Akhir Nikah Paksa

Akhir Nikah Paksa
Awal


__ADS_3

Prolog


Athena Aviva Brigitta,


Sesuai dengan namanya ia adalah orang yang energik dan ceria. Tubuhnya pendek dan wajahnya yang orang di sekelilingnya selalu menyebutnya dengan si kecil yang menggemaskan. Bahkan jika orang yang baru bertemu dengannya, orang itu akan menyebutnya anak SMA yang baru berusia 18 tahun. Viva juga penyayang binatang berbulu dan sangat takut dengan hewan reftil. Panggil saja ia Viva. Ia berusia 22 tahun. Viva bekerja sebagai tata usaha dan juga sambil kuliah jurusan perawat. Ia mempunyai kekasih bernama Regar.


Willow Selina,


Wanita bertubuh tinggi, sedikit berisi dan mempunyai paras yang cantik. Diusianya yang baru menginjak 21 tahun ini, ia masih berkutat dengan kuliahnya. Ia tak mau membelah konsentrsinya sekarang untuk coba-coba mencintai. Ia hanya berani mengagumi.


Yudha Esfand Rasendria,


Perawakannya yang selalu diinginkan pria lain dan selalu menarik di mata wanita yang memandangnya. Tubuh atletis dan tinggi di atas rata-rata laki-laki di Negara Indonesia. Usianya 27 tahun dan bekerja sebagai direktur muda diperusahaan perkebunan ayahnya. Ayahnya masih cukup terlihat muda dan kuat untuk menjadi CEO perusahaanya itu. Jadi ia melatih putra pertamanya dengan menjadi direktur utamanya, agar bisa menggatikannya kelak. Diusianya itu ia tidak tertarik untuk mempunyai pasangan. Ia pikir ia tak butuh cinta-cintaan. Karena dengan sekarang saja ia sudah merasa senang menikmati kehidupannya. Jadi cinta yang diperbincangkan oleh orang lain itu, ia sungguh tak yakin. Ia hanya pernah menyukai, begitulah seingatnya.


Lantas, dengan pendiriannya itu, ayahnya yang bernama Fendo Rasendria dan juga Ranty, ibu dari Yudha merasa lebih khawatir. Bagaimana mungkin anak mereka tersebut tidak percaya dengan cinta. Ia bahkan tidak percaya bahwa dirinya ada di bumi ini adalah karena cinta sehingga mengeluarkan 3 buah cinta juga karenanya.


Ya, Fendo dan Ranty memiliki 3 orang anak. Dan Yudha lah anak pertama mereka. Anak keduanya bernama I Adya Rasendria dan Ruth Calista Rasendria. Keduanya masih bergelut dengan pendidikannya masing-masing. Hanya saja, Adya sebentar lagi sudah akan lulus dari S2nya.


Fendo dan Ranty terus terang saja tidak ingin memaksa Yudha untuk hal asmaranya itu. Namun, sebagai orang tua, perasaan gundah itu pastilah ada. Mereka khawatir jika anak pertama mereka terus mempertahankan pendiriannya itu. Bisa-bisa ia akan menjadi perjaka tua sampai akhir hayatnya.


"Pah, bagaimana, ya?" tanya Ranty pada suaminya yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Bagaimana apa, Mah?" tanya Fendo balik seraya menghentikan kegiatannya. Ia menatap istrinya lekat. Memperhatikan mata istrinya yang terselubung kekhawatiran.


"Yudha, Pah," jawab Ranty. Fendo membalikkan baringannya, menghadap Ranty dan lalu memeluknya. Ya, kedua orang tua itu memang selalu romantis sampai sebenarnya jika saja Yudha sudah mempunyai istri dan anak, mungkin jadinya sekarang bisa dikatakan, kakek Fendo dan nenek Ranty tetap sangat harmonis dengan usia mereka yang hampir setengah abad itu.


"Bagaimana jika kita jodohkan saja, ya, Mah?" tanya Fendo meminta jawaban persetujuan.


"Pah, inikan bukan zaman jodoh-jodohan lagi. Masa kita seperti orang tua di novel yang menjodohkan anaknya," sungut Ranty.


"Memangnya Mamah sering membaca novel?" tanya Fendo seraya mengerutkan dahinya.


"Tentu saja, Papah saja yang tidak peduli kegiatan Mamah. Tua-tua begini Mamah sering baca novel di handphone Mamah," jawab Ranty.


"Papah bukannya tidak peduli, hanya saja kerjaan Papah sangat menumpuk. Apalagi sekarang ini, musim hujan, sehingga membuat penghasilan produksi minyak menurun."


"Huh, Mamah sedang bosan mendengar gundah gulana Papah mengenai kerjaan Papah. Sekarang kita lanjutkan perbincangan mengenai Yudha, anak kita, Pah."


"Hm, jodoh memang tidak bisa kita yang takdirkan. Tapi usaha bisa kita lakukan. Kita coba saja menjodohkan Yudha," kata Fendo membuat Ranty sejenak berpikir keras.


"Tapi dengan siapa, ya, Pah?" tanya Ranty yang mulai menyetujui saran suaminya itu.


"Bagaimana kalau dengan anak pak Ketut? Ia mempunyai anak perempuan. Papah tidak ingat nama anaknya, tapi Papah pernah bertemu."


"Oh, pak Ketut, Mamahkan pernah bertemu juga dengan anaknya."


"Kapan, Mah?" tanya Fendo.

__ADS_1


"Lah, 2 bulan lalu, Pah. Ketika Mamah ke keruangan Papah. Dan jadi bertemu pak Ketut, yang kata beliau ia sekalian ingin bertemu Papah dan juga ingin ke Universitas anaknya itu," jelas Ranty dengan detail.


"Oh iya, benar."


"Hm, menurut Mamah lumayan sih. Kelihatannya gadis itu sopan dan juga cantik."


***


Pagi hari yang sedikit mendung, Fendo dan Ranty sudah duduk di depan meja makan yang sudah terhidang beberapa makanan.


"Pagi, Mah, Pah," sapa Calis yang mencuatkan secercah senyuman.


"Eh, Calis, pagi juga, sayang," sapa Ranty balik.


"Pagi juga anak Papah yang pintar," tambah Fendo.


"Yudha, ayo sarapan, Nak," ujar Ranty yang terlebih dahulu melihat anak sulung datang. Yudha sudah rapi dengan jas kerjanya.


"Iya, Mah," jawab Yudha datar. Orang tuanya sudah biasa dengan sikap Yudha yang terbilang dingin. Mereka tak masalah, itu memanglah ciri khas anak sulungnya itu.


"Pah, kapan Papah akan ke Kalimantan Tengah lagi?" tanya Calis.


"Belum ada agenda akan ke sana, Lis. Memang mengapa menanyakan itu pada Papah?" tanya Fendo pada putrinya.


"Aku ingin makan makanan khas Kalimantan, aku iri saja melihat temanku memposting makanan khas Sulawesi. Jadi aku pengen makanan dari Kalimantan," jelas Calis. Membuat kedua orang tuanya tersenyum mendengar jawaban putri bungsu mereka itu.


"Memangnya apa Calis tahu tentang makanan Kalimantan?" tanya Ranty.


"Kemarin aku searching, dan nemuin makanan yang namanya tempoyak, wadi, sambal rembang, blablabla ...."


"Sangat tidak mengunggah seleraku mendengarnya," celetuk Yudha.


"Bagaimana Kakak bisa berselera, Kakak saja tidak tahu bentuk makanannya! Mudah-mudahan saja kata-kata Kakak itu didengar oleh Suku Dayak. Biar dipenggal lehernya!" hardik Calis yang akhirnya membuka suara karena jengkelnya sudah memuncak.


"Calis, tidak boleh berbicara seperti itu!" kata Ranty menghentikan omelan putrinya. Calis diam dan memasang wajah kesalnya. Karena kakaknya itu memang sangat mengesalkan. Dan ia lebih kesal melihat tampang Yudha yang terus saja datar mendengar omelan dirinya.


"Yudh, nanti setelah waktu pulang di kantor, segeralah pulang ke rumah," ujar Fendo pada Yudha. Ia tahu jika anaknya itu setiap harinya lebih memilih lembur.


"Ada yang Papah dan Mamah ingin omongkan, Yudh. Jadi, jangan telat pulang, ya," sambung Ranty.


"Baik," sahut Yudha singkat.


***


Willow dan Viva berjalan beriringan menuju tempat bi Jumi berjualan bakso. Keduanya tampak sedang berbincang di jalan, kadang juga tertawa kecil atau bahkan tertawa dengan kencang juga.


Willow adalah adek kelas di sekolah Viva dulu ketika mereka SMA. Karena sering ada kegiatan bersama, mereka akhirnya dekat dan sering pergi bersama waktu itu. Hari ini, mereka tidak sengaja bertemu. Jadi, Viva mengajaknya untuk makan bersama di tempat mereka sering datangi dulu sewaktu sekolah. Bakso bi Jumi memang spesial. Mereka ingin merasakannya lagi.

__ADS_1


"Viv, kamu kenapa bisa jadi tata usaha?" tanya Willow setelah mereka duduk di kursi bi Jumi. Willow dan Viva belum memesan baksonya, karena dilihatnya bi Jumi masih sibuk melayani orang lain.


"Entahlah, memang kehidupan sudah ada yang mengatur. Kamu pasti masih ingat dulu, aku sangat tidak mau bekerja di sekolah dan ingin wirausaha. Tapi, tiba-tiba saja kepala sekolah tempatku bekerja menawarkan itu padaku. Aku memikirkannya dengan keras, dan akhirnya aku memilih bekerja begini. Dan ternyata ini sangat menyenangkan. Aku saja terasa masih bekerja 1 tahun, padahal sudah 3 tahun," jelas Viva.


"Eh, Mbak Willow dan Mbak Viva, kan ini?" tanya bi Jumi yang selesai melayani pelanggannya yang lain.


"Iya, Bi. Masa Bibi nggak kenal sama kita lagi, sih. Lihat tuh tubuh Viva yang masih tetap pendek begitu," kata Willow, Viva yang mendengar tertawa kecil.


"Hehe, Bibi hanya takjub melihat kalian tambah cantik. Kalau kata orang itu glow up," ujar bi Jumi.


"Eh, eh, tahu kata glow up dari mana tuh?" tanya Willow dengan nada mengejek.


"Biasalah, orang-orang yang sering makan kemari biasanya bilang begitu. Jadi Bibi tahu artinya," jawab bi Jumi membuat Willow dan Viva tertawa.


"Bibi, Bibi, ya udahlah, Viva sama Willow pesan bakso," kata Viva pada bi Jumi.


"Bakso apa, Mbak?"


"Lah, memang ada pilihannya?" tanya Viva.


"Kamu itu kebiasaannya nggak ilang-ilang, di depan itu ada tulisannya. Bagaimana bisa kamu tidak melihat," sungut Willow.


"Maaf, maaf, aku keluar dulu untuk membacanya," kata Viva. Willow menahan tawanya, ia tahu kebiasaan Viva yang tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya, sekarang saja ia melewatkan buku menu di meja mereka. Bi Jumi tertawa kecil memperhatikan tingkah dua gadis cantik di depannya itu.


Setelah selesai menyantapi bakso mercon yang membuat wajah keduanya memerah, Viva dan Willow berjalan pulang.


"Apa kamu masih dengan Sandy?" tanya Willow.


"Nggak, aku sudah lama berpisah dengannya. Setelah lulus SMA dan perpisahan. Dia memutuskanku," ucap Viva santai.


"Benarkah? Lalu dengan siapa kamu sekarang?" tanya Willow.


"Seorang guru di tempatku bekerja. Namanya Regan," jawab Viva.


"Hm, begitu."


"Bagaimana kuliahmu?"


"Baik, sebentar lagi sidang skripsi juga. Dan setelahnya aku ingin melanjutkan S2."


"Wow, jadi kapan bekerjanya tuh?" tanya Viva lagi.


"Belum niat bekerja, hanya ingin belajar dan menanaikan tangan kepada orang tuaku, hahahaha ...."


"Dasar! Anak orang kaya!"


"itu memuji atau menghardik? Hahaha ...." Willow dan Viva kembali tertawa lepas.

__ADS_1


🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑


__ADS_2