
Keseharian Kazuto terasa hampa tanpa Cleopatra. Ia kehilangan sosok yang menjadi penyemangat baginya. Meski begitu, Akira mencoba mendekatinya dan menghiburnya.
"Kazuto..", Akira melihat Kazuto yang sedang duduk sendirian di sofa.
"Aku tidak apa apa.. Aku hanya-"
Akira langsung memegang tangannya. Raut wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku hamil", bisik Akira padanya.
Mendengar itu, Kazuto mendadak menjadi senang. Namun, ia tidak bisa mendahulukan kesenangannya itu. Ia pun langsung meminta kepada Tuhan agar mereka dikaruniai anak perempuan.
"Syukurlah..", Kazuto memeluknya.
Kian hari, wilayah kerajaan kian meluas. Bahkan, Kazuto menyuruh sebagian penduduk untuk berkelana dan membuat wilayah baru di tempat lain. Hal itu dilakukannya agar semua tempat terjamah oleh manusia sekaligus mempercepat perluasan.
Beberapa bulan berlalu, tibalah hari dimana Akira melahirkan anaknya. Para maid terpilih ditugaskan untuk melakukan persalinan padanya.
Alangkah senangnya Kazuto, mengetahui anaknya adalah seorang perempuan. Dengan itu, ia terlepas dari kutukan berantai yang akan membuat sejarah terus terulang.
"Siapa namanya?", tanya Akira dengan lemas.
"Aku mengambilnya dari namamu.. Rinami", jawab Kazuto sambil menggendong anaknya itu.
Empat tahun berlalu dengan begitu cepat. Wilayah kekuasaan Kazuto semakin meluas. Bahkan, hampir setengah daratan bumi telah menjadi wilayahnya. Peradaban pun berkembang pesat. Akhir akhir ini, mulai didirikan bangunan bangunan pencakar langit juga bangunan megah yang berfungsi sebagai kantor pemerintahan baru.
Rinami sudah tumbuh besar. Kecantikannya mulai nampak. Semua pegawai laki laki di istana terpesona akan kecantikannya itu. Selain itu, Rinami juga dianugrahi bakat berupa ingatan yang kuat. Ia mampu mengingat perkataan ayahnya hanya dalam sekali dengar.
Suatu hari, Kazuto tiba tiba merasakan kegelisahan yang seketika menguasai hatinya. Ia teringat akan Cleopatra. Sehingga, ia menjadi banyak melamun dan menyendiri.
Saat sedang duduk di kantornya, seorang penjaga menghampirinya.
"Tuan Kazuto, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda", ucapnya di depan pintu.
Dengan sedikit lemas, Kazuto memeriksanya. Tampak di depan istana, orang itu ditahan oleh beberapa penjaga karena berusaha masuk tanpa izin Kazuto.
"Siapa dia?", gumamnya dari kejauhan.
Begitu Kazuto melihat rupanya, hatinya langsung bergetar. Yang dilihatnya itu adalah seorang wanita dengan rambut dua ikatan.
"Yumi..?"
"Kazuto!", teriaknya.
Ternyata, wanita itu adalah Yumi, tubuh asli dari pemilik tubuh Cleopatra. Seharusnya, Yumi sudah lama meninggal sejak kelas 3 SMP. Namun, entah seperti apa ceritanya, ia sudah ada di sini.
Melihat Kazuto, para penjaga itu melepaskannya. Yumi langsung berlari dan memeluknya.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?", tanya Kazuto diiringi tangis.
"Di alam sana, aku bertemu seseorang. Lalu, orang itu memberiku kesempatan untuk kembali ke dunia..", jawabnya menangis bahagia.
Akira sama bahagianya dengan Kazuto. Ia menyambut kembalinya Yumi dengan penuh kesenangan. Karena, ia tidak akan lagi melihat Kazuto gelisah karena perginya Cleopatra.
Beberapa minggu kemudian, Yumi hamil setelah resmi menikah beberapa hari sebelumnya. Memang lebih cepat dibandingkan hamilnya Akira. Kazuto berharap sama agar anaknya perempuan lagi.
Di masa masa tersebut, terjadi perubahan era yang amat drastis. Sistem pemerintahan kerajaan sudah tidak berlaku lagi. Semuanya sudah menjadi modern.
Di sini, Kazuto tidak mau diagungkan oleh rakyatnya. Ia memberi jabatan kepemimpinan kepada pamannya, adik dari Sena. Keenam Jenderal diharuskan menurutinya, karena ia juga diberi perintah oleh Kazuto.
Kelahiran anak Kazuto dari Yumi pun tiba. Keinginan Kazuto lagi lagi dikabulkan dengan diberikan anak perempuan yang kedua dari ibu yang berbeda. Kazuto memberinya nama Tina yang diambil dari keluarga Yumi.
Usia Tina berbeda 5 tahun dengan Rinami. Meski begitu, Rinami sangat menyayanginya.
Setelah beberapa tahun tidak ada bahaya apapun, terdengarlah kabar bahwa Dierron sudah bangkit kembali. Kazuto panik mendengar itu karena ditakutkan seluruh wilayah kekuasaannya akan dihancurkan oleh Dierron.
"Alcia, pasang mata pengintai di setiap kota!", suruh Kazuto.
"Baik, Tuan!"
Alcia membuat puluhan mata yang dilengkapi sayap untuk disimpan di setiap kota. Mata itu akan menjadi kamera pemantau gerak gerik Dierron yang diawasi langsung oleh Kazuto.
Sore hari, Kazuto menggendong Rinami di depan istana sambil menikmati pemandangan. Ia terus mengelus elus anaknya itu.
"Rin, apa kau merasakan sesuatu?"
Rinami menggelengkan kepalanya.
"Bagus.. Apa kau menginginkan sesuatu?"
Rinami menggelengkan kepalanya lagi.
"Hm.. Apa kau-"
"Kazuto! Kemarilah!", Akira memanggilnya dari dalam.
Begitu masuk, Kazuto dikejutkan oleh keenam Jenderal Kehancuran yang sudah menunggunya.
"Tuanku, saya menemukan informasi", lapor Marcus.
Mendengar itu, Kazuto menyerahkan Rinami kepada Akira. Maka, digelarlah sebuah rapat untuk membahas informasi yang didapatkan Marcus.
"Teori ini disebut Teori Keberuntungan.. Selama saya hidup, baru kali ini saya tersadar akan suatu hal", jelas Marcus.
"Maksudmu?", tanya Kazuto.
"Gelar Entitas mungkin hanyalah sebuah keberuntungan Anda, tapi, bukan berarti kekuatan itu digenggam oleh tangan yang salah.. Dengan kata lain, gelar itu akan berpindah dengan sendirinya"
Jenderal yang lainnya terlihat menyimak semua perkataan Marcus.
"Maksudmu, kekuatanku akan berpindah ke seseorang secara acak?"
"Benar, Tuanku"
Pendapat Marcus itu terus terpikirkan olehnya hingga beberapa hari. Ia khawatir kekuatannya akan berpindah ke Rinami atau ke Tina. Di satu hari, ia bertanya kepada Marcus tentang kutukan keturunan.
"Saya pikir, semua itu hanya kebetulan belaka.. Anda mungkin tau bagaimana sifat Tuhan", jawabnya.
Lagi lagi, Kazuto terpikirkan akan hal itu. Akhirnya, ia pun membenarkannya.
"Pada akhirnya, semuanya bergantung pada takdir..", setelah itu, Kazuto langsung meninggalkan mereka.
Kazuto pergi ke luar untuk mencari udara segar. Pikirannya yang awalnya tenang, kembali menjadi terganggu. Ia terus merenung memikirkan dirinya yang selalu terikat oleh sesuatu yang penting.
"Ku pikir, semuanya akan baik baik saja.. Ya.. Aku harap begitu", Kazuto menghela nafas panjang.
Malam hari, Kazuto menggelar makan malam bersama dengan para jenderal dan petinggi istana. Kedua anaknya duduk di sebelahnya disertai Yumi dan Akira.
"Ramai sekali", Rinami melihat sana sini.
"Ini adalah momen berharga, Rin", jawab Akira sambil menyodorkan Tina kepada Kazuto.
"Kau benar. Nikmatilah semua momen ini sebelum kau tidak bisa menikmatinya", sahut Kazuto tersenyum.
Bukannya senang, Rinami dan Akira malah terdiam mendengarnya. Seolah olah perkataan Kazuto adalah masa depan yang akan terjadi.
Makan malam berjalan cepat. Sebagian mereka ada yang kembali bertugas dan ada yang beristirahat. Dari kejauhan, Kazuto memperhatikan para maid yang sedang membereskan sisa sisa makan malam.
Sambil menggendong Tina, Yumi menghampirinya.
"Ada apa?", tanya Tina.
"Tidak ada. Aku hanya sedang memperhatikan mereka", jawab Kazuto menunjuk kepada apa yang dilihatnya.
"Kau sudah ingin tidur? Akira sudah menunggumu di kamar"
"Hmp.. Ya.. Aku akan kesana.. Kau duluan saja", Kazuto menoleh lalu mengelus pipi Tina yang sudah tertidur.
Yumi pun meninggalkannya.
"Marcus!", teriak Kazuto.
Tak butuh waktu lama, Marcus sudah berada di hadapannya.
"Ya, Tuanku", Marcus berlutut.
"Perketat keamanan dan suruh para peneliti untuk menghadap kepadaku besok pagi"
"Baik, Tuanku", Marcus langsung menghilang begitu saja.
Kazuto pun segera pergi ke kamarnya. Sembari berjalan, ia terus memikirkan rencana yang lebih baik untuk kedepannya. Sebelum memasuki kamar, ia bertemu dengan Lucia.
"Ah.. Tuan Kazuto"
"Oh.. Lucia", Kazuto menyapa balik.
"Apa Anda membutuhkan saya?", Lucia mendekatinya.
"Emm.. Tidak"
"Apapun yang Anda suruh, saya akan melakukannya", Lucia maju selangkah.
__ADS_1
"Ah.. Ti-tidak.. Tidak ada perintah khusus untukmu", Kazuto sedikit mundur.
"Tubuh saya sudah siap menerima apapun", Lucia maju selangkah lagi.
"Tidak.. Ehem.. Aku harus beristirahat.. Ada sesuatu yang harus ku lakukan besok", Kazuto memperbaiki postur tubuhnya.
"Dimengerti.. Kalau begitu, selamat malam, Tuan Kazuto", Lucia memberi hormat lalu pergi untuk berkeliling.
Kazuto pun membuka pintu kamar. Setelah dibuka, Akira dan Yumi langsung menyambutnya.
"Dimana anak anak?", tanya Kazuto sambil menutup kembali pintu.
"Mereka sudah tidur", jawab Akira.
"Hm.. Aku mencintai kalian semua", Kazuto memeluk Akira dan Yumi.
"Ada apa, Kazuto?", tanya Yumi karena hal yang mendadak itu.
"Tidak ada.. Aku hanya berpikir, suatu saat nanti, aku akan kehilangan kalian..", kemudian, Kazuto mencium pipi mereka secara bergantian.
Pagi hari, para peneliti sudah menunggu Kazuto di ruang rapat. Mereka adalah para peneliti terbaik yang merupakan bawahan langsung Marcus.
Marcus membukakan pintu tanda Kazuto sudah datang. Mereka langsung memberi hormat dengan sangat sopan kepadanya.
"Baiklah.. Aku memanggil kalian kemari karena aku ingin kalian mencari sesuatu dari bekas pertempuran kami beberapa tahun silam. Aku harap, kalian menemukan sesuatu yang berdampak besar bagiku", jelas Kazuto.
Setelah ia selesai bicara, maka berdirilah salah seorang dari mereka.
"Tuanku Yang Terhormat, izinkan saya menunjukkan sesuatu", pintanya.
"Hm? Silahkan"
Dibawalah ke hadapan Kazuto seseorang yang diyakini sebagai mata mata Dierron. Tubuhnya penuh dengan rantai dan bekas luka.
"Orang ini mengaku sebagai mata mata Dierron. Kami menemukannya di sebuah hutan sebelah barat"
Kazuto menghampirinya. Orang itu merasakan hawa yang sangat dahsyat dari Kazuto.
"Dimana Dierron?", Kazuto mengatakannya dengan santai.
"Tidak! Aku tidak akan-"
Tanpa pikir panjang, Kazuto menyentuh dahinya dan dalam sekejap, orang itu hancur menjadi butiran debu. Sontak, seisi ruangan terkejut dengan hal itu. Berbeda dengan Marcus yang tersenyum melihat kehebatan Tuannya.
"Percuma. Dia tidak bisa dimanfaatkan", Kazuto kembali duduk.
"Tu-tuanku.."
"Sudahlah.. Lakukan saja apa yang ku suruh"
Para peneliti itu pun segera ke TKP untuk melakukan penelitian. Setelah mereka semua pergi, tiba tiba Kazuto tersungkur. Namun, sebelum wajahnya menyentuh lantai, Marcus dengan refleksnya langsung memegangi Kazuto.
"Apa Anda baik baik saja? Apa yang terjadi?", tanya Marcus dengan cemas.
"Ahh.. Tidak.. Aku hanya kelelahan saja"
Ia pun dibawa oleh Marcus ke kamarnya. Melihat itu dari kejauhan, Akira langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia hanya kelelahan. Tenanglah..", Marcus membaringkan Kazuto di tempat tidurnya.
"(Hm? Apa aku kembali menjadi manusia normal? Kenapa aku merasakan hal yang seperti ini?)", pikir Kazuto.
Tak lama kemudian, datanglah para maid dengan membawa obat obatan. Mereka langsung memberi penanganan kepada Kazuto.
Sementara itu, di luar istana, Lucia melihat seorang wanita dengan gerak gerik mencurigakan. Ternyata ia adalah Nina yang telah lama hilang. Sepertinya, ia ingin bertemu dengan Kazuto saat ini.
"Berhenti!", Lucia membuatnya terkejut.
"A-aku bukan orang jahat! Aku.. aku teman Kazuto!", Nina berusaha meyakinkannya.
"Sepenting apa dirimu baginya? Tuan Kazuto tidak akan sembarangan mendekati seseorang"
Nina terus membalas perkataan Lucia. Mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Akira yang hendak mencari Yumi mendengar kegaduhan itu.
"Nina?", Akira langsung menghampirinya dan memeluknya.
"Akira?"
Melihat itu, Lucia mundur lalu meminta maaf kepada Nina.
"Maafkan aku..", ia pun pergi.
"Kau kenapa?"
"Ntahlah.. Tubuhku tidak stabil"
Nina melihat seisi ruangan. Terdapat beberapa maid di kamar Kazuto yang sedang berjaga.
"Kazuto, aku ingin bicara denganmu..", Nina menarik sebuah kursi.
"Ehm.. Tinggalkan kami berdua", suruh Kazuto kepada para maid.
Mereka pun langsung keluar dan menutup pintu rapat rapat.
"Kali ini, musuh kita bukan lagi berkaitan dengan alam, tapi dengan dimensi", ucap Nina sebagai pembuka.
"Apa kau bilang?! Dari mana kau tau?", Kazuto terkejut.
"Aku menghabiskan waktu untuk berkeliling dan berpindah pindah alam. Tapi, tidak ada petunjuk apapun. Hingga pada saat aku menguji kemampuanku, aku merasakan dimensi yang lebih tinggi sedang mengawasiku", jelas Nina.
"Hm.. Mungkin Dierron berpindah ke dimensi ke empat.. Atau dia punya seseorang yang bisa membuat gerbang ke dimensi ke empat"
Walaupun Kazuto memiliki kekuatan yang tidak ada tandingannya, ia tidak mengingat apapun tentang dimensi. Tapi, karena itulah ia mengirim para peneliti ke bekas medan peperangan untuk mencari tanda.
"Nina, kau tau? Aku ingin menjadi seseorang yang menjalani hidup dengan normal. Tapi, kekuatan ini menghalangiku", Kazuto berganti posisi menjadi duduk.
"Maksudmu kekuatan Tuhan? Hmp.. Jika itu searah dengan pemikiranmu, kau malah akan menikmatinya, kan?", balas Nina memegang tangan Kazuto.
"Benar. Aku hanya menginginkan kedamaian, bukan kekuatan.. Mungkin, dengan ditemukannya dimensi yang lebih tinggi, akan lebih mendekatkan peluangku untuk mengembalikan ini kepada Tuhan", Kazuto balas menggenggam tangannya.
Setelah membicarakan hal itu, Nina pun meninggalkan Kazuto sendirian untuk dibiarkan beristirahat. Ia menatap langit melalui jendela di sampingnya. Angin sepoi sepoi masuk dan menerpa wajahnya.
Dalam waktu beberapa jam saja, demamnya menurun. Kazuto sudah tidak merasakan keletihan lagi.
"Akira, aku sudah baikan", Kazuto menghampiri Akira yang sedang duduk di sofa.
"Kazuto?! Bukannya kau-"
"Sstt..", Kazuto menempelkan jarinya pada bibir Akira.
"Ka-kazuto? Ada apa?", balasnya dengan suara pelan.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu", ajak Kazuto.
Akira pun langsung mengikutinya ke kamar. Setelah Akira masuk, Kazuto menutup pintu sambil menarik nafas panjang. Nampaknya, ia mulai gugup.
"Ehm.. Begini, Akira. Sebenarnya aku tidak berani mengatakannya, tapi..ntahlah"
Akira menghampirinya lalu mendorongnya ke pintu yang telah tertutup. Kedua tangannya mengapit leher Kazuto.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku tidak ingin waktu berakhir sebelum kau mengatakannya", pinta Akira malu malu.
"Emm.. Akira, aku akan pergi lagi", tegas Kazuto.
Perkataannya itu membuat Akira terdiam sejenak.
"Aku tau apa yang kau pikirkan! Kehidupan normal, bermain bersama anak anak, bercakap cakap dengan kalian, tapi, aku belum bisa melakukannya jika kutukan ini masih berada dalam diriku!", secara lembut, Kazuto membelai rambut Akira yang menutupi mata kanannya.
Mata kanan Akira berbeda dengan yang satunya. Bola matanya berwarna keputih putihan dengan bintik bintik seperti bintang yang bertebaran.
"Aku selalu terpesona oleh keindahan matamu, Akira.. Aku ingin melihatnya..setiap waktu", suara Kazuto semakin pelan.
Lama kelamaan, Akira mulai menangis. Ia menyandarkan wajahnya ke dada Kazuto hingga membasahi jaketnya.
"Aku mengerti, Kazuto. Lakukan apapun demi kita semua!"
Kazuto memegang wajahnya lalu mengusap air mata di pipinya. Setelah tangisannya berhenti, ia pun menciumnya.
"Kazuto, emm aku..", wajahnya memerah.
Kazuto langsung paham apa yang diinginkannya. Ia pun memenuhi keinginannya itu. Setelah selesai, Kazuto mengambil sebuah buku yang tersimpan di atas meja.
"Dimana Rinami?"
"Mungkin sedang bersama paman", jawab Akira sembari membereskan selimut.
Kazuto duduk di dekat jendela. Kemudian, ia menulis beberapa kalimat di buku itu.
"Jika aku terlalu lama pergi, tunjukkanlah ini kepada mereka"
__ADS_1
Halaman demi halaman dipenuhi oleh informasi mengenai Kazuto. Sepertinya, ia ingin memberitahu kepada semuanya tentang sejarah dirinya. Mulai dari asal muasal, biografi, hingga akhirnya.
"Kau menulis itu seakan akan kau tidak akan kembali", Akira mengamatinya dari tadi.
"Kau benar. Aku tidak tau sampai kapan ini akan berakhir", seketika ia berhenti menulis.
Kazuto beranjak dari duduk dan menutup bukunya.
"Aku akan menemui Marcus. Akira, tolong suruh Yumi untuk menunggu di sini dan kau jagalah anak anak", menaruh buku lalu pergi.
Marcus terlihat keluar dari ruang penelitian. Begitu melihat Kazuto, ia langsung menghampirinya.
"Kebetulan sekali, Tuanku. Sebaiknya Anda melihatnya langsung"
Para peneliti menemukan sebuah batu yang jelas jelas bukan berasal dari dunia ini. Batu itu terlihat aneh. Mereka sedang berusaha mencari asal muasal batu tersebut.
"Marcus, cari Nina sekarang juga!', suruh Kazuto.
Nina pun masuk ke ruangan. Kazuto langsung memanggilnya dan menujukkan batu tersebut kepadanya.
"Batu ini?!"
"Kau tau sesuatu?"
"Batu surgawi.. Batu yang berasal dari surga"
Mendengar itu, seisi ruangan terkejut. Mereka pertama kalinya mendengar batu seperti itu.
"Tapi bagaimana Dierron bisa memilikinya? Apa dia pernah berada di surga?", asumsi Kazuto tidak masuk akal.
"Tidak. Bukan seperti itu. Mungkin Dierron memiliki sekutu yang spesial"
"Hmm.. Kau benar"
Berbagai asumsi terus dikeluarkan oleh Nina dan Marcus. Hingga disepakatilah bahwa batu tersebut berasal dari tempat yang mana merupakan tempat Dierron saat ini. Sepertinya, saat ia berteleportasi, sekutunya tidak sengaja menjatuhkan batu itu melewati portal.
"Jadi, bagaimana caranya untuk menuju kesana?", Kazuto mendapat kesimpulan.
"Ntahlah. Aku tidak bisa memindahkanmu ke tempat yang belum pernah ku lihat"
Karena pikiran Kazuto mulai goyah, ia pun kembali ke kamarnya untuk menenangkan pikirannya. Tetapi, sesampainya di kamar, ia melihat Yumi sedang berdiri di depan jendela.
"Yumi?"
"Ahh.. Suamiku datang", sapa Yumi.
"Yumi.. Aku.. Ehm.."
"Tenanglah..", Yumi memberinya secangkir teh.
Kazuto menarik nafas panjang berkali kali untuk menenangkan dirinya. Teh yang diterimanya pun diminum dengan santainya.
"Kau akan pergi?", tanya Yumi sambil melihat pemandangan luar.
"Itu benar. Mungkin in hal terakhir yang harus ku lakukan", balas Kazuto.
"Mungkin aku bisa membantumu", Yumi duduk di sebelahnya.
"Kau tidak perlu repot repot. Aku sudah meminta Nina untuk menemaniku", menaruh cangkir di atas meja.
"Baguslah kalau begitu"
Kemudian, dari luar, terdengar suara Akira.
"Kazuto?"
"Masuklah"
Begitu pintu dibuka, Rinami langsung berlari kepada Kazuto dan langsung memeluknya.
"Ayah!"
"Nina terlihat sibuk di sana. Apa yang sedang kau lakukan?", tanya Akira sambil menyerahkan Tina kepada Yumi.
"Ntahlah.. Aku mengandalkannya.."
Cerita beralih ke sebuah kerajaan di pinggiran benua.
Dikisahkan, seorang perempuan miskin yang menjadi pelayan di sebuah restoran. Namun, tidak hanya menjadi pelayan, para pelanggan boleh menyentuh atau bahkan menikmati tubuhnya.
Meski begitu, tidak ada jalan lain baginya. Karena, ia hidup sebatang kara di rumahnya. Apapun ia lakukan demi bertahan hidup.
"Tuan, izinkan aku bekerja lagi!", pintanya kepada pemilik restoran.
"Tapi, Risa, kau terlihat kelelahan. Sebaiknya kau beristirahat di ruanganku"
Pemilik restoran tersebut yang bernama Avid, selalu merasa iba kepadanya. Ia tidak ingin Risa jatuh sakit karena kelelahan.
"Kumohon.."
"Hmm.. Baiklah.. Antarkan porsi ini ke meja nomor 7", memberikannya seporsi makanan.
Risa pun mengambilnya lalu menyimpannya di meja yang sudah ditetapkan.
"Silahkan dinikmati", ucap Risa dengan senyuman hangatnya.
Pelanggan tersebut, yang merupakan seorang perempuan, hanya diam. Ia berpenampilan tertutup mengenakan mantel jubah yang menutupi kepalanya.
Sesaat sebelum Risa meninggalkannya, ia berdiri lalu menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?", Risa berbalik.
Situasi saat itu sedang sepi pelanggan. Hanya ada beberapa orang yang ada di restoran itu.
Perempuan itu menarik tangan Risa dan membawanya ke sebuah tempat di dekat WC. Seolah olah mengetahui niatnya, Risa perlahan lahan membuka kancing bajunya.
"Saya siap melayani"
Namun, perempuan itu mengentikannya. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Risa.
"Apakah kau tau siapa orang yang mampu membuka portal menuju ke dimensi lain?", bisiknya.
Perempuan itu membuka jubahnya. Ternyata, ia adalah Nina yang sedang menyamar.
"Ma-maaf.. Aku tidak mengerti pertanyaanmu", Risa mengelak.
"Jangan berbohong", Nina mengeluarkan batu surgawi dari sakunya.
"Batu itu.."
Di saat seperti itu, Avid memasuki ruangan. Ia terkejut mendapati mereka berduaan.
"Uhm.. Maaf", ia hendak kembali.
"Hey, siapa kau?", Nina memanggilnya.
"Aku pemilik restoran ini"
"Apa kau punya catatan mengenai perempuan ini?", Nina bermaksud untuk menelusuri apakah targetnya adalah orang yang tepat atau bukan.
Di saat Risa sedang bekerja, Avid diam diam memberikan informasi mengenai Risa kepada Nina.
"Apa restoran ini memiliki penginapan?", tanya Nina.
"Tidak ada. Tapi, penginapan tepat berada di belakang restoran ini"
Sore hari, Risa bersiap siap untuk pulang. Melihatnya, Avid langsung menghampirinya dan memberinya upah kerja hari ini.
"Perempuan tadi menunggumu di penginapan", bisik Avid.
"Baiklah. Terima kasih upahnya", Risa pergi melalui pintu belakang.
Di penginapan, Nina telah menunggu kedatangannya di depan pintu kamar. Begitu melihatnya masuk, ia langsung memanggilnya.
"Siapa sebenarnya kau ini?"
"Aku Nina", jawabnya sambil menutup pintu.
"Apa kau pendatang?"
"Ya.. Aku ke sini karena suruhan seseorang", Nina mendekatinya.
"Apa urusanmu denganku?"
Kemudian, Nina memberinya bongkahan batu surgawi yang ia bawa. Risa memegangnya sambil terkagum kagum.
"Batu ini!? Dari mana kau mendapatkannya?"
"Besok aku akan menjawabnya. Sekarang, kau istirahat saja. Aku akan kembali lagi nanti", Nina meninggalkannya.
Begitu keluar, ia langsung berpindah tempat ke depan ruangan penelitian Kazuto.
__ADS_1
"Sepertinya, dia mengetahui sesuatu..", lapor Nina kepada Kazuto.
"Dekati dia dan jangan sampai nyawanya terancam", balas Kazuto sebelum pergi darinya.