Ada Aku

Ada Aku
Rak Buku


__ADS_3

"Hmm, ada apa?" Kali ini Dayu melembutkan sedikit nada suaranya.


Adrian menahan tawa mendengar suara Dayu yang melembut. Adrian suka menggoda Dayu.


"Besok jam berapa datang ke apartemenku?"


Tidak ada jawaban, terasa canggung. Adrian berpikir jangan-jangan Dayu akan mundur, tetapi melihat tekad di mata perempuan itu tampaknya itu sesuatu yang tak mungkin.


Adrian sedikit panik kalau Dayu mundur. Dia sudah menyusun rencana dan mulai menikmati permainan ini. Dayu perempuan cantik dan menarik. Dia adalah sosok yang sempurna memerankan peran sebagai istri kontrak. Apalagi perempuan itu tidak banyak menuntut.


"Jam berapa kamu ada di apartemen?" Akhirnya Dayu bertanya, setelah keheningan yang berlangsung sekian lama. Adrian tersenyum lebar mendengar suara Dayu.


"Aku ada di apartemen sepanjang hari."


Mendengar jawaban Adrian, dahi Dayu berkerut. Kalau dia berada di apartemen sepanjang hari, buat apa dia bertanya jam berapa aku bisa datang. Mungkin dia harus menyembunyikan perempuan-perempuan teman kencannya kalau aku datang.


Dayu tersenyum sinis mengingat hal itu. Tadi dia sempat mencari tahu tentang Adrian lewat mesin pencarian. Laki-laki yang terkenal berkat orang tua dan perempuan-perempuan teman kencannya yang berderet. Dayu sampai bergidik. Sebentar lagi dia akan masuk dalam daftar itu.


"Aku akan datang jam 11.00. Ada lagi yang mau dibicarakan?"


"Tidak ada, tapi aku..." Belum selesai Adrian bicara, Dayu sudah mematikan telepon. Adrian terkejut lalu menyumpahi Dayu.


***


Ragu-ragu Dayu menekan tombol. Bibirnya komat-kamit merapal doa.


Adrian yang melihat dari layar kecil tersenyum geli. Dia segera membuka pintu apartemen sebelum gadis itu berubah pikiran.

__ADS_1


"Masuklah!" Adrian melongok dari balik pintu dan meminta Dayu untuk masuk. Sekilas Adrian melihat jemari Dayu yang terkepal.


Begitu Dayu masuk ke dalam, Adrian langsung menggoda Dayu. "Sebegitu menakutkan aku di matamu? Aku tidak akan macam-macam dengan kamu...tenang saja." Mendadak Adrian merapatkan tubuhnya pada Dayu dan berbisik di telinga Dayu, "kecuali kamu yang meminta. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu."


Dayu menarik tubuhnya menjauh dari Adrian. Matanya menatap geram pada laki-laki itu. Dia terkejut dan tidak siap dengan sikap Adrian kemudian dia merasa marah. Laki-laki ini sangat kurang ajar.


"Aku tidak suka kamu berdiri terlalu dekat denganku!"


"Oke, aku akan menjauh!" Adrian tertawa kecil. Melihat wajah Dayu yang menjadi marah.


Dayu berdiri melihat ke sekeliling ruangan apartemen yang dinominasi warna cokelat dengan berbagai gradasi warna. Apartemen Adrian rapi dan wangi. Aroma kayu memenuhi ruangan. Mata Dayu terpaku pada rak buku yang berada di sudut. Rak dibuat sangat artistik. Dayu merasa pesimis Adrian membaca buku-buku itu. Dayu yakin itu hanya sekadar pajangan.


Adrian mengikuti arah pandangan Dayu. "Kamu suka baca?" tanya Adrian.


"Ya."


Adrian berdehem, "Ambil saja kalau kamu ingin membacanya. Aku sudah berkali-kali membaca buku itu." Adrian melihat binar di mata Dayu.


"Kamu punya waktu seharian membaca di sini."


Dayu menoleh lalu memundurkan tubuhnya.


"Lagi pula sebentar lagi kamu akan jadi penghuni rumah ini. Kamu bisa membaca semua sesukanya."


Binar di mata Dayu perlahan menghilang. Sorot matanya berubah, tatapan mata yang tadinya lembut berubah menjadi keras dan tajam.


"Mana kontrak yang akan kutandatangani?" Suara Dayu menjadi tegas.

__ADS_1


Terus terang Adrian lebih suka Dayu dengan tatapan matanya yang lembut dan berbinar-binar.


"Duduklah ! Aku akan mengambil kontraknya di kamar untuk kamu baca."


Dayu memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan rak buku. Sembari menunggu Adrian, matanya dimanjakan oleh deretan judul buku yang begitu menggoda untuk di baca.


Hmm, ternyata rak buku dan buku-buku itu bukan hanya sekadar pajangan. Mendengar Adrian mengatakan kalau dia sudah membacanya berkali-kali, Dayu sedikit kagum dengan laki-laki Don Juan ini. Ternyata laki-laki itu memiliki sedikit hal positif.


Adrian keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti ketika melihat Dayu memandangi rak bukunya. Perempuan itu terlihat seperti seorang anak kecil yang mengagumi mainannya. Matanya tak lepas melihat ke arah Dayu. Adrian memuaskan pandangannya. Dia tersenyum.


Baru kali ini ada perempuan yang datang ke apartemennya duduk memandangi rak buku dengan sangat antusias. Biasanya perempuan-perempuan itu duduk di dekatnya, bermanja-manja dengannya sambil mengagumi tubuhnya.


"Kamu ingin meminjamnya?" Akhirnya Adrian bicara juga, dia sudah puas memandangi Dayu.


"Boleh?" Dayu bertanya senang.


Selama ini Dayu tidak mampu membeli buku yang dia suka. Sesekali dia merayu Genta untuk meminjamkan buku dari perpustakaan sekolah meskipun sekadar meminjam novel. Itu bisa memuaskan rasa hausnya akan buku.


Genta dengan senang hati membawakan Dayu buku-buku dari perpustakaan sekolah.


"Boleh," jawab Adrian. Bagi Adrian itu salah satu cara agar dia bisa bertemu dengan Dayu.


"Hmm, tidak!" Suara Dayu terdengar ragu.


"Mana kontrak yang harus aku baca!" Perempuan itu telah berubah menjadi Dayu yang ambisius dengan sorot matanya yang tak ramah. Adrian lebih suka Dayu yang tadi, yang memandangi rak bukunya seperti seorang anak kecil.


Adrian mengulurkan kertas yang dipegangnya, tubuhnya berubah kaku.

__ADS_1


__ADS_2