Akhir Nikah Paksa

Akhir Nikah Paksa
Ternyata mau menikah


__ADS_3

Willow semakin serba salah, ia sungguh tidak mau menikah. Apalagi melihat calon suaminya yang dingin dan menurutnya jauh lebih tua darinya.


Sedari dulu ia selalu mengidamkan laki-laki yang hangat juga perhatian terhadapnya. Tapi apa tadi itu? Bahkan mata Yudha penuh dengan tatapan dingin. Ia pasti tidak akan bahagia jika menikah dengan laki-laki itu. Dan usia, ia ingin mempunyai jodoh yang hampir seumuran dengannya. Yudha, benar-benar bukan tipenya.


Willow terus menangis, ia tidak tahu bagaimana menghentikan ini. Ia harus apa sekarang? Siapa yang bisa menolongnya sekarang? Viva, ia ingat, ia harus menghubungi Viva. Dirinya harus menghubungi Viva untuk menghiburnya. Willow mencoba menghubungi Viva, namun ternyata nomor temannya itu tidak bisa dihubungi. Willow kemudian mengirimi pesan agar besok siang Viva ke rumahnya.


***


Sementara dengan keluarga Fendo, mereka sudah mengabarkan kepada orang-orang terdekat mereka. Terutama Ranty yang terus-terusan menceritakan langsung pada teman-temannya dan juga menelepon sanak keluarga atau temannya yang jauh. Ia sungguh bahagia dengan rencana pernikahan putra sulungnya itu.


Yudha yang mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia malas untuk menghentikan itu. Ibunya pasti akan membuat banyak alasan yang membuatnya kalah debat.


Setelah selesai sarapan, Yudha segera berangkat ke kantornya. Bisa dibilang ia sedikit menghindar dari orang tuanya itu. Ia bahkan lebih dulu sarapan sendiri dan lalu pergi.


10 hari lagi pernikahan akan dilaksanakan. Ranty sibuk mencari MUA dan gaun pernikahan yang paling bagus. Ia juga tak lupa mempersiapkan tempat foto prewedding Yudha dan Willow nanti.


***


Di rumah Willow, Viva datang dengan motornya. Ia disambut hangat oleh orang tua Willow. Maklum, sedari dulu memang Viva sering kali berkunjung ke rumah Willow. Jadi hal itu membuatnya dekat dengan keluarga Willow.


"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Mitha pada Viva.


"Baik, Tante. Sekarang Viva bekerja di sekolah menjadi tata usaha dan juga kuliah malam," jawab Viva.


"Oh ya, lalu bagaimana dengan kerjaanmu itu? Apa sulit?" tanya Mitha lagi.


"Ah, tidak, sangat mudah dan cukup seru, Tan. Kadang Viva sesekali mengajari anak-anak, rasanya senang sekali."


"Kamu benar-benar anak yang mandiri," tambah Ketut memuji.


"Hehe, terima kasih, Om."

__ADS_1


"Oh iya, kamu pasti sudah tahu, kan?


"Apa itu, Tante?"


"Apa Willow belum mengatakan padamu kalau dia akan menikah?" Mendengar pertanyaan Mitha, sontak Viva terbelalak lalu melirik ke arah Willow duduk. Sementara Willow hanya bisa tersenyum getir. Viva melebarkan senyumnya. Sungguh ia belum tahu itu, tapi ini kabar yang membahagiakan.


"Will, kamu jahat sekali. Masa kabar bahagia ini nggak memberitahu aku sih," sungut Viva, Willow hanya bisa tersenyum terpaksa.


"Oh iya nanti temanin Willow foto prewing yah, Va. Maklumlah, Willow baru kenal dengan calon suaminya," kata Mitha.


"Serius, Tante? Tapi, setahuku memang Willow tidak pernah dekat laki-laki lagi, sih. Will, kamu kok diam aja, sih? Nggak usah sok malu gitu deh sama aku," ejek Viva.


'Karena ini berita terburukku, Va. Aku sangat malas mendengar ini semua,' batin Willow.


***


Waktu yang dinantikan Ranty dan Mitha. Mereka sudah terlebih dahulu menunggu di tempat studio fhoto. Yudha masih dalam perjalanan, Willow dan Viva juga masih on the way. Sementara Fendo dan Ketut mungkin satu jam an lagi akan berangkat ke studio fhoto. Mereka ada meeting bersama. Ini sangat sibuk, karena ini adalah pernikahan pertama anak-anak mereka. Jadi, tidak boleh ada kekurangan, dan mereka ingin selalu memantaunya.


Beberapa saat kemudian, Yudha sudah berada di luar studio dan berpapasan dengan Viva yang juga berada di sana. Mereka nyaris berjalan beriringan, namun dengan cepat Yudha melajukan langkahnya.


Karena lebih cepat berjalan, Yudha sudah lebih dahulu sampai di tempat Mitha dan Ranty duduk.


"Oh, Yudha lebih dulu sampai," ujar Mitha lalu dibalas senyuman oleh Ranty.


"E, itu Viva, Viva! Ke sini, Nak," kata Mitha seraya melambaikan tangannya ke arah Viva yang terlihat celingak-celinguk.


"Siapa itu, Kak?" tanya Ranty pada Mitha yang memang lebih tua darinya.


"Itu sahabat Willow, aku yang menyuruhnya datang ke sini untuk menemani Willow. Willow pasti malu, jadi kalau ada temannya itu, ia bisa jadi lebih enakannya," jelas Mitha.


"Oh begitu, lalu di mana Willow, ya?" tanya Ranty lagi.

__ADS_1


"Mungkin di belakang Viva," sahut Mitha. Ia menyumbangkan senyumnya kepada Viva yang semakin dekat dengan mereka. Yudha ikut menoleh memandangi perempuan mungil yang tadi diselipnya, karena dirasanya gadis itu terlalu lambat berjalan.


"Tante," kata Viva sembari mencium punggung telapak tangan 2 wanita secara bergantian yang sepertinya sudah berumur setengah baya di matanya itu, tapi masih terlihat muda karena riasan wajah dan style baju mereka. Viva kemudian mengangkat wajahnya melihat Yudha yang berwajah datar balik menatapinya.


"Pak," kata Viva sembari melontarkan senyumnya pada Yudha. Ia tahu Yudha masih muda, namun melihat dari pakaiannya, ia tampak lebih cocok dipanggil bapak. Penampian Yudha dengan jas kerjanya yang tampak mempunyai jabatan. Dan lagi, Viva sudah terbiasa memanggil rekan kerja gurunya yang selalu memanggil dengan sebutan bapak atau ibu.


Sementara Yudha hanya diam dan sedikit mengerutkan dahinya mendengar panggilan Viva.


"Va, Willow di mana?" tanya Mitha.


"Loh, bukannya tadi dia bilang pada Viva kalau dia lebih dulu ke sini? Apa belum ada, Tan? Tadi Viva pakai motor ke sini.


"Benarkah? Di mana anak itu?" kata Mitha sedikit khawatir.


"Mungkin karena macet, Kak," ujar Ranty menenangkan.


"Kalau begitu aku coba telepon dia dulu, ya." Ranty dan Viva menggangguk


"Viva, kan tadi namanya?" tanya Ranty pada Viva.


"Iya, Tante."


"Kamu sahabat sekaligus adiknya Willow, ya?" tanya Ranty lagi seraya tersenyum manis. Mereka bertiga duduk di sofa.


"E, tidak, Tan, umur Viva 22 tahun. 1 tahun lebih tua dari Willow," jawab Viva seraya membalas senyuman Ranty.


"Apa? Serius? Tante kira umur kamu masih 18 tahun. Lihatlah tubuh mungilmu itu, hidung kecil, bibir kecil, bulu mata lentik, bola mata besar dan berwarna coklat muda. Kamu sangat imut dan cantik," kata Ranty seraya mencubit pipi Viva. Viva tersenyum lagi, yang semakin membuatnya terlihat cantik di mata Ranty. Sementara Yudha hanya diam dan tidak tahu harus melakukan apa. Ini waktu terbodohnya, bisa-bisanya ia ketinggalan ponselnya. Karena itu ia hanya bisa mendengarkan ibunya yang terus memuji gadis kecil yang ada di sebelah ibunya itu.


"Willow tidak aktif," kata Mitha kemudian dengan wajah blingsatannya.


"Tante, coba aku hubungi dari sosial medianya yang lain, ya," ujar Viva yang dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Dan betapa terkejutnya ia melihat notifikasi chatting yang masuk di ponselnya itu. Ia segera membukanya. Viva terbelalak tidak berkedip, dan ketika ia selesai membaca chatting itu. Tangannya menjadi lemas dan gemetaran.

__ADS_1


"Viva, kenapa, Viva?" tanya Mitha bertambah khawatir melihat ekspresi Viva. Semua orang juga ikut membuncah melihat keanehan Viva.


"Willow kabur, Tante,"


__ADS_2