Above The Kings

Above The Kings
Misi


__ADS_3

“Huk.. Uhuk..”, suara batuk pelan.



Kazuto membuka matanya sedikit demi sedikit. Begitu dibuka, ia langsung melihat Alcia yang terlihat cemas akan keadaan dirinya.



“Tuanku!”, menghampirinya.



Tiba tiba, Kazuto merasakan sesuatu menusuk lehernya. Ia tidak sempat bangun karena tidak bisa bergerak.



“A-apa ini?”, melihat ke belakang dengan ujung mata.



“Siapa orang ini?”, ucap seseorang tetapi tidak terlihat wujudnya.



Mendengar suara itu, kedua malaikat yang berdiri di sana langsung berlutut.



“Ketua Jibu”, mereka berdua menundukkan kepala.



Nampaklah wujud sesosok malaikat di belakang Kazuto. Ternyata, ia yang menusuknya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Karena wujudnya sudah terlihat, ia melepaskan tusukannya.



“Dia adalah orang yang kami lihat tempo waktu. Aku yakin dia adalah 'orang yang terpilih' itu. Kami bisa merasakan auranya dengan jelas”, jelas seorang malaikat.



“\*Apa?! Padahal aku sudah mengecilkan auraku!?”, pikir Kazuto terkejut.



**Jibu** merupakan ketua para malaikat di dunia ini. Sedangkan, yang menjadi pemimpin malaikat di keempat alam adalah **Azil**. Kebetulan ia sedang tidak berada di dunia ini.



“Hmp.. Baiklah jika kalian berkata begitu. Kalian adalah ajudan terpercayaku. Apapun yang kalian laporkan, aku akan mempercayainya”, Jibu duduk di sebuah kursi yang mendadak muncul.



Penampilannya memberikan kesan tegas dan bijaksana baginya. Dengan enam sayap dan lingkaran bercahaya di atas kepala, menjadikannya sosok yang dihormati para malaikat.



Wajahnya tidak dapat dilihat karena memancarkan cahaya yang begitu terang. Berbeda dengan kedua malaikat wanita yang ada di hadapannya, wajah cantiknya terlihat jelas.



“Tujuanmu pasti untuk menuju tempat kami, para malaikat, kan?”, tanya Jibu sambil merubah rubah posisi kakinya.



“Be-benar”, Kazuto dan Alcia duduk di hadapannya.



“Jika kau ingin ke sana, aku punya tugas untukmu.. Yah walaupun bagiku tidak ada manfaatnya.. Tapi ini adalah ujian untuk mengukur seberapa bijak kau menggunakan kekuatan pemberian itu!”, suaranya mulai tegas.



Kazuto merinding mendengar itu. Ia menelan ludah berkali kali karena rasa takutnya itu.



“Kuasailah negeri negeri di sini dengan kebijakanmu! Termasuk tiga negeri raksasa!.. Hal itu juga akan bermanfaat untuk menambah kekuasaan dan untuk menutupi kekuranganmu, kan?”, teriak Jibu dengan tangan menunjuk Kazuto.



Karena tujuannya semakin dekat, Kazuto tidak bisa membantah persyaratan itu. Demi bisa menuju alam keempat, ia harus berusaha memenuhi tugas dari Jibu, sang ketua para malaikat di dunia.



“Baiklah.. Kau boleh keluar dari tempat ini”, Jibu menyuruh mereka berdua keluar dengan sopan.



Kazuto dan Alcia pun memberi hormat kepadanya sebelum pergi. Untuk mempersingkat waktu, Alcia membawa Kazuto terbang turun ke bawah.



Begitu keluar, ternyata fajar sudah muncul dari timur menyinari daratan. Pemandangannya sangatlah indah. Mengingatkan Kazuto saat bersama ayahnya melihat pemandangan seperti ini.



“Ayo ke penginapan”, ajak Kazuto.



Di sana, Kazuto mengistirahatkan tubuhnya karena kelelahan. Sedangkan Alcia sedang berjaga menghadap jendela. Kemudian, terpikirkan oleh Kazuto untuk langsung mendatangi negeri negeri incarannya.



“Alcia, beritahu Marcus kita tidak akan pulang dalam waktu dekat”, suruh Kazuto.



“Baik, Tuanku”, Alcia menghubungi Marcus dengan telepati.



Keseharian di istana berjalan normal. Satu per satu maid keluar dari ruangannya. Para pekerja mulai bekerja memperluas area luar istana. Hingga, sesuatu pun terjadi.



“Lucia!”, Tetra memanggil Lucia yang sedang berjalan menuju ruang makan.



“Ya, ada apa?”, Lucia nampak menghormatinya.



“Dimana anak itu?”, tanya Tetra.



Mereka berdua langsung menuju kamar Alcia tempat dimana Nina beristirahat. Begitu pintu dibuka, tidak ada siapapun di dalamnya.



“Apa yang terjadi?!”, Lucia panik.



“Kita harus mencarinya!”



“Tidak!”, seseorang muncul dari ujung lorong.



Langkah kakinya bergema. Perlahan lahan, penampilannya mulai terlihat. Ia berpakaian serba rapi dengan sebuah kaca di mata kanannya.



“Ketua Lubis!”, mereka berdua terkejut.



“Dari penampilannya, anak itu tidak memiliki ancaman sedikitpun. Dari gerak geriknya, ia tidak memiliki niat jahat sedikitpun. Kalau pun ia melarikan diri, identitas kita tidak akan dibongkar”, logatnya yang berwibawa meyakinkan mereka berdua.



“Tapi, Ketua.. Anak itu mungkin-”, perkataan Lucia terpotong.



“Benar. Mungkin ia ada hubungannya dengan Tuan Kazuto. Karena itu ia mencarinya..”, mereka berdua langsung yakin akan hal itu.



Nina melarikan diri ke arah pasar di negeri terdekat. Ia berlari tergesa gesa karena takut dikejar oleh penghuni istana.



“*Aku harus mencarinya.. Aku harus mencarinya*!”, pikirnya sambil berlari melihat sana sini.



Ia terus melewati keramaian di pasar itu hingga keluar di sisi lain pasar. Karena kelelahan, ia beristirahat di kursi dekat pasar itu. Tidak ada ancaman dirasakan olehnya.



“*Syukurlah tidak ada yang mencariku*”



Kemudian ia melanjutkan pencariannya. Tak lama, ia melihat kerumunan orang banyak di depan sebuah gerbang masuk.



“Apa itu?”, menghampirinya.



Orang orang di sana sedang menantikan lewatnya seorang ratu yang amat mulia, Cleopatra. Terlihatlah sebuah kereta kuda yang dikawal oleh beberapa prajurit.



“Siapa dia?”, Nina tidak bisa melihatnya karena terlalu pendek.



Ia pun menerobos kerumunan itu hingga barisan paling depan. Kereta kuda pun bisa dilihatnya dengan jelas.



Cleopatra melihat Nina yang antusias itu dari dalam keretanya.



“Berhenti!”, suruhnya untuk memberhentikan kuda tepat di depan Nina.



Orang orang pun berbisik kenapa sang ratu berhenti di sana. Pintu kereta terbuka. Beberapa prajurit langsung mendekatinya. Begitu ia terlihat, semua orang di sana terdiam tidak berbicara sepatah kata pun karena melihat penampilan sang ratu Cleopatra.



Penampilannya sangatlah mewah. Pakaiannya terbuat dari emas yang dihiasi perhiasan lain seperti perak, berlian, zamrud dan rubi. Tak hanya itu, wajah cantik nan menawannya juga yang membuat orang orang tak berkutik di hadapannya.



“Aku pernah melihatmu”, Cleopatra menghampiri Nina sambil terus menunjuknya.



“*Dia.. Dia?.. Dia*!?”, Nina panik.



“*Aku pernah melihatnya 5 tahun lalu. Dia Cleopatra, sang Ratu Kebengisan. Dulu, dia bekerja sama dengan Entitas Iblis Ketiga*”



“Ikutlah denganku..”, bisik Cleopatra.

__ADS_1



Bisikannya itu membuat Nina merinding ketakutan. Ia masih ingat sejarah kelam mengenai sang ratu itu.



“Bawa dia!”, suruh Cleopatra kepada prajuritnya.



Nina pun dibawa olehnya ke kerajaannya. Sepertinya, Cleopatra masih memiliki urusan dengannya yang belum terselesaikan.



“Sepertinya, sudah waktunya bekerja!”, Kazuto beranjak dari duduknya.



“Baik, Tuanku”, Alcia mengikutinya.



Tujuan pertamanya adalah mencari para Pengelana. Namun, karena mendapat tugas baru dari ketua malaikat, maka ia pun mengganti tujuannya menjadi menguasai negeri negeri di benua ini.



Dimulai dari tiga negeri raksasa yang terkenal dan membuat kerajaan di sekitarnya tunduk kepadanya.



“Baiklah! Perjalanan dimulai!”, mereka berdua meninggalkan penginapan.



Pertama tama, ia mengincar negeri yang dipimpin oleh Abraham. Selain karena sudah pernah melihatnya, keuntungannya adalah jaraknya yang tidak terlalu jauh. Hanya dibutuhkan satu jam perjalanan dari sini untuk sampai ke sana.



Di perjalanan, Kazuto mendengar suara gemuruh kereta kuda. Begitu berpaling, ia melihat rombongan Cleopatra sedang menuju kepadanya.



“Awas!”, Kazuto menarik Alcia.



“*Cleopatra, sang Ratu Kebengisan*”, pikirnya.



Beberapa prajurit berkuda mengawal dua buah kereta kuda. Satu untuk sang ratu dan satu lagi untuk keperluan lain. Nina ditahan olehnya di kereta yang kedua. Tentu saja Kazuto belum mengetahui hal itu.



Cleopatra lewat di hadapannya. Tatapannya yang sombong membuatnya menjadi ditakuti oleh kalangan masyarakat biasa. Tetapi, tidak dengan Kazuto. Ia merasa harus berbicara dengan wanita itu.



“Siapa mereka itu?”, gumam Cleopatra setelah agak jauh dari Kazuto.



Begitu kereta kedua lewat, Kazuto melihat seseorang yang tidak asing di dalam kereta itu.



“*Tunggu.. Itu seperti*..”



Setelah melihat rambutnya, ia pun yakin bahwa yang di dalam kereta itu adalah Nina.



“Nina! Nina!”, mencoba meneriakinya.



Namun, Nina tidak menoleh kepadanya. Lama kelamaan, rombongan itu pun semakin menjauh. Mereka kembali menuju kediaman sang ratu di perbatasan benua.



“Ada apa, Tuanku?”, tanya Alcia setelah rombongan itu tidak terlihat.



“Aku rasa, kita harus mengejar mereka”, jawab Kazuto sambil mengepalkan tangan.



“Kalau begitu, aku akan-”, Alcia mengeluarkan kedua sayapnya.



“Tidak, Alcia. Mulai saat ini, gunakanlah kekuatanmu di saat saat penting saja”



“Baik. Maafkan aku, Tuan”, kedua sayapnya kembali masuk ke dalam.



Pada akhirnya, mereka berjalan kaki mengikuti jejak kereta kuda rombongan itu yang membekas di tanah. Kazuto menyuruh Alcia untuk tidak menggunakan kekuatannya demi kebaikan dirinya.



Beberapa kilometer berjalan, Kazuto melihat rombongan Cleopatra sedang berhenti di dekat sungai. Sepertinya mereka memilih untuk beristirahat di sana.



“Tuanku, lihat itu!”, tunjuk Alcia.



Terlihat, Nina diikat ke sebuah pohon. Cleopatra sedang duduk di depannya untuk mengawasinya langsung.




“Hmp.. Itu bukan urusanmu”, balas Cleopatra dengan ekspresi kesal.



“Kau tau?.. Aku menghormatimu sebagai perantara antara Entitas Iblis dengan Pencetus Dosa, tetapi, kenapa kau memilihku sebagai yang pertama?! Kenapa tidak kau saja!?”, menghentak hentakkan kakinya.



“Tutup mulutmu!”, Cleopatra membekam mulutnya.



Wajahnya menjadi menyeramkan seperti iblis. Namun, Nina sadar bahwa Cleopatra masih memiliki hati nurani manusia. Itu membukakan kesempatan bagi Nina untuk membujuknya melepaskan kontrak dengan Entitas Iblis ketiga.



Istirahat pun diakhiri oleh Cleopatra. Ia menyuruh para prajuritnya untuk segera melanjutkan perjalanan pulang.



“Mereka bergerak..”, bisik Kazuto.



Kazuto dan Alcia mulai mengikuti mereka.



“Tetra!”, Marcus memanggil Tetra yang sedang berbicara dengan para petinggi militer.



“Ada apa?”, Tetra berpaling.



“Bagaimana dengan surat permintaan dari Abraham?”



“Ah itu.. Dia membatalkannya. Setelah ku setujui, dia mengirim surat pembatalan permintaan.. Apa yang terjadi?”, Tetra melihat raut wajah Marcus yang aneh.



“Mungkin hanya firasatku, tapi, sesuatu sedang terjadi di negerinya..”



Tetra terdiam mendengar itu. Hal itu mengingatkannya kembali betapa berbahayanya para Pengelana 4 Alam. Mereka bukanlah sosok malaikat seperti yang ditemui Kazuto, melainkan iblis dengan kekuatan yang dahsyat.



“Mereka.. Mereka…”, Kazuto hampir terjatuh karena kelelahan.



“Tuanku!”, Alcia menopangnya.



Matahari sudah condong ke barat menandakan waktu menjelang sore hari. Rombongan itu melewati padang yang sangat luas.



“Tuanku.. Tenaga dan mana mu menipis!”, Alcia memeriksanya.



“Ya.. Aku..tidak bisa..mengeluarkan kekuatanku..jika..keadaanku..begini”



Tidak ada toko di padang itu. Yang terlihat hanyalah hamparan bukit sana sini. Kazuto tidak bisa membeli makanan untuk mengisi tenaganya itu.



“Tuanku.. Maaf.. Salah satu kekuatanku adalah mengeluarkan tenaga dari jari jariku.. Jika kau berkenan.. Silahkan..”, Alcia menyodorkan tangannya.



Kazuto sadar bahwa situasinya sedang genting. Tidak ada pilihan lain selain menerima tenaga dari jari Alcia. Jika tidak, maka Kazuto tidak bisa melanjutkan perjalanannya.



“Maaf, Alcia”, memegang tangannya.



Alcia menggelengkan kepalanya dengan rasa gugup menyertainya.



Kazuto mengemut salah satu jarinya. Tenaga pun tersalurkan dari Alcia ke tubuhnya. Di samping itu, Alcia terlihat menahan gairahnya.



“Hmmp..”, memejamkan matanya.



Sekuat kuatnya Alcia, ia akan takluk jika berhadapan dengan nafsunya.



Setelah dirasa cukup, Kazuto melepaskan jarinya. Tenaganya sudah mulai pulih dan cukup untuk melanjutkan perjalanan.



“Maaf, Alcia. Lupakan saja hal barusan”

__ADS_1



Sore hari, mereka sampai di dekat negeri Cleopatra. Istananya sangat besar dengan bentuk mirip piramida. Penduduknya pun terlihat padat.



“Ini?! Ciri khas Mesir!”, Kazuto terkagum.



Mereka pun membaur dengan para penghuni kota. Menyelinap di antara keramaian dan menghindari gerakan mencurigakan untuk mengelabui para pengawas.



Kazuto tidak merasakan sihir dari setiap prajurit yang dilihatnya. Ia pun merasa janggal akan hal itu.



“\*Kenapa mereka tidak memiliki kekuatan?”, pikirnya.



Hingga mereka sampai di wilayah istana Cleopatra. Terlihat banyak penjaga yang berjaga di sana, tidak ada celah sedikitpun. Kazuto pun berpikir sejenak untuk bisa menerobos pertahanannya.



“Tuan, apakah aku harus menggunakan kekuatanku?”, tanya Alcia kepada Kazuto yang kebingungan.



“Tidak tidak.. Tunggu dulu”, balas Kazuto.



Akhirnya terlintas sebuah ide di benak Kazuto.



“Alcia, kemarilah”



Mereka menunggu sebuah kereta kuda. Ketika sudah dekat, mereka menyelinap naik ke keretanya yang merupakan pengangkut muatan.



“Bersembunyi..”, bisiknya.



Di saat para penjaga memeriksa keretanya, mereka berdua bersembunyi di antara kotak kotak muatan yang ada di dalam kereta itu.



“Masuk!”, suruh penjaga kepada kusir.



Kazuto melihat lingkungan istana melalui celah kecil yang ada di sana.



“*Hebat*!”



Kereta itu pun sampai ke tujuan, yaitu gudang penyimpanan. Kusir memarkirkan kudanya di sana. Kemudian, ia bermaksud untuk mengontol barang bawaannya yang ada di kereta.



Begitu muncul, Alcia langsung menembaknya dengan cahaya tepat di keningnya hingga ia jatuh pingsan.



“Apa yang kau lakukan?!”, Kazuto panik.



“Aku hanya membiusnya, Tuan”



Ia pun dimasukkan ke dalam kereta untuk menyembunyikan bukti kejahatan. Mereka memasuki gudang penyimpanan itu yang penuh dengan muatan muatan tidak diketahui.



“Apa ini?”, Kazuto perlahan lahan mendekatinya lalu membukanya sedikit.



Begitu terkejutnya Kazuto setelah melihat isi dari kotak muatan itu.



“Perhiasan!”



Di dalamnya terdapat berbagai macam perhiasan yang bernilai jual tinggi.



“Ini juga sama”, Alcia menunjukkan kotak yang baru saja dibuka olehnya.



Tak lama, terdengar ocehan seseorang dari arah dalam. Mereka pun bergegas bersembunyi.



“Semuanya harus terkumpul besok!”, orang itu adalah Cleopatra. Dia masuk ke gudang itu disertai asistennya.



“Ta-tapi Yang Mulia..”, ia terlihat ketakutan.



“Jika tidak, kekuasaanku akan dihancurnya olehnya.. Kita harus mempersembahkan kekayaan yang kita miliki demi melindungi negeri ini..”, bisik Cleopatra sambil mencekik asistennya itu.



“B-baik Yang Mulia.. Akan kami usahakan”, pria itu pergi dengan gemetar.



Lalu, Cleopatra bersandar ke sebuah kotak yang dimana Kazuto bersembunyi di belakangnya.



“Kenapa.. Kenapa aku harus seperti ini?”, ucapnya dengan suara lirih.



Ia terlihat sedih entah kenapa.



“Andai saja aku punya kekuatan, aku akan menghabisi iblis itu!”, memukul kotak.



Kemudian, ia kembali masuk ke dalam istana. Kazuto heran dengan apa yang dikatakannya tadi.



“Apa maksudnya?..”



Cleopatra adalah seorang penguasa terkaya di benua. Kekayaan tidak terhingga sampai sampai, ia ditawari untuk bekerja sama dengan negeri di luar benua. Tapi ia menolaknya karena tidak ada keuntungan baginya.



“Alcia, apa kau punya kekuatan khusus untuk menyelinap?”, tanya Kazuto.



“Maaf, Tuanku. Aku dikhususkan untuk pertempuran langsung”, Alcia meminta maaf karena tidak mempunyai kekuatan seperti itu.



“Hm.. Baiklah”, Kazuto memegang tangannya.



Kazuto mengaktifkan salah satu kekuatannya yaitu tembus pandang. Ia tidak akan terlihat seberapa lama pun sesuai kehendaknya dan siapapun yang dipegangnya akan menjadi tidak terlihat juga.



Namun, setiap kali memakai kekuatan, Kazuto merasakan efek samping tertentu. Karena itu ia jarang memakai kekuatannya kecuali ketika darurat saja.



Kazuto membuka pintu perlahan lahan. Begitu dibuka, seseorang masuk dan hampir mengenai dirinya.



“*Mengejutkan*!”



Kekuatan yang dipakainya itu hanyalah tingkat rendah. Mengenai seseorang pun akan langsung terlihat. Tidak seperti tingkat tinggi yang memungkinkan Kazuto menembus apapun dan bahkan bisa merasuki tubuh seseorang.



“*Itu dia*..”, Kazuto melihat Cleopatra berjalan menuju ruangannya.



“Sudah berapa kali aku kebingungan seperti ini?! Andai saja ada pegawaiku yang memiliki kekuatan sihir.. Dan kenapa aku tidak bisa memiliki kekuatan apapun!?”, Cleopatra menggerutu di dalam ruangannya.



Kazuto dan Alcia melihatnya dari sudut ruangan. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan diri.



“Untuk apa aku punya kekuasaan jika aku tidak bisa mengelolanya?.. Walaupun begitu, ini adalah peninggalan leluhurku.. Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja”, Cleopatra bersandar di meja.



“*Mungkin sudah waktunya*..”, Kazuto mematikan kekuatan tembus pandangnya itu.



“Hei..”, panggilnya.



Cleopatra langsung menoleh ke sudut ruangan dimana Kazuto berada. Ia terdiam begitu melihatnya.



“Selagi aku masih hidup, berikanlah semua kekuasaanmu padaku”, mendekatinya.



“Akan kuberikan dua pilihan untukmu.. Kuharap kau memikirkannya dengan baik.. Jika tidak, aku akan melakukan apapun agar aku bisa kembali ke keluargaku..”



Perkataannya itu seakan akan membuat jantung Cleopatra berhenti berdetak. Di sisi lain, Kazuto berkata seperti itu hanya untuk menunjukkan sikap penguasanya kepada Alcia.



“Kenapa.. Kenapa kau kemari?..”, Cleopatra terduduk karena ketakutan.


__ADS_1


Ternyata, ia memiliki kekuatan tersembunyi, yaitu mata yang dapat mengukur kekuatan seseorang. Ia melihat kekuatan dari diri Kazuto yang tidak terhitung jumlahnya. Itu mengingatkannya pada masa lalunya yang mengerikan.


__ADS_2