Above The Kings

Above The Kings
Rentetan Sejarah


__ADS_3

"Kazuto.. Kazuto..", Akira membangunkannya.


Tak butuh waktu lama, ia terbangun. Dengan berbekal pengalaman yang baru saja dialaminya, ia terasa lebih nyaman dan lebih tenang dari biasanya. Lalu, ia mengelus elus wajah Akira karena panggilan kasih sayang dari dalam hatinya.


"A-ada apa ini?!", Akira gugup hingga wajahnya memerah.


"Aku akan menjadi raja di atas para raja, Akira.. Dengan kekuatan yang ku miliki, aku akan menciptakan dunia baru dimana aku berperan sebagai penguasa tertinggi", omongan Kazuto terdengar seperti khayalan semata.


Awalnya, terlintas di benak Akira, bahwa ia tidak percaya perkataannya dan menganggap itu hanyalah ocehan tidak jelas. Namun, dari lubuk hati terdalamnya, ia mempercayainya.


"Hm.. Aku akan menunggunya, Kazuto", balas Akira dengan senyuman.


Di hari berikutnya, kelima Jenderal Kehancuran tiba di negeri Cleopatra. Kedatangan mereka diikuti oleh beragam pasukan dari berbagai ras dengan jumlah besar. Mereka disambut oleh para petinggi militer di negeri ini.


"Kalian datang juga..", sambut Kazuto di atas singgahsana yang terletak di depan istana.


"Kami akan selalu mematuhi Anda, Tuanku", dipimpin Marcus, mereka berlutut di hadapan Kazuto.


Untuk di istana Kazuto, Lucia membuat beberapa doppleganger untuk menjaganya. Sebagian besar maid dan pekerja juga disuruh tinggal di sana.


Kemudian, Kazuto membagikan tugas kepada mereka berlima di negeri ini. Tetra dan Hyashin mengurusi pertahanan dan kemiliteran, Lubis menjadi penasihat para menteri, Lucia menjadi kepala pelayanan masyarakat, serta Alcia dan Marcus menjadi ajudan pribadi Kazuto dan Cleopatra.


Kazuto menjamin peningkatan di negeri barunya ini. Meskipun belum diketahui siapa yang akan menjadi musuh saat ini, Kazuto harus secepatnya meningkatkan kualitas militer dan pertahanan di sini.


"Ehm.. Alcia, kau boleh berkeliling untuk memantau mereka", suruh Kazuto.


Setelah semua itu, Kazuto akhirnya bisa duduk santai di ruang pribadinya. Ia sama sekali tidak menjadi raja. Karena, pemimpin negeri ini hanyalah seorang ratu. Itu berarti, Kazuto harus membantu Cleopatra dalam mengelolanya.


"Selamat atas pernikahannya, Tuanku", ucap Marcus yang saat ini berada dalam ruangan Kazuto.


"Itu bukan apa apa. Aku hanya ingin membantunya mengurusi pemerintahannya.. Ohh, bagaimana keadaan wilayah Roberius sekarang?"


"Sayang sekali. Regu pengintai sama sekali tidak melihat penghuni di wilayah itu. Awalnya, aku berpikir si Ksatria Suci itu pindah tempat bersama para pengikutnya. Namun, setelah diselidiki lagi, setengah wilayahnya porak poranda. Untuk penyerangnya belum diketahui pasti, dan karena itu, kami menganggap Roberius telah tewas", lapor Marcus.


"Begitu ya. Selidikilah sampai menemukan petunjuk"


"Akan kami usahakan, Tuanku"


Malam pun tiba. Digelarlah makan malam bersama saat itu. Karena suruhan Kazuto, keenam Jenderal Kehancuran ikut makan bersamanya. Ini merupakan momen langka bagi mereka bisa makan bersama tuannya.


Di hadapan mereka semua, Cleopatra menyuapi Kazuto makan. Sontak, Tetra dan Lucia langsung berdiri sambil memukul meja.


"A-apaan manusia itu?!", Tetra marah kepada Cleopatra.


"Bisa menyuapi Anda adalah impian saya", Lucia juga terlihat kesal.


"A-ahh tidak! I-ini hanya bentuk kasih sayang istri kepada suaminya! Ka-kalian boleh menyuapiku lain kali..", Kazuto berusaha menenangkan mereka.


"Benarkah?!", Tetra dan Lucia terlihat senang. Mereka pun kembali duduk.


"Maaf, Tuanku. Mereka sangat memalukan dan mengganggu momen Anda", Marcus berlutut di samping Kazuto.


"Tidak apa. Aku juga senang bertemu dengan kalian lagi", Kazuto mengangkat wajah Marcus dan membalasnya dengan senyuman.


Ketika Kazuto tertidur, ingatannya berpindah. Malam hari, Kazuto sedang berduaan di kamarnya dengan Akira yang duduk di pangkuannya.


"Apa kau terpikir untuk liburan?", tanya Akira.


"Maaf, Akira. Aku tidak ingin mendengar keramaian orang banyak. Aku sadar itu sangat merusak akalku", balas Kazuto yang membuat Akira cemberut.


Lalu, sesuatu terpikirkan olehnya.


"Bagaimana kalau pergi ke tempat ibumu bersembunyi? Mungkin itu akan menenangkanmu", Akira terus membujuknya.


"Sudahlah.. Aku ingin tiduran", Kazuto menurunkannya dan berbaring dengan kedua tangan sebagai bantal.


Beberapa saat ia berpikir, akhirnya sesuatu muncul di benaknya. Mengenai rekomendasi yang diberikan Akira barusan.


"Kupikir, kau ada benarnya"


Keesokan harinya, Kazuto bertanya kepada ibunya mengenai letak detail tempat yang pernah didiaminya sebelumnya. Jawaban pun diberikannya dengan jelas. Kazuto segera mencatat alamat yang diperlukan.


"Perlu ku antar?", tanya Amato yang kebetulan lewat.


"Tidak usah. Tempat ini berada di pelosok. Dengan menaiki dua kereta dan berjalan kaki selama satu jam, aku bisa sampai ke sana"


Dengan segala persiapan, Kazuto dan Akira bersiap memulai perjalanannya itu. Mereka menunggu taksi di pinggir jalan untuk menuju ke stasiun.


"Teruslah berada menempel denganku jika kau ingin aman", ucapan Kazuto membuat Akira merinding.


Di perjalanan dalam kereta, mereka menikmati pemandangan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Begitu pula dengan perjalanan keduanya. Kazuto mendapati Akira tertidur di sana. Mungkin karena kelelahan atau terlalu bersemangat.


Satu jam perjalanan, mereka sampai di stasiun pemberhentian di pinggiran kota. Tujuan mereka adalah sebuah villa milik ibunya di dalam hutan. Untuk sampai ke sana, mereka perlu berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.


Di tengah perjalanan, Akira kelelahan.


"Kazuto, kakiku...", menopang pada kedua lututnya.


Kazuto pun mengajaknya beristirahat di tempat yang teduh. Terlihat, matahari tepat berada di atas mereka yang berarti sudah setengah hari.


Di saat yang bersamaan, lewatlah seorang petani menunggangi kuda dengan gerobak di belakangnya. Ia terhenti di depan Kazuto dan Akira.


"Apa kalian butuh bantuan?", tanya nya.


Diajaklah mereka untuk menaiki gerobak kudanya. Sepertinya, pak tua itu pulang dari membeli bibit tanaman yang akan ditanamnya.


"Apa kalian turis?", sembari menengok ke belakang.


"Ah tidak. Kami hanya ingin menenangkan diri di sebuah villa ibuku di daerah sini", jawab Kazuto sambil terus melihat kunci villa ibunya.


"Ohh.. Siapa nama ibumu?", tanya nya lagi.


"Sena.. Senaria Yoroshi"


"Ohh! Ena si pemberani?!", pak tua itu mengingat nama ibu Kazuto.


"Paman mengenalnya?"


"Tentu.. Dia adalah adik kelasku dulu sewaktu SD hingga SMP.. Kau tau? Dia bahkan berani melawan kakak kelasnya sendiri", petani itu menceritakan tentang ibu Kazuto.


Kazuto merasa senang mendengar itu. Tak disangka, seorang petani di hadapannya adalah teman masa kecil ibunya.


"Dulu, dia tinggal di villa di sini dengan keluarganya. Tapi, aku sama sekali tidak pernah melihat ayahnya. Aku hanya mengetahuinya karena Sena bilang begitu"

__ADS_1


"Hah?", Kazuto keheranan.


"Yah.. Walaupun begitu, dia adalah yang terbaik di kelasnya. Sepulang sekolah, dia selalu bermain denganku dan teman temanku. Hingga setelah lulus SMP, dia meninggalkan villanya dan pindah kediamannya ke kota. Jujur saja, kami di sini merasa kehilangan", pak tua itu terus menceritakan pengalamannya bersama ibu Kazuto, Sena.


"Baiklah.. Kita sampai", mereka terhenti di depan sebuah villa megah yang terletak di mulut hutan.


"Terima kasih, paman", ucap Kazuto.


"Sampaikan salamku kepada ibumu", petani itu meninggalkan mereka.


"Ayo", ajak Kazuto.


Mereka mulai memasuki halaman villa yang begitu luas. Tampak dari luar biasa biasa saja. Namun, Kazuto merasakan aura aneh dari dalamnya. Ia tidak menyangka aura itu berasal dari penghuni villa besar itu. Karena, sedari dulu, Kazuto tidak percaya hal hal seperti itu.


"Ibumu tinggal di sini dulu.. Sekarang, kau punya hak untuk menelusurinya", suruh Akira.


Kunci pintu pun diputarnya hingga pintu terbuka lebar. Keadaan dalamnya tidak ada yang mencurigakan. Tapi, barang barang yang ada di sana, belum pernah dilihat oleh Kazuto sebelumnya.


"Akira, kau cari ke depan. Aku akan ke atas", mereka berpencar.


Kazuto sama sekali tidak melihat foto foto kenangan ibunya bersama keluarganya. Memang janggal baginya. Karena itu, Kazuto terus mencari petunjuk ke setiap ruangan.


Hingga ia mendapati sebuah ruangan dengan pintu terkunci. Kazuto mencari kunci yang pas untuk pintu itu, namun, tidak dijumpainya. Akhirnya, ia mendobraknya hingga pintu itu terbelah.


"Ruangan apa ini?.."


Di ruangan itu, terdapat rak rak yang dipenuhi buku tebal. Pikir Kazuto, mungkin di ruangan ini ibunya sering membaca buku. Kemudian, secara tak sengaja, ketika sedang mencari cari, Kazuto menjatuhkan sebuah buku yang agak tipis. Berbeda dengan yang lainnya.


Di sampul buku itu, tertulis 'Album'.


"Album? Mungkinkah ini?..", mengambilnya lalu menyimpannya di atas meja.


Dengan perlahan lahan, Kazuto membuka buku itu. Didapatilah selembar foto keluarga berlima. Anehnya, dalam foto itu, yang terlihat jelas hanyalah seorang anak perempuan yang berusia kira kira 9 tahun dan kedua saudara laki lakinya. Ayah dan ibunya terlihat samar wajahnya.


"Apakah ini foto ibu? Kenapa orang tua ibu tidak terlihat?", berbagai pertanyaan memenuhi benak Kazuto saat itu.


Kemudian, dibuka ke halaman berikutnya. Ia menemukan selembar kertas tua bertuliskan 'Pesan untuk dia di masa depan'. Ia pun mencabutnya dari buku itu.


Tiba tiba, terdengar jeritan dari arah bawah. Sepertinya, terjadi sesuatu terhadap Akira. Kazuto langsung membawa kertas itu dan berlari menghampiri Akira.


"Akira! Akira! Dimana kau!? Akira!?", Kazuto terus menerus memanggilnya.


"Aku di sini!", teriak Akira.


Suaranya berasal dari sebuah lubang yang ada di dapur. Lubang itu adalah jalan menuju ke ruangan bawah tanah. Akira tergelincir karena keadaan yang memang gelap untuk melihat sekitar.


"Akira! Akira!"


Kazuto pun menemukannya. Ia langsung memeluknya lalu membangunkannya.


"Kau tidak apa apa?"


"Ya.. Yang terpenting, ruangan apa ini?"


Ruangan bawah tanah itu gelap. Mereka meraba kesana kemari untuk mencari tombol lampu. Secara tidak sengaja, Akira menemukan tombolnya. Menyalalah ruangan itu.


"Ini.. Seperti ruangan untuk bersantai"


Yang dilihat mereka hanyalah dua pasang sofa, perangkat elektronik, dan sebuah lemari baju berukuran besar. Karena kelelahan, Kazuto pun duduk di sofa itu bersama Akira.


"Apa itu? Surat?", tanya Akira.


"Ntahlah.. Aku akan membacanya"


'Aku harap yang menemukan surat ini adalah generasiku kelak. Karena, dengan ditemukannya surat ini, eksistensiku akan lenyap. Itu karena perjanjian pendahuluku dengan Entitas Kuno. Aku harap kau menemukan fakta fakta kuat di dalam rumah besar ini' -Senaria


Isi surat itu membuat mereka kebingungan akan makna yang sebenarnya.


"Entitas Kuno?"


"Apa yang dimaksudnya Dewa?"


"Tidak tidak. Dewa tidak sesuai dengan kata Entitas Kuno ini. Mungkin yang dimaksudnya adalah makhluk yang dapat mengendalikan apapun sesuka hatinya", tanggapan Kazuto.


Setelah itu, Kazuto mendadak pingsan. Akira mencoba membangunkannya, namun Kazuto tidak kunjung bangun. Lama kelamaan, Akira pun panik.


"Kazuto!? Apa yang terjadi!?", teriaknya sambil menangis.


Di sisi lain, ingatan Kazuto berpindah. Tiba tiba, ia berada di tengah peperangan melawan monster monster raksasa. Seperempat negeri Cleopatra luluhlantah tak bersisa. Semua pasukan berusaha mengalahkan mereka.


"Tuanku, mereka terus berdatangan", Marcus menghadap Kazuto.


Keenam Jenderal Kehancuran pun antusias untuk melawannya. Sudah puluhan monster yang mereka kalahkan. Tapi, mereka terus berdatangan seolah olah tak ada habisnya.


Di langit, Kazuto melihat sosok yang amat teramat besar. Sosok itu hanya terlihat kepalanya saja dan dari sanalah monster monster ini bermunculan.


"Apa itu?"


"Itu dia.. Pengelana 4 Alam, musuh terkuat yang pernah kami hadapi. Terakhir kali kami melawannya, hanya bisa melukai setengah tubuhnya saja dan terus saja meregenerasi", jelas Marcus.


Kazuto ketakutan bukan main. Tidak disangka, Pengelana 4 Alam yang sesungguhnya berupa sosok masif yang berjalan jalan di luar bumi. Terlihat tidak ada celah untuk mengalahkannya.


"Tapi, Tuanku, ada sebuah inti di dalam kepalanya. Akan sangat mudah untuk mengalahkannya jika Anda bisa menyerang itu secara langsung", Marcus menggambarkan inti itu seperti sebuah kacang.


Setelah membulatkan tekad, Kazuto akhirnya memutuskan untuk melawannya dengan cara pergi ke luar angkasa.


"Cleopatra! Cleopatra!", Kazuto mencari cari Cleopatra.


Di depan istana, Cleopatra sedang mengarahkan para penduduk untuk mengungsi di sekitaran istananya karena ia yakin kota akan dihancurkan perlahan oleh monster.


"Hei, Cleopatra! Tetaplah berada di tempat yang aman. Jika kau butuh bantuan, panggil saja Alcia. Dia akan melindungimu..", Kazuto memegang kedua pundaknya.


"Apa yang akan kau lakukan!?", Cleopatra memegang tangannya dengan wajah khawatir.


"Aku akan melawannya! Semua ini akan berakhir jika aku berhasil mengalahkannya", menunjuk sosok masif itu yang terlihat diam saja.


"Itu terlalu berbahaya! Kau mungkin tidak akan selamat!", Cleopatra membantahnya.


"Cleopatra, hanya aku yang bisa melakukannya..", Kazuto menenangkannya.


"Bagaimana dengan Tuhan!?", Cleopatra terus membantah.


"Tuhan mempercayakannya padaku.. Cleopatra, aku berjanji akan kembali kepadamu.. Aku harus tetap hidup hingga keturunanku mewarisi semuanya dariku..", karena keluluhan hatinya, Cleopatra pun menangis. Ia memasrahkan Kazuto untuk pergi.

__ADS_1


Sebelum pergi, Kazuto sempat menciumnya lalu mengelus elus pipinya sambil mengusap air matanya yang mengalir.


"Kembalilah dengan selamat.."


Kekuatan Kazuto mengikuti keinginan hatinya. Semua kekuatan yang dibutuhkannya pun didapatkan secara instan. Ia menghentikan waktu di sekitarnya lalu melesat kepada sosok masif itu.


"Mari kita lihat, seberapa hebat kekuatan ini!"


Dalam waktu beberapa menit, ia telah berada di hadapannya. Sosok masif itu tidak berpijak kepada apapun, tapi ia bisa berdiri tegak di luar angkasa yang hampa.


Rupanya, ia merasakan kehadiran Kazuto. Komunikasi secara telepati pun disampaikannya.


"Akulah sang Pengelana 4 Alam, Entitas Cosmos yang mengutus lima Entitas Iblis ke dunia ini", ucapnya.


Kazuto tidak menjawab. Nampaknya, ia kesal karena perbuatannya itu yang telah merusak eksistensi ruang dan waktu. Lalu, ia langsung menembus kepalanya untuk menuju inti yang diceritakan oleh Marcus.


Dalam kepalanya sangatlah besar. Serasa berada di dalam inti sebuah planet. Kazuto mencari inti di dalamnya kesana kemari. Tak butuh waktu lama, ia menemukannya. Terlihat seperti bola reaktor besar yang menyala dengan terangnya.


"Apa yang akan kau lakukan?", suara telepati yang berasal dari inti itu.


"Aku akan menghancurkanmu!", teriak Kazuto.


"Kenapa? Padahal aku hanya melaksanakan tugasku saja.. Kenapa rajaku sendiri ingin menghancurkanku? Bukankah kau yang ingin menciptakan kehidupan baru?", tanya nya berkali kali.


"Hah?"


Kazuto kebingungan. Karena dia mengatakan bahwa Kazuto lah yang menyuruhnya untuk melakukan ini. Kazuto lah yang menciptakan makhluk masif ini. Kazuto lah yang memimpin mereka yang ada di sini.


Tiba tiba, dari belakang, muncul salinan diri Kazuto.


"Benar. Akulah yang menyuruhnya"


"Siapa kau?!", Kazuto terkejut.


"Hm? Kau bertanya kepada dirimu sendiri? Sungguh tidak masuk akal", ia menghampiri inti itu.


"Apa maksudmu?", Kazuto mewaspadainya.


"Sebuah momen langka dimana ingatan kita bertemu dalam wujud manusia di sebuah tempat yang sama.. Kau tau? Aku muncul di sini karena kau telah membaca surat itu! Surat yang seharusnya dibaca oleh keturunan perempuanmu, malah dibaca olehmu!-"


"Tunggu tunggu! Apa yang salah dengan surat ibuku!?", Kazuto memotong omongannya.


Salinan Kazuto itu mendekatkan wajahnya kepada Kazuto.


"Ibumu.. Tidak. Ibu kita adalah keturunan Entitas Kuno, sosok yang mengendalikan semua makhluk di bawah Tuhan. Dan nama Entitas Kuno itu adalah...", menunjuk dada Kazuto.


"Kazuto..?", sambung Kazuto dengan suara pelan.


"Itu berarti, kau hanya akan mengulang masa lalu dan terus mengulangnya. Jalan keluarnya hanyalah anak perempuanmu. Jika anak laki lakimu yang membacanya, itu sama saja dengan membaca surat dari dirimu sendiri. Kau mengerti?", jelasnya.


"Itu berarti..."


Ingatan Kazuto kembali mundur. Mulai dari ia pertama memakai kekuatannya ketika masih kecil, bertemu dengan Akira, bertarung di dunia lain, bertemu dengan Un, menyelamatkan Nina, masuk ke dunia parallel, bangun dari mimpi, menikah dengan Cleopatra hingga saat ia bersama dengan Akira untuk yang terakhir kalinya. Semua kejadian itu disebabkan oleh Kazuto sendiri. Kazuto lah yang menginginkan semua itu terjadi secara berurutan.


"Dan perintah terbaru darimu ialah.. Membunuh semua populasi di dunia demi terciptanya dunia yang hanya berisikan orang orang yang kau cintai", ia meninggalkan Kazuto di sana.


Pengelana 4 Alam mulai menggerakkan tangannya dan hendak menghancurkan planet yang dimana Cleopatra berada di sana.


"Hentikan!", Kazuto memukul inti yang berada di depannya.


Terjadilah ledakan cahaya. Dalam momen itu, ia melihat ingatan masa lalunya.


"Inilah aku, yang berada di atas para raja! Kazuto!", tegasnya duduk di atas singgahsana di depan banyak makhluk.


Rupanya, mereka bukanlah makhluk biasa. Mereka adalah raja raja dari setiap makhluk yang dipimpin olehnya. Mulai dari malaikat, iblis, entitas cosmos, bintang, pengelana, manusia, hewan dan lainnya. Mereka semua berlutut kepada Kazuto karena posisinya berada di bawah Tuhan. Tugas Kazuto hanya menyampaikan perintah perintah dari Tuhan kepada mereka.


"Asal kalian tau! Aku ada dimana mana! Masing masing dari diriku akan memandu kalian dalam menjalankan perintah Tuhan", tegas Kazuto.


Kemudian, planet planet mulai diciptakan oleh Entitas Cosmos dengan arahan Kazuto. Ia sendiri menentukan siapa yang akan menjadi karakter utama di planet tersebut. Dan karena keinginannya, ia menjadi karakter utama di salah satu planet, yaitu bumi.


Ribuan tahun berlalu sejak kehidupan diciptakan. Hingga setelah teknologi mulai berkembang, Kazuto turun ke bumi. Di sana, ia berdiam diri di sebuah kota. Tak lama kemudian, ia bertemu dengan seorang wanita cantik lalu menikah dengannya. Mereka dikaruniai tiga anak, satu perempuan dan dua laki laki.


"Siapa namanya?", tanya istrinya kepada Kazuto.


"Namanya Sena.. Senaria Yoroshi", jawab Kazuto dengan gembira.


Beberapa tahun kemudian, kedua anak laki lakinya terlahir. Mulai dari saat itu, bermunculan masalah yang harus dihadapi Kazuto. Seperti bencana, gangguan iblis, perampokan dan lain sebagainya. Di situlah ia percaya bahwa anak laki lakinya membawa kesialan bagi keluarganya.


Setelah Sena menginjak bangku SMP, Kazuto dan istrinya memutuskan untuk meninggalkannya agar Sena bisa hidup mandiri dengan kedua adiknya. Ia dibekali sebuah villa megah yang berada di pinggiran kota oleh Kazuto.


Waktu terus berlalu. Sena pindah ke kota untuk meneruskan pendidikannya sekaligus mencari pasangan. Setelah menikah, ia melahirkan anak laki laki, yang diberi nama Amato. Tiga tahun kemudian, anak laki laki keduanya lahir dan diberi nama ayahnya, yaitu Kazuto tapi berupa singkatan.


Hingga terlahirlah anak perempuan, yaitu Yuuta. Hal itu juga menimbulkan masalah bagi keluarganya. Suami Sena sangat menyayangi anak anaknya itu. Ia pun memutuskan untuk bekerja ke luar negeri. Namun, karena depresi, Sena pergi ke villa ayahnya dan menangis sekeras kerasnya seolah ayahnya berada di depannya.


Malam hari, Sena mendapat petunjuk, bahwa jika anaknya memiliki keturunan peremupuan, itu akan memberi keuntungan. Namun, sebaliknya, jika memiliki anak laki laki, itu akan merugikan keluarga keturunan Sena.


Dengan panduan ayahnya, Sena menulis sebuah surat yang kemudian disimpan di samping foto keluarganya. Diselipkanlah foto dan surat itu ke sebuah buku tipis lalu disimpan di rak bukunya.


Sampai situ, Kazuto kembali tersadar.


"Apa itu!? Apa yang terjadi?!", menarik tangannya dari inti Pengelana 4 Alam.


Meledaklah kepala Pengelana itu hingga mementalkan Kazuto ke bumi. Di udara, Kazuto mendadak pingsan begitu saja. Titik jatuhnya tepat ke tempat semula tadi. Mendapati Tuannya terjatuh, Marcus bersiap siap untuk menangkapnya.


Di sisi lain, Kazuto terbangun. Ia mendapati Akira tertidur di pahanya dengan bekas air mata di pipinya.


"Akira?", membangunkannya.


"Hm?.. Kazuto?!", begitu terbangun, Akira langsung memeluknya.


"Sekarang aku tau!", tegas Kazuto.


"Apa yang kau tau?"


"Mudahnya, jika anak pertama kita perempuan, semua keanehan yang terjadi hingga saat ini akan terhenti!"


Lalu, Kazuto menceritakan semua kebenaran tentang dirinya. Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah semacam reinkarnasi dari sang Entitas Kuno yang merupakan ayah Sena.


"Jadi, ibumu sebenarnya adalah anakmu?! Tunggu.. Aku tidak mengerti", Akira kebingungan.


"Yah.. Aku juga tidak terlalu mengerti.. Yang pasti, aku punya ingatan saat ibuku masih bayi.. Tapi, aku lupa siapa istriku saat itu. Jangan jangan-"


"..aku? Tidak tidak.. Itu tidak masuk akal", potong Akira.

__ADS_1


Pada akhirnya, mereka pun berselisih pendapat. Perselisihan mereka ditutup dengan ajakan Kazuto untuk segera menikah dan ia berharap semua keanehan ini akan berakhir dengan lahirnya anak perempuan.


__ADS_2