
Pagi nya Farhan turun ke bawah, dengan pakaian rapi dan menenteng tas kerja nya.
Sampai di meja makan.Farhan tidak melihat Hanum disana.
"Tuan mau pergi sekarang."
"Ia bik"
"Saya siap kan dulu sarapan untuk tuan"
"Nggak isah bik.saya makan di kantor saja"tegur Farhan membuat Marni menghentikan untuk mengambil nasi.
"Dimana istri saya."
"Nyonya masih di kamar tuan.dari pagi Nyonya belum turun."
Farhan melihat ke atas tepat ke pintu kamar Hanum dengan pandangan yang sedih.
"Saya pergi dulu.kalo ada apa-apa kabari saya"suara nya terdenggar kurang semanggat.dia merasa ada yang hilang di hidup nya.perhatian Hanum yang setiap hari nya,sudah tidak dirasa kan lagi oleh Farhan.setelah menatap pintu itu dengan lama.dia pun pergi
"Kasian sekali tuan.tidak dapat perhatian lagi dari Nak Hanum.saya jadi sedih melihat nya.sejak semalam,tuan belum makan.dan pagi ini tuan juga belum mau makan.Ya Allah....berilah mereka kebahagiaan,jangan melimpah mereka dengan kesedihan."lirih Marni dengan sedih.tampa sadar wanita tua itu menitikan air mata nya melihat hubungan tuan dan Nyonya nya yang sebentar lagi akan berakhir.
Di Dalam Ruangan Rapat bersama penjabat tinggi di perusahaan nya.Farhan hanya diam termenung,mengabai kan semua pendapat yang di keluar kan oleh bawahan lain nya.pikiran nya melayang layang keudara karna memikir kan Hanum dan masalah rumah tangga nya.
Rudi yang menyadari tingkah Farhan yang melamun menatap serius ke arah botol minuman di depan nya, dengan punggung yang di sandar di kursi,dan kedua jari tangan yang di taut kan.Rudi tau,saat ini Farhan tidak pokus mendenggar kan Rapat penting ini,apalagi mendengar pendapat yang di keluar kan para bawahan nya.
Dengan pelan,Rudi menyenggol kaki Farhan di bawah meja dengan kaki nya,dan menatap Farhan dengan isyarat agar pokus mendengar kan Rapat.
__ADS_1
Farhan pun sadar dengan diri nya sekarang berada di ruang Rapat.Farhan berdehem dan kembali pokus menyimak pendapat mereka.
Rapat pun usai.Farhan kembali termenung duduk di kursi kebesaran nya sambil menghadap ke jendela.menatap lalu lintas dan gedung-gedung tinggi.mata nya berkaca-kaca.wajah nya terus menampil kan ekpresi sedih,kecewa,merana,dan putus asa segala nya ia Rasakan sehingga membuat dada nya terasa berat dan ingin menanggis.
Dreeeettt...dreeettt....dreettt...
Deringan ponsel di saku jas membuat Farhan tersadar.dan menyambar ponsel nya dengan tampa semanggat.tertera di layar ponsel pangilan dari rumah.
"Hallo"lirih nya pelan.
"Tuan-Tuan harus pulang secepat nya tuan."suara Marni terdengar tegang dan kawatir.
Farhan tersentak dan menjadi cemas dengan suara Marni"Ada apa bik,apa terjadi sesuatu di Rumah."suara Farhan meninggi
"Nyonya mau pergi dari Ruamah tuan.Nyonya membawa semua pakaian nya.cepat pulang tuan,tolong hentikan Nyonya"
Farhan tidak sanggup.bila Hanum pergi.dan dia tidak akan bisa hidup tampa orang yang dia sayang.
"Ba-baiklah.sa-saya akan pulang.bibik cegah dulu istri saya,jangan biar kan dia pergi dulu sebelum saya sampai di Rumah"
"Baik tuan"
Farhan memutus kan Pangilan nya,dan pergi dengan sanggat tergesa.
Farhan mengendarai mobil nya dengan sanggat kencang.agar cepat sampai di rumah dan mencegah kepergian istri nya.sepanjang perjalanan hati Farhan merasa tak tenang,ada rasa gelisah,kawatir.dia terus berdoa dalam hati agar istri nya tidak pergi dari nya.
"Jangan lakukan ini Hanum.aku mohon.jangan tinggal kan aku."
__ADS_1
"Nak Hanum mau kemana,kenapa pakaian nya di masukan ke dalam koper"
"Aku mau pergi pergi bik,dari rumah ini.dan besok aku akan resmi bercerai dengan Mas Farhan."seru Hanum memasukan semua pakaian nya dengan tergesa.
"Tapi Nak Hanum.bibik Rasa itu bukan jalan yang terbaik untuk menyelesai kan masalah.tapi malah bikin tambah rumit."seru Marni mencegah Hanum dengan kata-kata nya agar Hanum mau mendengar dan tidak jadi pergi.
"Nggak kok bik.semua nya akan baik-baik saja."
Sampai di bawah Marni terus mengikuti Hanum.mencegah nya dengan menarik tangan serta koper yang di bawa nya.
"Jangan pergi Nak Hanum."Marni yang sudah menanggis.
Farhan sampai di depan pintu dengan napas yang tersengal-sengal.dada nya naik turun dan menatap Hanum dengan terkejut.mereka saling melempar kan pandangan.
ada rasa sedih sakit dan juga tidak tega.Hanum berusaha kuat berada di depan suami nya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1