Ada Aku

Ada Aku
Lintah


__ADS_3

"Bagaimana tanggapan Ibu?"


Tiba-tiba Adrian tersadar, mengapa dia menyebut dengan Ibu bukan Ibumu. Kesannya hubungan mereka telah dekat. Adrian memikirkan apa yang akan dikatakan Dayu tentang ini.


"Ibu?...biasa saja."


Dayu tidak mau mengatakan betapa mata Ibu berbinar mendengar Dayu punya pacar. Tak perlu Adrian tahu kalau Ibu sangat ingin bertemu dirinya apalagi ingin memasakkan makanan kesukaan Adrian. Laki-laki itu hanya jadi suami kontraknya yang menurut Dayu tidak pantas menerima kasih sayang dari Ibu.


Andai Ibu tahu kalau menikah tidak melulu tentang cinta. Terkadang cinta itu tak penting.


"Oh!"


Adrian kecewa. Perempuan ini sungguh pintar membuat hatinya terluka. Adrian segera menutup pembicaraan. Dia malas berbicara dengan Dayu.


"Dasar perempuan menyebalkan! Apa terlalu sulit untuknya berbicara sedikit manis?" Adrian memaki sambil menatap ponselnya tajam.


***


Sekejap Dayu memejamkan mata, cuaca hari ini begitu sejuk. Sedari tadi matanya sudah menggelayut. Dia duduk terkantuk-kantuk di sudut ruangan.


Ketika matanya terpejam, Bima datang menghampiri. Laki-laki itu duduk di samping Dayu, matanya tak lepas melihat Dayu yang sedang tertidur. Di telusurinya wajah gadis itu dengan tatapan lembut. Bima tak pernah bosan memandangi Dayu bahkan ketika gadis itu bukan pada tampilan terbaiknya. Bagi Bima, Dayu selalu terlihat cantik.


Lima menit, sepuluh menit tak terasa lima belas menit Bima memuaskan matanya.


Dayu terbangun, dia menoleh ke samping, matanya mendapati Bima yang sedang melihat dirinya.


"Ada apa?" tanya Dayu bingung. Dia tidak siap ditatap seperti itu.


"Aku penasaran tentang kamu," jawab Bima pelan.

__ADS_1


Dayu membuang pandangan matanya, merasa jengah. Dia berharap Bima segera pergi dari sisinya.


Seolah bisa membaca suara hati Dayu, Bima beranjak dan melangkah pergi tanpa bicara lagi.


***


Dari kejauhan Adrian melihat Dayu dan Bima. Dia benci melihat cara Bima menatap Dayu. Adrian tahu kalau Bima suka pada Dayu. Dia laki-laki yang sangat tahu bagaimana menilai seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan. Dia berpengalaman dalam hal ini.


Sebenarnya dia datang ke lokasi syuting untuk bertemu Dayu. Sehari tak berjumpa Dayu terasa berbeda. Adrian kehilangan. Padahal Dayu tak pernah bersikap manis padanya, bicaranya juga ketus. Terkadang Adrian merasa dia sudah sakit jiwa dengan jatuh cinta pada Dayu. Ada yang salah dengan otak dan hatinya. Bisa-bisanya dia suka pada perempuan macam Dayu.


Beberapa orang menyapa Adrian. Berbasa-basi menanyakan kabarnya. Bahkan ada seorang perempuan pemain figuran yang langsung mendekatinya dan menempel seperti lintah. Ingin rasanya Adrian mengusir perempuan itu. Dia tak ingin Dayu melihat.


Dayu terkejut melihat kehadiran Adrian di lokasi syuting. "Mau apa laki-laki itu ke sini," gumamnya. Dia menjadi muak ketika melihat seorang perempuan menempel dan bermanja-manja dengan Adrian.


"Macam tidak ada tempat lain untuk menyalurkan hasrat Don Juanmu!" celetuknya marah pada Adrian yang datang mendekat.


"Hah!" Adrian tak mengerti maksud Dayu.


Dayu sedikit menaikkan suaranya. Dia merasa bebas bicara dengan Adrian di luar ruangan. Tak ada orang di sekitar mereka. Dayu tak tahu bagaimana caranya Adrian bisa melepaskan diri dari si lintah.


"Tunggu! Ada apa dengan hasrat Don Juanku yang tadi kau sebut? Aku nggak ngerti!"


"Oh itu! Perempuan lintah yang dari tadi menempel padamu. Apalagi kalau bukan kamu yang membuatnya begitu!"


"Hei! Aku tidak menggodanya! Aku juga tidak merayunya! Aku tidak berbuat apa-apa. Salah sendiri dia menempel begitu! Mungkin karena pesonaku makanya dia langsung lengket." Adrian tersenyum menggoda.


"Terserah kau saja!" Dayu mengibaskan tangannya, seolah tak mau ambil pusing dengan kata-kata Adrian. "Sekarang jawab pertanyaanku! Untuk apa datang ke sini?"


Adrian sudah menyiapkan jawaban, dia tidak akan bilang kalau sebenarnya dia rindu. Adrian gengsi untuk mengatakannya. Namun, dia mau sedikit mengganggu Dayu. Matanya menatap Dayu jenaka, "Apa kamu cemburu aku dekat dengan si Lintah?"

__ADS_1


Dayu melengos, "Kamu terlalu percaya diri kalau aku cemburu padamu! Memangnya aku suka padamu!" Hampir saja Dayu berteriak, dia merasa jengkel.


"Mana aku tahu, kan kamu yang punya perasaan!" Adrian tertawa.


Dayu melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan pernah bermimpi aku akan jatuh cinta padamu. Sekarang cepat katakan, untuk apa datang ke sini!"


"Ini, daftar yang kamu minta! Besok kita tidak bisa ketemu, aku akan pergi ke luar kota." Adrian memberikan selembar kertas pada Dayu yang langsung disambut Dayu. Perempuan itu membaca daftar yang ditulis Adrian.


"Oke, akan ku ingat!"


Hanya itu kalimat yang diucapkan Dayu. Padahal Adrian berharap Dayu akan bertanya ke mana dia pergi. Harapannya pupus.


"Kapan kamu bisa bertemu keluargaku?" tanya Adrian sebelum pulang meninggalkan lokasi syuting.


"Terserah kamu saja!"


"Baiklah, akan ku kabari kalau sudah menemukan waktu yang tepat."


"Oh ya, aku tidak terlalu suka kamu dekat dengan Bima."


"Apa urusannya denganmu? Dia rekan kerjaku!"


"Tapi sebentar lagi kamu akan jadi istriku!"


"Adrian, aku tidak suka kamu ikut campur urusanku, apalagi menyangkut pekerjaan. Kalau kamu terus begini, aku bisa membatalkan kesepakatan kita! Lagi pula aku tidak seperti kamu yang tebar pesona ke sana ke mari hingga menarik minat lintah-lintah menempel padamu!"


Dayu sangat marah hingga dia bicara sepanjang itu tanpa jeda. Bagaikan moncong senapan yang menyemburkan berpuluh-puluh peluru, Dayu menyemburkan kalimat kemarahannya.


Belum apa-apa dia sudah mengatur hidupku dan membuat sakit kepala!

__ADS_1


"


__ADS_2