Ada Aku

Ada Aku
Ceritakan Padaku


__ADS_3

Tuk...tuk...tuk...!


Demi menghilangkan bosan menunggu Adrian, Dayu mengetuk meja dengan ritme teratur sehingga menciptakan bunyi yang teratur. "Di mana sih Adrian? Apa dia nggak tahu waktuku sangat terbatas?" Dayu membuang napas. Dia sebal pada Adrian.


"Sudah lama menunggu?" Adrian tersenyum senang melihat wajah cemberut Dayu ketika menyambutnya. Sebenarnya Adrian sudah datang sejak tadi. Dia berdiri di luar mengagumi Dayu dari kejauhan. Adrian tahu beberapa pasang mata melihat ke arah Dayu. Mungkin mereka juga sama seperti Adrian. Tidak ingin Dayu menjadi marah, Adrian segera masuk ke dalam kafe.


"Apa hal penting yang mau kamu sampaikan?"


"Duh, kalem sedikitlah...tanya kabar dulu, atau mau pesan apa?"


"Waktuku nggak banyak Adrian!"


"Oke...oke...aku ingin kita bertemu orang tuaku. Aku tidak mau proses ini terlalu lama." Dari tadi malam Adrian sudah memikirkan tentang ini. Sesuatu yang berat untuk Adrian mengatakannya. Namun ini tidak mungkin ditunda lagi.


Dayu terkejut mendengar keinginan Adrian. Mulutnya celangap. Dayu tidak yakin sudah siap untuk bertemu mereka.


"Kamu serius?"


"Hahaha, kamu itu aneh! Kenapa masih menananyakan soal tingkat keseriusanku? Kamu takut?"


"Nggak! Kapan kita akan bertemu orangtuamu?"


"Kapan kamu punya waktu luang? Sabtu ini bisa?"


Dayu berpikir sesaat, mengingat jadwal kerjanya. "Oke, Sabtu sore!"


Adrian menunduk, menahan senyumnya. Dia jadi jatuh iba melihat Dayu yang berat mengambil keputusan ini.


"Sudah ya, aku akan ke lokasi syuting. Kita ketemu hari Sabtu."


Adrian mengulurkan tangannya, bermaksud menghentikan Dayu. Dia belum ingin berpisah dengan Dayu tetapi gadis itu seolah tak melihat uluran tangannya pun tak membaca maksud hati Adrian. Dayu berjalan meninggalkan Adrian yang hanya bisa pasrah ditinggal Dayu.


***

__ADS_1


Hmm, Sabtu sore?


Mengingat itu membuat Dayu tidak tenang. Dia meremas ujung bajunya, menggigit bibirnya. Sikapnya gelisah.


Sudah seperti diajak ke medan perang saja, katanya dalam hati.


Selama ini Dayu belum pernah punya hubungan dengan lelaki mana pun. Dia tidak punya gambaran sama sekali bagaimana berhadapan dengan orang tua kekasihnya. Apa yang harus dibicarakan, topik apa yang menarik, apa yang harus dilakukan. Dayu buta soal itu.


Dia juga tidak berharap Adrian nanti membantunya, melihat senyum jahil Adrian saja Dayu yakin laki-laki itu pasti bahagia melihat Dayu yang kebingungan.


"Kenapa? Kok melamun?" Lyra bertanya sambil menjawil lengan Dayu.


"Eh, kalau ketemu sama orang tua calon suami yang diomongin biasanya apa?"


"Calon suami? Sejak kapan kamu punya calon suami!"


"Duh, nggak penting banget deh! Jawab dulu pertanyaanku!" Dayu cepat mencubit lengan Lyra. Wajahnya menjadi kesal. Dayu menyesal sudah bertanya pada Lyra. Pekikan Lyra bisa membuat orang di lokasi syuting jadi tahu kalau dia punya calon suami. Dayu malas menjawab pertanyaan dari orang-orang.


"Kamu bingung?" Sekali lagi Dayu mengangguk.


"Lyra, aku nggak pernah punya pacar." Dayu menghempaskan pungungnya ke sandaran kursi, wajahnya terlihat nelangsa. Untuk seorang perempuan secantik Dayu, tidak pernah punya pacar adalah hal yang tak mungkin.


"Serius? Nggak pernah pacaran?"


"Nggak usah gitu juga kali!" Dayu melengos, dia sebal Lyra mengejek dirinya dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.


"Nggak usah merajuk dong!" Lyra tersenyum jahil, "Sini, aku kasih tahu!"


Dayu merapatkan tubuhnya pada Lyra, memasang telinganya untuk mendengarkan Lyra dengan seksama.


Penuh semangat Lyra membagikan ilmunya pada Dayu. Dari mulai pertama kali bertemu hingga basa-basi yang harus diucapkan saat berbincang biar terasa akrab.


"Nggak jauh-jauh dari dialog dalam sinetron, Yu! Dengar deh kalau kalau pas ada adegan itu! Atau baca nih, naskahnya!" Lyra menunjuk naskah yang berada di tangan Dayu.

__ADS_1


"Memang seperti itu, ya?"


"Mirip! Sebenarnya semua tergantung orang tua kekasihmu, situasi dan kondisinya juga. Cuma yang aku kasih tahu itu ilmu dasarnya." Lyra mengangguk-angguk meyakinkan Dayu.


"Makasih, ya." Dayu belum yakin dengan ilmu yang diberikan Lyra. Dia juga tidak yakin kalau bisa bersikap tenang saat nanti bertemu orang tua Adrian. Jangan-jangan dia malah lupa dengan semua yang dikatakan Lyra.


"Siapa sih calonmu? Artis juga? Aku kenal?" Lyra berbisik dengan raut wajah yang sangat penasaran. Dayu sangat tertutup, makanya Lyra ingin tahu laki-laki mana yang bisa memikat gadis pendiam ini.


"Bima?" tebaknya.


Dayu menggeleng lemah, "Nanti kamu bakalan tahu kok!"


"Eh, harusnya kalau udah dikenalin ke orang tua calonmu itu harus semangat, bukan lemes kayak gini. Berarti dia serius sama kamu. Ya 'kan?"


"Ah, aku nggak tahu lah!" Dayu berdiri dari tempat duduknya berjalan meninggalkan Lyra.


"Aku ambil minum dulu, mendadak aku merasa haus." Lyra tertawa melihat tampang Dayu.


***


"Dia sakit?" Bima bertanya pada Lyra. Bima datang mendekat begitu Dayu pergi. Sedari tadi laki-laki itu sudah memperhatikan Dayu dan Lyra yang berbincang dengan serius. Namun, dia tidak berani mendekat, khawatir kalau itu pembicaraan rahasia. Meskipun Bima ingin tahu karena setelah perbincangan itu Dayu terlihat kuyu.


"Dih, segitu khawatirnya!" Lyra tersenyum jahil, "Kamu jadian sama Dayu? Sejak kapan?"


"Jadian? Pacaran maksudmu?" Bima bertanya bingung, dia tidak mengerti maksud Lyra.


"Ya iya lah! Siapa lagi kalau bukan kamu yang bikin Dayu bingung? Nggak perlu main rahasia deh sama aku!"


"Dia cerita tentang pacarnya?" tanya Bima lagi, dia semakin bingung dibuat Lyra.


"Jadi bukan kamu?" Lyra menutup mulutnya, merasa bersalah telah mengumbar sedikit rahasia Dayu.


"Ceritakan padaku!"

__ADS_1


__ADS_2