
Dengan enggan Buggy naik ke kapal Marine setelah dia di tolong oleh beberapa prajurit. Dia berterima kasih pada mereka setelah diperbolehkan untuk ikut ke dalam kapal tersebut. Di sana Buggy tidak dapat bergerak leluasa dan terus dipantau oleh beberapa prajurit, namun untuk urusan perut di tempat itu cukup terjamin.
Buggy menyelesaikan setiap makanan yang diberikan oleh prajurit, di dalam sebuah ruangan yang sangat sederhana itulah, Buggy merenungkan jalan yang akan ia tempuh, hal pertama yang harus ia dapatkan ialah sebuah kapal bagus beserta dengan awak kru yang berkualitas.
“Gyahahaha... memang harus seperti ini... untung saja aku bertemu dengan orang-orang ini, jika aku tidak bertemu mereka... aku tidak bisa bergerak dengan cepat.”Buggy berbicara pada dirinya sendiri sambil sesekali tertawa lirih, “Raja Bajak Laut... itu adalah sebuah gelar yang Kapten dapatkan, hmmm.... itu sama sekali tidak menarik...Gyahahaha... ya tujuanku bukan itu. Menjadi orang seperti Kapten memanglah bagus tapi aku ingin sesuatu yang berbeda... Harta Karun... itu lebih penting....”
Buggy benar-benar ingin menjelajahi isi kapal marine ini, namun dia tidak bisa melakukannya karena pengawasan yang dilakukan oleh para prajurit. Buggy hanya bisa diam di ruangannya dan menunggu makanan yang silih berganti datang layaknya seorang tahanan.
Entah sampai kapan Buggy harus menjalani hari-harinya seperti ini, dia benar-benar merasa diikat dan tak mampu bergerak leluasa. Perasaan layaknya tahanan ini membuat dirinya muak dan kesal, beberapa kali Buggy mencoba untuk berkeliling namun selalu para prajurit itu melarangnya, walaupun dia bisa membunuh mereka seperti mengedipkan mata, Buggy tidak melakukannya.
Berhari-hari Buggy menahan seluruh rasa kesalnya, akhirnya kapal ini berlabuh di sebuah pulau. Pulau dengan banyak penghuni dan beberapa kapal Marine juga berlabuh di dermaga itu, Buggy bergegas turun dan meninggalkan kapal marine tersebut. Hal yang pertama kali ia lakukan adalah mengamati kondisi pulau ini dan mencari informasi baru tentang harga kepala bajak laut atau bounty mereka.
__ADS_1
Buggy datang ke pasar di pulau itu untuk mendengar segala cerita dari para penduduk termasuk ancaman-ancaman dari bajak laut yang berkeliaran di luar sana. Para penduduk di pasar cukup ceria dan tidak terlalu khawatir dengan ancaman dari para bajak laut karena mereka di bawah perlindungan Kapten Marjuan.
Buggy bergerak lebih hati-hati setelah mendengar orang yang melindungi pulau ini karena dia tidak ingin menimbulkan sebuah keributan besar sebelum mendapatkan informasi dari dunia luar apalagi dia telah kehilangan berita dalam waktu yang lama.
Beberapa penduduk selalu bercerita tentang sekelompok Bajak Laut dengan Kapten bertangan satu dan berambut merah telah menjadi seseorang yang ditakuti di lautan bebas, tidam hanya itu beberapa Bajak Laut baru juga menimbulkan banyak kekacauan dan menambah pekerjaan Marine.
Buggy mengenal sosok yang mereka bicarakan dia sangat akrab dengannya, dan kenangan di masa lalu terlintas di pikirannya dan membuat Buggy mendesah marah, gara-gara orang itu, dia harus menelan Buah Iblis sehingga dia gagal untuk mendapatkan harta karun di dalam laut yang membuat dirinya semakin marah pada orang itu.
Dengan leluasa Buggy mengambil buah-buahan yang disajikan oleh para pedagang, dia tidak membelinya melainkan mengambilnya secara cuma-cuma, dia berlari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran dari pemilik kios, dia tiba di sebuah hutan kecil di pulau tersebut seraya memandangi dermaga pulau menanti sebuah Kapal Bajak Laut tiba.
Akhirnya setelah menunggu dua minggu lamanya tibalah sebuah kapal berukuran sedang dengan satu buah tiang penyangga utama dan di dek kapal terlihat puluhan orang mengacungkan senjata dan berteriak dengan keji, mereka dipimpin oleh pria paruh baya yang mengenakan pakaian tidak teratur terutama wajahnya yang mampu menakuti pria dewasa.
__ADS_1
Buggy dengan girang menyambut mereka, dia keluar dari hutan kecil itu untuk bergegas mendatangi kelompok Bajak Laut yang mulai menjarah para penduduk. Buggy melempar belatinya untuk membunuh beberapa bandit sebagai peringatan untuk yang lainnya.
“Gyahahaha... kalian cecunguk-cecunguk kecil kemarilah dan patuhilah perintahku. Gyahahaha... perlihatkan kemampuan kalian,” teriak Buggy dengan lantang sambil melempar belati lainnya, dia tidak berhenti sedetik pun untuk membunuh para Bajak Laut sampai dia bertemu dengan Kapten Bajak Laut.
“Siapa Bocah sombong ini... berani mengacaukan bawahanku... mencari mati rupanya. Berani menyerang kelompokku... dia tidak menganggap Kapten Barosa ini di matanya, cecunguk kampret ini pasti ingin mati,” geram Kapten Barosa dengan galak sambil membawa pedangnya.
Kapten Barosa langsung mengarahkan pedangnya pada Buggy lalu menyerangnya dengan ayunan kuat, sayangnya dengan kekuatan Buggy serangan itu tidak masuk perhitungannya dan dengan mudah Buggy menundukkan Kapten Barosa hanya dengan sebuah pukulan saja.
“Kapten Barosa, aku akan menyelamatkan kehidupan kecilmu ini tapi kau harus membayarnya dengan menjadi bawahanku beserta anak buahmu, bagaimana?” seru Buggy dengan ramah dan penuh senyuman sambil mengarahkan belatinya ke leher Kapten Barosa.
Kapten Barosa berada dalam dilema besar, di satu sisi dia tidak ingin menjadi bawahan sedangkan di sisi lain nyawanyalah yang menjadi taruhannya, apalagi dia bisa merasakan keseriusan Buggy dari tindakannya ini. Hanya dalam waktu singkat saja Buggy mampu menundukkan dirinya, hal inilah yang membuat Kapten Barosa memilih untuk menyerah dan membawa bawahannya untuk menjadi anak buah Buggy.
__ADS_1
“Pilihan yang bijak Kapten Barosa... bawa bawahanmu untuk mengumpulkan seluruh harta di pulau ini dan lekas meninggalkan tempat ini dan berlayar, Gyahahahaha.” Buggy senang karena berhasil mendapatkan sebuah perahu serta awaknya dengan gratis.
Setelah mengumpulkan seluruh harta kekayaan di pulau itu mereka semua bergegas meninggalkan pulau sebelum Kapten Marjuan kembali, di kapal yang berukuran sedang itu Buggy melihat ada 30 orang dengan berbagai usia dan penampilan dan yang paling mencolok adalah Kapten Barosa.