
Kehidupan yang tak pernah Viva bayangkan. Ia belum habis pikir mengapa ia bahkan tidak tegas untuk menyangkal perjodohannya tadi siang. Viva sudah di rumahnya. Ia menatap foto - fotonya dengan Yudha yang dikirim oleh Ranty. Viva berulang kali berdecak kesal sembari mengacak rambutnya. Marah dan sedih bercampur aduk.
Seketika Viva mengingat Regar, kekasihnya itu. Ia menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Namun sayangnya, Regan tidak bisa dengan alasan masih sibuk dengan kegiatan kerjanya. Viva mengiyakan, itu sudah biasa terjadi.
Setelah membersihkan diri, Viva segera bersiap diri untuk pergi keluar dari rumahnya. Ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.
Viva berfokus pada pemandangan di depannya sembari menyantap popcorn di tangannya. Ia sedang menonton di bioskop. Tidak perlu teman untuknya menenangkan diri. Begini saja sudah cukup.
"Aaaa!! sayang takut!" jeritan suara keras wanita yang duduk di depan Viva. terlihat kepalanya saja oleh Viva. Dua orang yang sangat mesra, menempel sepanjang film diputar. Viva tersenyum iri. Ia saja belum pernah sedekat itu dengan Regar.
"Hey," tegur suara laki-laki yang langsung memeluk erat dan lebih erat pada perempuan yang tadi berteriak. Viva mengernyitkan dahinya, fokusnya kini teralihkan kepada pasangan itu.
"Seru juga," gumam Viva sembari tertawa kecil.
"Suaranya seperti familiar, mirip suara Regar," gumamnya lagi. Lalu Viva kembali melanjutkan tontonannya.
Tidak berapa lama, dua pasangan itu berganti tempat duduk sebaris dengan Viva. Viva melihatnya sejenak. Lalu kembali menghadap ke depan. Wanita itu duduk di samping Viva yang berjarak 1 kursi.
'Mentang-mentang penonton sepi. Seenaknya berpindah-pindah tempat,' batin Viva.
"Sayang, Viva bagaimana?" pertanyaan yang dilontarkan gadis di sampingnya itu. Viva yang merasa namanya disebut reflek langsung berhenti bernafas sejenak. Itu hanya reflek, ia tahu kalau orang yang bernama Viva di Indonesia itu banyak. Samar - samar suara pasangan itu terdengar. Viva semakin sadar itu benar - benar mirip dengan suara Regar.
Viva menoleh ke arah mereka berdua. Terlihat pasangan itu yang saling berpelukan tanpa memperhatikan orang sekitarnya. Viva mengerjab - ejabkan matanya. Jaket yang dikenakan oleh laki-laki itu sama dengan jaket Regar. Ketika cahaya dari layar terang dan jelas terlihat itu memang benar Regar.
Viva mengalihkan pandangannya. Dadanya bergemuruh. Detak jantungnya bergejolak. Viva mengepal tangannya. Regar, Regar setega itu dengannya. Orang istimewa yang ada di hatinya kini nyata di depannya sedang berselingkuh. Ia sudah menjalin hubungan selama 2 tahun dengan Regar. Pacar sekaligus dosennya itu adalah orang yang satu-satunya ia percaya untuk selalu berbagi cerita suram, bahagia atau harunya. Semua cerita hidupnya sudah ia lontarkan dengan Regar.
__ADS_1
Viva memegang dadanya, menahan nyeri yang teramat. Air matanya kini tak dapat tertahan lagi. Viva memilih untuk meninggalkan ruangan besar itu sebelum film selesai. Siapa yang akan sanggup berdekatan dengan laki-laki yang dicintai tapi malah merangkul mesra wanita lain.
Entah sekarang ia harus bersyukur atau menyesal keluar pada malam ini. Baiknya ia tahu sudah perlakuan Regar di belakangnya. Tapi pernyataan itu sungguh menusuknya. Viva terisak keras di balik helmnya. Ia mengendarai motornya dengan lambat.
"Mengapa kisah cintaku selalu saja berakhir dengan rasa sakit," lirih Viva.
Setelah sampai rumahnya, Viva langsung masuk dan mengganti pakaiannya lalu memeriksa ponselnya yang sedari tadi berdering. Ada panggilan tak terjawab dari ayahnya. Dan ada notifikasi pesan dari Regar.
📩"Sayang, besok kita ketemu di tempat biasa, ya. Aku baru pulang, nih. Baru selesai ngelatih mahasiswa bola," bunyi pesan Regar.
Dada Viva kembali bergemuruh. Ia merapatkan giginya dan mengepal erat jari jemarinya.
Viva meraih ponselnya dan menghubungi nomor Regar. Tidak berapa saat, suara yang teramat Viva kenal itu terdengar, tapi sangat menjijikan di telinga Viva.
📲"Singkat saja, aku mau kita udahan."
📲Maksudmu? Viva, kamu bercanda, Sayang?"
📲"Sama Sekali tidak. Mulai saat ini anggap dan perlakukan aku sebagai mahasiswimu," jelas Viva. Membuat Regar bingung.
📲"Sayang, jika ini serius, jelaskan mengapa tiba-tiba kamu berkata begini?" tanya Regar.
📲"Karena aku tidak mau mencintai orang yang salah sepertimu!" seru Viva yang mulai mengeluarkan emosinya.
📲"Viva, jelaskanlah. Jangan seperti ini. Hubungan kita sudah dua tahun ...."
__ADS_1
📲"Ya, dari itu aku ingin menyudahi semua hubungan tidak berguna ini!" sela Viva. "Dengar Pak Regar yang tidak punya hati, Semua perlakuanmu semoga tidak menimbulkan karma buruk untukmu. Mulai saat ini, terserah hati mana yang akan kamu sakiti lagi. Tapi tidak dengan hatiku. Ternyata selama ini cintaku terlalu murahan karena sudah berani mencintaimu!" imbuh Viva. Viva memutuskan jaringan teleponnya. Ia benar-benar ingin melepaskan semua tentang Regar. Tidak perduli akan seberapa lama ia harus membuang semua kenangannya bersama Regar.
*
Waktu yang sama sekali tidak Viva harapkan, kini serasa cepat berjalan. Dan tidak terasa hari ini adalah hari kebahagiaan keluarga besar Yudha dan juga keluarga besar Viva. Semua orang tersenyum cerah. Kecuali Viva, untuk kuat memasang topeng bahagia saja rasanya tidak sanggup. Yudha? Yudha terlihat biasa saja.
Semua mata tertuju pada dua pasangan yang duduk bertatai itu. Sangat serasi. Tubuh Viva yang dibaluti gaun mekar berwarna wardah nampak sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Yudha yang mengenakan jas pengantin berwarna silver itu juga sangat memukau.
"Pah, andai saja yang berada di samping Yudha itu Willow anak kita, pasti Mama akan sangat bahagia. Willow bagaimana ya, Pah?" lirih Mitha sedih sembari menatap pengantin di depan mereka.
"Mah, jangan terlalu memikirkan. Willow itu selain pintar juga cerdas. Ia pasti bisa menempatkan dirinya dengan baik," kata Ketut menenangkan hati istrinya.
*
"Bengkeng banar anak kita, Yah. Lakiannya jua gagah. Uh ai, kada menyangka, anak kita sudah bujang, sudah jadi bini orang (Cantik banget anak kita, Pah. Laki-lakinya juga tampan. Uh, nggak nyangka, anak kita sudah besar, sudah jadi istri orang)," kata Ira pada suaminya.
"Setumat lagi ayah jadi kai-kai am (Sebentar lagi ayah jadi kakek-kakek)," sahut Dollar sembari terkekeh pada istrinya.
"Kena pabilakah kita bawa orangnya bedua ke Kalteng (Nanti kapan-kapan kita ajak mereka berdua ke Kalteng)," ujar Ira.
"Pasti," sahut Dollar.
"Pak Dollar, bagaimana perasaannya, Pak?" tanya suara dari Fendo yang datang entah dari mana.
"Tentu sangat bahagia, Pak. Dari kecil Viva memang terbiasa pisah dengan kami, hingga kakek neneknya sudah tiada ia masih ingin melanjutkan hidup di ibu kota ini walau seorang diri. Sekarang saya dan istri tidak akan terlalu khawatir lagi karena Viva sudah punya suami yang akan menjaganya di sini.
__ADS_1