
"Kamu yakin ingin menikah denganku?" tanya Adrian dengan sorot mata yang tajam.
"Ya, dalam hal ini kita sama-sama diuntungkan." jawab Dayu tenang.
"Tanpa cinta dan tanpa harta." Sekali lagi Adrian ingin melihat reaksi Dayu. Jangan dia kira Adrian akan dengan mudah memberikan harta pada Dayu.
"Aku tidak menginginkan cintamu dan hartamu. Aku hanya ingin menjadi artis terkenal lewat kamu." Dayu tidak merasa tersinggung dengan perkataan Adrian.
"Aku ingin ada perjanjian soal harta." Dayu mengangguk menyetujui.
"Pernikahan ini juga pernikahan kontrak." Adrian melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya begitu tajam. Dia yakin Dayu pasti akan mundur.
"Berapa lama?" tanya Dayu
"Dua tahun."
"Aku rasa itu waktu yang cukup untuk menaikkan karirku. Oke!" Dayu tersenyum puas.
Dua tahun cuma sebentar lalu dia bisa melepaskan diri dari si kunyuk ini. Sedari tadi Dayu sudah menahan perasaan tidak sukanya.
"Ada syarat-syarat yang aku ajukan!" ujar Dayu.
"Sebutkan!"
__ADS_1
Adrian ingin tahu dengan syarat yang akan dikatakan Dayu. Kalau ada kaitannya dengan uang maka dia akan membatalkan hal ini. Bukan karena dia pelit. Dia cukup royal dengan kekasih-kekasihnya. Dayu bukanlah kekasihnya dan tidak ada cinta dalam hubungan mereka, ini hanya soal ambisi.
"Satu! Kita tidur dalam kamar yang terpisah. Dua! Tidak boleh ada rasa cinta dalam pernikahan ini. Tiga! Kamu bebas bergaul dengan siapa pun begitu juga aku. Kamu juga bisa dekat dengan kekasihmu. Sesungguhnya aku juga tidak peduli apa pun yang kamu lakukan dengan perempuan-perempuan di luar sana asal kamu tidak membawa mereka pulang ke rumah. Empat! Jangan ikut campur dengan urusanku apabila tidak kuminta." Dayu berkata dengan tegas. Dia harus membuat batas dengan Adrian. Pernikahan mereka semata-mata adalah bisnis. Tidak boleh melibatkan perasaan cinta dalam urusan seperti ini.
Adrian tersenyum sinis, "Kamu yakin sekali aku akan jatuh cinta padamu." Adrian tertawa.
Perempuan ini terlalu percaya diri. Dia memang cantik, tapi setelah merasakan betapa berbahayanya perempuan ini dengan ambisinya. Bagi Adrian, Dayu hanya pantas dijadikan partner kontrak. Tidak lebih dari itu.
"Sebelum suatu saat kamu jatuh cinta padaku, dari sekarang aku sudah mengatakannya. Kalau sepanjang dua tahun pernikahan kita, ternyata kamu tidak jatuh cinta bukankah itu lebih baik. Setelah dua tahun kita bisa berpisah tanpa harus ada drama," ujar Dayu membalas perkataan Adrian.
"Besok kamu datang ke apartemenku. Kita tanda tangani surat kontrak pernikahan beserta syarat-syaratnya. Kita juga harus saling mengenal..."
"Apa maksudmu dengan saling mengenal?" Potong Dayu cepat. Dia mengernyitkan dahinya.
"Hai Cantik! Tidak mungkin 'kan kita datang menghadap orang tuaku dan langsung mengatakan ingin menikah tanpa menyebutkan alasannya! Apa kamu mau bilang kalau pernikahan ini adalah palsu!" Adrian sedikit menaikkan nada suaranya.
Ada sedikit rasa gentar di hati Dayu. Dia belum pernah berdua-duaan dengan laki-laki di suatu tempat tertutup. Apalagi Adrian terkenal sebagai seorang Cassanova.
"Hahahaha....kamu takut?" Adrian mengejek Dayu. "Dua tahun kita akan hidup bersama dalam satu rumah. Kalau kamu ingin mundur lebih baik sekarang!" Adrian tersenyum mengejek. Dayu benci melihat senyum itu. Digenggamnya jemarinya erat. Dia tidak akan mundur.
"Baik, besok aku akan menemui kamu! Kirimkan alamatmu!" Rasa takut yang tadi terlihat di wajahnya menjadi hilang.
"Wah, ternyata ambisimu mengalahkan rasa takut."
__ADS_1
Dayu bangkit dari duduknya,"Sampai ketemu besok!" Tangannya terulur untuk menyalami Adrian.
***
Dayu membuka jendela kamarnya. Dia ingin merasakan angin malam masuk ke dalam kamar. Hatinya rusuh. Dia tidak tenang. Peristiwa tadi siang bermain-main di kepalanya. Malam ini Dayu mempertanyakan apa yang sudah dia perbuat. Apakah langkahnya sudah benar? Atau dia mundur saja.
Pikirannya berkecamuk. Dia ingin berbagi cerita soal ini tetapi itu tidak mungkin dilakukan. Dayu tidak ingin cerita soal kawin kontrak mereka bocor.
Biar bagaimanapun dia harus menjaga nama baik Adrian dan keluarganya.
Sebenci-bencinya Dayu pada Adrian, apalagi kalau mengingat seringai dan tertawa mengejek Adrian, ingin rasanya Dayu mencakar laki-laki itu. Namun, Dayu tidak akan pernah tega kalau Adrian dan keluarganya dijadikan bulan-bulanan media dan mereka akan dilumat habis kalau perlu sampai tak bersisa. Dayu tidak sekejam itu.
Bahkan Dayu sudah memikirkan perpisahan yang manis dan tidak merugikan nama baik keluarga Adrian.
Malam ini Dayu berpikir bagaimana mengatakannya pada Ibu dan Genta. Tidak pernah sekali pun Dayu membicarakan tentang seorang pria pada Ibu. Membawa pulang dan mengenalkan teman pria sebagai pacar pun belum pernah dilakukan Dayu. Apa yang harus dia katakan pada Ibu. Kalau Ibu tahu yang sebenarnya pasti tidak akan mengizinkan Dayu melakukan perkawinan ini.
"Menikahlah dengan laki-laki yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu. Hatimu akan terasa tentram." Itu yang pernah dikatakan Ibu padanya.
Bunyi suara ponsel mengagetkan Dayu. Nama Adrian tertera di layar ponselnya, bergerak menari-nari. Ada perasaan bimbang untuk menerima telepon dari Adrian. "Mau apa sih dia telepon malam-malam!" gerutu Dayu.
"Halo!" Suara Dayu terdengar datar.
"Halo! Maaf mengganggu!"
__ADS_1
"Sangat menggangu! Ada apa?" tanya Dayu judes.
"Dayu, kamu harus mulai terbiasa menerima telepon dariku. Itu bisa dipakai sebagai alasan kepada orang tuamu kalau kamu sudah punya pacar." Adrian tertawa geli. Sedangkan Dayu membayangkan ekspresi Adrian saat tertawa. Dayu mengepalkan jari-jarinya.