
"Oke, aku setuju dengan isi kontrak ini!"
Dayu meletakkan kertas yang berisi kontrak pernikahan mereka di atas meja. Dalam kontrak tertulis mereka terikat pernikahan selama dua tahun. Setelah itu mereka akan berpisah tanpa ada keributan dan tuntutan macam-macam. Mereka akan melakukan perjanjian pra nikah.
"Kali ini kita harus mengarang cerita bagaimana awal kita bertemu dan akhirnya memutuskan menikah."
Dayu mengangguk setuju mendengar kata-kata Adrian. Tidak mungkin rasanya mereka mengatakan kalau mendadak menikah karena ada kepentingan soal uang.
"Adrian, sebelumnya ada yang ingin aku katakan padamu. Aku hanya orang biasa, dari keluarga miskin. Apakah itu akan menjadi masalah untuk keluargamu?"
"Kalau itu menjadi masalah, apa kamu ingin mundur?"
"Akan sangat menyakitkan mendengar keluargamu mengolok-olok kemiskinanku. Tapi aku akan berusaha bertahan. Yang aku takutkan keluargamu mengolok-olok keluargaku. Mereka adalah sesuatu yang berharga untukku." Suara Dayu terdengar pilu,
"Hanya Ibu dan Genta yang aku punya," katanya lagi.
Melihat Dayu yang rapuh, ingin rasanya Adrian memeluk perempuan itu.
"Tidak akan ada yang menghina kamu."
Adrian berusaha meyakinkan Dayu. Dia menatap Dayu lembut.
"Akan aku ceritakan semua tentang keluargaku."
Dayu mulai menceritakan tentang Ayah, Ibu dan Genta. Dia ingin Adrian mengingat dengan baik semua yang diceritakan agar tidak ada kesalahan saat nanti harus menjawab semua pertanyaan keluarga.
__ADS_1
"Aku putus kuliah dan sekarang beginilah hidupku, hanya sebagai seorang artis numpang lewat."
Dayu menutup ceritanya. Kalimat yang dia ucapkan terasa getir. Wajahnya mengeras. Dayu seperti marah pada dunia karena sudah merampas cita-citanya.
Adrian diam mendengarkan Dayu bicara. Dia merasa kagum dengan perempuan yang duduk di hadapannya ini. Betapa hidup sudah mengasah kekuatan perempuan ini. Bila melihat tubuhnya yang indah, wajahnya yang cantik tak akan ada yang percaya bahwa Dayu punya kekuatan dan sudah melewati banyak kesulitan. Adrian membandingkan dirinya yang seperti anak manja, merengek minta diberi modal untuk membuka restoran. Adrian merasa malu.
"Kali ini aku menyerah dan melakukan hal ini, menikah kontrak dengan kamu."
Siang ini terasa sangat emosional, Adrian lebih banyak diam dan membiarkan Dayu terus bicara. Dia suka mendengar cerita Dayu. Adrian suka mendengar Dayu menertawakan hidupnya dan menghibur dirinya dengan itu.
"Selama ini, aku menyimpannya sendiri." Dayu baru saja menceritakan kisahnya ketika menjadi seorang pelayan restoran dan dia pulang dengan rasa takut yang besar karena ada seorang pelanggan yang suka padanya dan terus mengikutinya.
"Aku bersyukur dengan tubuh kurusku bisa berlari dengan cepat. Aku bersyukur dengan tubuh gendutnya sehingga dia ngos-ngosan mengejar ku."
Dayu tersenyum mengingat malam itu. Senyumnya begitu getir.
"Terkadang, Tuhan bercanda dengan cara yang tidak terduga. Dia ingin aku mengerti bahwa tubuh kurus yang aku miliki ada gunanya. Aku tidak boleh mengeluh karena harus mengurangi jatah makanku. Aku tidak boleh cemburu dengan teman-temanku karena tidak bisa nongkrong sekedar minum kopi dan makan kue-kue yang terlihat enak, seperti mereka, sehingga tubuhku tidak perlu menimbun banyak gula."
"Sepertinya aku harus menyudahi ceritaku. Soal itu jangan pernah kamu ceritakan pada Ibu dan Genta. Itu hanya cerita masa lalu. Aku harus pergi, masih ada yang harus aku kerjakan."
Dayu melihat jam tangannya. Dayu baru menyadari kalau dia sudah terlalu banyak bicara pada Adrian. Mungkin karena sebenarnya dia butuh teman bicara dan mendengarkan semua kisahnya. Hingga kisah yang tidak pernah dia katakan pada Ibu dan Genta.
"Besok kita harus bertemu lagi. Kita harus mengarang cerita pertemuan kita." Adrian mengingatkan.
"Ya, aku akan datang."
Saat Dayu hilang di balik pintu, Adrian merasa ada yang hilang dan semua menjadi kosong.
__ADS_1
"Besok dia akan datang," gumamnya sambil tersenyum.
***
Berada di tengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang mempersiapkan peralatan untuk syuting bukanlah sesuatu yang nyaman buat Dayu. Dia lebih suka malam ini menyendiri. Surat kontrak pernikahan itu masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Hatinya masih belum bisa menerima. Namun, dia harus syuting untuk iklan, tidak ada waktu untuk menyendiri. Dia butuh uang dan badannya harus bekerja untuk memperoleh itu. Walaupun bukan sebagai pemeran utama tetapi honor yang didapat sangat lumayan.
Bima berjalan mendekatinya. "Kita ketemu lagi," sapa Bima.
"Ya, sepertinya dunia hiburan ini sangat sempit hingga aku hanya bertemu kamu." Dayu menjawab sekenanya. Dia sedang tidak ingin diajak ngobrol.
"Bagaimana pestanya? Seru?"
"Hmm, ya...begitulah!"
Bima masih ingin bicara ketika sutradara memanggil untuk mulai syuting. Dayu segera beranjak dari tempat duduknya.
"Saved by the bell!"
Setelah itu Dayu menyadari kesalahannya dan berharap kata-katanya tidak didengar oleh Bima. Dia tidak ingin Bima salah mengerti tetapi dia juga sedang tidak ingin memberikan penjelasan pada Bima kalau saat ini dia tidak ingin diganggu.
Diliriknya Bima sekilas. Sepertinya Bima tidak mendengar kata-kataku.
Dayu mengembuskan napas, merasa lega.
Apa tadi katanya? Saved by the bell? Dia merasa muak bicara denganku? Atau aku tidak menarik di matanya?
Bima sungguh tidak mengerti bagaimana mendekati Dayu. Perempuan ini tak tergapai dan misterius. Bahkan Lyra juga tidak tahu banyak tentang Dayu.
__ADS_1
Sudah lama Bima tertarik pada Dayu, dari awal syuting sinetron. Meskipun mereka hanya bertemu sesekali tetapi Dayu bisa membuatnya jatuh cinta. Ada sesuatu yang di mata perempuan itu yang membuat Bima jatuh cinta.