pun terjadi.


Diperkirakan sekitar 10.000 dari pasukan salib melawan 20.000 pasukan kerajaan Kazuto.


Tak lama, terlihat seorang ksatria yang zirahnya sangat bercahaya.


“Itu dia, ksatria suci dari timur, Roberius”, ucap Hyashin.


“Roberius?”


“Benar. Dia adalah satu dari lima ksatria terkuat di kerajaan timur”


Kazuto tidak mengetahu orang itu sama sekali. Seperti yang dikatakan Hyashin, Roberius membantai pasukan yang dikerahkan Tetra dengan mudahnya.


Hal itu membuat Tetra naik darah dan ingin segera melawannya.


Emosinya itu diketahui oleh Kazuto.


“Tetra, ku serahkan orang itu padamu!”, suruh Kazuto kepadanya.


“Serahkan kepada saya, Tuanku”


Tetra langsung turun ke lapangan. Pasukannya yang ada di sana, membukakan jalan untuknya.


“Ho.. Kau pemimpinnya, ya?”, Roberius menghunuskan pedangnya.


“Beraninya kau menginjak wilayah kami!”


“Kau marah hanya karena itu? Asal kau tau saja.. Sepertiga wilayah kerajaan kami dihancurkan oleh rajamu yang bodoh itu!”, Roberius terlihat kesal.


“Aku? Menghancurkan wilayahnya?”, pikir Kazuto yang mendengar ucapannya itu.


“Bodoh kau bilang? Hinaanmu itu takkan pernah ku lupakan”, Tetra terdiam setelah Roberius menghina Kazuto.


“Benar! Dia terlalu sombong, licik, bodoh dan serakah sebagai seorang raja! Mengapa kau-”


“Diam!”, raut wajah Tetra terlihat sangat marah.


“Aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah menghina Tuanku!”


Amukannya itu menghasilkan awan badai yang terkumpul di atas pegunungan. Semua pasukan salib terlihat ketakutan, begitu juga Roberius yang terlihat cukup panik.


Kedua tanduk muncul dari dahinya memanjang ke belakang. Dan kedua tangannya pun berubah menjadi cakar naga yang besar dengan kuku yang sangat runcing.


“Matilah!”, dengan dorongan kakinya yang kuat, Tetra melesat dengan cepat ke arahnya.


“God's Blessing : Holy Protector!”


Roberius mengeluarkan sebuah perisai yang cukup besar dengan gambar salib di depannya.


Perisai itu mampu menahan serangan awal dari Tetra yang sedang mengamuk.


Namun, beberapa detik kemudian, perisainya mulai retak.


“A-apa?!”, Roberius panik.


Lalu, Tetra menjadikan perisai itu sebagai tumpuan untuk melompat ke atas.


“Dia terbang?!”, Kazuto yang sedang menyaksikan.


Dari mulutnya, ia menyemburkan api berwarna biru kehitaman disertai asap hitam.


“Great Fire!”


Api itu menghantam Roberius yang sedang memegang perisainya hingga melubangi tanah yang dipijaknya.


Saking panasnya, zirah yang dikenakannya menjadi meleleh. Lalu, seluruh tubuhnya menjadi debu tak bersisa.


Melihat itu, pasukan salib lainnya ketakutan. Mereka pun lari terbirit birit.


“Takkan kubiarkan!”, Tetra berniat membunuh mereka semua.


“Tetra, sudah cukup!”, Kazuto keluar dari tempat persembunyiannya.


“Baik, Tuanku”


Hanya dengan perkataan Kazuto, penampilan Tetra kembali seperti semula.


“Ayo kembali”


Setelah berhasil menahan pasukan salib, pasukan Tetra ditarik kembali karena tugasnya sudah selesai.


“Fyuuh.. Lelahnya..”, Kazuto membaringkan dirinya di sofa.


Tak lama kemudian, Lucia menghampiri Kazuto dan memberikan sebuah surat kepadanya.


“Tuanku, ada kiriman dari merpati Delta barusan”


“Huh?”, Kazuto menerimanya.


Ia pun membaca isi surat itu dalam hatinya.


*Kakak! Bagaimana kabarmu? Besok pagi aku akan mengunjungi istanamu itu. Sudah lama aku ingin melihat wajahmu lagi


Salam


-Kanna*

__ADS_1


“Ehh?! Aku punya adik?!”


__ADS_2