
"Banyak sekali daftar yang ditulis Adrian!"
Dayu langsung menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Baru malam ini dia punya waktu membaca list yang diberikan Adrian. Kemarin Adrian sudah membuatnya jengkel sehingga untuk mengingat nama laki-laki itu saja dia malas dan sebal.
Di dalam kamar, satu persatu Dayu membaca daftar makanan kesukaan Adrian, hobinya, hingga hal-hal yang tidak dia sukai. Adrian alergi kacang, hobinya bermain musik, membaca buku dan beberapa hobi lain yang dibaca Dayu dengan mata perih karena lelah.
Dayu tersenyum sinis, "Dia kok nggak nulis hobinya main perempuan! Mungkin dia tulis dibagian keahliannya." Dayu membalik halaman berikutnya.
"Apalagi ini? Penulis kesukaannya?"
Dayu menyebut beberapa nama, lalu tertawa karena tak ada satu pun yang dikenalnya. Dia terlalu miskin untuk membeli buku sehingga buku dan penulis yang dia tahu sangat terbatas. Dayu menertawakan hidupnya yang miskin itu.
Matanya beralih pada makanan kesukaan Adrian dan restoran favoritnya. Sekali lagi Dayu tertawa, tak satu pun restoran itu pernah dikunjunginya.
"Makanan apa lagi ini? Kenapa laki-laki ini tidak menyukai hal-hal yang umum saja sih!" gerutunya.
"Sirloin steak, lasagna, iga bakar! Kalau yang begitu kan aku masih tau! Kamu itu bikin susah saja!"
Belum lagi nama restoran yang pernah disinggahi Adrian di luar negeri dan menjadi favorit Adrian, hingga setiap ke sana dia pasti mampir ke restoran itu. Adrian menuliskan keterangan seperti itu dalam daftarnya. "Dia ini mau pamer?" tanyanya jengkel.
Dayu melempar kertas itu dengan marah, lalu mengambil bantal dan menutup wajahnya. Dia lebih baik tidur saja daripada matanya semakin perih membaca list yang diberikan Adrian.
"Harusnya sekalian dia menulis semua daftar dosanya!" Dayu berkata di balik bantal.
***
"Dayu sedang apa ya? Masih syuting atau sedang membaca daftar yang aku berikan?"
__ADS_1
Ingin bertanya langsung pada Dayu, Adrian segan. Dia juga masih sebal pada Dayu. Adrian sengaja membuat daftar sepanjang itu lengkap dengan tambahan keterangan. Dia sengaja mengerjai Dayu biar perempuan itu pusing. Padahal mana ada hal-hal yang disukainya sebanyak itu.
Segala restoran di luar negeri juga ditulisnya. Benar dia pernah makan di situ beberapa kali tapi sesungguhnya itu bukan tempat favoritnya. Adrian tertawa bahagia membayangkan dahi Dayu berkerut, wajahnya yang cemberut atau bibirnya yang indah itu mendumal.
"Salah sendiri jadi perempuan galak!" Adrian kembali menyesap kopinya yang hampir dingin.
Ponselnya berbunyi, dilihat nama temannya menari-nari di layar ponsel.
"Hmm," jawabnya singkat.
"Lagi nggak minat keluar!" Adrian segera menutup ponselnya. Sedari tadi teman-temannya mengajak nongkrong di klub untuk minum-minum. Adrian sedang malas. Dia juga bosan minum, bicara omong kosong dan memeluk perempuan-perempuan yang menggelayut manja di sampingnya. Perempuan dengan baju ketat dengan belahan dadanya yang rendah. Sudah terlalu sering dia berjumpa perempuan-perempuan berpenampilan seksi hingga dia merasa biasa saja. Tidak ada yang bisa membangkitkan hasratnya.
Adrian mengutak-atik ponselnya, tanpa sengaja dia menekan nomor ponsel Dayu. Sudah terlanjur, tak mungkin dimatikan bagai seorang pengecut. Namun, dalam lubuk hatinya Adrian ingin Dayu menjawab teleponnya. Dia akan sangat kecewa kalau Dayu hanya mendiamkan ponselnya berdering begitu saja. Hampir seharian Adrian tidak mendengar suara Dayu. Suara marah Dayu saja sudah cukup untuknya.
***
Dayu meraba-raba dengan telapak tangan, mencari keberadaan ponselnya. "Adrian," bisiknya lirih. "Buat apa sih dia telepon? Udah kemarin ngeselin!"
"Sudah dibaca daftarnya?"
"Sudah!"
"Dibaca baik-baik, jangan sampai lupa!"
"Daftarnya bisa dipendekkin lagi nggak? Bikin susah aja! Apa nih, jenis es krim yang kamu suka! Kekanakan sekali sih!"
"Aku membuatnya sangat detail, supaya tidak ada yang terlewat. Kamu nanti jadi isteriku, harus mengerti semua tentang aku."
__ADS_1
Mendengar Dayu mengomel, Adrian merasa gemas. Kenapa dia terdengar sangat lucu dan menggemaskan? Kalau seandainya dia di dekatku pasti tak bisa menahan untuk menciumnya. Adrian jadi rindu.
"Besok aku ingin bertemu kamu," katanya memotong omelan Dayu.
"Oh, kamu sudah pulang dari luar kota?"
"Ya. Bisakan kita bertemu?"
"Aku besok sangat sibuk. Mungkin lusa."
Apa? Lusa? Itu terlalu lama. Adrian menjadi panik.
"Tidak bisakah kamu meluangkan waktu untukku...sebentar saja."
Mengapa dia jadi mengiba? Adrian mengutuk dirinya. Pantang baginya mengiba pada perempuan seperti laki-laki cengeng. Semua keluar dari mulutnya begitu saja tanpa dia sadari.
"Aku ada syuting, dari rumahmu ke lokasi syuting jaraknya sangat jauh. Waktu akan habis begitu saja." Dayu berusaha menjelaskan dengan sabar. Dia belum mengerti mengapa Adrian sangat ingin bertemu dengan dirinya.
"Kalau ada sesuatu yang penting, tidak bisa kah dibicarakan lewat telepon."
"Aku akan datang ke lokasi syuting. Sebutkan saja jam berapa aku datang!" Adrian berkeras ingin bertemu.
Dayu mengingat pertengkaran mereka kemarin di lokasi syuting dan itu sangat merusak moodnya. Dayu tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
"Kita bertemu di kafe dekat lokasi syuting. Akan aku beritahukan tempat dan jam pertemuan kita," kata Dayu memberi solusi. Dia sedang tidak ingin berbantah dengan Adrian. Dayu juga penasaran mengapa Adrian seolah memaksa bertemu dirinya.
Awas saja kalau ternyata itu bukan hal yang penting!, ancamnya dalam hati.
__ADS_1
***
Adrian tertawa bahagia begitu mengakhiri pembicaraannya dengan Dayu. Biar lah malam ini dia bekerja keras memikirkan alasan yang penting untuk menemui Dayu.