
Dayu segera pergi meninggalkan Adrian setelah menyemburkan semua kemarahannya. Dia berjalan sambil mendumal. Hatinya sangat kesal.
Ditinggalkan Dayu begitu saja membuat Adrian meradang, harga dirinya terluka. Jemarinya terkepal menahan marah, rahangnya mengeras dan menatap tajam kepergian Dayu. Adrian melangkah dan tak sengaja bertemu dengan si Lintah. Begitu melihat Adrian, Lintah langsung menempel dan memberikan seulas senyum manis pada Adrian.
"Aku mencari mu," katanya.
Biasanya Adrian akan menyambut dengan hangat kalimat seperti ini. Dia akan mulai menggoda dengan gaya seorang gentleman. Tetapi kali ini dia tidak berminat, "Aku akan pulang. Tidak perlu mencari ku." Adrian menepis tangan perempuan itu.
"Mengapa terburu-buru? Sebentar lagi aku akan selesai, kita bisa pulang bersama-sama," rayu si Lintah dengan gerakan manja. Tanpa sengaja ujung rambutnya yang panjang membelai lengan Adrian ketika perempuan cantik itu bergelayut di pundak Adrian.
Hm, Adrian menduga si Lintah akan melakukan apa saja untuk menyenangkan Adrian. Bahkan kalau perlu dia akan menyerahkan tubuhnya. Siapa yang tak kenal dirinya? Anak orang penting di dunia hiburan. Adrian memandang jijik. "Maaf, aku tidak berminat," tolaknya.
"Kenapa?" Cecar perempuan itu. Beberapa mata mulai memandang ke arah mereka berdua.
"Aku sudah punya pacar."
Si Lintah tertawa mengejek, "Mengapa mendadak dirimu menjadi laki-laki setia?"
Perempuan itu tahu bagaimana Adrian memperlakukan kekasih-kekasihnya. Laki-laki ini bukanlah tipe pria setia yang menjaga hubungan dengan satu perempuan. Teman-temannya pernah menjadi kekasih Adrian.
Adrian mendorong perempuan cantik itu dengan gerakan sedikit kasar.
"Aku tidak tertarik dengan kamu!" Kemudian dia berlalu pergi. Ujung matanya menangkap sosok Dayu diantara kerumunan orang-orang yang melihat adegan dia dan si Lintah. Dayu menatapnya dengan muak.
__ADS_1
***
Di dalam mobil Adrian menarik napas panjang dan mengembuskan dengan kasar. Jemarinya mencengkeram setir dengan kuat hingga urat-urat yang berada di lengannya terlihat jelas. Ternyata keputusannya datang ke lokasi syuting untuk bertemu Dayu harus berakhir seperti ini. Semua karena Bima, laki-laki sialan itu yang sudah membuat dia cemburu.
Tadi dia berharap akan mendapatkan senyum dari Dayu ketika bertemu dirinya. Adrian pikir pertemuan mereka beberapa kali dan percakapan mereka ditelepon bisa membuat Dayu sedikit melunak dan mulai memikirkannya. Adrian pikir kedekatan mereka kemarin yang terasa intim bisa membuat Dayu luluh akan pesonanya. Dayu tetaplah Dayu, dia berbeda dengan perempuan lain yang berada di sekelilingnya. Dayu berbeda dengan si Lintah.
Mengingat nama itu membuat Adrian tertawa. Dayu sungguh kreatif menciptakan nama lintah untuk perempuan itu.
Sebelum pergi, Adrian menoleh ke arah pintu masuk. Dari jendela mobil Adrian melihat Dayu berdiri bersisian dengan Bima. Kembali Adrian merasa geram. Dia harus segera pergi daripada harus melihat adegan demi adegan Dayu dengan Bima.
***
Ada perasaan lega melihat mobil Adrian melaju meninggalkan lokasi syuting. Laki-laki pembuat onar itu sudah pergi, batinnya.
"Ya." Tak ada yang perlu ditutupi, toh sebentar lagi mereka akan menikah meskipun pernikahan itu palsu.
"Aku kira kamu berbeda..." Bima berkata dengan nada pelan, ekspresi wajahnya seperti mengejek.
"Aku cinta padanya," sahut Dayu dengan meyakinkan. Seandainya ini sebuah adegan film, mungkin dia layak diganjar dengan piala citra karena aktingnya terlihat bagus dan alami.
"Aku tidak melihat seperti itu!"
Bima terbayang adegan pertengkaran Dayu dan Adrian. Dari ekspresi wajah Dayu terlihat kemarahan dan rasa muak pada Adrian. Bima bisa membacanya walau dia melihat semua dari jauh.
__ADS_1
"Berhentilah bersikap nyinyir dan sok tau! Apakah sepasang kekasih tidak boleh bertengkar? Hei, berapa umurmu hingga tak mengerti hal begini!"
Bima menjadi malu, rasa sukanya pada Dayu membuat dia bersikap seperti ini.
"Jangan bilang padaku kalau kamu belum pernah pacaran!" Dayu menepuk pundak Bima sambil tersenyum sinis. Uh, aktingnya sungguh meyakinkan. Kebohongan apalagi yang harus dia lakukan demi sebuah popularitas. Dayu merasa malu pada diri sendiri, tapi apa boleh buat dia butuh uang.
Benar orang bilang, uang bisa sangat membutakan seseorang.
Dayu pergi menjauh, dia malu pada Bima. Merasa bersalah sudah membohongi Bima meskipun laki-laki itu bukan seorang yang penting dalam hidupnya.
***
Adrian membalik badan, entah sudah berapa kali dia membolak-balik badannya. Pikirannya kusut, hatinya juga rusuh. Kejadian di lokasi syuting terus bertahta di dalam kepalanya. Dari mulai cara Bima melihat Dayu, pertengkarannya dengan Dayu hingga ketika dia melihat Dayu berdekatan dengan Bima. Sampai berapa lama Dayu akan syuting sinetron dengan Bima?
Ah, tak bisa ditebak! Setahu Adrian sinetron mereka ratingnya bagus. Tidak mungkin secepat itu selesai.
Setelah itu Adrian dipusingkan mencari cara berbaikan dengan Dayu. Kalau perempuan lain biasanya Adrian tinggal memberikan kado kecil yang berharga, atau buket bunga yang cantik. Sepertinya Dayu tidak semudah itu meskipun Dayu bilang dia suka uang. Adrian tahu Dayu bukanlah perempuan mata duitan. Dalam hal ini penilaiannya sangat tepat, Adrian sangat yakin mengenai hal itu.
"Baru kali ini aku sakit kepala karena seorang perempuan!"
Adrian menarik rambutnya dengan kedua telapak tangan. Dia tidak suka menjadi seperti ini. Adrian tidak pernah suka harus memohon pada seorang perempuan. Tapi ini Dayu, perempuan yang membuatnya jatuh cinta.
Adrian menutup matanya kuat ingin mengusir wajah ayu perempuan berambut panjang yang sudah memikat hatinya.
__ADS_1
"Mengapa harus kamu?" Nadanya sangat memelas, ada rasa putus asa. "Dayu, mengapa aku harus jatuh cinta padamu?"