
Siang ini Dayu duduk terkantuk-kantuk di dalam bis. Tadi malam syuting selesai baru tengah malam, akibat pemeran utama wanita yang sedang tidak mood melakukan syuting.
Ingin rasanya Dayu memaki-maki pemeran utama itu. Pengambilan gambar harus bolak-balik dilakukan. Padahal sebagai figuran sebenarnya wajah Dayu tidak begitu terlihat tetapi dia harus berada di situ, dekat dengan pemeran utama.
Menurut Dayu sangat tidak profesional harus mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Dayu benci dengan artis-artis yang merasa dirinya sudah hebat dan ingin selalu dimengerti. Harus diperlakukan seperti ratu. Cihh! Ingin rasanya Dayu meludah di dekat perempuan itu karena sudah membuat susah yang lain.
Kalau bukan karena janjinya untuk bertemu Adrian, mungkin dia masih bergelung di atas kasur. Tubuhnya sangat lelah.
Dia ingin membatalkan janjinya pada Adrian untuk datang siang ini. Menurut Dayu itu bukan sesuatu yang penting, masih bisa besok. Namun, kalau ditunda urusannya akan semakin lama padahal dia harus cepat masuk ke dalam keluarga Adrian.
Dipasangnya ear phone untuk mendengarkan lagu. Semoga bisa menghilangkan rasa kantuknya.
***
Sedari pagi Adrian sudah tidak sabar menunggu siang. Dia ingin bertemu Dayu. Dia merindukan perempuan itu. Tadi malam dia menyesal mengapa setuju dengan syarat yang diberikan Dayu untuk tidak boleh jatuh cinta. Belum menjalani pernikahan saja, dia sudah jatuh cinta pada Dayu.
Adrian juga tidak mengerti apa yang membuat dia bisa jatuh cinta pada Dayu. Sudah banyak perempuan cantik, bertubuh bagus, atau perempuan kaya yang pernah dipacarinya.
Apa bagusnya Dayu? Perempuan galak dan keras kepala, ambisius, keras pendirian, kaku dan sorot matanya itu sangat tidak ramah. Namun, kadang dia menunjukkan sisi kekanakan. Adrian melihat ketika Dayu menatap rak bukunya sambil mengayun-ayunkan kaki. Duh, perempuan itu terlihat menggemaskan.
Mungkin setelah menikah dengan Dayu dan hidup bersamanya, perasaan cinta akan berangsur hilang. Mungkin perempuan itu akan menunjukkan sisi terburuknya. Adrian hanya bisa berharap seperti itu. Sangat memalukan kalau seorang laki-laki pemikat wanita seperti dirinya harus bertekuk lutut dan jatuh cinta terlebih dahulu. Padahal tak ada yang salah dengan perasaan cinta. Itu sesuatu yang normal, kata hatinya yang lain.
Beberapa kali Adrian melihat jam dinding dan beberapa kali juga dia memandangi ponselnya. Merasa ragu untuk menelepon Dayu atau menunggu tanpa kepastian. Sudah lewat 30 menit dari kesepakatan mereka kemarin.
__ADS_1
Di mana Dayu? Apa dia lupa pada janjinya? Atau dia mundur? Seharusnya ada tambahan klausula dalam perjanjian itu, apabila mundur setelah menandatangani kontrak, pihak yang mengundurkan diri membayar denda dengan jumlah yang besar. Adrian menyesal lupa memasukkan klausula itu.
Sebentar kemudian matanya melihat ke arah meja makan. Adrian sudah memesan beberapa menu yang kira-kira Dayu suka untuk makan siang mereka.
Dia menjadi resah, berjalan mondar-mandir. Begitu mendengar bunyi bel pintu dan melihat wajah Dayu di layar monitor, Adrian tersenyum lebar. Tatapan gadis itu sekaku kanebo kering. Wajahnya datar dan ekspresinya serius.
Adrian berusaha menghilangkan senyum dari wajahnya. Dia tidak ingin terlihat terlalu gembira di depan Dayu. Sangat tidak lucu kalau Dayu menatapnya dengan wajah heran. Adrian sampai harus menarik napas dan mengembuskannya berkali-kali. Dia berusaha mengatur ritme debaran jantungnya.
Sekali lagi bunyi bel pintu berdering. Adrian cepat membereskan raut wajahnya, dia khawatir Dayu akan pergi.
"Hai, masuklah!" katanya sambil berusaha bersuara seformal mungkin. Dia ingin menghilangkan rasa gembira pada suaranya. Dayu hanya mengangguk lalu melangkah masuk.
"Maaf kalau aku terlambat!" Nada suaranya terdengar tulus walaupun wajahnya begitu kaku.
"Tidak apa-apa. Aku yakin kamu akan datang."
"Mau minum apa?" Dia berusaha memecah rasa canggung.
"Air putih saja."
"Ada jus jeruk, kalau kamu mau. Di luar pasti sangat panas. Jus jeruk bisa menyegarkan."
"Tidak, air putih saja!"
__ADS_1
Sialan! Tidak bisakah perempuan ini bersikap sedikit santai! Rutuknya dalam hati.
"Aku sudah menyiapkan makan siang. Sebaiknya kita makan sambil ngobrol tentang skenario kita," kata Adrian sambil meletakkan air putih dingin di atas meja.
Dayu menoleh ke arah meja makan, terlihat beberapa menu masakan. Mendadak terbit rasa laparnya. Dayu baru ingat kemarin dia terakhir makan sekitar jam 12.00. Setelah itu dia hanya mengisi perutnya dengan minum. Rasa lelah dan sebal membuat dia lupa makan.
"Kamu yang masak?"
"Jelas bukan. Aku memesannya." Adrian tertawa kecil.
"Sudah ku duga."
Adrian terdiam, ingin rasanya dia berteriak pada Dayu. "Bisa nggak sih kamu bersikap ramah sedikit saja!"
Adrian mengambil tempat di hadapan Dayu. Dia melihat Dayu makan dengan pelan, seolah menikmati setiap rasa yang ada. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Adrian ingin membuka percakapan, tetapi dia takut Dayu akan bereaksi seperti tadi. Tidak ramah.
"Kemarin aku terakhir makan jam 12 siang. Terima kasih buat makanan yang kamu sediakan. Sedari tadi aku tidak berpikir untuk mengisi perutku. Tubuhku terlalu lelah. Aku bahkan nyaris membatalkan pertemuan kita."
"Apa kamu nongkrong dengan teman-temanmu sampai larut malam?"
Adrian bertanya dengan gaya sambil lalu padahal sebenarnya dia penasaran dengan apa pun yang dilakukan Dayu.
"Aku tidak ada waktu untuk sekedar nongkrong. Tadi malam aku syuting iklan."
__ADS_1
Adrian menangkap nada marah dalam ucapan Dayu.
Duh, aku salah apa lagi sama gadis ini!