Akhir Nikah Paksa

Akhir Nikah Paksa
Prewedding


__ADS_3

"Willow kabur, Tante," ucap Viva dengan nada tegangnya. Semua terbelalak.


"Dia bilang apa, Va?" tanya Ranty. Viva menyerahkan ponselnya, menunjukkan isi pesan Willow.


"Viva, aku pergi, katakan pada mamiku dan semuanya. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Aku ingin mengejar karirku di luar negeri. Kalian nggak perlu tahu aku di mana. Aku akan pulang dengan membawa ilmu serta hidupku yang kumau. Katakan pada tante Ranty dan om Fendo, maaf karena aku nggak bisa menjadi menantu mereka. Aku sungguh nggak mau dipaksa untuk menikah, karena yang menjalani hidupku nanti adalah aku. Bukan orang tuaku dan bukan pula orang lain. Maaf hari ini aku membohongimu. Terima kasih, Viva yang imut," bunyi pesan Willow. Mitha terduduk lemas, dan Yudha dengan cepat menahan tubuhnya.


"Tante, tenang dulu, Tan. Sekarang Viva coba menghubungi lewat instagram dulu," ujar Viva. Ia membuka semua akun media sosial milik Willow, namun ternyata sudah tidak ditemukan lagi. Semua akunnya sepertinya sudah dihapus.


"Bagaimana, Viva?" tanya Ranty dengan wajah blingsatan juga.


"Semua akunnya sudah nggak ada, Tan. Whatsappnya juga sudah diblokir," jawab Viva.


"Aku akan menyuruh sekertarisku melacaknya," kata Yudha akhirnya bersuara. Dan ia baru sadar, ponselnya tertinggal di kantornya. Yudha memijit pelipisnya.


"Kenapa, Fand?" tanya Ranty.


"Ponselku ketinggalan," jawabnya.


"Bagaimana? Apa sudah selesai fotonya?" tanya Fendo yang ternyata sudah datang bersama Ketut.


"Pi, hiks hikss ...." Mitha yang melihat kedatangan suaminya, segera memeluknya dan menangis di sana.


"Ada apa, Mah?" tanya Fendo pada istrinya yang juga terlihat sendu.


"Willow kabur, Pah. Dia ke luar negeri, bagaimana ini, Pah?" ungkap Ranty sedih, Fendo ternganga sesaat, lalu mengusap kasar wajahnya. Begitupun dengan Ketut, ia lebih terpukul sekarang.


"Pi, kita harus bagaimana?" tanya Mitha yang perlahan melepaskan pelukan suaminya.


"Maafkan aku dan juga Willow, Pak Fendo," ungkap Ketut.


"Jangan begitu, Pak Ketut. Sebaiknya Bapak bawa Bu Mitha pulang dulu untuk menenangkan dirinya," kata Fendo.


"Baiklah, kami permisi dulu," ujar Ketut.


Mitha dan Ketut berlalu pergi, sementara Viva kembali duduk dari berdirinya dengan tatapan kosong. Ia tidak mengerti mengapa Willow tidak bercerita padanya tentang ia yang tidak menginginkan pernikahan ini.


"Viva, apa Willow tidak ada bercerita denganmu sebelumnya yang menyangkut dengan kepergiannya ini?" tanya Ranty.


"Sama sekali nggak ada, Tan," lirih Viva seraya masih menatap kosong kedepan.


"Siapa dia, Mah? Apa adik dari Willow?" tanya Fendo.

__ADS_1


"Bukan, Pah. Viva teman Willow," jawab Ranty.


"Oh," jawab Fendo.


"Pah, kalau sampai Yudha tidak jadi menikah, kita akan malu, Pah. Mamah malu dengan keluarga kita dan juga teman-teman Mamah. Bagaimana ini, Pah?" adu Ranty pada suaminya.


"Apalagi Papah, Mah. Pak Erwin saja sudah Papah kabari tentang pernikahan Yudha,"


"Viva, bisakah kamu menolong Tante dan Om?" tanya Ranty tiba-tiba.


"Apa itu, Tan?"


"Pah, umur Viva sudah 22 tahun,"


"Benarkah, Mah? Tapi terlihat seperti anak SMA," sahut Fendo.


"Tidak, Pah. Viva terlalu imut dan awet muda. Dari itu bagaimana kalau kamu menikah dengan Yudha, Sayang?"


Deg


Deg


"Benar, menikahlah dengan Yudha, Nak. Semuanya kami yang tanggung," timpal Fendo.


"Hei Jeng Ranty, gaunnya sudah siap. Mari kita mulai make up calon menantu Jeng dulu," ujar MUA waria yang akan merias Willow tadinya. Karena sebelumnya ia pun tidak pernah bertemu dengan Willow, dengan tanpa basa-basi lagi ia langsung menarik tangan Viva dan Esfand untuk ikut dengannya. Sementara fendo dan Ranty dengan cepat mengekor juga.


"Duh, anak ini cantik sekali. Saya tebak, kamu baru lulus SMA, ya?" tanya waria itu dengan gaya bicaranya yang dibuat-buat.


"Hah, ti-tidak, saya sudah bekerja," ujar Viva dengan masih belum percaya dengan keadaan yang ia alami saat ini .


"Ini calon suaminya juga tampan sekali, ih, manisnya," kata waria itu lagi sembari mencubit pipi Yudha yang segera dijauhkannya wajahnya.


"Tante, tapi Viva ..."


"Sudah, tidak apa-apa, Sayang."


"Keluarga Viva, Tan, Mereka ...."


"Hubungi orang tuamu, Om akan berbicara dengannya," kata Fendo. Viva yang masih dalam keadaan syok, hanya menurut saja. Ia menghubungi nomor ayahnya, yang tidak berapa lama langsung tersambung. Viva menyerahkan ponselnya pada Fendo. Fendo pun membawa ponsel Viva keluar.


"Halo," suara di seberang telpon.

__ADS_1


"Ya, halo, Pak."


"Ya, dengan siapa ini?"


"Saya Fendo, Pak."


"Oh, iya, bagaiamana Pak Fendo? Apa ada sesuatu yang terjadi pada anak saya?" tanya suara di seberang telepon.


"Tidak, Pak. Anak anda baik-baik saja. Kalau boleh saya bertanya terlebih dahulu, nama Bapak siapa?" tanya Fendo.


"Saya Dollar Riger, mohon maaf sekali lagi, ini pak Fendo siapa, ya?"


"Oh iya, Pak Dollar, ini dengan saya Fendo Rasendria," sahut Fendo.


"Apa bapak owner group Bangun Sinar Sejahtera?"


"Ya, benar. Bagaimana bisa anda tahu?"


"Salam hormat dan salam sejahtera, Pak. Saya bekerja sebagai kasie personalia di PT. Sinar Bhakti di kalimantan milik Bapak," ujar suara dibalik telepon.


"Benarkah, itu bagus, Pak. Maaf jika mengganggu waktu kerja anda."


"Tidak masalah, Pak. Saya yang merasa bersalah karena ketidaktahuan saya dengan suara Bapak. Kalau boleh tahu, ada apa gerangan Pak Fendo menghubungi saya dengan nomor putri saya, Pak?" tanya Dollar di sana.


"Begini, Pak ....." Fendo menjelaskan segala maksudnya. Tentu saja Dollar terkejut mendengar itu.


"Terima kasih banyak atas niat baiknya, Pak. Ini merupakan suatu kehormatan besar saya, karena Bapak sudah mempercayai putri saya untuk menjadi calon menantu Bapak. Saya tentu sangat mengijinkan jika anak saya Viva bersedia," jelas Dollar.


"Baiklah, Pak Dollar. Acara pernikahan akan diselenggarakan 10 hari lagi. Saya akan kirimkan Pak Dollar bersama keluarga Bapak, tiket pesawat dan sejumlah uang makan diperjalanan. Tolong kirimkan saja nomor rekeningnya nanti," ungkap Fendo.


"Baik, Pak."


Setengah jam kemudian, Yudha sudah selesai mengenakan jas abu-abunya. Sedangkan Viva juga sudah selesai dirias dan sudah mengenakan gaun duyung berwarna putih yang mempunyai belahan di rok bawah sampai diatas lututnya dan tanpa lengan. Ia tampak tidak percaya diri, namun sebenarnya ia tampak sangat cantik. Ranty yang melihatnya pun begitu terkesima dan tidak henti-hentinya memuji gadis imut itu. Sementara Yudha menatap Viva dengan biasa saja. Ia sudah sering bertemu dengan wanita cantik, walau baru kali ini ia melihat gadis seimut Viva yang bertubuh kecil.


Mengenakan gaun duyung itu, menampakkan tubuh Viva yang memiliki lekukan indah. Walau dilihat pendek dan kecil saat mengenakan pakaian biasanya, saat ini tubuhnya ternyata sangat indah. Pinggulnya yang besar dan perutnya yang kecil serta dadanya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Membuatnya sangat serasi memakai gaun itu.


🥦


🥦


🥦

__ADS_1


__ADS_2