
"Ayah, semakin kurus saja?" tanya Viva pada Ayahnya itu setelah acara pesta pernikahan selesai.
"Ayah sehat, hanya sering berolahraga. Dan lihatlah, tubuh ayah sudah baguskan?"
"Nggak, Ayah. Bagusan perawakan Ayah yang dulu. Lebih tampan dan juga keren. Ayah harus sehat-sehat terus, ya," ungkap Viva lagi sembari mengelus lengan Dollar.
"Iya, Va."
"Ehem, Pak Dollar, Viva mari makan bersama," kata Ranty pada menantu juga besannya itu.
"Iya, Tante," sahut Viva.
"Eh, Mamah, sayang," sela Ranty.
"Viva, kamu itu sudah jadi istri orang dan belajarlah terbiasa," imbuh Dollar.
"Em, Iya, Yah, Mah."
"Ya sudah, mari, Pak Dolar. Oh, Viva, kamu panggilkan Yudha di kamar kalian, yah. Suruh dia ikut makan bersama kita," kata Ranty. Viva mengangguk setuju dan berlalu pergi.
Viva membuka kamar yang menurutnya itu adalah kamar Yudha. Viva membukanya dan masuk dengan gugup. Baru kali ini ia masuk kamar lelaki.
Desain kamar itu tampak berani dan banyak poster wanita seksi terpajang. Viva terbelalak melihatnya. Belum lagi itu sangat berantakan.
"Kalau begini, berarti Mas Yudha itu cabul dan ah, nggak bisa kubayangkan. Bahaya! Aku harus bagaimana!" gumam Viva dengan wajah blingsatan. Hingga ia berhenti berjalan di depan kamar mandi. Kamar mandi yang pintunya saja terpampang poster wanita tanpa baju dan hanya memakai dalaman saja
"What!!!" Viva menutup mulutnya.
"Wuaaaa!!!" Viva berteriak sembari menutup wajahnya. Seorang lelaki yang keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. Bukan, bukan Yudha.
"Heii!!" teriak laki-laki itu juga.
"Siapa kamu?" tanya Viva masih dengan perasaan membuncah.
"Kamu istri Yudha, kan? Berani-beraninya masuk kamarku!" hardik laki-laki itu yang ternyata adalah Adya adik dari Yudha.
"Ah, maaf aku salah kamar," kata Viva dan langsung berlari kecil untuk keluar kamar Adya.
Viva menghela nafasnya setelah keluar dari ruangan cabul itu.
"Yang mana, sih! Ini kali, ya. Sepertinya ini," gumam Viva lalu membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Adya.
Kali ini mata Viva kembali terbelalak. Ruangan yang mewah dan aesthetic. Lampu putih redup ada di setiap sisi kamar yang bernuansa abu-abu itu. Sprei yang berwarna hitam polos dan hiasan-hiasan yang sangat menarik hati. Kamar itu juga sangat rapi dan tertata.
"Ngapain?" suara yang mengagetkan Viva. Ternyata Yudha ada di kursinya dan sambil membaca buku.
"Oh, eh, Mas, ayo kita ke bawah. Kata Mama makan dulu," ujar Viva.
__ADS_1
"Ya," sahut Yudha pendek.
Viva memilih untuk lebih dahulu ke bawah walau ia menyadari Yudha sudah berjalan di belakangnya juga. Viva mempercepat langkahnya. Jantungnya belum bisa berdetak tenang.
"Hei, ayo pengantin baru, kita makan dulu," kata Ira mengejek anak dan menantunya.
"Bundaaaa," rengek Viva lalu duduk di sebelah Ranty.
"Hehe, muka manyun begitu makin terlihat seperti anak kecil yang imut," kata Ranty memuji Viva.
"Bisa-bisa nanti kalau kalian berdua berjalan di luar, dikira kalian adik kakak. Hehehe ...." ujar Fendo, semua orang juga tertawa. Sementara Yudha hanya tersenyum getir.
"Kak Viva, mulai sekarang Kakak harus berdandan seperti wanita dewasa. Kalau tidak, wajahku nanti akan terlebih tua dari Kakak," kata Calis. Semua orang kembali tertawa.
"Makanya punya muka jangan terlalu boros, Lis," ejek Fendo.
"Papaaa!" gelak tawa kembali terdengar.
**
"Mas, yang sebelah kamar Mas ini, siapa?" tanya Viva dengan hati-hati ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
"Adya," jawab Yudha singkat.
"Siapa dia?" tanya Viva lagi.
"Adikku."
"Apa urusannya denganmu?"
"E, nggak ada. Hanya bertanya. Tadi aku salah masuk kamar," ucap Viva. jujur saja, ia ngeri dengan suaminya itu. Sikapnya yang dingin membuatnya tidak betah berdekatan. Namun apa daya, tidak mungkin ia harus pisah kamar, sedang ia sedang di rumah mertuanya.
"Mengapa bisa?" Yudha memalingkan wajahnya menatap Viva dengan intens.
"Karena aku belum tahu kamar Mas. Dari luar, kamar dia yang terlihat seperti milik laki-laki sekali. Jadi kukira itu kamarmu," jawab Viva jujur.
"Apa dia mengajakmu berbicara?" tanya Yudha.
"Tadi dia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dan lalu aku berteriak. Lalu dia mengatakan 'Berani-beraninya masuk kamarku!' begitu," jelas Viva sembari mempraktekkan gaya bicara Adya. Yudha menyeringai.
"Jangan berbicara dengannya," ucap Yudha.
"Memangnya kenapa?" tanya Viva penasaran.
"Aku nggak suka,"
"Alasannya?"
__ADS_1
"Kamu nggak perlu tahu. Malam ini kamu tidurlah di sofa. Aku nggak bisa tidur dekat dengan wanita," ungkap Yudha.
"Maksud Mas, Mas alergi wanita?"
"Mungkin begitu," jawab Yudha.
"Ternyata ada orang seperti ini," gumam Viva.
"Kamu berharap tidur bersama denganku?"
"E, nggak, nggak, bukan begitu. Aku hanya heran dan baru pertama kali ini bertemu orang yang alergi dengan lawan jenis. Apa ...." Viva membelalakan matanya. Gay, itulah pikirnya.
"Apa maksudmu?" tanya Yudha.
"Mas, Mas menyukai sesama jenis?" tanya Viva sambil menampakkan tatapan menyelidik sekaligus kengerian. Yudha kembali tersenyum menyeringai. Melihat itu membuat Viva menelan salivanya dengan susah payah. Kini ia yakin, suaminya tidak normal.
"Aku mau tidur, pergilah ke sofa," usir Yudha pada Viva yang duduk di tepi ranjang. Viva segera pergi menjauhi Yudha.
Viva berniat mencari baju tidurnya dan mengambil boneka kesayangannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Viva berbaring di atas sofa empuk sembari memainkan ponselnya.
Sungguh, malam pertama yang membuatnya bingung harus senang atau sedih. Ia senang jika Yudha gay, itu berarti laki-laki itu tidak menyentuhnya. Namun, apa hubungannya itu akan bertahan selamanya jika seperti ini keadaannya.
***
"Cie, pengantin baru. Gimana malam pertamanya, nih?" ejek guru-guru pada Viva.
"Malam pertama Viva bagus, nyenyak tidur dan nggak ada tugas dari dosen," jawab Viva.
"Memang nggak ada ehem-ehemnya?" tanya Jefri rekan kerjanya.
"Ehem-ehem apaan?" tanya Viva.
"Bocah cilik, asli! Jadi lu tadi malam ngapain sama suami lu?" tanya Lulu.
"Nggak ngapa-ngapain. Buka instagram, youtube, tik tok. Ya gitu-gitu aja,"
"Memangnya Itu suami kamu yang tampan itu nggak mau gitu? Diakan sudah dewasa, umurnya berapa, Va?" tanya Rini.
"kayaknya 27 tahun," sahut Viva.
"Nah, itu tuh maksudku. Itu sudah usia matang untuk masa pembuahan," ucap Rini.
"Udah ah, kalian ngomong apasih. Nggak baik, itu aib, tahu!"
"Lagian, lu ngapain ke sini juga? Bukannya tidur sambil kelonan di rumah. Lu tu cuti, lu lupa atau gimane?" tanya Lulu.
"Emang kalian nggak pengen ngeliat wajah Viva? Viva ada kerjaan yang belum beres kemarin," balas Viva.
__ADS_1
"Ini nih, pengantin baru yang masih perawan namanya," celetuk Delmi.
"Kalian, ya!!"