
"Syuting iklan sampai larut malam?"
"Ya...karena artis manja yang sangat tidak profesional." Dayu terlihat kesal.
"Lalu kamu melampiaskan kemarahanmu padaku?"
Adrian tersenyum sinis. Dayu berhenti memasukkan makanan ke mulut. Dia terdiam sesaat, "Apa yang akan kamu katakan pada orang tuamu tentang perkenalan kita?"
Dayu mengubah arah pembicaraan. Perempuan itu sedang tidak mood berdebat dengan Adrian. Dayu terlalu lelah untuk itu.
"Bagaimana kalau aku katakan bahwa kita berkenalan di sebuah pesta dan aku langsung suka padamu."
"Hm, cinta pada pandangan pertama?" tanya Dayu sinis, "Dengan reputasimu yang seperti itu, apa orang tuamu akan percaya. Karanglah cerita yang lebih masuk akal, kalau perlu buat sedramatis mungkin."
"Justru orang yang memiliki reputasi seperti itu yang sangat masuk akal jatuh cinta pandangan pertama dan langsung ingin menikah karena merasa menemukan perempuan yang tepat."
Adrian bersemangat menjelaskan pada Dayu bahwa cerita yang dia buat sudah sangat tepat.
"Dan kamu sendiri? Apa yang akan kamu katakan makanya mau menikah denganku?"
"Apa aku harus membuat cerita yang terkesan dramatis?"
"Terserah padamu!" Adrian menjawab dengan gaya yang seolah tak peduli padahal dia menantikan kata-kata Dayu.
__ADS_1
"Aku tak bisa menolak kamu dan pesonamu. Caramu mendekati aku yang membuat akhirnya aku luluh dan mau menikah dengan kamu."
Sebenarnya Dayu tidak yakin dengan jawaban yang dia berikan. Dia terlalu miskin untuk jatuh pada pesona Adrian. Orang tua Adrian pasti berpikir Dayu terpesona pada uang Adrian dan latar belakang keluarganya apa lagi Dayu hanya artis kelas teri.
Adrian mengangguk, "Oke, begitu pun tak apa."
"Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku?" tanya Adrian.
"Apakah semua tentang kamu di mesin pencarian kurang cukup?"
Ditembak dengan pertanyaan seperti itu membuat Adrian gelagapan. Adrian mengingat berita tentang dirinya di mesin pencarian tidak ada yang bagus. Namun, kebanyakan hanya gosip dia dengan deretan perempuan A,B,C. Kalau dilihat-lihat sudah seperti barisan dan deret hitung.
Adrian hanya benar-benar jatuh cinta satu kali dan dia merasakan bahwa perempuan itu adalah kekasihnya. Selebihnya hanya perempuan yang terlalu percaya diri sudah jadi pacarnya, teman tapi mesra, hubungan tanpa status. Ya, semacam itu lah.
"Aku bisa memainkan piano dengan baik, aku juga bisa memainkan gitar. Sepertinya tentang hal itu tidak ada ditulis dalam mesin pencarian."
Adrian berdiri lalu menarik tangan Dayu lembut. "Akan ku tunjukkan tempat yang paling mengasyikkan di rumah ini."
Adrian membawa Dayu ke sebuah ruangan. Ketika pintu terbuka, Dayu melihat dua buah gitar di sudut ruangan. Sebuah piano dan satu rak buku yang tidak terlalu besar. Karpetnya berwarna cokelat muda dengan beberapa bantal di atasnya, tampak nyaman untuk berada di situ. Dayu berdiri menatap kagum pada barisan buku lalu dia berjongkok mengambil beberapa buku yang tersusun rapi di atas karpet.
"Buku yang sudah kubaca tapi belum sempat aku letakkan di rak." Adrian menjelaskan pada Dayu, yang termangu menatap setiap judul buku.
"Aku juga suka makan walaupun tidak pandai memasak."
__ADS_1
"Mengapa ingin membuka restoran? Karena kamu suka makan?" Dayu bertanya pelan sambil membuka buku yang berada di pangkuannya. Kali ini dia terlihat nyaman dan santai. Andaikan dari kemarin aku mengajaknya ke sini, pasti bicara dengannya akan lebih menyenangkan.
Adrian tertawa kecil mendengar pertanyaan Dayu, "Ya, begitu lah!"
"Kamu bisa memainkan piano atau gitar?" tanya Adrian.
"Tidak! Genta, adikku bisa memainkan gitar. Aku tidak tahu dia belajar dari mana. Mungkin dari temannya atau tetangga di samping rumah. Kebetulan tetangga di samping rumahku punya band dan sering manggung di kafe."
Dayu bersemangat menceritakan tetangganya, sang penyanyi kafe, membuat Adrian dilanda cemburu. Ingin rasanya Adrian menghentikan cerita Dayu. "Genta ingin punya gitar, tapi aku belum bisa membelikan untuk Genta. Gitar dengan kualitas bagus lumayan mahal." Dayu menunduk.
"Apalagi yang harus aku tahu tentang kamu, yang tidak ada dalam berita gosip. Tentang kamu yang mungkin saja ditanyakan orang lain. Kamu tidak perlu menceritakan semuanya kalau merasa hal itu bersifat sangat pribadi dan menurutmu sesuatu yang harus kamu rahasiakan." Dayu cepat mengubah keadaan dan topik pembicaraan.
"Rahasia? Aku rasa tidak ada rahasia." Adrian mencoba mengingat-ingat rahasia apa yang dia punya.
"Aku bukan perempuan yang sangat ingin tahu tentang kamu. Hanya saja ini tentang pernikahan kontrak. Kita harus memiliki cerita yang sama ketika ditanya. Ah, kamu bisa menuliskan semua hal yang kamu suka, yang kamu tidak suka, hobimu, apa pun itu. Nanti aku akan membaca dan mengingatnya."
Dayu berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu dengan berat hati. Sesungguhnya Dayu ingin berbaring, membaca buku sambil mendengarkan Adrian memainkan alat musiknya. Imajinasinya sangat tak pantas. Terlalu menuntut lebih.
"Kamu mau pulang?" Bagi Adrian waktu kedatangan Dayu terlalu sedikit.
"Tidak, masih ada yang harus aku kerjakan. Jangan lupa untuk menuliskannya!"
"Bagaimana dengan kamu? Hobimu, kesukaanmu?" Mendengar pertanyaan Adrian, Dayu menghentikan langkahnya. Dia melihat melewati bahunya, "Orang seperti aku tidak punya banyak pilihan untuk suka atau tidak suka pada sesuatu. Untuk menikmati sesuatu karena hobi. Aku tidak punya waktu untuk itu. Ingat saja satu hal, aku suka buku dan uang."
__ADS_1
Dayu menghadapkan wajahnya lurus ke depan, berjalan keluar dengan langkah tegak. Dia tak ingin menoleh. Laki-laki itu tidak boleh melihat air matanya luruh.
Kesenangan? Apa itu kesenangan? Sudah lama dia tidak bisa bercumbu dengan kesenangan.