
"Mengapa perlu bertanya lagi! Ini adalah rumahku dan lalu rumahmu juga," kata Yudha.
"Tapikan aku ...."
"Karena aku adalah suami kamu, jadi rumah ini juga rumahmu."
Deg!!
Entah mengapa rasanya hati Viva menjadi tidak santai mendengar kata Yudha yang menyebut dirinya adalah suami dari Viva.
'Mulai kapan dia menganggap aku istrinya? Mending aku jadi pembantumu aja deh," Batin Viva menggerutu.
Akhirnya Viva menuruti Yudha, ia berjalan mendekati lemari besar milik Yudha. Isinya tertata rapi, Viva sempat melongo melihatnya. Sungguh tidak seperti kebanyakan pria lain.
"Atur saja tempatnya, jika masih ada ruang di ruang lain, simpan di situ saja pakaianku. Sampai pakaianmu punya ruang sendiri," tutur Yudha.
"Iya," sahut Viva singkat. Ia mulai menyusun pakaiannya dan pakaian Yudha dengan rapi. Ia tidak mau kalah rapi dari Yudha suaminya itu.
Yudha yang merasa tubuhnya gerah dan lengket karena keringat kini berniat untuk mandi. Ia pun memasuki kamar mandi dan berendam di bathup.
"Mengapa tidak ada pakaian cewek, yah? Seorang gay sepertinya seharusnya sesekali melakukan cross dressing. Ah, mungkin saja ia sembunyikan di tempat lain. Pastinya dia takut jika orang tua atau temannya mengetahui kelainannya itu," gumam Viva.
Viva selesai memasukkan semua baju-bajunya ke dalam lemari. Ia duduk di tepi ranjang Yudha. Saatnya mencuci mata dengan memainkan ponselnya yang sudah beberapa jam tidak ia buka. Seketika itu juga Viva melihat banyak panggilan tak terjawab dari Regar. Sekaligus spam chatting dari mantan kekasihnya itu
📩 "Viva Sayang, jangan begini. Aku sangat cinta sama kamu. Aku harap kamu kasih kesempatan. Aku janji, aku akan berubah. Kita lanjutkan hubungan kita. 5 tahun lagi aku akan menikahimu." Bunyi diantara salah satu chat dari Regar.
"5 tahun? Dia pikir kredit mobil," gerutu Viva.
Yudha yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandinya. Viva sempat terkejut dan ingin segera menutup mata dengan tangannya. Tapi kemudian ia sadar itu adalah suaminya, dan lagi suaminya itu adalah penyuka sesama jenis. Sudahlah, pikirnya.
Jika melihat gaya dan tampilan Yudha sungguh dipandang tidak mungkin ia adalah seorang transgender. Apalagi tubuhnya yang super kekar dan punya rambut tipis di dadanya. Itu teramat memancarkan aura kelelakian sesungguhnya.
"Mas, sudah mandinya?" tanya Viva berbasa-basi.
"He-em." Dengah angkuhnya Yudha hanya menjawab demikian.
__ADS_1
"Kalau gitu aku yang mandi lagi," ujar Viva yang lalu beranjak bangkit pergi ke kamar mandi sembari membawa handuk di bahunya.
Selesai mandi, Viva keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di dadanya. Dilihatnya Yudha yang melirik ke arahnya beberapa detik dan lalu fokus kembali membaca buku di tangannya.
"Mas, anter aku ke kampusnya boleh dipercepat, nggak? Aku juga nggak lama di sana, hanya ada keperluan sedikit dengan dosenku," kata Viva membuka suara dengan masih berdiri di tempatnya sembari memegang pinggiran handuk yang dipakainya.
"Jam berapa?" tanya Yudha.
"Jam 04 sore ini ya, Mas?"
"Setengah jam lagi, bersiap-siaplah dulu," kata Yudha. Viva mengiyakan, ia segera mengenakan pakaian yang sudah dipilihnya.
**
Sudah keberapa kalinya Viva satu mobil dengan Yudha, namun suasananya selalu sama. Diam seribu bahasa. Bahkan di manapun mereka berada. Pembicaraan mereka hanya seperlunya saja.
'Bosan banget punya teman begini. Sudah aku nggak kerja lagi, ditambah teman serumahku akan begini seterusnya. Bisa-bisa 1 tahun lagi, aku akan lupa caranya ngomong,' batin Viva.
"Mas, bulan depan aku Wisuda. Bisa datang, nggak?" tanya Viva memecah keheningan diantara mereka.
"Abangku akan ke sini pada hari wisudaku. Nanti ia pasti akan membawa istri dan anaknya juga. Nggak apa-apakan mereka nginap di rumah kamu, Mas?" tanya Viva.
"Itu adalah rumahmu juga, semua anggota keluargamu boleh ke rumah kita," jawab Yudha Viva tertegun mendengarnya. Ia sedikitpun belum bisa mengerti karakter suaminya itu. Ia baik, tapi terlampau dingin. Viva tidak menyangka dalam hidupnya ia bisa bertemu dengan orang selangka Yudha.
**
Viva dan Yudha sudah kembali ke rumah mereka. Kini keduanya berada diam atas ranjang yang sama. Viva merasakan dadanya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Namuj ia tidak dapat menebak perasaan laki-laki di sebelahnya itu.
"Viva, mengapa kamu tidak ikut dengan orang tuamu?" Akhirnya, kali ini Yudha yang membuka suara terlebih dahulu.
"Aku sudah terbiasa jauh dari mereka dari sejak aku berumur 5 tahun. Kakek dan Nenek dulu sangat memanjakanku dan sangat senang mengajakku ke ibu kota ini. Hingga akhirnya aku merasa terbiasa hidup di hiruk pikuk kota metrapolitan. Tapi mereka kini sudah lebih dulu pergi ke surga. Menyisakan aku seorang diri di sini. Tapi walau begitu aku tetap bertahan, karena aku sudah terlanjur berkuliah di sini juga kredit rumah," jelas Viva panjang dan lebar.
"Bagaimana caramu membayar kuliah dan rumahmu itu? Apa menunggu kiriman dari ayahmu?"
"Andai itu terjadi, aku akan kembali menolaknya. Bagiku anaklah yang seharusnya membantu orang tuanya. Sudah cukup ayah membiayai sekolahku hingga SMA. Sekarang saatnya hidup di atas usahaku sendiri," tutur Viva. Yudha mendengarkan dengan seksama. Ia kemudian tersenyum tipis tanpa dilihat oleh Viva.
__ADS_1
"Besok akan kita lunasi rumahmu," ungkap Yudha. Sontak membuat Viva terbelalak mendengarnya.
"Mas, apa maksudmu?"
"Jangan anggap aku seperti orang tuamu dan jangan berpikir juga bahwa setelah ini kamu hidup di atas usahaku, seperti katamu barusan. Anggap saja aku adalah timmu," jelas Yudha. Membuat Viva semakin terkejut mendengarnya.
"Tapi, Mas ...."
"Tidurlah," kata Yudha memotong pembicaraan.
"Duluan, aku belum ngantuk."
"Kamu pernah jatuh cinta?" tanya Yudha pada Viva. Viva langsung menolehkan kepala ke arah Yudha yang berada di sebelahnya.
"Tentu saja," jawab Viva.
"Seperti apa rasanya?" tanya Yudha lagi.
"Senang, bisa juga sedih. Memangnya Mas nggak pernah jatuh cinta?" tanya Viva balik.
"Sepertinya aku hanya pernah mencintai keluargaku," jawab Yudha.
"Lalu ... Tapikan Mas suka sama laki-laki juga. Apa Mas nggak nyandar kalau itu perasaan cinta?"
"Siapa yang mengatakan padamu aku gay?" Yudha balik bertanya.
"Mas sendiri."
"Kapan?"
"Ya bukan secara langsung, sih. Tapi secara tidak langsung. Lagian mana ada orang tidak pernah jatuh cinta. Mungkin saja Mas nggak menyadarinya. Mungkin dulu pas SD, SMP, SMA, atau kuliah, Mas pernah mencintai seseorang. Dan ingin memiliki orang itu."
Yudha memikirkan perkataan Viva. Ia mencoba mengingat-ingat. Samar-samar ia dapat ingatan itu. Seseorang yang pernah membuatnya ingin bersamanya terus menerus. Dalam ingatannya itu terjadi ketika ia masih SMA.
"Mas, apa Mas pernah berhubungan lebih dengan laki-laki juga?" tanya Viva.
__ADS_1