
Ketika Ankhan mendekat, Kazuto menghadangnya.
"Apakah itu kelemahanmu? Apa kau masih bisa bertarung jika benda itu berada di luar tubuhmu?", Kazuto sambil menunjuk inti jiwa yang dipegang Alcia.
"Hmp.. Aku masih bisa bertarung dengan leluasa bahkan melawan kalian berempat sekaligus!", jawab Ankhan dengan sombongnya.
"Maaf saja, tapi lawanmu adalah Alcia"
Alcia menyerahkan inti jiwa itu kepada Kazuto, kemudian maju ke hadapan Ankhan. Dengan statusnya sebagai Entitas Iblis, ia tidak gentar sedikitpun. Walalupun ia merasakan aura yang lebih besar dari Alcia.
"Jika kau menang melawan anak buahku, aku akan memberikanmu ini", Kazuto menghilangkan inti jiwa itu untuk sementara.
Tanpa aba aba apapun, Alcia langsung menyerang Ankhan dengan kecepatannya. Sontak ia sedikit terkejut dengan hal itu karena sebelumnya ia terus melihat kepada Kazuto.
Ankhan memberikan perlawanan yang setara dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia menyerang balik Alcia secara bertubi tubi dari segala arah.
Alcia tidak menghindar sama sekali. Ia memiliki pelindung yang membuat semua serangan tidak akan sampai ke tubuhnya. Tentu saja hal itu sangat menyebalkan bagi Ankhan. Karena, bagaimanapun, serangannya tidak akan berpengaruh pada Alcia.
"Sial! Apa apaan ini?!", Ankhan terkejut sehingga menghentikan serangannya.
Di sisi lain, Kazuto, Cleopatra dan Nina menyusup ke dalam istana Ankhan. Mereka bergegas selagi perhatiannya teralihkan oleh Alcia.
Ankhan mulai kelelahan karena pertarungan berat sebelah itu dengan Alcia. Tenaganya mulai terkuras, sedangkan Alcia belum menyerangnya dengan serius sama sekali.
"Apa kau sudah selesai? Hanya segitu kemampuanmu?", Alcia memeluk kedua lengannya.
"Sekarang, giliranku bermain!"
Kedua sayap muncul dari punggungnya. Angin berhembus kencang dihasilkan oleh sayapnya itu. Matanya mengeluarkan cahaya yang terang. Ankhan melihat itu disertai rasa terkejut dan takut. Karena baginya, ini pertama kalinya ia melihat hal seperti ini.
"Cepatlah!", Kazuto mengajak mereka berdua bergegas.
Semua benda, bebatuan yang ada di sana bergetar karena Alcia. Ankhan tidak berkutik sama sekali. Ia hanya bisa tertunduk diam di hadapannya.
"Begitu, ya? Kau pikir kekuatanku hanya sebatas ini?"
Tanpa pikir panjang, Alcia langsung menghantamnya dengan senjata sabitnya yang membuat Ankhan terluka dan terpental ke dinding. Ia tidak ingin sesuatu terjadi melukai Kazuto dan yang lain.
Alcia tidak menapakkan kakinya ke tanah. Karena, kekuatannya itu membuatnya merusak apapun yang dipijaknya secara langsung.
"Sudahlah.. Kau menyerah saja-", Alcia terkejut mendapati Ankhan sudah menghilang dari tempat mendaratnya.
"Kejutan untukmu"
Ankhan sudah berada di depan Alcia. Ia langsung memukul dagunya sehingga membuatnya terpental hingga keluar dari gunung. Gunung itu pun bergetar karena pukulan Ankhan.
Tubuhnya bersinar kuning. Kazuto merasakan aura yang hampir menyamai Alcia dari tubuh Ankhan. Dikhawatirkan akan terjadi hal yang lebih parah, Kazuto berlari kepada Ankhan.
"Kazuto! Tidak!", Cleopatra berusaha menghentikannya.
"Hah?", Ankhan melirik Kazuto yang berlari.
Lalu, terdengar suara ledakan dari langit. Terlihat dari lubang yang terbentuk, langit menjadi sangat terang menyilaukan. Rupanya itu adalah Alcia yang meningkatkan kekuatannya mendekati batas maksimal.
"Alcia, tidak!", teriak Kazuto.
Karena marah, Alcia melesat layaknya meteor yang akan menghantam bumi, kembali menuju gunung Ankhan. Seketika, gunung itu pun terbelah dan ia langsung mengarah tepat kepada Ankhan.
Sedikit lagi, Kazuto hampir berhasil memisahkan keduanya. Namun tiba tiba, waktu menjadi terhenti. Alcia terhenti tepat sebelum menyentuh Ankhan. Hanya Kazuto yang bisa bergerak saat itu.
"Apa yang terjadi?", ia terkejut.
"Ini kesalahan besar", ucap seseorang di belakang Kazuto.
"Aku sudah melihatnya. Pertempuran ini mengakibatkan hancurnya benua ini dikarenakan amukan wanita itu", ia menunjuk Alcia.
"Siapa kau?"
"Aku sudah bertemu dengan semua Entitas Iblis dan mengurungnya. Tapi kenapa kau malah seperti ini?", ia mendekati Kazuto.
Akhirnya, Kazuto melihat penampilan seutuhnya. Penampilan orang itu sangat mirip dengan Kazuto dan bahkan tidak ada bedanya.
"Aku adalah kau, tapi kau tidak menjadi diriku", Kazuto kebingungan akan perkataannya itu.
Kazuto sedikit mundur karena takut akan dirinya.
"Sebaiknya kau kembali..", sosok yang mirip Kazuto itu merasuki tubuh Kazuto.
Lalu, tubuhnya mengeluarkan cahaya dan kemudian dirinya menghilang, lenyap dari tempat dimana ia berdiri.
Sekarang, ia mengambang di sebuah tempat hampa. Tidak ada materi apapun di sana. Hanya ruangan gelap tak berujung yang ada di penglihatannya.
"Dimana ini?", suaranya langsung masuk ke telinga.
Tiba tiba, terlihat sebuah cahaya raksasa yang amat terang menyinari ruangan hampa itu. Kazuto bahkan tidak sanggup melihatnya berlama lama. Cahaya itu merupakan cahaya mutlak yang tidak bisa dikalahkan oleh kegelapan seperti apapun.
"Apa kau ingin kembali?", suara terdengar kemana mana.
"Siapa itu?!", Kazuto terkejut.
"Itu tidak penting. Sekarang, apa kau ingin kembali ke kehidupan normalmu?", tanya nya.
"Ya.. Hanya itu yang kuinginkan", jawab Kazuto dengan sedikit sedih.
Terbayang oleh Kazuto kehidupan sehari harinya di dunia. Dimana ia menghabiskan waktu bersama Akira dan kedua saudaranya.
"Baiklah. Itu hal yang sangat mudah bagiKu. Kau akan dikembalikan ke kehidupan awalmu, tetapi dirimu yang di sini akan tetap di sini", jelasnya.
Lalu, muncul sosok yang menyerupai Kazuto tadi.
"Rupanya kau menginginkan hal yang sederhana..", memegang pundak Kazuto.
"Pergilah. Jangan khawatirkan diriku. Karena diriku diciptakan untuk saling membantu diriku yang lainnya. Percayalah. Pengalamanku sudah lebih jauh ketimbang dirimu", ia melebur menjadi butiran cahaya.
Kemudian, ia ditempatkan di posisi dimana Kazuto ingin menghentikan pertempuran Ankhan dan Alcia.
"Disini sudah selesai. Sekarang, nikmatilah perjalananmu..", cahaya raksasa nan indah itu menghilang, sehingga semuanya menjadi gelap seperti semula.
Setelah itu, Kazuto melakukan perjalanan waktu. Di perjalanannya itu, ia melewati kilatan kilatan cahaya yang beragam. Di sana juga ia melihat berbagai kenangannya kehidupan di dunianya.
Ia pun tidak bisa menahan tangisnya setelah melihat itu.
"Maaf, Cleopatra. Keluargaku adalah yang terpenting bagiku.."
Kecepatan Kazuto semakin cepat bahkan melebihi kecepatan cahaya. Tak kunjung lama, ia sampai di penghujung perjalanan waktunya itu.
"Tempat ini.."
Kazuto terbangun dan mendapati dirinya berada di kamarnya. Terbangun tepat saat sinar matahari terbit menyoroti kamarnya melalui ventilasi udara.
"Oh kau sudah bangun?", Akira membuka pintu.
Akira terlihat sudah dewasa. Begitu pula dengan dirinya yang tinggi dan berat badannya meningkat.
Tanpa ia sadari, ia menerima sebuah ingatan yang sangat membingungkannya.
__ADS_1
Semua hal yang terjadi hanyalah ingatan dari sosok lain Kazuto. Peristiwa peristiwa besar yang dialaminya, sebenarnya merupakan ingatan dari Kazuto yang lain. Itu berarti, Kazuto tidak melakukan apapun. Selama ini, ia hanya menjalani kehidupan yang normal hingga lulus sekolah. Begitulah isi pesan ingatan itu.
Kazuto masih kebingungan karenanya. Ia terduduk dengan kedua siku menopang ke lututnya. Kemudian, Akira berteriak memanggilnya dari luar kamar.
"Kazuto! Kemarilah!", teriaknya dari ruang makan.
Di sana, Amato dan Yuuta sudah menunggunya. Sementara, Akira masih mempersiapkan sarapan untuk mereka.
"Kazuto, ibu akan kembali..", Yuuta memegang kedua lengan Kazuto.
"Bagaimana kau bisa tau?", Kazuto tidak langsung percaya perkataannya.
"Entahlah.. Tapi aku merasa sudah bertemu dengannya kemarin. Melihatnya dengan mata kepalaku dengan sangat jelas bahwa yang kulihat adalah ibu", jelasnya dengan wajah gembira.
Lalu, Kazuto teringat akan pesan ingatan yang diterimanya tadi. Mungkin bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu, tapi orang lain juga merasakannya. Begitulah pikirnya.
Singkat cerita, malam hari pun tiba. Kazuto membereskan tempat tidur yang akan dipakai olehnya. Setelah selesai membereskan bekas makan malam, Akira memasuki kamar Kazuto.
"Bolehkah aku tidur bersamamu?", pintanya, karena selama ini ia tidur bersama Yuuta.
"Baiklah.. Sesukamu saja", Kazuto memperbolehkannya tidur bersama.
Dalam tidurnya, Kazuto bermimpi. Tetapi, itu bukan mimpi. Melainkan ingatan dirinya yang tempo waktu ia temui di ruang kehampaan.
Alcia terluka cukup parah. Ankhan berhasil dikalahkan oleh Kazuto. Kerusakan yang dihasilkan sangat besar. Beruntung tidak sampai menghancurkan negeri Cleopatra.
"Tuanku, kenapa kau menyelamatkanku? Padahal aku masih bisa melawannya", tanya Alcia dengan kedua sayapnya robek.
"Jika dibiarkan, kau bisa terluka lagi. Kekuatan orang ini melebihi perkiraanmu. Aku tidak ingin kau terluka lagi", jawab Kazuto.
Alcia tertunduk malu. Dari kejauhan, Cleopatra memanggil Kazuto. Mereka berdua pun segera menghampirinya.
"Kazuto, lihat apa yang ku temukan!", tunjuk Cleopatra ke dinding.
Di dinding itu, terdapat ukiran mengenai Entitas Iblis. Ukiran itu memperlihatkan mereka sedang berlutut kepada tiga sosok berukuran raksasa.
"Begitu, ya. Jadi, lima Entitas Iblis bukanlah makhluk puncak di dunia ini, melainkan ada yang lebih tinggi lagi"
Sebelumnya, Kazuto belum pernah melihat ini. Semua ini berbeda dengan yang pernah dilihatnya sebelumnya. Itu berarti, Kazuto melewati jalur baru di kehidupannya. Mungkin, ketiga sosok raksasa itu akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.
Setelah menemukan hal yang menarik, mereka pun kembali ke negeri Cleopatra. Di sana, Kazuto menceritakan bahwa dirinya sudah mengalahkan semua Entitas Iblis.
"Apa katamu? Apa buktinya kalau kau sudah membunuh mereka?", tanya Cleopatra dengan tegas.
"Entahlah.. Aku tidak punya bukti apapun. Tapi, aku merasa telah melakukannya", mendengara jawaban Kazuto, semuanya terdiam.
Setelah makan malam, Kazuto dan Cleopatra sedang menatapi bintang malam yang indah dari atap istana.
"Kau percaya bahwa Tuhan itu ada?", Kazuto mendadak bertanya.
"Itu..", Cleopatra teringat penjelasan ayahnya mengenai keberadaan Tuhan.
"Ya, aku percaya. Meskipun aku belum pernah melihatNya, aku tetap meyakini keberadaanNya", lanjutnya.
Kazuto bernafas lega mendengar jawaban itu darinya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?", Cleopatra bertanya balik mengenai alasan Kazuto bertanya.
"Jika kau tidak mempercayai keberadaan Tuhan, bagaimana kau bisa hidup di dunia ini. Semua kekuatan yang dimiliki makhluk berasal dari satu kekuatan mutlak yang tak bisa digoyahkan oleh apapun. Begitulah alasanku", jelas Kazuto sembari menunjuk ke langit.
Awalnya, Cleopatra tak mengerti apa maksud Kazuto. Lama kelamaan, ia pun memahaminya dan mengiyakan penjelasannya itu.
"Kazuto, tolong kabulkanlah permintaanku yang kusimpan sejak dulu..", Cleopatra mendekatinya.
"Aku sangat yakin!"
Karena sudah larut malam, mereka pun turun. Melihat Alcia dan Nina yang masih terjaga, Kazuto memberitahu kepada mereka bahwa ia akan menikahi Cleopatra.
Cleopatra tersipu malu di belakang Kazuto. Sontak, Nina terkejut mendengarnya. Ia memiliki kecemburuan di dalam hatinya. Berbeda dengan Alcia yang biasa biasa saja.
Kazuto segera tidur karena sudah tak kuasa menahan kantuk. Ia tidur bersama Nina, serta Alcia bersama Cleopatra di tempat tidur yang berbeda. Setelah mendengar kabar tersebut, Nina merasa gelisah dan tidak bisa tertidur.
Kazuto tertidur dengan pulasnya. Begitu terbangun, ia akhirnya terbangun dari ingatannya itu. Ia disambut oleh Akira yang sudah duduk di sebelahnya.
"Akira?", Kazuto dengan mata sayup.
"Amato bilang, ibumu akan tiba sebentar lagi", ujar Akira sambil membereskan sebagian tempat tidur.
"Hmm.. Seperti itu"
Kazuto menjalani pagi hari seperti biasanya. Meskipun sudah berusia 20 tahun, Kazuto belum bekerja. Biasanya, ia hanya menghabiskan waktu bersama Akira untuk menjaga rumah hingga Amato pulang kuliah dan Yuuta pulang sekolah.
Dua jam kemudian, terdengar suara klakson mobil. Karena Amato masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya, Kazuto lah yang membukakan pintu.
Begitu pintu dibuka, Kazuto langsung dipeluk oleh ibunya yang baru saja sampai. Terlihat, paman Kazuto masih berada dalam mobil.
"Maafkan aku, Kazuto!", ucap ibunya sembari menangis tersedu sedu.
"I-ibu?", Kazuto terdiam dalam pelukannya.
Akira yang berada di belakangnya pun ikut terharu melihat momen itu.
"Entah kenapa.. Kakakku ini berada di daerah pegunungan di pinggiran kota..", pamannya menyela.
Amato pun selesai dengan tugasnya. Ia segera menemui ibunya yang masih berada di depan pintu.
"Ibu!?", Amato langsung memeluk ibunya dan Kazuto.
Akhirnya, mereka semua berkumpul di ruang tamu karena ibunya akan menceritakan semuanya. Inti dari itu, penyebab ibunya meninggalkan rumah hanyalah karena depresi dan ingin menjauhkan diri dari siapapun untuk berelaksasi.
Tak lama, Yuuta pulang dari sekolahnya. Ibunya langsung memeluknya dan meminta maaf untuk segalanya kepada Yuuta yang juga menangis saat itu.
"Dan Kazuto, siapa perempuan itu?", tanya nya kepada Kazuto.
"Dia-"
"Kazuto bilang, dia ingin menikahinya!", Yuuta menyela jawaban Kazuto.
"Oh? Benarkah?", ibunya terkejut.
"Tidak, ibu. Dia hanyalah temanku!", Kazuto mulai canggung.
"Bahkan, mereka sering tidur bersama", Yuuta memanaskan suasana.
"Tidak apa apa. Ibu akan mengizinkannya jika kau mau", ibunya duduk di sebelah Kazuto.
Kazuto tidak berkata lagi. Di sisi lain, wajah Akira memerah karena malu. Perlahan lahan, tangan Kazuto merayap memegang tangan Akira di sebelahnya.
"Terima kasih, ibu. Aku akan merencanakannya", ucap Kazuto dengan tegas.
Semuanya pun gembira mendengar itu.
Setelah reuni selesai, Kazuto ingin tidur siang karena merasa masih lelah. Akira mengikutinya dari belakang dengan sisa sisa malu dalam hatinya.
"Aku ingin beristirahat sebentar..", Kazuto menggeliat.
__ADS_1
"Kazuto, aku..", ucap Akira dengan gugup.
"Diamlah.. Aku ingin tidur"
Tersambunglah ingatannya dengan dirinya bersama Cleopatra dan yang lain. Hari itu, Cleopatra mengajak Kazuto untuk rapat bersama para ahli sejarah dan juga ahli ramal.
Mereka dikumpulkan untuk membahas mengenai keberadaan yang lebih tinggi dari Entitas Iblis.
"Yang Mulia Ratu, siapa orang itu?", tanya salah seorang.
Mereka terus melihat Kazuto karena dirasa ia adalah orang asing yang mencurigakan.
"Dia adalah tamu spesialku dari negeri seberang", jawabnya.
"Begitu. Maaf atas kelancangan saya"
"Baiklah.. Kita mulai pembahasannya!"
Diskusi pun dibuka oleh Cleopatra. Mereka saling bertanya satu sama lain untuk menguak misteri ini. Kebanyakan dari mereka terlihat berpikir keras untuk mencari tau informasi ini.
Setelah beberapa saat, tak satupun sejarawan dan ahli ramal yang mengetahuinya. Itu berarti ini adalah misteri yang baru saja mereka jumpai.
"Apa mungkin mereka adalah Dewa?", tanya seorang.
"Aku tidak percaya Dewa!", bantah Cleopatra.
"Menurutku, mereka adalah pengurus dunia. Tapi bukan berarti mereka itu Dewa atau Tuhan", begitulah tanggapan Kazuto.
Mereka membenarkannya, termasuk Cleopatra. Tanggapan itu dirasa cukup meyakinkan karena tidak terlalu rumit bagi mereka.
"Baiklah. Kita anggap itu benar. Jika tidak, pembicaraan ini tidak akan berakhir sampai sore", tutup Cleopatra.
Diskusi itu pun ditutup. Mereka kembali ke tempatnya masing masing, baik di dalam kerajaan maupun di luar kerajaan. Cleopatra terlihat kelelahan setelah itu.
"Kau lelah?", tanya Kazuto sambil memegang bahunya.
"Hm begitulah.."
Kazuto membiarkannya beristirahat. Sementara, ia bersama Alcia dan Nina berada di ruang tamu. Mereka memakan cemilan yang tersedia di sana.
"Bagaimana dengan mereka para penghuni istana? Apa biarkan saja mereka?", tanya Alcia. Pertanyaan itu mengenai Jenderal Kehancuran yang lainnya.
"Mereka, ya. Jika mereka datang secara mendadak, pasti akan menimbulkan masalah bagi negeri ini. Aku akan mempublikasikannya nanti", jawab Kazuto.
Tiba tiba, ingatannya berpindah. Ia terbangun dari tidur siangnya. Dan langsung melihat matahari sudah berada di sebelah barat menandakan hari mulai sore. Lalu, ia mendapati Akira sedang duduk di teras rumah menyaksikan indahnya langit senja.
"Indah, bukan?", Akira menyadari kedatangannya.
"Kau tau? Aku pernah berpikir bahwa aku bisa melakukan apapun. Akulah yang menciptakan semuanya dari ketiadaan mutlak. Pikiranku itu selalu datang ketika aku bercermin atau melihat langit", bukannya menjawab, Kazuto malah melontarkan kata kata yang sulit dipahami Akira.
"Apa maksudmu? Kau pikir dirimu adalah Tuhan?", Akira dengan kebingungan.
"Benar. Jika tidak berpikir begitu, aku merasa hampa"
"Ya.. Tuhan tidak berwujud, tapi Dia adalah segalanya. Satu satunya keberadaan yang menguasai setiap entitas hanyalah Dia", balas Akira lagi.
"Akira, kapan kita akan menikah?", Kazuto tiba tiba mengganti topik pembicaraan.
"Eh?! I-itu.. Kau saja yang menentukan", Akira kaget.
"Baiklah.. Minggu depan", tegas Kazuto sambil melirik wajah Akira.
Kemudian mereka memberitahu hal itu kepada keluarga Kazuto. Ibunya merasa senang. Ia pun menghubungi ayah Kazuto yang sedang berada di luar negeri. Dan ia menjawab akan menghadiri pernikahan Kazuto nanti.
Singkatnya, malam hari pun tiba. Setelah makan malam bersama, Kazuto dan Akira segera masuk ke kamar untuk tidur.
"Kazuto.. Kau tau?..", Akira menarik bajunya.
"Apa?", Kazuto berpaling kepadanya.
"Aku sangat senang.. Aku sangat senang.. Tapi..", ucapnya dengan air mata menetes.
"..aku merasa!.. Aku merasa sedih!"
Kazuto langsung memeluknya dan mengelus elus kepalanya.
"Aku mengerti perasaanmu.. Aku berjanji. Setelah semua ini selesai, aku akan mencarikan orang tuamu!"
Begitulah perasaan Akira saat ini. Ia sangat ingin bertemu dengan orang tuanya yang saat ini tidak diketahui pasti kabar mereka. Tapi, Akira yakin bahwa mereka ingin bertemu dengannya lagi setelah lebih dari 4 tahun tidak bertemu.
Di lain sisi, Kazuto menikah dengan Cleopatra. Disaksikan oleh seluruh rakyat dan penghuni istananya, menjadikan momen itu sebagai momen bersejarah di negeri Cleopatra.
Lalu, Kazuto mengumumkan kepada mereka bahwa pengawal pengawalnya, yaitu Jenderal Kehancuran, akan didatangkan kesini untuk memperkuat pertahanan dan membantu tatanan pemerintahan. Hal itu disetujui oleh Cleopatra dan para petingginya.
Malam harinya, masyarakat mengadakan pesta untuk merayakan pernikahan Cleopatra. Sementara, Kazuto dan Cleopatra sedang berbincang di kamarnya.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku melakukannya bersamamu..", Kazuto terlihat resah.
Kazuto sudah menceritakan mengenai kemampuannya, yaitu berpindah pindah ingatan ke dirinya yang lain di kehidupan lain kepada Cleopatra. Awalnya ia sempat tidak mempercayainya, namun, karena Kazuto adalah sosok yang luar biasa, ia pun percaya.
"Ya.. Pasti akan ada efeknya.. Atau mungkin, akan berdampak pada keturunan kita nanti", jawabnya.
Kazuto pun mengangkat kepalanya. Ia tidak punya pilihan lain selain mencobanya. Andai saja kemampuannya itu bisa terwariskan kepada anaknya, maka Kazuto bisa bernafas lega. Namun, jika kemampuannya hilang begitu saja, itu berarti urusannya dengan kekuatan Tuhan telah selesai dan Kazuto akan hidup masing masing di dunianya.
"Baiklah.. Ku harap, tidak akan merugikanmu, Cleopatra", memegang tangannya.
Setelah melakukannya bersama Cleopatra, Kazuto kelelahan dan hendak tidur. Cleopatra mengucapkan selamat malam padanya dan ia langsung tertidur. Sebelum tidur, Kazuto termenung beberapa saat. Rasa gelisah mendominasi dirinya saat itu. Ia merasa khawatir akan masa masa yang akan datang.
"Kenapa kekuatan ini diberikan padaku? Padahal aku ingin hidup dengan normal dan berkeluarga seperti orang lain", ucapnya sambil melihat keluar jendela dan sesekali melihat Cleopatra yang sudah tertidur.
Bagi Kazuto, malam itu terasa sangat panjang. Tak biasanya ia merasakan hal seperti ini dalam hatinya. Ia terus terjaga sembari memperhatikan langit malam yang juga terlintas beberapa komet di sana.
Akhirnya, setelah tengah malam, Kazuto tertidur dengan berlinangan air mata. Beberapa saat setelah ia tertidur, Alcia membuka pintu sedikit untuk mengintip mereka. Mendapati mereka sudah tertidur lelap, Alcia pun tersenyum.
Waktu tidur Kazuto terasa singkat. Ia terbangun dari tidurnya. Namun, tidak seperti biasanya berpindah ke ingatan di dunia, ia berada di hadapan cahaya raksasa yang amat terang yang dikiranya adalah Tuhan.
"Ada apa? Apa yang terjadi?", Kazuto panik.
"Pilihan berada di tanganmu.. Kekuatanmu akan menjadi milikmu dan kau juga yang harus menanggung konsekuensinya atau diwariskan kepada anakmu kelak, tapi, ia harus siap menerima konsekuensi apapun", suaraNya berdengung hingga ke hati.
Kazuto belum memilihnya. Ia tertunduk cukup lama. Lalu, terdengar lagi suaraNya.
"Atau.. Kekuatanmu akan Ku ambil, tapi, eksistensimu akan lenyap seolah olah kau tidak pernah terlahir ke dunia. Dengan begitu, tidak akan pernah ada peperangan karena kekuatanmu itu. Kehidupan dunia akan Ku buat dari awal. Mungkin kau bisa saja terlahir lagi, tapi peluangnya adalah 0,01%"
Kazuto semakin kesulitan menentukan pilihan. Ia tidak rela jika orang orang tercintanya harus melupakan dirinya. Ia pun bertanya balik.
"Kenapa Kau memberikanku pilihan sesulit itu?! Padahal Kau bisa melakukan apa saja!"
"Benar. Aku hanya mengujimu. Kesempatan hanya datang sekali saja. Jika kau memilih ini, berarti Aku yang menghendakinya, jika kau memilih itu, Aku juga yang menghendakinya"
Akhirnya, Kazuto tersadar. Begitulah pola pikir Tuhan. Apapun yang dilakukannya, berarti itu adalah kehendakNya.
"Baiklah.. Tolong berikan aku kekuatan, aku akan menggunakannya pada hal yang kuanggap benar", pinta Kazuto.
Permintaannya itu dikabulkan. Sebuah cahaya masuk ke dalam hatinya. Seketika Kazuto langsung merasa tenang setenang tenangnya hati. Ia menikmati nafasnya, penglihatannya, pendengarannya, penciumannya dan yang terpenting, kasih sayang dalam hatinya dengan penuh kenyamanan.
__ADS_1