Ada Aku

Ada Aku
Aku Bilang Tentang Kamu


__ADS_3

Pada ketukan ketiga, sang pemilik rumah baru membuka pintu. Dayu hampir merasa putus asa berdiri di depan pintu. Dayu ingin bertemu pemilik rumah kontrakan yang mereka tempati. Dia ingin bernegosiasi untuk memundurkan tanggal pembayaran kontrak rumah. Ada rasa malu di hati Dayu. Setiap tahun dia selalu melakukan hal yang sama.


Dayu pasti menepati janjinya, sehingga Ibu Nur tetap memperbolehkan mereka tinggal di rumah itu. 


Harusnya dengan melihat wajahnya saja, Ibu Nur sudah tahu apa yang akan dikatakan Dayu. 


"Maafkan saya tidak pernah bisa langsung melunasi uang kontrak rumah. Selalu meminta tempo pembayaran." Dayu menunduk.


"Tidak apa-apa. Saya sangat mengerti." Ibu Nur membelai lembut tangan Dayu yang berada di atas meja.


"Bulan depan saya berjanji akan membayar kekurangannya. Sekarang saya berikan segini dulu ya Bu?"


Dayu menyodorkan amplop cokelat panjang. Ibu Nur mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ada terbersit perasaan iba melihat Dayu selalu datang memohon padanya untuk mencicil uang pembayaran kontrak rumah. Bu Nur mengerti kesulitan Dayu. Melihat Dayu menunduk, ingin rasanya Bu Nur membelai lembut kepala Dayu. Dia mengingat anak gadisnya yang seumuran dengan Dayu. Anak gadisnya sedang kuliah di luar kota. Tidak pernah merasakan hidup serba kekurangan seperti Dayu. Sedangkan gadis yang kini duduk dihadapannya ini, ditempa hidup yang begitu keras. Dayu menjadi cepat matang dan berpikir dewasa. Bu Nur sangat tahu, Dayu menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin Dayu tidak pernah lagi bisa bermanja-manja seperti anak gadisnya. 


***


Satu masalah telah selesai, meskipun Dayu harus menebalkan muka di depan Bu Nur. Paling tidak saat ini dia bisa bernapas lega. Langkah kakinya terasa ringan, senyumnya begitu lepas.


 


"Ada apa kok senyum-senyum?" Ibu menyambut di ambang pintu.


 


"Tadi Dayu sudah ketemu Bu Nur. Urusan uang kontrak rumah sudah beres, Bu." 


"Syukurlah! Dari kemarin Ibu kepikiran."


"Aku tinggal memikirkan biaya Genta, Bu." 

__ADS_1


Ibu mendesah, menatap Dayu dengan kasihan. Apa yang hendak dikatakan pada Dayu? Tak ada kata penghiburan yang mampu diucapkan. Bisa jadi Dayu sudah terlalu kenyang mendengar kata yang sama selama bertahun-tahun. Ibu memilih diam. 


"Jaga kesehatanmu!" Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan. 


"Bu, aku sudah punya pacar!" Suara Dayu terdengar pelan nyaris seperti bisikan. Dayu pikir, Ibu harus perlahan diberitahu tentang Adrian. Tidak mungkin dia mendadak "menyeret" laki-laki itu kehadapan Ibu dan mengenalkan Adrian sebagai suami. 


"Pacar?" Ibu tersenyum riang. Ibu sempat khawatir Dayu tidak tertarik dengan hubungan cinta.


"Bagaimana aku bisa punya waktu mengenal laki-laki sedangkan mengenal diriku saja aku tak sempat." Ibu ingat Dayu berkata seperti itu ketika menanyakan soal kekasih Dayu. 


"Kapan-kapan akan aku kenalkan Adrian pada Ibu."


"Jangan mendadak! Biar Ibu bisa memasak makanan kesukaannya. Dia suka makan apa?" 


Dayu terdiam, baru beberapa hari lagi dia mendapatkan daftar apa yang jadi kesukaan Adrian. Seharusnya nanti saja dia mengatakannya pada Ibu. Mulutnya ini tercetus begitu cepat tentang laki-laki itu tanpa memikirkan akibatnya.


"Dia suka semua makanan, Bu!" Dayu tidak mau membuat Ibu jadi susah memikirkan urusan perut calon menantunya.


"Aku yakin dia akan jatuh cinta dengan masakan Ibu." Dayu berkata dengan percaya diri. Dia suka melihat ibu tersenyum lebar.


Awas saja kalau dia nggak mau makan masakan Ibu! 


"Aku tidur dulu, Bu!" pamitnya. Dayu harus segera menyingkir dari hadapan Ibu karena sebentar lagi Ibu pasti memberondongnya dengan berbagai pertanyaan tentang Adrian.


***


Di pandanginya kertas berisi keterangan yang perlu diketahui Dayu tentang dirinya. Adrian tersenyum puas. 


Tadi dia bilang suka apa? Adrian mencoba mengingat yang dikatakan Dayu.

__ADS_1


"Buku," gumamnya, "Ah, kalau itu aku sudah tahu. Melihat matanya yang menari-nari saat memandangi koleksi bukuku tak perlu dipertanyakan lagi kalau buku adalah sesuatu yang dia suka." Adrian bicara sendiri. Tangannya dilipat di depan dada, tersenyum senang mengingat binar di mata Dayu.


"Satu lagi, apa katanya? Uang?" Adrian berdecak, "Dasar perempuan ambisius!" 


"Kapan aku harus menyerahkan daftar ini? Besok?" Adrian mengelus permukaan kertas sambil membaca ulang daftar yang dia ketik.


"Atau aku telpon sekarang saja, bertanya kapan dia akan datang?" Adrian menjadi ragu.


"Atau aku menunggu dia mengabari." Dirinya semakin bimbang. Kalau tentang Dayu mengapa begitu sulit untuk mengambil aksi lebih dulu. 


"Dia lagi apa ya?" Adrian menggenggam ponselnya. Tak sengaja menekan nomor Dayu. Adrian diserang rasa panik, takut Dayu menolak teleponnya.


"Halo!" Mendengar suara Dayu membuat Adrian tersenyum.


"Sedang sibuk?" 


"Tidak! Aku sedang berbaring. Ada sesuatu yang penting?" 


"Kapan kamu akan datang mengambil daftar yang kamu minta. Aku sudah selesai mengerjakannya." 


"Dua hari lagi aku datang, besok aku ada syuting hingga malam."


"Di mana?" Adrian terkejut mendengar suaranya menanyakan soal itu. Dia jadi seperti laki-laki yang penasaran. Memalukan!


Dayu menyebutkan sebuah tempat. "Eh, Adrian!" 


"Ya?" Adrian menunggu kalimat menggantung yang diucapkan Dayu. 


"Hmm, bagaimana ya?" Sekali lagi ada jeda. "Aku sudah mengatakan pada Ibu tentang kamu. Aku bilang pada Ibu kalau aku sudah punya pacar dan akan memperkenalkan kamu padanya." 

__ADS_1


__ADS_2