Above The Kings

Above The Kings
Persiapan yang belum matang


__ADS_3

Dalam beberapa saat, jiwa Kazuto sudah kembali ke istana. Ia berada di ruangannya seperti semula tadi sebelum berpindah.



Tak lama, Lucia masuk ke ruangan.



“Tu-Tuanku! Selamat datang kembali!”, sambutnya sambil berlutut.



“Ahh ya.. Aku kembali”, duduk di kursi.



“Omong omong, Tuanku.. Ji-Jika Anda ingin memberi hadiah lebih ke-kepada saya,.. Sa-saya sudah siap!”, pintanya dengan wajah memerah.



“Hadiah?…. Ehh?! Itu… ”, Kazuto menjadi gugup di hadapan bawahannya itu.



“Ehm.. Bagaimana dengan Kanna?”, mengganti topik.



“Baik. Mereka sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Marcus dan Tetra pun sudah ada di sini dari tadi”, lapornya.



“Bagus. Aku ingin beristirahat sekarang”



Kazuto pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Karena, ia sudah menggunakan kekuatannya yang cukup membuatnya lelah.



Di sisi lain, Nina mendatangi kastil Luxyus untuk menemui Akira di sana. Ia sempat ditanyai para penjaga mengenai identitasnya. Dengan semua jawaban yang benar, ia dipersilahkan masuk.



Saat masuk ke dalam, Akira secara tidak sengaja melihatnya.



“Nina?”, menghampirinya.



“Itu.. Akira!”, berlari kepadanya.



Nina langsung memeluk Akira karena sudah lama tidak bertemu. Saat seperti itu, Luxyus pun datang menghampiri mereka.



“Akira, siapa dia?”



“Dia Nina”



Begitu Luxyus muncul, Nina terlihat ketakutan. Karena, keberadaannya dicari cari oleh banyak orang, termasuk seorang pemimpin.



“Kau.. Pencetus Dosa!?”, Luxyus menunjuknya.



“Aku tau itu, Luxyus. Tapi, Kazuto bisa bertemu denganmu berkat Nina.. Dia yang memandu kami berdua ke sini lalu bertemu denganmu”, Akira menghadangnya.



Luxyus tidak bisa berkata kata lagi. Ia tidak bisa menyalahkan Nina sepenuhnya. Walaupun sejatinya, mereka yang menjadi Pencetus Dosa adalah orang jahat yang bertuan kepada iblis.



“Baiklah.. Jika kau ada hubungannya dengan ayah, aku tidak akan menangkapmu”, ucapnya sambil meninggalkan mereka berdua.



Akira pun membawa Nina untuk beristirahat ke kamarnya. Ia diberikan hidangan oleh para pelayan yang kemudian dibawakan oleh Akira.



“Aku kemari karena sebuah pesan dari Kazuto”



“Pesan?”



“Dia berkata aku harus bersamamu. Tak kusangka, dia selalu mengkhawatirkanku”, jelas Nina tertunduk murung.



“Baiklah.. Aku akan menjagamu sampai Kazuto kembali!”, Akira mengelus punggungnya.



Keesokan harinya, Kazuto beraktivitas seperti biasa. Karena tidak ada Kanna, ia menjadi lebih senggang dari sebelumnya. Dan juga, karena situasi normal, ia bisa terus bersantai di ruangannya.



“Aku suka ini..”, menaruh kakinya di atas meja.



Di saat yang sama, Nina ditugaskan oleh Luxyus untuk membantu Akira dalam tugasnya. Jika ingin tinggal di sini, maka ia harus bekerja, begitu kata Luxyus.



“Tuanku?”, Tetra mengetuk pintu.



“Ah.. Iya.. Masuklah”, menurunkan kakinya.



“Ada surat dari Raja Abraham, Tuan”, menyerahkan surat yang dibawanya kepada Kazuto.



“Abraham? Ada apa?”, menerima lalu membuka suratnya.



Surat itu bertuliskan bahwa sedang terjadi kekacauan di negerinya. Kekacauan itu disebabkan oleh para monster yang disebarkan oleh Pengelana. Sepertinya, ia ingin memporakporandakan negeri satu per satu.



“Jadi, dia ingin kita menolongnya, begitu?”, menyimpan kembali surat itu.



“Seperti itulah..”



“Yah.. Bukannya aku tidak mau, tapi,.. Aku ingin bersantai sebentar”, meminum teh.



“Tidak apa apa, Tuanku. Serahkan saja pada kami para jenderal!”, Tetra ingin sekali diperintah oleh Kazuto.



“*Fufufu. Aku berhasil*. Baiklah, balas dulu suratnya untuk persetujuan. Setelah itu, tentukan waktunya”, Kazuto seolah olah bersikap pemimpin.



“Baik, Tuanku”, pergi dari ruangan.



Kazuto sebenarnya tidak ingin melakukan apapun. Ia hanya ingin diam seharian penuh tanpa harus mengurus masalah sana sini. Karena itu adalah hal merepotkan baginya.



“Sebaiknya aku berkeliling saja”, beranjak dari kursi.



Untuk melepas rasa bosannya, ia berkeliling ke seluruh penjuru istana. Ruangan demi ruangan dikunjunginya. Hingga Kazuto penasaran akan ruangan yang dirasa pernah dikunjunginya.



“Ruangan **Heaven**? Kurasa aku pernah ke sini..”, membuka pintunya.



Ruangan itu merupakan tempat berkumpulnya para maid sebelum atau sesudah bekerja. Di sana juga terdapat ruang makan yang dibuat khusus untuk mereka.



“Ini?!”, terkejut.



Satu per satu maid menghampirinya. Karena Kazuto adalah tuan sekaligus idola mereka semua, pasti mereka mencintai tuannya itu.



“Tuan Kazuto!.. Saya siap melayanimu!.. Izinkan saya bersamamu!.. Anda tampan sekali!..”, sorak para maid itu.



“Ahh.. Iya iya”, Kazuto kewalahan karena mereka terus mendekatinya.



Di saat seperti itu, Lucia muncul dari belakang mereka.



“Kalian sangat tidak sopan!”, teriaknya.



Para maid yang mengerumuni Kazuto langsung terdiam mendengar itu. Dikarenakan, Lucia adalah pemimpin mereka semua. Di saat seperti apapun, mereka harus patuh kepadanya.



“Jangan terlalu dekat dengan Tuan Kazuto!”



Mereka langsung menyisi membukakan jalan untuknya.



“Silahkan, Tuanku”, ajak Lucia sambil memegang tangan Kazuto.



“Kak Lucia curang!”, ucap seorang maid yang bernama Yuri.



“Benar. Kau hanya ingin dekat dengan Tuan”, sahut seorang lagi yang bernama Annie.



“J-Jangan salah paham dulu! Ini hanya sebagian dari tugasku!”, balas Lucia.



Maid yang lainnya pun menertawakan mereka. Selain dari mematuhinya, mereka juga sering bercanda dengan Lucia. Hal itu menambah erat hubungan mereka.



Setelah lama berkeliling di dalam ruangan Heaven, Kazuto kembali ke ruangannya. Ia diantar Lucia sampai ke depan pintu.



“Kalau begitu, saya pamit”

__ADS_1



Kazuto membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Di dalam, ia terkejut melihat Uni sedang duduk di kursinya.



“Uni?!”



“Tugas pertamamu selesai. Sekarang, kau akan mengurus para Pengelana itu”



“Sebenarnya, aku tidak mau bertarung lagi.. Bagiku, itu cukup melelahkan”, merapikan barang barang di meja.



“Aku tau itu. Sedari awal, kau tidak menginginkan ini”, Uni berdiri lalu menghampirinya.



Sebuah kehidupan yang damai adalah impian Kazuto. Jika seperti itu, ia berharap untuk cepat cepat menikah dengan Akira. Namun, semuanya berubah ketika Kazuto menyadari ada kekuatan tersembunyi dan terlarang di dalam dirinya.



“Tapi.. **Dia** telah memilihmu, dan kau juga yang harus mengembalikan kekuatan itu kepada Nya”



“Dia? Maksudmu…”



“Benar. Dia Pencipta segalanya. Dia mempercayakan secuil kekuatannya untuk diberikan kepadamu. Dan tidak lain, tujuannya adalah bagaimana kau menggunakan kekuatannya itu”, jelas Uni.



Penjelasannya itu membuat Kazuto tidak berkutik. Ia menerima semua omongannya itu.



Uni mengatakan bahwa kekuatan yang dimilikinya itu adalah kekuatan dariNya. Karena itu, Kazuto harus menggunakannya sebaik mungkin. Setelah digunakan, Kazuto harus mengembalikan kekuatan itu langsung kepadaNya.



Untuk saat ini, Kazuto mencari cara agar bisa cepat cepat mengembalikan kekuatan ini. Tapi, satu satunya cara adalah dengan pergi menuju Dunia Roh. Di sana, Kazuto dapat berkomunikasi dan berhubungan dengan makhluk makhluk halus.



Mengingat kemampuannya saat ini, Kazuto masih menggantung di antara Dunia Game dan Dunia Parallel. Ia belum bisa sepenuhnya berpindah ke dunia selanjutnya.



“Aku mengerti. Aku akan menyelesaikan semua masalahku secepatnya”



“Baguslah”, Uni menghilang dari sana.



Setelah Uni pergi, Kazuto mencoba menghubungi Akira.



“*Ada apa*?”



“Bagaimana kondisi Nina sekarang?”



“*Dia baik baik saja. Dia sedang bersamaku sekarang*”



Kazuto menghela nafas lega. Ritual yang dilakukannya ternyata berhasil.



“Syukurlah.. Akira, aku ingin kau terus memantau pohon itu. Jika ada sesuatu, cepat hubungi aku”



“*Serahkan padaku*!”



Kazuto belum melihat pohon itu dari dekat. Walaupun sudah diperiksa oleh Tetra, Kazuto masih penasaran untuk mendekatinya.



“Tetra, bagaimana tugasmu?”, tanya Marcus sembari menghampirinya.



“Aku hanya ditugaskan untuk memantau pasukan di istana”, jawabnya.



“Bagaimana dengan pohon itu? Apa kau menemukan petunjuk?”, tanya Marcus lagi.



“Sudah ku periksa beberapa hari lalu. Tidak ada satu pun petunjuk yang tertinggal.. Saat ini, kloningan Hyashin berada di sekitar pohon itu”, Tetra memalingkan wajahnya.



“Perlukah kita membangunkan **Alcia**?”, sambung Tetra dengan nada rendah.



“Alcia? Tidak. Pekerjaan seperti ini terlalu sepele baginya. Dia tidak akan keluar dari ruangannya kecuali dipanggil oleh Tuan.. Meskipun dia merupakan salah satu dari kita, dia tidak pandai bergaul dengan kita. Hmp.. Menatapnya saja membuatku merinding”, Marcus meninggalkan Tetra.



Sebenarnya, yang terkuat di antara keenam Jenderal Kehancuran bukanlah Marcus atau Tetra, melainkan Alcia, kakak dari Lucia. Dengan berasal dari ras malaikat, membuatnya tidak mempan oleh sihir apapun. Karena salah satu kemampuannya dapat menetralkan semua jenis sihir.



Bahkan, Marcus saja enggan untuk berhadapan dengannya. Dengan sekali lihat saja, Marcus sudah tau kekuatan yang dimiliki Alcia. Karena itu, mereka tidak pandai bergaul dengannya. Ditambah, Alcia tidak akan keluar dari ruangannya kecuali ada sesuatu yang sangat penting yang ancamannya mengancam suatu negara.




“Aku tidak boleh diam saja”, Kazuto mondar mandir di ruangannya.



“Tapi, apa yang harus ku lakukan?”, berhenti.



“Aku ingin melihat pohon itu dari dekat. Tapi.., jika aku kesana terang terangan, mungkin mereka akan langsung menyergapku. Dari pandangan mereka saja, mungkin aura kekuatanku adalah yang paling besar”, mondar mandir lagi.



“Aku tau! Menyamar! Jika aku mengubah tampilanku dan memperkecil auraku, mereka tidak akan langsung mengenaliku”, Kazuto bercermin ke sebuah cermin besar.



“Tapi, tidak mungkin aku pergi sendirian. Pergi sendirian membuatku terasa diasingkan”, bersandar ke dinding sambil memegang dagu.



“Tuanku”, Lucia tiba tiba masuk.



Kazuto terkejut karena kedatangannya yang mendadak itu.



“Saya merekomendasikan kakak saya untuk menemani Anda”, ucapnya sambil berlutut.



“Kakakmu.. Alcia?”



“Benar. Saya yakin dia bisa diandalkan”



Tak perlu waktu lama, Kazuto langsung mengambil rekomendasi dari Lucia. Ia berencana untuk menghampiri pohon raksasa yang berada jauh di depan istana dengan sebuah penyamaran. Rencananya itu akan ditemani oleh Alcia.



“Apa dia ada di ruangannya?”, tanya Kazuto sebelum keluar ruangan.



“Dia selalu berada di ruangannya”



Sembari berjalan menuju ruangannya, Kazuto mengubah penampilannya. Rambutnya menjadi panjang berantakan dengan poni yang hampir menutupi mata. Lalu, ia menambahkan luka di mata kanannya.



Sampailah Kazuto di depan ruangannya. Dari pintunya saja terlihat menyeramkan, apalagi dalamnya, pikir Kazuto. Ia pun mengetuk pintu tiga kali.



Tak lama, seseorang membukakan pintu.



“Ah Tuanku..”, pelayan itu langsung berlutut di hadapannya.



“Aku ingin bertemu dengan Alcia”



“Lewat sini, Tuanku”, pelayan itu memandu Kazuto untuk bertemu dengan Alcia.



“Nona Alcia, Tuan ingin bertemu denganmu”, ucapnya di depan pintu. Setelah itu, ia langsung pergi.



Alcia pun keluar dari ruangan itu.



“Oh ternyata.. Tuan Kazuto”, berlutut.



“Izinkan aku memelukmu!”, menerkam Kazuto yang saat itu diam saja.



“E-eh! Tidak! Hentikan!”, menahannya.



“Maafkan kelancanganku, Tuan. Jika Anda kesini, itu berarti ada sesuatu yang sangat penting, bukan?”, Alcia menampilkan sekujur tubuhnya.



Penampilannya mirip dengan Lucia, adiknya. Hanya saja, Alcia memiliki pupil mata berwarna putih dan rambut poni hampir menutupi mata kirinya. Selain itu, ia sedikit lebih pendek dari dari Lucia.



“Benar. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.. Omong omong, apakah aku terlihat berbeda?”, Kazuto menanyakan tentang penampilannya.



“Tidak ada yang berbeda, Tuanku. Aura Dewa yang Anda miliki masih seperti biasanya”, jawabnya dengan jujur.



“*Benar juga*. Aku belum memperkecil auraku. Jika tidak, walaupun penampilanku berubah, auraku masih mudah dikenali”



Kazuto pun menjelaskan tentang rencana penyamarannya itu kepada Alcia secara detail. Tanpa kesulitan, Alcia bisa memahami semua itu dengan cepat.

__ADS_1



“Jadi, aku akan menemanimu dalam mode penyamaran sampai menemukan para Pengelana itu?”, mencoba bertanya.



“Benar sekali. Di saat denganku, kau tidak boleh menunjukkan eksistensi auramu yang besar itu dan jangan mengancam atau menyakiti orang lain”



“Saya paham, Tuanku”



Penampilan Alcia dirubah oleh para pelayannya menjadi wanita biasa dengan kaus polos. Lingkaran malaikat dan sayapnya dihilangkan olehnya. Namun, ia tidak betah memakai kaus karena terlalu ketat di bagian dadanya.



“A-ahh itu.. Apakah kau tidak keberatan?”, Kazuto ragu akan penampilannya itu.



“Tidak, Tuanku”



Dengan kaus dan celana panjang yang dilapisi rok, membuatnya terlihat sangat menarik bahkan bagi Kazuto.



Kazuto sendiri sudah mempersiapkan semuanya. Auranya sudah diperkecil menjadi seukuran pengguna sihir biasanya, begitu juga Alcia.



“Lucia, kau memegang wewenangku selama aku pergi”, ucap Alcia kepada Lucia dihadapan Jenderal lainnya.



“Baik, Kakak”



Mereka semua memberi hormat kepada Kazuto dan Alcia yang sudah siap berangkat. Singgahsana Kazuto ditutupi oleh Marcus agar tidak ada yang mendudukinya.



“Jagalah istana ini. Jika ada orang yang membawa ancaman, hancurkan saja”, Kazuto kepada Tetra.



“Tentu saja, Tuanku. Yang terpenting, jagalah diri Anda dan kau juga, Alcia”



“Akira, apa kau tidak lelah?”, tanya Nina melihat Akira yang sedang membereskan kamar.



“Tentu saja tidak”



Keseharian Akira hanyalah membereskan itu ini sesuai perintah Luxyus. Bukan karena paksaan darinya, hanya saja Akira merasa tidak nyaman jika tinggal di tempatnya tanpa membalas budi.



Sisi buruknya, terkadang Akira dijadikan 'mainan' oleh Luxyus. Entah itu karena hasratnya atau sebagai pelampiasan saja. Tetapi, meski begitu, Akira tidak melawannya karena merasa kasihan. Ia terus meladeninya jika dibutuhkan.



“Ada sesuatu yang bisa ku kerjakan?”, menghampiri Akira.



“Tidak ada. Kau cukup bersantai saja, Nina”, mendorong Nina untuk duduk.



Beberapa saat kemudian, Luxyus memasuki kamar.



“Ada yang perlu kita bicarakan”, menarik tangan Nina.



“Luxyus, ada apa?”, Akira keheranan melihatnya.



“Bukan apa apa. Hanya hal sepele kok”



Nina dibawa olehnya ke ruangan bawah tanah yang sebelumnya dipakai oleh Argo.



“Apa yang akan kau lakukan? Membunuhku?”, Nina ketakutan.



“Aku tidak akan melakukan hal sekeji itu”, Luxyus memalingkan badannya.



Hal itu membuat Nina semakin panik. Ia takut Luxyus akan menyakiti dirinya karena ia adalah Pencetus Dosa yang dicari oleh kerajaan.



“Kau pergilah bersama Kazuto”



“Apa?”, Nina tidak mengerti maksudnya.



“Temuilah Kazuto”, memperjelas omongannya.



Tiba tiba, sebuah lingkaran sihir muncul tepat di pijakan Nina. Setelah sihir diaktifkan, cahaya menutupi tubuhnya.



“Apa yang kau lakukan!?”, mencoba keluar tapi tidak bisa karena terhalang oleh dinding transparan.



“Aku yakin kau akan mengerti”



Nina terbawa ke dimensi sihir tempat semua sihir terkumpul. Di sana, ia terseret menuju secercah cahaya. Cahaya itu adalah sisi lain yang merupakan tempat tujuan portal.



Nina muncul tepat di depan singgahsana Kazuto dengan keadaan lemas. Kelima Jenderal yang ada di sana langsung menyadarinya. Begitu dihampiri, Nina langsung ketakutan dan terus mundur ke belakang.



“Siapa dia?”, bisik Tetra kepada Marcus.



“Apa kau tersesat, anak kecil?”, tanya Marcus sambil menghampirinya.



Nina semakin ketakutan. Ia juga sangat lemas hingga hampir pingsan. Tetapi, ia terus menahannya.



“*Dimana ini? Siapa mereka? Dan dimana Kazuto*?”, pikirnya sembari melihat sekitar.



“Kalian membuatnya takut.. Serahkan saja padaku”, Lucia menyela Tetra dan Marcus.



Begitu melihatnya, Nina merasakan kebaikan dan kelembutan dari Lucia. Ia terpesona akan tampangnya yang cantik dan sifatnta yang baik.



“Apa kau kelelahan?”, tanya nya.



Nina tidak bisa berkata kata. Ia hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya.



“Begitu..”, menggendongnya lalu membawanya ke ruang makan milik para maid.



“*Banyak sekali wanita pelayan.. Apa mereka temannya kakak ini*?”, mengamati sekitar sambil terus menatapi wajah Lucia.



Nina pun disuguhi makanan oleh Lucia di ruangan pribadinya untuk menghindari kerumunan para maid lainnya. Sudah sewajarnya ia merasa gugup di sana. Berada di tempat asing dan bertemu orang orang asing juga, membuatnya tidak bisa berbuat banyak.



“Kau lucu juga, ya”, Lucia meliriknya.



“Ahh ti-tidak..”, Nina tersipu malu.



Perlahan lahan, Nina memakan hidangan itu untuk menghilangkan rasa lemas dan laparnya. Lama kelamaan, ia tersenyum akan keberadaan Lucia di depannya.



“Kau..cantik sekali”, ucapnya malu malu.



“Ahh tidak. Aku masih belum seberapa dibandingkan kakakku”, Lucia menepuk pipinya.



“Kakakmu?”



“Benar. Dia yang paling cantik di sini. Parasnya bagaikan malaikat yang bersinar.. Saat ini, dia sedang bersama Tuan”, mengagungkan kakaknya, Alcia.



Tiba tiba, sesuatu menusuk pikiran Nina. Itu membuatnya meringis beberapa saat. Melihat itu, Lucia menjadi panik.



“Kau tidak apa apa?”



Nina tidak menjawab. Pandangannya semakin kabur. Kesadarannya sudah di ambang batas. Tak lama, ia pun pingsan dengan kepala menghantam meja.



“Nona? Nona?!”, Lucia berusaha membangunkannya.



Karena tak kunjung bangun, akhirnya ia dibawa ke kamar pribadi Lucia untuk diistirahatkan. Ia diletakkan di atas kasurnya kemudian diselimuti sekujur tubuhnya.



“Beristirahatlah..”, menutup pintu.



“Dimana Nina?”, Akira langsung menanyai Luxyus yang telah kembali.



“Dia melarikan diri. Saat ku bawa ke ruanganku, dia berhasil mengelabuiku dan kabur lewat pintu gudang. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya”, jelasnya.


__ADS_1


Akira merasakan ada yang tidak beres dari Luxyus. Ia merasa Luxyus sedang menyembunyikan sesuatu karena raut wajah dan gerak geriknya yang mencurigakan.


__ADS_2