Above The Kings

Above The Kings
Menjalani


__ADS_3

Walaupun tidak ikut berperang, Kazuto merasa kelelahan. Hingga ia tertidur dengan posisi duduk di sofa.



Sebelumnya, Kazuto menerima kabar bahwa adiknya akan datang besok. Memang di luar pengetahuannya. Kazuto tidak mengetahui bahwa ia memiliki seorang adik.



Lucia yang melihat itu segera menyimpan hidangannya dan kembali untuk mengambil selimut. Kazuto pun diselimuti olehnya.



Tak terasa, Kazuto tertidur sampai pagi. Sinar matahari menyoroti wajahnya.



Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara kereta kuda yang terhenti di depan istana.



“Siapa itu?”, menyingkapkan selimutnya.



Tiba tiba, pintu terbuka dengan kencang.



“Kakak!!”, seorang anak perempuan berlari ke arah Kazuto.



“Eh?!”



Anak itu langsung melompat ke arahnya.



“*Dia adikku*?”



Ia memeluk erat Kazuto.



“Lepaskan!”



Lucia yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Kanna terlihat sangat senang bisa bertemu dengan Kazuto setelah beberapa bulan terpisah.



Ayah Kazuto adalah pemegang tahta agung di benua itu. Kekayaannya mencakup sepertiga dari luas benua. Walaupun begitu, ia tidak pandai mengelola kekayaannya. Akhirnya, ia, Torque, menikahi seorang wanita yang sangat cakap dalam urusan politik, yaitu putri Margaret.



Akhirnya, mereka pun dikaruniai dua orang anak, yaitu Kazuto dan Kanna. Berkat kepandaiannya, semua kekayaannya bisa terkelola dengan baik. Semua rakyatnya pun hidup sejahtera. Hingga kerajaannya menjadi yang paling makmur diantara kerajaan lainnya.



Pada saat Kazuto berusia 10 tahun, dan Kanna berusia 6 tahun, terjadilah sebuah masalah yang mengguncang kerajaan. Adik dari Torque, Adalin, berkhianat. Ia bertengkar dengan Torque dan Margaret karena menurutnya, mereka berdua telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan.



Adalin pun diusir dari kerajaan. Selama beberapa hari, ia berkelana menjelajahi benua. Hingga pada satu hari, ia diselamatkan oleh salah seorang pendeta dari kerajaan suci barat. Ia pun bergabung ke dalam pasukannya untuk membalaskan dendam kepada kakaknya, Torque.



7 tahun tanpa kabar, Torque penasaran akan keadaan adiknya. Ia pun mengirimkan beberapa burung untuk mencari keberadaannya.



Tanpa ia sadari, Torque memiliki kekuatan terpendam yang misterius. Ia dapat mengendalikan benda yang dilihatnya dari kejauhan.



Beberapa hari berlalu, burung burung itu kembali dan memberitahu lokasi dimana Adalin berada. Akhirnya, Torque mengajak Kazuto untuk mencarinya disertai 1000 pasukan.



Setelah beberapa jam perjalannya, Torque melihat sebuah benteng yang berdiri kokoh. Ia yakin bahwa itu adalah tempat dimana Adalin berada. Diam diam, ia bersama pasukannya menyelinap mendekati benteng itu.



Di sisi lain, Kazuto melihat sebuah istana misterius yang terlihat seperti sudah terbengkalai. Karena penasaran, ia pun menghampirinya.



Pergerakan Kazuto itu dilihat oleh salah satu komandan pasukan salib yang ada di benteng, yaitu Roberius. Ia memiliki kekuatan teleportasi yang membuatnya bisa berpindah tempat dalam sekejap.



Ia pun berpindah tepat ke depan gerbang istana misterius itu untuk menghadang Kazuto. Sontak, Kazuto terkejut.



Tiba tiba, gerbang terbuka dengan sendirinya. Dan terlihat seseorang keluar dari istana.



“Beraninya kau menganggu rajaku, dasar sampah!”



Langit seketika menjadi gelap berpetir. Angin berhembus kencang. Melihat auranya, Roberius sangat terkejut dan ketakutan. Ia melihat kekuatan yang luar biasa dahsyat dari dirinya.



Roberius pun kembali ke bentengnya untuk menahan serangan pasukan Torque.



“Selamat datang, rajaku”, pria itu berlutut di hadapan Kazuto.



“Eh?”



Torque berhasil menemukan Adalin. Ia mencoba untuk mengajaknya kembali ke keluarganya, namun Adalin menolak. Mereka pun bertarung dan terbunuh satu sama lain.



Pasukan yang masih hidup segera pulang untuk menyelamatkan diri. Mereka berhasil meruntuhkan benteng itu. Salah seorang diantara mereka melihat Kazuto baik baik saja bersama seseorang. Sesampainya di kerajaan, ia pun memberitahukan berita buruk dan baiknya kepada Margaret.



Margaret dan Anna sangat terpukul karena kehilangan pahlawannya, Torque, namun mereka bernafas lega karena Kazuto baik baik saja.



“Saya, Marcus, pelayan setia Anda, menunggu momen momen ini sejak lama, bahkan ratusan tahun”



Kazuto tidak mengerti ucapannya. Mengingat, ia baru berumur 17 tahun dan Marcus bilang sudah menunggu kedatangan Kazuto sejak ratusan tahun lalu.



Sejak itulah Kazuto berpikir bahwa ada yang tidak beres dalam dirinya itu.



Kazuto pun dibawanya ke dalam istana misterius itu. Berbeda dengan luarnya yang terlihat mengerikan dan terbengkalai, bagian dalamnya sangatlah megah dan mewah. Emas dan berlian terhias di dinding pilar.



Kazuto terkesimak melihatnya. Marcus hanya tersenyum melihatnya berwajah seperti itu.



Tak lama, 5 orang menghampiri Kazuto. Mereka terdiri dari 4 wanita dan seorang pria. Masing masing dari mereka berpenampilan mengerikan dan mengeluarkan aura yang dahsyat yang membuat bulu kuduk Kazuto berdiri.



“Berlututlah!”, perintah Marcus kepada mereka.



Dengan sigap, mereka pun menurutinya. Mereka berlutut di hadapan Kazuto dengan wajah tertunduk.



Beberapa hari setelah itu, terjadi berbagai macam kejadian di luar istana. Hingga yang terakhir, yaitu pertempuran dengan pasukan salib di kaki gunung.



“Hei hei kakak!”, Kanna menarik baju Kazuto yang berada di sampingnya.



“Ada apa?”



“Apa kau tau dongeng Manusia Dewa dan Ratu Roxy?”, tanya nya.



“Ratu Rox-”, tiba tiba, hati Kazuto bergetar.



Ia terdiam beberapa saat.



“*Namanya.. tidak asing bagiku* ”



“Kakak?”



“Ahh maaf. Aku pernah membacanya, tapi sekarang sudah lupa”, menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.



“Hmp.. Kukira kau tau”, Kanna memasang wajah cemberut.



“Ta-tapi, aku tau kesimpulannya, kok.. Mereka berdua adalah orang yang sangat baik.. Se-seperti itulah..”, Kazuto mencoba mengada ada.



“Benarkah!? Seperti ayah dan ibu kita!?”



“Ehm.. Ya! Benar sekali!”



Mendengar itu, Kanna terlihat senang.



Kazuto ragu ragu menjawabnya karena ia belum pernah merasakan kasih sayang orang tuanya selama masih di istana ayahnya.



Itu karena, kesadarannya belum muncul. Kazuto benar benar tersadar saat bertemu dengan Marcus dan mengajaknya ke kastilnya. Masa masa yang telah berlalu bagaikan mimpi yang hanya sekelebat saja.



“Omong omong, bagaimana sekolahmu?”, Kazuto mengalihkan topik pembicaraan.



“Menyenangkan! Meskipun aku baru saja pindah sekolah minggu lalu, aku sudah berteman dengan semuanya!”



“Adikku memang hebat!”, Kazuto menyantap sepotong roti.



“Dan juga.. Ada anak terkuat di sekolahku itu. Walaupun umurnya baru 14 tahun, tapi kekuatannya sangat melimpah!”



Terpikirkan oleh Kazuto bahwa kekuatan berlaku di dunia ini bagi siapapun yang terpilih. Dan Kanna terlahir tidak memiliki kekuatan apapun. Tetapi, Kazuto juga tidak memiliki kekuatan sejak lahir. Kekuatannya didapatkan secara instan dan misterius. Karena itulah Marcus menganggapnya sebagai makhluk agung.


__ADS_1


“Hmp.. Begitu.. Apa yang membuatnya kuat?”



“Aku tidak tau.. Mungkin dari keturunannya atau karena dia mendapatkan kekuatan dari Dewa”



Mendengar kata "Dewa" membuat Kazuto terkejut. Ia berasumsi bahwa ada dewa yang mengendalikan dunia ini.



“Ahh begitu rupanya.. Oh iya, sudah waktunya kakak bekerja. Sebaiknya kau bermain bersama Lucia”, Kazuto beranjak.



Mendengar namanya disebut, Lucia langsung menghampirinya.



“Baik, Tuanku?”



“Temani Kanna berkeliling sebentar”



“Baiklah, Tuanku”



Kazuto segera menuju ke ruang kerjanya. Di sana, ia mengecek rentetan kejadian yang telah terjadi semenjak munculnya istana misterius ini di dunia yang juga misterius ini.



“Aku belum mengerti sama sekali.. Apakah aku dipindahkan ke sini? Jika begitu, kenapa harus aku?”, gumamnya.



Tak lama kemudian, Marcus masuk ke ruangan.



“Tuanku..”, berdiri di samping meja.



“Marcus, kenapa kau membenci manusia?”, Kazuto mendadak bertanya.



“Hm? Sebenarnya aku tidak terlalu membencinya. Aku hanya tidak suka sifat keserakahan mereka. Tapi, yahh.. Terkadang, aku ingin sekali melenyapkan mereka tanpa sebab! Ahh.. Keluarga Anda adalah pengecualian”



“Begitu.. Tapi, ada satu hal yang harus kita tiru dari mereka.. Yaitu kasih sayang”, ucap Kazuto dengan wajah menengadah ke atas.



“Ya.. Itu benar”



Setelah itu, Kazuto pergi ke atas istana. Langit berawan disertai angin sepoi sepoi menyambutnya di atas.



“*Aku harus mencari tau*!”



“Marcus!”



Begitu dipanggil, Marcus langsung muncul di belakangnya.



“Ya, Tuanku?”



“Tidak ada salahnya.. Berkeliling dunia, bukan?”, tanya Kazuto.



Mendengar itu, Marcus terlihat senang. Ia berpikir bahwa Kazuto akan menguasai setiap negara yang dilewatinya. Karena, Marcus dan yang lain adalah bawahan yang haus akan pertempuran.



“Tentu saja, Tuanku”, jawabnya dengan senyuman mengerikan.



Setelah itu, semua bawahan Kazuto menjadi bersemangat karena kesalahpahaman Marcus atas perkataan Kazuto.



“Kami siap melayani Anda!”, para maid mengerumuni Kazuto.



“Ehh?! Ada apa ini?!”, tanya Kazuto terkejut.



“Karena Anda akan pergi berperang, kami harus melayani Anda semaksimal mungkin! Silahkan gunakan kami!”, salah satu dari mereka mewakili alasannya.



“*Berperang? Heh.. Sepertinya seru juga.. Dan juga aku berharap mendapatkan petunjuk dari petualanganku nanti*”, pikir Kazuto.



Satu hari, Kazuto mengumpulkan keenam Jenderal Kehancuran untuk membahas rencananya.



Mereka terus menundukkan kepalanya hingga dipersilahkan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai rencana besar Kazuto itu.



“… seperti itulah, Tuanku”, Marcus adalah yang terakhir.



“Ku pikir, rencana kalian semua bagus. Aku akan mengingat semua itu dan menyatukannya… Namun, aku memiliki tujuan yang lebih penting dari itu semua”




“Aku pulang dulu, kakak!”, Kanna melambaikan tangan sembari meninggalkan istana.



“Hati hati!”, balas Kazuto.



“Hyashin?”



“Ya, Tuanku?”, dengan sigap, Hyashin langsung muncul di hadapannya.



“Kawal dia sampai istananya”, Kazuto khawatir akan keselamatan Kanna.



“Baik!”, Hyashin menghilang dari hadapannya.



Dengan itu, perjalanan pulang Kanna akan terjamin. Hyashin terus mengawasi kereta kudanya dari kejauhan secara diam diam.



Untuk kedua kalinya, Kazuto mengumpulkan mereka berenam di hari yang sama.Sepertinya ia terpikirkan sesuatu.



“Maaf aku memanggil kalian lagi”, Kazuto duduk di singgahsana.



“Sudah sepatutnya kami memenuhi panggilan Anda, Tuanku”, Marcus tidak ingin Kazuto merasa bersalah.



“Begini.. Sebelum kalian turun ke medan perang, sebaiknya kalian mengukur seberapa kuat kekuatan yang kalian miliki”, Kazuto menyampaikan maksudnya.



“Caranya?”, tanya Tet.



“Dengan bertarung denganku..”



Mendengar itu, mereka berenam merinding ketakutan. Bahkan tak berani mengangkat wajahnya di hadapan Kazuto. Jika berkata demikian, mereka yakin, tuannya sudah serius. Marcus yang merupakan pemimpin Jenderal Kehancuran pun berkeringat dingin.



“Hm?.. Ahh tenang saja.. Aku cuma ingin tau seberapa kuatnya kalian.. Aku juga tidak akan sampai membunuh kalian”, Kazuto memperjelas.



“Tidak, Tuanku! Anda berhak melakukan apapun terhadap kami yang lemah dan hina ini!”



Walaupun tidak mengetahui kekuatannya sendiri, Kazuto sadar akan perbedaan kekuatan yang sangat jauh dibandingkan mereka berenam.



“*Memangnya kekuatanku seperti apa*?”, pikirnya.



“Tapi, untuk membuktikan kesetiaan kami, kami harus melakukan apapun sebaik mungkin”, ujar Lucia.



Yang lainnya pun membenarkan omongan Lucia.



Akhirnya, mereka bersedia untuk bertarung dengan Kazuto. Dengab tujuan untuk mengukur kekuatan masing masing di hadapan tuannya.



Kazuto dipandu oleh seorang maid menuju ke arena. Begitu masuk, Kazuto melihat tempat yang begitu luas. Bahkan langit langitnya pun tidak terlihat.



“*Tempat apa ini? Apa benar ini berada di dalam istana*?”



Di kejauhan, Kazuto melihat mereka sudah bersiap. Di pinggir arena, terdapat para Healer Maid untuk berjaga jaga akan timbulnya luka serius.



Untuk giliran pertama, Marcus maju ke depan.



“Mohon bimbingannya, Tuanku”, ucapnya sembari menunduk.



“Tidak perlu menahan diri”



Marcus adalah tipe petarung jarak dekat. Namun, kemampuan jarak jauhnya pun tidak jauh berbeda dengan tipe nya itu. Ia mampu menguasainya dengan mudah.



“Baiklah”



Salah satu matanya menyala biru. Kepalan tangannya mengeluarkan aura hitam pekat.

__ADS_1



“Maju-”



Tiba tiba, Marcus sudah ada di belakang. Ia melancarkan pukulan kepada Kazuto. Namun, Kazuto lebih unggul 0,01 detik darinya sehingga ia bisa menghindari pukulannya itu.



Tak sampai di situ, Marcus berpindah tempat lagi. Tapi, sebelum pukulannya mengenai Kazuto, ia sudah terpental duluan oleh pukulan Kazuto.



“Cepat sekali..”, Marcus berdiri lagi.



“Sudah kubilang, jangan menahan diri sekalipun lawannya adalah aku”, ucap Kazuto sambil menghampirinya.



Mendengar itu, Marcus mengeluarkan kekuatan penuhnya. Bilah pedang muncul di kedua sikutnya. Namun, tiba tiba Marcus tersungkur ke tanah. Aura kekuatannya menghilang.



“Aku…tidak bisa”, ucapnya dengan suara lemah.



“Ahh..”, Kazuto terkejut melihatnya.



“Aku tau perasaanmu dan perasaan kalian semua.. Pasti sulit, kan? Dipaksa untuk melawan tuanmu sendiri”, mereka berlima menghampiri Kazuto dan berlutut di hadapannya.



“Baiklah.. Aku batalkan latihan ini.. Sebagai gantinya, aku akan mencarikan musuh yang cocok untuk kalian”, jelasnya.



Keenam Jenderal Kehancuran akhirnya bisa bernafas lega. Mereka lolos dari ujian terberat yang diberikan oleh tuannya.



“Terima kasih, Tuanku”, ucap mereka serentak.



Hari berikutnya, Kanna berkunjung lagi. Kedatangannya disambut hangat oleh para maid di halaman.



“Selamat dat-.. Ehh!”, Kazuto terkejut melihat seorang wanita bersamanya.



“Halo kakak! Wali kelasku ikut menemaniku!”, ucap Kanna dengan riangnya.



“*Wali kelas?! Hmm.. Dari penampilannya, dia terlihat lebih tua dariku. Mungkin 20.. Ahh lupakan*”



Kazuto pun menyambutnya lalu memperkenalkan dirinya kepada wali kelas itu. Ia terlihat malu malu di hadapan Kazuto.



“Sa-Salam kenal.. A-Aku Ariel. Salah satu wali kelas di sekolah Augintus”, balasnya.



“*Wahh.. Balasannya aneh juga*”



Mereka pun dipersilahkan masuk oleh Kazuto. Begitu para tamu duduk, para maid dengan sigapnya langsung menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka.



“Lucia.. Lucia”, Kanna memanggil Lucia.



“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Putri?”



“Antar aku ke toilet sebentar!”



“Baiklah.. Silahkan”, Lucia mengantarnya.



Namun, Kanna tidak benar benar ingin ke toilet. Ia hanya menginginkan wali kelasnya, Ariel, berduaan bersama Kazuto.



“Ehm.. Jadi, bagaimana prestasi adikku?”, Kazuto bertanya kepadanya.



Ariel terlihat gugup. Tubuhnya bergetar tak henti henti. Kedua tangannya mengepal dengan kuat di atas pahanya.



“Ahh.. I-Itu.. Di-Dia sangat pintar..”



“Syukurlah kalau begitu..”



Di saat situasi canggung seperti itu, Marcus mendadak muncul di hadapannya dengan wajah marah.



“Berani sekali kau mendekati Tuanku”



Sontak, Ariel terkejut dan ketakutan melihatnya. Ia bergeser mendekati Kazuto lalu mendekap tangannya.



Melihat itu, Marcus menjadi semakin tidak senang.



“Enyahlah-”



“Ti-Tidak Marcus! Dia cuma kenalanku yang sedang berkunjung..”, Kazuto menenangkannya.



“Oh begitu. Maaf atas kelancangan saya, Tuanku”, Marcus pergi begitu saja.



“Lupakan saja yang barusan.. Hmm?”, melirik Ariel yang menikmati dekapannya.



“Hangatnya..”, gumam Ariel.



“A-Ahh! Ma-Maafkan aku! Yang barusan cu-cuma..”



Kazuto menertawakan prilakunya itu. Lama kelamaan, Ariel bisa menghilangkan kecanggungannya saat berbicara dengan Kazuto.



Dari kejauhan, Kanna bersama Lucia mengintip mereka.



Waktu terus berlalu. Bahan pembicaraan Ariel, Kazuto dan Kanna semakin tak menentu. Mereka membahas sana sini sambil tertawa tawa. Lucia yang saat itu juga bergabung dengan mereka, hanya bisa tersenyum karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.



Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Ariel dan Kanna berencana pulang saat itu.



“Tunggu sebentar..”



Kazuto membuka pintu untuk melihat suasana senja. Ia tersenyum melihat para maid sedang berbincang bincang di halaman depan.



Namun, begitu melihat ke kejauhan, ia merasakan aura yang asing. Tekanannya yang sangat besar, menerpa Kazuto dan membuatnya mundur selangkah.



Kazuto tau bahwa itu akan membahayakan perjalanan pulang Kanna.



“Kalian berdua… sebaiknya bermalam di sini saja”, ucap Kazuto.



“Hm? Kenapa?”, tanya Kanna.



“Lihat saja.. Sudah mulai gelap.. Berbagai macam bahaya bermunculan pada saat saat seperti ini”, jelas Kazuto.



Tidak perlu penjelasan lagi, mereka berdua menurutinya untuk menginap malam ini. Para maid segera menunjukkan kamar yang telah disiapkan untuk mereka.



“*Pasti ada sesuatu di sana*..”, Kazuto melihat jendela.



Aura yang dirasakannya tadi membuatnya penasaran. Ia ingin memeriksanya tapi tidak ingin membuat kegaduhan di istananya itu.



“Haah.. Mengkhawatirkan sekali..”, pergi ke kamarnya.



Sebelum masuk kamarnya, ia mendengar suara gaduh dari kamar sebelahnya. Kazuto pun langsung menghampirinya.



Pintu pun dibukanya.



“Kalian sedang ap-”, sebuah bantal menghantam wajahnya.



Di dalamnya, Kanna, Ariel dan seorang maid rupanya sedang saling melempari bantal. Mereka terdiam begitu sebuah bantal mengenai Kazuto yang baru masuk.



“Maafkan saya, Tuan. Mereka memintaku untuk menemaninya”, maid itu langsung berlutut di hadapan Kazuto.



“Ahh tidak apa apa”, menyimpan bantal itu di meja.



“Kalian berdua sebaiknya mandi dulu, lalu makan malam bersama”, suruh Kazuto.



“Baiklah”, balas mereka berdua.



Sepanjang malam, Kazuto tetap terjaga karena memikirkan hal yang dirasakannya tadi. Rasa penasarannya itu harus segera dilaksanakan agar tidak membebani pikirannya itu.

__ADS_1



“Entah kenapa.. Aku jadi teringat seseorang.. Aku merasa dia selalu berada di sisiku.. Tapi, siapa dia? Siapa orang yang selalu terpikirkan olehku?”, gumamnya sambil melihat langit malam melalui jendela.


__ADS_2