
"Viva, udah pulang, sayang?" tanya Ranty pada Viva yang baru memasuki rumah. Tidak lupa Viva mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
"Udah, Mah. Bunda Viva mana ya, Mah?" tanya Viva lagi.
"Kayanya lagi packing di kamar, Sayang."
"Oh, kalau gitu Viva samperin mereka dulu ya, Mah."
"Iya, Cantik," sahut Ranty seraya menyunggingkan senyuman.
Viva berjalan agak cepat karena ingin segera membantu orang tuanya beberes. Hingga ia tidak sengaja menabrak Adya yang berjalan dari arah dapur. Ia memegang secangkir kopi hitam di tangannya. Karena tabrakan itu, membuat kopi itu menumpahi Viva sendiri.
"Auw, panas!" pekik Viva.
"Viva," panggil Yudha yang berdiri di anak tangga.
"Mas Yudha, oh, Adya aku minta maaf, ya," ucap Viva seraya meringis dan memegangi dadanya yang terkena kopi. Sementara Adya, ia membalikkan sisa kopinya ke lantai dan berlalu meninggalkan Viva.
"Adya!" sergah Yudha. Namun, Adya tidak mendengarkannya dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Ssshhh, Auww.." ringis Viva. Ia membalikkan tubuhnya, ingin menunju kamar mandi. Namun suara Yudha begitu jelas menyebut namanya.
"Viva, kemarilah ke atas," kata Yudha. Viva mau tidak mau menurutinya. Lagi pula dadanya sudah sangat terasa perih.
Yudha lebih dulu berjalan ke kamar mereka, dan Viva di belakangnya. Setelah sampai di dalam kamar, Viva masuk ke kamar mandi di kamar mereka. Ia melepas bajunya dan melihat dadanya yang memerah dan mulai melepuh. Kopi yang dibawa Adya tadi memang masih sangat panas.
Setelah selesai membersihkannya, Viva baru teringat ia lupa membawa handuk ataupun baju ganti. Disaat sedang merasakan sakit dan perih, mana sempat kepikiran membawa itu untuknya sendiri.
Dengan terpaksa Viva memberanikan diri memanggil Yudha. Ia belum mengerti mengapa Yudha mengajaknya ke kamar dan lalu diam saja ketika mereka berdua sudah di dalam bersama.
"Mas, Mas Yudha."
"Ya," sahut Yudha.
"Mas, bisa minta tolong ambilkan handukku di lemari?"
"Ya." Yudha segera menurutinya, ia berjalan ke arah lemari Viva yang baru saja di belikan Ranty 2 hari yang lalu. Ketika membuka lemari itu, Yudha mengernyitkan dahinya, melihat dalaman Viva yang tersusun rapi dan sangat jelas di depan matanya. Yudha segera mengalihkan pandangannya dan mencari benda yang ia inginkan.
"Viva, handukmu," kata Yudha. Dengan hanya menampakkan tangan untuk mengambil handuk itu, Viva berusaha menjangkaunya. Hingga ia menemukan dan berhasil menariknya dari tangan Yudha.
Viva terbelalak melihat handuk beserta baju dan semua ********** ada di gumpalan handuk itu.
"Mas, kok baju dan ini juga dibawakan?" teriak Viva dari balik pintu kamar mandi. Ia sangat malu jadinya. Rasanya ia ingin berdiam di kamar itu seharian saja.
"Mengapa memangnya?" tanya Yudha.
"Aku malu," sahut Viva.
"Anggap saja aku suamimu," balas Yudha.
"Jawaban apaan itu," gumam Viva. Ia berdecih kesal.
Viva keluar dari kamar mandi dan melihat Yudha yang sedang membuka tempat obat-obatan. Viva mengernyitkan dahinya lalu berusaha untuk tidak peduli.
__ADS_1
"Pakai ini," kata Yudha sembari menyerahkan salep di tangannya kepada Viva.
"Terima kasih," balas Viva.
"Apa masih perih dan merah?" tanya Yudha.
"Melepuh," jawab Viva lirih.
"Biar kulihat," ujar Yudha seraya menarik tangan Viva agar lebih mendekat dengannya.
"Mas, nggak usah," Viva dengan cepat memegang dadanya. Takut jika Yudha membuka bajunya.
"Bukankah kamu anggap aku gay?"
'Benar, diakan gay. Bagaimana aku bisa melupakan ini. Jadi mengapa aku harus takut. Orang ini nggak mungkin punya nafsu padaku,' batin Viva.
"Tapi aku tetap saja malu, Mas," kata Viva.
"Biar aku obati," ujar Yudha memaksa Viva. Viva tidak bisa berkutik lagi dibuatnya. Yudha membuka kancing baju Viva. Dan lalu mengolesi salep luka bakar dengan sangat hati-hati.
'Benar-benar seorang gay,' batin Viva.
"Mas, bisa anter aku kuliah malam ini?" tanya Viva.
"Di mana kampusmu?" tanya Yudha yang masih fokus pada dada Viva.
"Di jalan Mansyur, dekat duta mall."
"Mas, sikap Adya mengapa sangat dingin dan kasar sekali, sih? Aku jadi takut bertemu dengannya," kata Viva.
"Sejak istrinya meninggal karena kecelakaan saat bercecok dengannya di mobil yang dikendarai olehnya sendiri," jawab Yudha. Viva sedikit trenyuh karena pertanyaannya dijawab oleh Yudha.
"Oh, ternyata dia sudah punya istri," gumam Viva.
"Kau suka dengannya?" tanya Yudha tiba-tiba.
"Hah, maaf walau dia adikmu tapi aku rasa, aku nggak bisa menyukainya sebagai adik iparku saat ini. Dia terlalu menakutkan."
"Maksudku, apa kau mau dengannya?"
"Mau apa?" tanya Viva bingung.
"Mau menikah dengannya," ujar Yudha.
"Yang benar saja, memangnya aku wanita apa-apaan, maunya berpoliandri. Itu tidak mungkin," sungut Viva.
'Menikah denganmu saja adalah sebuat keterpaksaan," batin Viva.
"Setelah ini, kamu persiapkan barang-barangmu. Kita akan pindah ke rumahku," ujar Yudha yang sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya.
"Rumah Mas Yudha? Bukannya ini ...."
"Ini rumah orang tuaku," timpal Yudha.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Viva pasrah.
"Kalau gitu aku ke kamar bunda dan ayahku dulu," ujar Viva.
"Ya, setengah jam lagi aku akan menyusul," kata Yudha.
"Iya, Mas." Viva kemudian berlalu pergi meninggalkan Yudha. Sementara Yudha dengan cepat masuk ke kamar mandinya.
📑📑📑
"Bunda, masa udah mau pulang? Boleh 3 hari lagi nggak?" rengek Viva yang bergelayut di tangan Ira.
"Nggak bisa, Va. Ayah ada kerjaan. Cutinya cuma 2 hari. Karena cuti sebelumnya udah diambil Ayah. Jadinya sekarang cuma bisa 2 hari di sini," jelas Ira pada putri keduanya itu. Ya, Viva mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Regent Borneo.
"Nanti kamu main-mainlah ke kalimantan dengan suamimu. Temui Regent juga di sana," ujar Dollar.
"Nggak mau, bang Regent saja nggak mau menemui aku di sini," rengek Viva.
"Bukan nggak mau, Sayang. Abangmu itu sedang mengurus istrinya yang baru saja melahirkan," ujar Ira sembari membelai rambut Viva.
"Iya deh," kata Viva yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sebentar lagi wisuda, kan?" tanya Dollar.
"Iya, Yah."
"Nanti abangmu yang akan ke sini menemani kamu, ya," ujar Dollar.
"Ayah sama Bunda nggak ikut?" tanya Viva.
"Sepertinya nggak bisa, Viva. Jadi Regentlah yang akan mewakilkan Ayah dan Bunda, ya."
"Iya, Yah.
**
Semua keluarga Yudha kecuali Adya, mengantarkan kepulangan orang tua Viva di bandara. Viva semakin mempererat pelukannya pada ayah dan bundanya itu ketika waktu terbang hanya tinggal beberapa menit lagi.
"Ayah sama Bunda nggak boleh sakit-sakit, ya," pinta Viva pada kedua orang tuanya.
"Iya, Viva. Kamu juga jaga kesehatan dan berbaktilah pada suamimu, ya. Ingat, kamu sudah menilah," ujar Ira.
"Sayangi mertuamu juga, seperti kamu menyayangi kami ya, Nak," tambah Dollar.
"Iya, Bun, Yah."
"Kami pamit, Pak Fendo. Terima kasih jamuan dan kebaikan Bapak dan Ibu Fendp kepada keluarga kami. Kamu titip Viva," kata Dollar pada Fendo dan Ranty.
"Pasti, kami akan memperlakukannya seperti anak kami sendiri," balas Fendo.
"Yudha, jaga istrimu baik-baik ya, Nak," kata Ira pada Yudha yang bersaliman dengannya.
"Iya, Bund." Yudha menganggukkan kepalanya.
__ADS_1