Above The Kings

Above The Kings
Kejadian


__ADS_3

Kurang lebih setengah jam, Kazuto dan Alcia sudah seperempat perjalanan. Mereka melewati pasar pasar kerajaan terdekat. Beruntung, identitas mereka tidak diketahui. Kazuto memakai pakaian seperti pedagang dan Alcia memakai pakaian layaknya seorang model kerajaan.


Karena tubuhnya yang seksi, membuatnya menarik perhatian banyak pria. Namun, begitu Alcia menatapnya, mereka langsung ketakutan dan tidak berani melihatnya lagi.



“*Aku khawatir dia mudah marah*..”, melirik Alcia.



Tak lama, mereka sampai di pusat pasar itu. Keadaan di sana sangat ramai. Sehingga, jalanan penuh oleh orang orang yang berbelanja di pasar itu.



“Aku..tidak bisa..bergerak”, Kazuto terhimpit.



Pada kondisi seperti itu, seseorang memanfaatkan situasi. Seorang pria dengan sengaja memegang bagian belakang Alcia.



“Oh.. Maafkan aku, nona”, sembari tersenyum mesum.



Alcia menjadi sangat kesal dan marah. Ia mengepal tangannya sekuat tenaga. Melihat itu, Kazuto langsung bertindak.



“*Gawat. Alcia*..”, menarik tangannya lalu menghadang pria itu.



“Siapa kau, nak? Apa dia pekerjamu?”



“Pergilah dari hadapanku!”



Di tengah keramaian, Kazuto mencoba melindungi Alcia dari kekesalannya terhadap pria mesum itu.



“Ayolah.. Akan ku beli dia dengan beberapa keping emas”, mengeluarkan sekantung emas dari sakunya.



“Tidak.. Ayo cepat..”, mendorong Alcia untuk segera pergi.



Merasa tidak dipedulikan, pria itu menarik bahu Kazuto lalu memukul wajahnya.



“Beraninya kau berpaling dariku!”, ucapnya sambil memegang baju Kazuto.



“Kau tidak tau. Dia-”, pria itu memukul lagi.



Alcia ingin sekali menghabisi pria itu. Tetapi, ia sudah diperintah oleh Kazuto sebelumnya untuk tidak menunjukkan kekuatannya di depan umum. Sekarang, ia hanya bisa mengepal tangannya.



Di saat genting seperti itu, muncul seseorang berjubah dari tengah keramaian.



“Ada keributan apa di sini?”, ucapannya itu menarik perhatian banyak orang.



Begitu Kazuto melihatnya, ia merasakan kekuatan yang amat besar darinya.



“*Mungkinkah dia*?..”



“Siapa kau? Hah?”, pria itu merasa tidak enak dengannya.



Tiba tiba, ia melepaskan Kazuto. Pria itu mematung selama beberapa saat setelah menatapnya.



“Pergilah..”, suruh sosok berjubah itu.



Pria itu langsung lari ketakutan seolah olah telah dihipnotis olehnya.



“*Sebenarnya siapa dia*?”



Ia sama sekali tidak menatap Kazuto. Ia langsung pergi begitu saja kembali ke kerumunan orang banyak.



“Tuanku..”, Alcia membangunkan Kazuto.



“Ayo lanjutkan..”, Kazuto mengajak melanjutkan perjalanan.



Di dalam pasar itu, Kazuto merasakan ada beberapa pengguna sihir berskala kecil berada di sana. Kebanyakan mereka menjadi pedagang. Karena tidak merasakan ancaman, Kazuto melewati mereka.



Sampailah mereka di ujung pasar.



“Aku lelah..”, duduk di kursi pinggir jalan.



“Tuanku, aku tidak merasakan aura si Pengelana itu”



“Yah.. Aku juga”



Setelah beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Sudah setengah jalan mereka tempuh hingga matahari hampir berada di tengah.



Saat itu, Kazuto melihat gerbang masuk ke sebuah kerajaan. Ia berhenti sejenak di sana untuk melihat lihat. Tak lama kemudian, Kazuto mendengar suara terompet.



“Tuanku, itu..”, menarik lengan Kazuto.



Sebuah kereta kuda memasuki gerbang itu diikuti oleh beberapa prajurit berkuda.



“*Auranya*?!”



Kazuto merasakan aura yang cukup besar dari dalam kereta kuda itu. Karena penasaran, Kazuto mencoba memasuki gerbang itu. Namun, penjaga di sana menghadangnya.



“Berhenti di situ!”, ucap salah seorang darinya.



“Aku hanya ingin melihat lihat”



“Pergilah dari sini!”, menghunuskan tombaknya.



Untuk menghindari keributan, Kazuto dan Alcia pergi dari tempat itu. Mereka menghampiri seorang penjual perhiasan yang berada di dekat gerbang itu.



“Oh anak muda.. Silahkan”, menunjukkan barang jualannya.



“Aku ingin bertanya”, Kazuto berbisik kedapanya.



“Wah wah... Ternyata seorang pendatang, ya”



“Siapa yang berada di kereta kuda tadi?”



“Dia adalah salah satu pemimpin dari tiga negeri raksasa, **Sang Ratu Kebengisan, Cleopatra**. Sepertinya, dia mengadakan perundingan dengan kerajaan ini. Karena, sangat jarang pemimpin besar sepertinya berkunjung ke negeri seperti ini..”, jelasnya.



Baru kali ini Kazuto mendengar nama itu, Cleopatra. Menurut si penjual itu, ia adalah satu dari tiga pemimpin negeri raksasa yang berada di perbatasan benua. Kerajaannya adalah yang terjauh dari sini. Tidak seperti Abraham yang berada dekat dengan kerajaan ini.



Julukannya itu membuat Kazuto penasaran, Ratu Kebengisan. Itu terdengar cukup mengerikan dan menarik banginya. Tapi, Kazuto tidak punya banyak waktu. Ia harus menemukan para Pengelana terlebih dahulu.



Tepat pada tengah hari, Kazuto sampai di area sekitar pohon itu. Berbeda dengan yang ia lihat bersama Akira, pohon ini memiliki tumbuhan menjalar dengan ukuran besar dan duri memenuhi batangnya.



“Akhirnya sampai..”



Tak jauh dari pohon itu, terdapat sebuah penginapan.



“Tuanku, sebaiknya kita menentukan tempat untuk pengintaian”, tunjuknya ke penginapan itu.



“Kau benar”



“Apakah Tuanmu itu sangat kuat?”, tanya Nina.



“Tentu saja. Beliau adalah yang terkuat dari yang terkuat”, jawab Lucia yang sedang mengajaknya berkeliling.



“Kakak..”, seorang maid yang bernama Yuri menghampiri mereka.


__ADS_1


“Maaf aku harus bertugas. Jika ada apa apa, bilang saja kepadanya”, menunjukkan Yuri kepada Nina.



“Aku siap melayanimu, nona”



Nina pun ditemani olehnya. Dengan motif ingin berkeliling istana, Nina sebenarnya sedang mencari informasi mengenai dimana dia berada sekarang.



“*Aku belum menemukan petunjuk*”



Dengan memanfaatkan tubuhnya yang pendek, Nina bertingkah layaknya anak kecil. Hal itu dilakukannya supaya semua penghuni istana tidak menanam rasa curiga terhadapnya.



“Kenapa kau melakukannya!?”, Akira mendorong Luxyus ke dinding.



“Kau pasti mengerti, Akira.. Nina adalah penyebab Kazuto berada di sini, karena itu, pasti dia memiliki masalah yang membuat Kazuto terlibat..”, memegang kedua bahu Akira.



“Ya.. Mungkin kau benar”, Akira tertunduk.



“Jika Kazuto ingin segera kembali, maka ia harus menyelesaikan semua masalah dengan siapapun, termasuk Nina..”, mengelus elus lehernya.



“Aku butuh waktu untuk memahami ini semua..”, meninggalkannya.



“Belum terlihat..”, Alcia memantau dari jendela.



“Ya.. Aku tau itu”, Kazuto berbaring karena bosan.



Sampai sore, belum terlihat keberadaan para Pengelana itu. Penginapan itu terletak di tempat yang strategis untuk memantau.



Malam hari, Kazuto berencana untuk melihat pohon raksasa itu dari dekat. Ia harus menunggu situasi sunyi untuk menuju ke sana bersama Alcia.



“Cepatlah..”, Kazuto mengikuti tumbuhan yang menjalar.



Tumbuhan itu bagaikan benteng karena ukurannya yang besar. Tapi, tidak terlalu sulit untuk dihancurkan.



“Sampai!”



Akhirnya mereka sampai di kaki pohon itu. Begitu melihat ke atas, Kazuto menyadari betapa tinggi besarnya pohon itu sampai menjulang hampir menyentuh awan.



“*Apa maksudnya ini*?”, pikirnya.



“Tuanku, ada pintu di sebelah sana”, tunjuk Alcia ke sebuah pintu kayu di kaki pohon itu.



Kazuto menghampiri pintu itu. Aneh baginya melihat sebuah pintu di bawah pohon raksasa seperti ini. Pasti ada sesuatu di dalamnya.



Perlahan lahan ia membuka pintu itu. Begitu dibuka, cahaya yang menyilaukan langsung menyorot mereka berdua.



“Apa ini?”



Batang dalam pohon itu berwarna putih bercahaya. Di pinggirnya terdapat tangga yang memutar hingga ke puncak pohon. Isi dari pohon itu tidak ada apa apa. Hanya saja, banyak partikel yang bertebaran di sana.



“Luar biasa..”, Kazuto takjub melihatnya.



“Dari penampilannya, ini terlihat seperti pohon suci”, Alcia tampaknya mengetahui sesuatu.



“Pohon suci?”



Pohon suci diyakini sebagai pohon surga, pohon yang langsung diciptakan oleh Tuhan. Alcia pernah menemukan yang seperti itu jauh ribuan tahun silam.



Karena berasal dari ras malaikat, Alcia pernah mengunjungi tempat tempat suci di 4 alam, termasuk surga. Baginya, itu merupakan tempat yang paling suci dan mulia bagi seluruh makhluk. Di sana, ia melihat pohon yang seperti ini.



Untuk mengetahui lebih lanjut, Kazuto menaiki tangga yang memutar itu. Entah berapa ratus bahkan ribuan anak tangga yang harus dinaiki.




“Tidak usah, Alcia. Mungkin saja ada jebakan di sekitar sini”, jawab Kazuto melihat ke atas dan ke bawah.



“Akira..”, panggil Luxyus yang melihat Akira sedang duduk di depan jendela.



“Nina adalah penyebab semua ini… Kau ingin mengatakan itu kan?”, jawab Akira murung sambil memeluk lutut.



Melihatnya seperti itu, Luxyus menghampirinya. Langit malam yang cerah saat itu, menjadi saksi pembicaraan mereka berdua di depan jendela.



“Kau tau?.. Aku percaya bahwa Tuhan itu ada.. Dan aku yakin, semuanya telah ditentukan oleh-Nya”, Luxyus memandangi langit.



Akira hanya diam saja. Ia enggan menjawab perkataan Luxyus itu.



“Meskipun kau tidak ingin ini terjadi, semuanya akan terjadi karena kehendak-Nya”, sambung Luxyus.



“Hmp.. Ternyata, kau juga bisa berkata bijak”, sahut Akira mengangkat dagunya.



“A-apa maksudmu? Aku ini ratu, lho! Seorang ratu memang harus bijak!”, Luxyus merasa tersinggung.



Secara halus, perkataan Luxyus itu mengubah pola pikir Akira yang awalnya tidak meyakini ada yang mengatur semua ini. Sekarang, ia paham semua yang terjadi saat ini.



“Jika benar seperti itu.., aku tidak perlu khawatir lagi”, Akira mulai tersenyum.



Luxyus senang melihatnya kembali seperti semula. Malam itu, Akira pun menjadi lebih dekat dengannya.



Sementara, Nina yang berada di istana Kazuto sedang berusaha untuk mencari petunjuk. Ia sudah melihat pohon raksasa itu dan ia yakin bahwa ada Entitas Iblis di sekitar sini.



Kazuto masih belum sampai ke atas. Sudah sekitar dua ratus anak tangga dinaikinya.



“Ini sudah cukup tinggi..”, melihat ke bawah dengan sedikit rasa takut.



“Tuanku, ada suara..”



Dalam keadaan sunyi, terdengar suara dari arah atas. Suara itu seperti sekelompok paduan suara yang sedang bernyanyi.



“Suara ini?”, Kazuto melanjutkan naik.



Semakin naik ke atas, suara itu terdengar semakin jelas dan nyaring. Itu membuat Kazuto menjadi penasaran untuk menemui sumber suaranya.



“Tuanku, ini mencurigakan”, Alcia merasakan sesuatu.



Alcia mendeteksi aura aura negatif di dalam pohon itu. Meskipun tidak terlalu berbahaya, ia menganggapnya sebagai ancaman.



“Kita harus bergegas”, ajak Kazuto.



Saat menuju ke atas, Kazuto tiba tiba lemas. Kakinya mulai gemetaran karena tidak kuat menahan tubuhnya. Pandangannya mulai kabur.



“Tuanku! Tuanku!”, Alcia menahannya.



“Apa..yang..terjadi?”



Seluruh tubuhnya mati rasa. Sesuai dugaanya, pasti ada jebakan di tempat seperti ini. Sebelum menutup matanya, ia melihat seseorang menyeret Alcia ke bawah, ke dasar pohon.



“Al..cia”, Kazuto hilang kesadaran.



Beberapa saat kemudian, seorang wanita menggendong Kazuto yang tak berdaya itu.



“Apa benar dia orangnya?”, ucapnya.


__ADS_1


“Hmm.. Mungkin.. Bawa saja dulu”, sahut seseorang di belakangnya.



Kedua wanita itu berpenampilan memakai pakaian serba putih dengan kedua sayap di punggungnya. Dilihat dari penampilannya itu, mereka terlihat seperti malaikat.



Jatuhnya Alcia ke dasar menyebabkan kerusakan yang cukup besar. Tanahnya menjadi berbekas.



“Hahaha.. Akhirnya aku menemukanmu”, orang itu mendarat dengan santainya.



“Siapa kau?”



Penampilannya berbeda dengan kedua wanita tadi. Pria ini hanya memiliki satu sayap dan satu tanduk di dahinya. Ia terlihat bukan dari anggota mereka sama sekali.



“Itu tidak penting.. Apa kau tau dimana Nina sekarang?”, tanya nya sambil mendekatkan wajahnya.



“Hmp.. Kau pikir aku akan menjawab pertanyaanmu itu? Jangan bercanda. Tidak ada gunanya makhluk hina sepertimu bertanya kepadaku”, jawab Alcia dengan sombongnya.



Sifat sombong sudah melekat dalam diri Alcia sejak ia diciptakan. Itu karena ia adalah yang terkuat dalam rasnya. Meski begitu, ia selalu tunduk dan patuh pada tuannya .



“Padahal aku sudah mencoba menahan diri..”, pria itu berpindah ke segala arah dengan sangat cepat.



“Akulah Entitas Iblis Keempat, **Rogue si Katai Merah**!”, suaranya bergema memenuhi ruang di dalam pohon itu.



“Walaupun aku tidak sekuat Entitas Iblis Pertama, aku adalah yang tercepat diantara mereka!”, nampaknya Rogue ingin membuat Alcia terintimidasi.



“Hmp.. Bodohnya”, Alcia menghela nafas.



Alcia terlihat tenang. Ia tidak peduli Rogue yang terus mengelilinginya dengan cepat itu.



“Thunder Slash!”, Rogue menyambar Alcia dengan kecepatan kilat.



Namun, serangan itu dapat dihindari dengan mudah. Begitu Rogue melancarkan serangan kepada Alcia, Alcia sudah berada di tempat lain. Perpindahannya tidak bisa dilihat olehnya sama sekali.



“*Apa itu*?!”, Rogue menghentikan pergerakannya.



Kemudian, mereka saling bertatap tatapan. Alcia menatapnya dengan tatapan sombong yang membuat Rogue sedikit ragu untuk menyerangnya lagi.



“Sudah selesai? Giliranku”



Alcia menutupi tubuhnya dengan jubah yang terbuat dari cahaya. Dan dari cahaya itu, ia membuat sebuah sabit dengan ukuran besar.



“Sebaiknya kau bersiap siap..”, Alcia mengayun ayunkan sabitnya.



“*Gawat. Dia memakai*-”, Rogue menghindari serangan mendadak darinya.



Ternyata, serangan itu melukai tangannya. Sepertinya, kecepatan Alcia dapat mengimbangi atau bahkan melebihi kecepatan Rogue yang merupakan yang tercepat diantara para Entitas Iblis lainnya.



Kedua malaikat itu menurunkan Kazuto dengan hati hati.



“Haruskah kita menunggu ketua?”, tanya salah seorang.



“Tentu. Mungkin dia takkan siuman dalam waktu dekat. Tubuhnya mengalami syok karena menaiki tingkatan agung”, sahut satunya.



Di saat Akira tertidur pulas, Luxyus tidak bisa tidur. Ia termenung sendirian di depan jendela kamar Akira. Karena perkataannya sendiri, ia menjadi teringat akan ayahnya, Kazuto dan ingin bertemu dengannya lagi.



“Kau tidak bisa tidur?..”, Akira terbangun lalu mendekati jendela.



“Aku suka sekali pemandangan langit malam. Sewaktu kecil, aku sering melihatnya dengan ibuku”, ucapnya sambil melihat bintang bintang yang bertaburan.



Akira mengambil dua gelas teh panas untuk dirinya dan Luxyus. Karena sudah terlanjur bangun, ia memilih untuk duduk bersama Luxyus.



“Kau suka hal seperti ini, ya”, memberikannya segelas.



“Dulu, ayahku pernah bertanya padaku. Saat itu, aku sudah berumur 9 tahun”



“*Kau tau apa yang paling ayah cintai?”, tanya Kazuto kepada Luxyus kecil yang sedang dipangkunya*.



“*Apa itu, ayah*?”



“*Kau dan ibumu!”, jawabnya sambil tersenyum lebar*



“Mengingat itu, aku jadi ingin selalu bersamanya.. Setiap saat..”, curahan hatinya itu disertai oleh tangisan.



“Luxyus?”



“Aku tidak ingin jauh dari ayahku”, air matanya semakin mengalir.



Akira pun memeluknya untuk menenangkannya. Karena suasana malam yang begitu indah, Akira terbawakan sedih. Ia memahami perasaan Luxyus yang tidak ingin jauh dari Kazuto. Begitu juga Akira yang ingin bertemu dengannya juga.



“Cuma segitu kemampuanmu?”, Alcia memutar mutar sabitnya.



“Sial!”, Rogue kewalahan setelah adu kecepatan dengannya.



Pertarungan selama beberapa menit itu meninggalkan bekas bekas kerusakan di mana mana. Rogue menerima beberapa luka goresan di tubuhnya. Sedangkan Alcia tidak terluka sedikitpun.



“Aku akan bertarung dengamu lagi, Cy!”, Rogue menghilang begitu saja.



“*Cy? Apa maksudnya? Apa dia mengenalku*?”



Sabit besar yang dipegangnya hancur lebur menjadi cahaya. Kemudian, segera ia terbang ke atas untuk menemui Kazuto yang belum sadarkan diri.



Alcia mendapati Kazuto sedang didampingi oleh kedua malaikat di sebuah ruangan di puncak pohon. Ternyata, ada ruangan di dalam batang pohon seperti ini.



“Siapa kalian?”, kedua sayapnya hilang.



“Kami adalah utusan, wahai gadis”, salah seorang maju ke depan kemudian memberi hormat kepada Alcia.



“Apa yang terjadi pada tuanku?”, Alcia menghampiri Kazuto.



“Mungkin, tubuhnya dan jiwanya belum kuat untuk masuk ke tempat sakral seperti ini. Karena, tidak sembarang manusia bisa masuk ke sini”, jelasnya.



“Aku memang pernah melihat pohon seperti ini, tapi aku tidak tau maksud kemunculan pohon ini di sini”



Salah seorang malaikat itu menjelaskan, bahwa pohon ini adalah salah satu transportasi mereka untuk mengunjungi berbagai tempat. Karena bagi mereka, seluruh dunia adalah tempat yang kotor. Mereka akan ternodai jika berkunjung ke sana tanpa ada benteng yang melindungi mereka.



Karena itu mereka menggunakan pohon raksasa ini sebagai pelindung sekaligus pembawa kesuburan bagi wilayah yang berada di dekatnya.



Namun, ada saja iblis yang menyusup ke kelompok mereka untuk mencari target buruannya. Salah satunya adalah Rogue, Entitas Iblis Keempat dari lima Entitas Iblis.



Seperti yang disaksikan oleh Alcia, Rogue mencari cari Nina. Mungkin ada hubungan tertentu antara Rogue dengan Nina yang menjadi penyebab semua ini. Namun, itu semua belum pasti. Kazuto lah yang akan menyelesaikan semuanya.



“Seperti itu..”, sahut Alcia setelah menyimak penjelasannya.



“Tunggu. Jika kau pernah melihat pohon ini, berarti kau pernah tinggal di surga?”, tanya nya setelah menyadari sesuatu.



“Benar. Aku adalah salah satu dari ras malaikat yang ditugaskan di sini untuk melayani Tuan Kazuto. Tetapi, aku sama sekali tidak mengenal kalian”



“Ah tunggu! Aku mengingat sesuatu. Julukanmu adalah Cy, kan?”, mendekati Alcia.



Lagi lagi, muncul nama yang sama sekali tidak diingat oleh Alcia, Cy. Sepertinya terjadi sesuatu pada ingatannya yang membuatnya tidak bisa mengingat ingat hal seperti itu yang bahkan malaikat lain mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2