Above The Kings

Above The Kings
Tidak Asing


__ADS_3

Malam pun berlalu dengan normal. Kazuto akhirnya bisa memejamkan matanya karena sudah terlepas dari pikirannya itu.



Kanna dengan eratnya memeluk Ariel, wali kelasnya. Suasana malam itu sangatlah sunyi. Hanya terdengar bisikan para penjaga dan hewan hewan malam di sekitar istana.



Lima jam kemudian, sekitar jam 5.30, Kazuto mendadak terbangun. Ia merasakan hal aneh.



“*Sepertinya sesuatu sedang terjadi*..”, segera pergi ke luar.



Sesampainya di luar, ia melihat para maid dan pekerja seperti sedang melihat sesuatu di kejauhan. Begitu mereka menyadari ada Kazuto, mereka langsung menyisi memberikannya jalan.



Di depan gerbang istana, keenam Jenderal Kehancuran juga sedang melihatnya.



“Ah.. Tuanku”, saat Marcus menyapanya, semuanya langsung berlutut.



“Ada apa ini?”



“Dia mulai menunjukkan eksistensinya”, balas Marcus dengan wajah serius.



“Dia? \*Siapa yang dia maksud?”



Marcus pun menunjukkan sesuatu yang sedang dilihatnya di kejauhan.



“Itu!?”, Kazuto terkejut.



Yang menimbulkan kegaduhan di pagi ini adalah kemunculan pohon raksasa yang menjulang tinggi di kejauhan. Letaknya yang jauh membuat bentuknya terlihat jelas.



“*Sepertinya, aku pernah melihatnya*”, pikir Kazuto setelah melihatnya.



“Marcus..”



“Ya, Tuan-.. Ehem.. Baiklah”, Marcus mengerti apa yang ia maksud.



Mereka berenam dikumpulkan di ruang perundingan strategi. Kazuto ingin sekali membahas hal yang baru dilihatnya tadi.



“Semua sudah terkumpul, Tuanku”



“Langsung saja.. Kalian pasti sudah tau kan? Kemunculan pohon itu.. ”, Kazuto membuka perundingan.



“**Pengelana 4 Alam**, begitulah julukannya”, Tet menyahut.



“Ratusan tahun lalu, kami sering bertemu dengan mereka”, Hyashin ikut berbicara.



“Itu benar. Tapi sejak itu, kami belum pernah berselisih. Setiap kami bertemu, mereka akan memberikan kabar hangat hasil dari perjalanannya mengunjungi keempat alam satu per satu”, jelas Lucia.



Mendengar pendapat mereka, jantung Kazuto berdetak kencang. Ia mulai tergoyahkan oleh kepanikan dan ketakutan.



“*Jangan jangan, aku penyebab kemunculan mereka*?!”



“Hm begitu.. Baiklah.. Tet dan Hyashin, periksalah segera di sekitar pohon itu! Lubis, suruh para penjaga untuk tetap bersiaga!”, perintah Kazuto.



“Baik, Tuanku!”



“Dan Lucia, temanilah Kanna dan Ariel”



Kegaduhan yang ditimbulkan oleh para maid dan pekerja berhasil ditenangkan oleh Lubis, pemimpin mereka. Kemudian, ditempatkan beberapa penjaga elit di atas istana.



Di saat seperti itu, Kazuto menenangkan diri di ruangannya. Di sana tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri.



“Fuhh.. Akhirnya terkendali”, ucapnya bernafas lega.



Tiba tiba, terdengar suara berfrekuensi yang memekakan telinganya.



“Apa ini?!”, sambil menutup kedua telinganya.



Tak lama, suara itu berubah menjadi suara seorang perempuan.



“*Umm? Halo? Apa kau bisa mendengarku, Kazuto*? ”



Kazuto terdiam mendengar itu. Lalu, ia teringat sesuatu. Ia mengingat bahwa yang berbicara dengannya itu adalah.. Akira.



Ledakan cahaya terjadi di pikirannya. Semua tersorot oleh cahaya itu. Semua ingatannya pun kembali.



“A..kira?”, tanya nya dengan suara pelan.



Akira menjawabnya dengan tangis bahagia karena bisa menghubungi Kazuto.



"*Akhirnya! Setelah berhari hari berusaha, aku bisa menghubungimu sekarang*!”, jawabnya disertai tangis tersedu sedu.



Kazuto juga terbawakan sedih. Lalu, Kazuto menceritakan semua yang dialaminya hari ini.



“*Begitu ya.. Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti*..”, Akira memutuskan sambungan.



Akhirnya, Kazuto mengingat semuanya. Ia dipindahkan ke sini saat bersama Akira dan Luxyus. Diperkirakan, Kazuto di sini sudah seminggu yang lalu.



Kemudian, Tetra mengetuk pintu.



“Masuklah”



“Saya ingin melapor, Tuanku. Setelah kami periksa, kami tidak menemukan tanda tanda keberadaan Pengelana 4 Alam di sekitar pohon itu”



“Hmm.. Begitu, ya.. Terima kasih atas laporannya”



“Itu bukan apa apa, Tuanku”



Kazuto masih penasaran akan keberadaan sang Pengelana itu. Tapi sekarang, ia tau tujuan kehadirannya mereka.



Kemudian, Kazuto kembali ke kamar untuk menemui Kanna dan Ariel.



“Kakak!”, sambut Kanna yang sedang duduk di pangkuan Lucia.



“Tu-Tuanku.. Maafkan saya..”, Lucia meminta maaf karena tidak bisa berdiri untuk memberi hormat.



“Ahh.. Tidak apa apa.... Dimana Ariel?”



“Dia ingin mencari udara segar”, jawab Lucia.



Berpindah ke keseharian Akira. Akira menjalani kesehariannya dengan normal. Akhir akhir ini, ia sering mendapat tugas dari Luxyus. Meskipun begitu, ia menjalaninya dengan senang hati.



Terkadang, ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengingat Kazuto. Terkadang juga, ia menghabiskan waktunya untuk menemani Luxyus, jika tidak ada tugas darinya.



Hal itu dikarenakan tidak ada perselisihan sama sekali di negerinya. Semuanya hidup dengan damai dan tentram.



Satu hari, di kala matahari terbenam, Akira menemani Luxyus di taman dekat istana.



“Kau tau sesuatu, Akira?”, tanya Luxyus.



“Hm?”



“Entah kenapa, akhir akhir ini, aku mulai mencintaimu”



“Ha? Apa maksudmu?!”, Akira tidak mengerti perkataannya itu.



“Aku juga tidak mengerti”, Luxyus menggenggam tangannya.



“Aku perempuan loh. Kau juga perempuan kan? Kenapa kau tidak mengerti itu?”, Akira mengelak dengan wajah yang mulai memerah.



“Kakak, ada apa? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu”, Kanna menghampiri Kazuto yang sedang duduk di sofa.



“Tidak apa apa kok”



“Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda”, ucap salah satu maid dari luar.



Kazuto pun menghampirinya.



Sesampainya di luar, ia langsung mendapati pukulan di wajahnya. Hal itu membuat para maid terkejut.



Seseorang itu bernama **Abraham**, salah satu raja dari tiga negeri raksasa. Rupanya, dia datang ke sini karena suatu masalah.



“Kau! Kau yang sudah membuat negeriku merosot!”, mencekik lalu mengangkat Kazuto ke udara.



“Grahh.. Apa..maksudmu..?”


__ADS_1


“Jangan pura pura tidak tau! Aku yakin, karena perbuatanmu itu, jalur perdagangan ke negeriku menjadi terputus!”



“Tuanku”, salah seorang maid mencoba menyelamatkan Kazuto.



“Diam!”, Abraham menendangnya.



“Aargh..”, tiba tiba, Abraham terlihat kesakitan.



“Apa yang kau lakukan, makhluk rendahan?”, Marcus keluar dari istana dengan aura yang mengerikan.



Melihat itu, para pengawal Abraham langsung melindungi rajanya yang tergeletak itu. Sekejap mata, Marcus sudah berada di belakang mereka. Tak kurang dari satu detik, para pengawal itu tumbang.



“Kau tau konsekuensi dari perbuatanmu ini?”, Marcus menjepit Abraham dengan sikutnya.



“*Apa apaan ini?! Dia jelas bukan manusia! Kalau begini, aku bisa mati*!”



“Biarkan dia pergi”, suruh Kazuto.



“Tapi Tuanku..”



“Tidak apa apa.. Lagipula, dia takkan bisa berbuat masalah lagi kepada kita”, Kazuto membangunkan maid yang tadi ditendang.



“Baiklah”, Marcus pun melepaskannya.



Abraham dan para pengawalnya langsung kabur begitu saja dengan penuh ketakutan. Kazuto yakin bahwa mimpi buruknya barusan akan tertanam dalam pikirannya.



“Jadi, orang itu seenaknya menuduh Anda, ya? ”



“Benar. Padahal aku belum pernah merugikan negerinya”



“Itu pasti ulah si Pengelana”



Menurut penjelasan Marcus, Pengelana 4 Alam memiliki banyak kekuatan, salah satunya Fitnah Besar. Dengan kekuatan itu, siapa saja yang termakan omongannya, ia akan menyalahkan seseorang yang dituju.



Berarti, Abraham sudah bertemu dengan Pengelana itu dan Kazuto lah yang menjadi target incarannya. Petunjuk untuk menemukannya semakin dekat.



Malam hari pun tiba, para maid menyiapkan hidangan makan malam untuk Kazuto, Kanna, dan Ariel.



“Aku akan mengantarmu pulang besok”



“Benarkah!?”, Kanna terlihat senang.



“Tentu saja.. Aku ingin menemui ibu”



“Asyik! Aku yakin ibu pasti senang!”



Pada akhirnya, makan malam itu penuh dengan canda tawa. Saat diajak berbicara, Ariel tak henti henti membahas sana sini. Sepertinya, ia senang bertemu seseorang yang pengertian kepadanya.



“A-Aku..belum siap!”, Akira menutupi wajahnya dengan bantal.



“Aku juga. Tapi, aku ingin mencobanya”, Luxyus berbaring di sebelahnya.



Begitu menyingkirkan bantalnya, Luxyus langsung memeluknya.



“A-Ahh.. *Tubuhnya hangat sekali*!”



Akira pun meresponnya dengan memeluknya sekuat tenaga. Ia tertarik dengan suhu tubuh tubuh Luxyus yang hangat.



“Kau boleh berbuat sesukamu”, bisik Akira.



Malam hari terasa sangat singkat. Tak terasa, sinar matahari sudah muncul dari ufuk timur.



“Kakak! Bangun!”, Kanna memukuli Kazuto yang masih tertidur.



“Se..ben..tar la..gi”, menutupi wajahnya dengan selimut.



Kanna dan Ariel pun meninggalkannya. Mereka pergi duluan untuk segera sarapan pagi bersama para maid.



Tiba tiba, telinga Kazuto bergetar. Itu adalah tanda Akira yang berusaha untuk menghubunginya. Karena sudah tau, Kazuto segera meresponnya.



“Ada apa?”



“*Aku melihat sesuatu seperti portal di atas pohon raksasa*. *Dan-.. Barusan aku melihat seseorang masuk*!”, ucap Akira yang perlahan lahan menjadi panik.




“Tuanku! Musuh terlihat!”, Lucia tiba tiba masuk.



“Apa!?”, Kazuto langsung memutuskan komunikasinya.



Ia segera keluar untuk memastikannya. Di luar, kelima jenderal lainnya sudah menunggu.



Seseorang yang Akira bicarakan barusan telah berada di sini. Walaupun jarak antara pohon raksasa dan istana Kazuto sangat jauh, ia sudah ada di depan sana. Atas suruhan Tetra, para penjaga langsung menyerangnya.



Namun, dengan bilah pedang yang keluar dari tangannya, dia dapat menghabisi para penjaga itu dengan sangat mudah dan tanpa menerima luka sedikitpun.



“Diakah sang Pengelana?”



“Tidak, Tuanku. Dia hanya suruhan mereka”, jawab Marcus.



Kazuto pun berpikir sejenak untuk merencanakan sesuatu terhadapnya.



“Marcus..”



“Ya, Tuan?”



Wujudnya tidaklah asing. Dengan tubuh tinggi besar, luka sayatan di salah satu matanya, dan tanduk kecil di dahinya, membuat Kazuto langsung mengenalinya.



Setelah menyampaikan rencananya, Kazuto maju sendirian untuk menghadapinya. Tidak satupun diantara keenam Jenderal yang berani menghentikan langkah Kazuto, karena mereka yakin akan kekuatan Tuannya yang selalu dipuja puja itu.



“Ini kedua kalinya kita bertemu, bukan?”



Mereka berdua berhenti di 10 langkah menuju istana.



“Apakah…kau…pemiliknya?”, dengan suara tidak jelas.



Tanpa pikir panjang, ia langsung mengayunkan tangannya yang terdapat bilah pedang supertajam.



Dengan santainya, Kazuto menahannya dengan kedua jarinya. Serangan itu rupanya menimbulkan hembusan angin yang cukup besar.



“A…pa?”



Tak cukup sampai di situ, ia mengayunkan satu lagi tangannya dengan kecepatan penuh.



“Lambat..”



Dalam waktu 0,1 detik, Kazuto mematahkan pedangnya lalu melompat ke tangan satunya sambil menusukkan pedang itu kepada tangan yang dipijaknya itu.



Semua yang menyaksikan, tercengang melihat Kazuto. Kurang dari satu detik, makhluk tinggi besar itu kehilangan kedua tangannya.



“Ke…napa?”, ia menatap Kazuto yang berada di pundaknya.



“Kau tau artinya cepat?”



Kazuto melompat dari sana. Begitu kakinya berpijak, kepalanya terputus. Lalu makhluk itu pun tumbang dengan bergelimang darah.



“Aku berbeda dengan yang dulu kau temui”, Kazuto berjalan dengan santainya menuju istana.



Setelah beberapa langkah, makhluk itu beregenerasi dengan cepat.



“Kakak! Awas!”, Kanna meneriaki Kazuto dari halaman istana.



Namun, Kazuto tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan, tidak menengok ke belakang sedikitpun. Begitu ia benar benar pulih, sekejap mata ia telah berada di belakang Kazuto dengan senjata yang lebih besar dan tajam.



“Majulah..”



Tanpa sepengetahuan siapapun, Marcus melesat begitu cepat mendaratkan pukulan tepat di sisi kanan perut makhluk itu. Kazuto sudah tau bahwa dia bisa beregenerasi. Karena itulah ia menyuruh Marcus untuk bersiap melawannya nanti.



“Kau akan menjadi samsak tinjuku, makhluk rendahan!”, Marcus terlihat bersemangat.



Setiap kali serangan diluncurkan, Marcus menghindarinya dengan mudah. Karena, diperkirakan, kecepatan maksimal Marcus adalah setengah dari kecepatan cahaya. Tetapi, Kazuto bisa dengan mudah melebihi kecepatannya itu.



“Kanna!”, Kazuto menggendongnya.

__ADS_1



Pertandingan tersebut sangatlah sengit. Si pesuruh Pengelana yang disebut sebut Butcher, terus melancarkan serangan dengan kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata.



Marcus terus menghindar. Jika ada celah, ia langsung melukai tangannya. Tapi, Marcus tidak bisa mengimbangi kecepatan regenerasinya yang semakin lama semakin cepat.



“Tetra, periksa seluruh area istana!”



“Baik, Tuan”, kedua sayap muncul dari punggungnya.



“Lucia, tolong jaga Kanna dan Ariel”, menyerahkan Kanna kepada Lucia.



“Baiklah, Tuanku”



Kazuto segera masuk ke istana untuk kembali menghubungi Akira diam diam.



“\*Aku harus menghubunginya lagi”



Beberapa saat ia menunggu, tidak ada respon dari Akira. Kazuto terus mengulanginya beberapa kali. Tapi tetap tidak ada respon sama sekali.



“Sial. Sedang apa dia di saat saat seperti ini?”, memukul tembok.



“Tidak, Luxyus! Aku ada perlu!”, berpegangan ke pintu.



“Sebentar saja”, Luxyus terus menarik tangan Akira.



Akira ingin sekali menjawab panggilan itu. Tetapi ia tidak bisa menjawabnya dalam kondisi seperti ini.



“Tuanku”



“Waahh! Marcus?”



Saking cepatnya, Marcus seperti menciptakan salinan dirinya sendiri.



“Bolehkah saya mengakhiri ini?”, pintanya sembari berlutut.



“Ehm.. Tentu.. Lakukan sesukamu”



Mendapat kebebasan, Marcus langsung mengeluarkan kekuatan maksimalnya. Begitu cepat sampai sampai Butcher tidak bisa melihatnya. Ia terus mencarinya sana sini.



“Ke...mana?”



Lalu, Butcher menjulurkan salah satu tangannya. Begitu dijulurkan, tangannya langsung terpotong tak bersisa. Penghalang tak terlihat menyelimuti dirinya. Namun, itu bukan penghalang, melainkan Marcus yang terus menerus mengelilinginya.



“Jawab aku! Dimana para Pengelana itu berada?”, dengan suara yang berlipat lipat.



“Aku…hanya…mencari…pemiliknya”, jawab Butcher.



Marcus tidak puas dengan jawabannya itu. Ia langsung menghabisinya tak bersisa.



“Aku yakin Akira pasti tau jawabannya..”, Kazuto mondar mandir di ruangannya.



Di saat ia berharap seperti itu, Akira menghubunginya.



“*Kazuto? Maaf aku tidak..menjawabmu..tadi*”, dengan suara terengah engah.



“Apa yang telah kau lakukan?”, Kazuto menanyakan sebab ia terdengar kelelahan.



“Ti-Tidak ada.. Aku hanya pulang bekerja”, menjawabnya dengan keraguan.



“Lupakan saja.. Kau tau dimana Nina?”



“*Nina? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya*..”



Semenjak Kazuto dipindahkan ke sini, keberadaan Nina menjadi misterius. Kata kata yang Kazuto ingat darinya adalah Jika kau membutuhkanku, panggil saja namaku.



“*Terakhir kali, ya*..”, Kazuto mengelus pipinya.



Kemudian, Lucia masuk ke ruangan membawakan minuman penyegar untuk Kazuto.



“Silahkan, Tuanku”



Melihatnya datang, Kazuto langsung memutuskan sambungannya.



“Lucia, apakah aku punya kekuatan seperti para Pengelana itu?”, mendekati Lucia.



“Tidak ada yang mustahil bagi Anda, Tuan”, jawabnya dengan penuh keyakinan.



“Hmm.. Baiklah, aku akan mencoba berpindah alam”



Mendengar itu, Lucia membuka matanya dan menoleh kepada Kazuto karena omongannya yang cukup mengguncang itu.



“Suruhlah Marcus dan Tetra untuk mengantarkan Kanna dan Ariel ke istana ibuku. Sementara aku akan pergi sebentar”, membuka pintu sebentar lalu menutupnya lagi, ditakutkan ada seseorang yang mendengarnya.



“Haruskah saya memberitahu-”, memegang gagang pintu.



“Tidak usah. Jangan beritahu siapapun. Sebagai gantinya…”, Kazuto mencium Lucia di bagian pipinya.



Lucia terdiam setelah Kazuto melakukan itu kepadanya. Seseorang yang paling dipuja dan dihormatinya, memberikannya sebuah hadiah berupa ciuman.



“Ba-Baik, Tuanku! Saya tidak akan memberitahu siapapun!”, Lucia terlihat kegirangan.



Kazuto mencoba memusatkan kekuatan di pikirannya. Cukup sulit baginya untuk fokus pada kekuatannya itu. Lama kelamaan, kekuatannya pun terkumpul dalam jumlah yang cukup besar.



“Perpindahan Alam : Bumi!”, perapalan mantra lumayan penting dalam pemakaian kekuatannya.



Tubuh Kazuto bercahaya. Lucia terkagum takjub melihat kekuatan Tuannya itu dari dekat.



Perlahan lahan, tubuh Kazuto memudar dari mulai kakinya. Hingga sampai ke wajahnya, Lucia berpesan kepadanya.



“Cepatlah kembali, Tuanku”



Kazuto pun hilang total tak bersisa. Tidak ada bekas sedikitpun dari kepergiannya itu. Lucia segera keluar ruangan untuk menyampaikan perintah Kazuto kepada Marcus dan Tetra.



“Haahh!?”, Kazuto terbangun dari tidur panjangnya di rumahnya.



Keadaan pada waktu itu gelap karena masih malam. Kazuto melihat Akira dan Nina di sebelahnya. Mereka tertidur dengan pulasnya. Namun sebenarnya itu bukanlah tertidur, jiwa mereka berada di alam lain yang membuat mereka tak akan bisa dibangunkan.



Kazuto membuka pintu kamar pelan pelan untuk menghindari suara berisik. Ia ingin memastikan keadaan Yuuta dan Amato.



Pintu kamar Yuuta pun dibukanya perlahan. Ia mendapati Yuuta tertidur pulas sambil memeluk Amato. Kazuto tersenyum melihatnya. Ia senang tidak terjadi apapun pada mereka.



“*Padahal aku tidak punya tujuan ke sini*”



Kazuto kembali ke kamarnya. Saat kembali, ia terkejut melihat Uni tiba tiba muncul.



“Syukurlah kau datang”, bisiknya.



“Ada apa?”



“Nina sedang berada di bawah pengaruh seseorang. Pikirannya menjadi tak menentu. Tetapi, setelah makhluk itu dikalahkan, ia terlepas dari pengaruh itu”, jelas Uni.



“Sekarang, dimana dia? Kenapa Akira tidak bersamanya?”



“Itulah tugasmu disini. Kau belum bisa kembali ke tempat Akira. Suruhlah Nina untuk kembali kepadanya”, Uni duduk di kursi belajar Kazuto.



“Bagaimana caranya?”, Kazuto semakin penasaran.



“Lakukan apa yang dia lakukan terakhir kali padamu, kemudian berbisiklah kepadanya”, suruh Uni kepada Kazuto.



Hal seperti itu diperlukan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan Nina. Uni meyakini itu adalah sebuah ritual untuk berbicara kepada mereka yang sudah tidak memiliki jiwa.



“Akan ku lakukan..”, Kazuto mendekati Nina.



Kemudian, ia mencium Nina di pipinya karena itu adalah hal yang terakhir dilakukannya kepada Kazuto.



“Nina, kembalilah kepada Akira”, bisik Kazuto.



Kazuto sempat menunggu beberapa detik untuk menunggu responnya.



“Sudah cukup. Sekarang, kembalilah ke duniamu”, Uni memegang pundaknya.



“Ehh? Baiklah..”

__ADS_1



Kazuto menggunakan kekuatannya seperti tadi untuk kembali ke istana.


__ADS_2