
Mereka berlabuh di pulau yang berpenduduk cukup padat, sebuah pulau dengan sebuah gunung yang berada di tengah pulau dan terlihat besar. Di sekitar dermaga, terdapat pasar kecil serta bar-bar yang terbuka dan dikunjungi banyak orang. Sebuah pulau yang tak dikuasai oleh pihak manapun, namun menjadi tempat singgah para bajak laut untuk mengisi kebutuhan mereka sehingga pulau ini menjadi makmur sekaligus berbahaya.
Para kelompok bajak laut yang singgah di pulau ini kebanyakan memiliki nilai bounty yang kecil, mereka menjadikan pulau yang bernama Danba ini sebagai titik awal sebelum mengarungi lautan lepas, Buggy pun menjadi salah satunya, dia meminta Barosa untuk menambah awak kapalnya dengan catatan mereka haruslah kuat.
Buggy sendiri berkeliling di Pulau Danba demi mencari beberapa orang yang mungkin bisa menjadi awak kapalnya, meski terdapat banyak kelompok bajak laut, Buggy tidak dapat menemukan sosok yang mampu menarik perhatiannya. Walaupun banyak kapten bajak laut yang memiliki kemampuan yang bagus, mereka tidak dapat membuat Buggy tertarik kecuali satu kelompok.
Dia melihat-lihat setiap kelompok bajak laut yang berlabuh di Pulau Danba dan dirinya hanya menemukan satu kelompok yang memiliki kekuatan cukup bagus, dirinya ingin melahap kelompok tersebut lantas dia bergegas mendatangi mereka yang berada di sebuah bar dan sedang berpesta.
Buggy terlihat tenang saat berhadapan dengan kelompok bajak laut itu walaupun dirinya dikerumuni dan mendapatkan tatapan sinis. Buggy sangat tenang karena dirinya tidak terlalu memperhatikan orang yang mengerumuninya dan asyik bermain belati di tangannya.
“A...a..a..a..a..a.. Tch.. semut-semut lucu ini membuatku sesak.... Biarkan Kapten kalian datang kesini dan menemuiku,” seru Buggy sekeras-kerasnya dan suara yang sombong itu membuat para bajak laut yang mengerumuninya menjadi marah, mereka mengacungkan senjatanya pada Buggy.
“Siapa KEPARAT INI!!! Badut seperti dirinya berani sombong dengan kita... mengerikan sungguh mengerikan badut ini, hidung merahnya membuatku kencing di celana,” seru salah satu bajak laut, lantas mendapat balasan dari yang lain berupa tawa berkepanjangan.
__ADS_1
Buggy hanya tersenyum saat menanggapi perkataan bajak laut itu namun matanya menunjukkan kemarahan dan niat membunuh, perlahan dirinya mendekati pria itu dan terus tersenyum, semakin dekat dirinya dengan pria itu, Buggy memutar-mutar belatinya lalu menggorok leher pria itu.
Para bajak laut pun lekas menyerang Buggy begitu salah satu anggotanya dibunuh, akan tetapi mereka tidak mampu mendaratkan satu serangan pun pada Buggy dan hanya menghantarkan nyawanya saja. Buggy tidak terlalu berusaha banyak untuk menghabisi setiap lawannya hanya dengan ayunan belatinya, dirinya membabat mereka.
Kapten dari kelompok Bajak Laut ini tengah berada di dalam bar dan menikmati sebotol bir sambil bermain wanita, begitu dirinya mendengar keributan dari luar bar segera dia meninggalkan kegiatannya untuk memeriksa apa yang terjadi di luar bar, saat melihat keadaan di luar bar, Kapten itu menjadi sangat marah.
“Keparat mana yang mengacau denganku... apa itu kau Badut sialan... Huh... kau mencari mati,” seru si kapten yang bernama Tomonori, yang terkenal dengan kemampuannya dalam menggunakan kapak, dengan kelincahan dan kekuatannya, Tomonori melancarkan serangan pada Buggy.
Bukannya menghindari serangan yang datang ke arahnya, Buggy malah diam dan tersenyum saat dirinya di serang sambil memainkan belati di tangan kanannya. Begitu kapak membelah tubuhnya, Buggy tidak mati ataupun mengeluarkan darah malahan dia tertawa lebar dan menatap Tomonori dengan senyuman hangat.
“Eits.. jangan marah...pikirlah dengan jelas, apa kau tidak bisa melihat perbedaan antara dirimu dan diriku? Hmmm... oh.. rupanya kau bisa melakukannya, bagus....” melihat Tomonori hendak naik pitam, Buggy pun lekas menuangkan air dingin.
Tomonori tahu jika dirinya bukan tandingan Buggy setelah serangannya tidak membunuh Buggy, dia hanya terdiam membisu sekarang, karena orang yang dia lawan adalah pemakan buah iblis, dari hal itu saja dia sudah kesulitan untuk menghadapinya apalagi dia merasakan kekuatan Buggy lebih dari yang ia tampilkan.
__ADS_1
“Lalu... tujuanmu, merekrutku bukan? Kenapa kau menghabisi bawahanku? Jika ingin menambah kekuatan, bukankah anak buahku dapat menjadi kekuatanmu juga?” tanya Tomonori dengan ganas, dia mempertanyakan alasan Buggy menghabisi bawahannya.
Buggy tersenyum lebar dan sedikit menari lantas berbicara dengan suara yang bernada angkuh, “Apa membunuh semut membutuhkan alasan? Sampah seperti mereka dapat ditemukan dimana saja layaknya kubis, tentu saja ada beberapa dari mereka yang memiliki kemampuan namun dia tetap sampah.”
Buggy berbalik dan memunggungi Tomonori, dia tertawa dan melangkah pelan, “Apa kau hanya meratapi kematian bawahanmu.... Sungguh melankolis sekali dirimu itu, yakinlah mengikutiku akan membawamu lebih jauh dan melambungkan nama rendahmu itu.”
Buggy tidak memperhatikan apa yang Tomonori lakukan dan terus berjalan meninggalkan bar sambil tertawa. Dirinya tidak tahu apakah Tomonori akan mengikutinya atau tidak, hanya berbekal beberapa informasi yang ia dapatkan, Buggy mengetahui akan adanya sebuah kelompok bajak laut yang hebat di Pulau Danba ini, kelompok itu baru saja berlabuh.
Tomonori masih melihat bawahannya yang terbunuh dengan luka sobekan dari belati, sorot matanya terus menerus berubah dari rasa marah, benci, ragu, dan takut. Tomonori pun berjalan menuju jalan yang Buggy lalui dengan mata penuh keteguhan, dia tidak ingin mengalami hal seperti ini lagi dimana ketidakberdayaan dirinya saat menghadapi lawan yang lebih kuat sehingga dia pergi menemui Buggy.
Barosa yang mendapatkan tugas untuk mencari awak kapal telah menyelesaikannya dengan baik, dia mendapatkan 15 orang berbadan kekar dengan wajah yang seram, orang-orang yang Barosa rekrut ini memiliki kemampuan bertarung yang cukup dan beberapa dari mereka mengetahui cara menggunakan senjata api Musket.
“Hanya ini saja... mencari orang yang kuat dan cakap dalam bertempur itu cukup sulit dan kebanyakan dari mereka pasti telah bergabung dengan bajak laut lain atau bergabung dengan Marine, aku harap Kapten dapat memakluminya,” gumam Barosa seraya membawa rekrutan anyar kembali ke kapal.
__ADS_1
Sebelum sampai di kapal Barosa berpapasan dengan awak kapal lainnya yang tengah memuat bahan persediaan yang cukup banyak, dan dirinya pun mengamati keadaan sekitarnya karena dia merasakan sesuatu yang janggal.