
Sesuai anggukannya pada orang tuannya yang menyetujui pulang tepat waktu ke rumah setelah waktu pulang dari kantor, Yudha kini sudah duduk dengan tenang di ruang keluarga seraya sesekali menyeruput teh manis bersama ayah dan ibunya.
"Yudh, bagaimana dengan karyawanmu? Apa dapat diatur semua dengan mudah?" tanya Fendo memulai perbincangan.
"Baik, Pah. Hanya saja kemarin ada masalah dengan HR 1, dan sekarang ini sudah terselesaikan." Mendengar jawaban Yudha, Fendo dan Ranty saling bertukar tatapan. Mereka belum menemukan kalimat awal untuk membicarakan tentang rencana mereka itu.
"E, Yudh, besok ada pak Ketut bertamu di rumah ini bersama keluarganya," ucap Ranty akhirnya.
"Ehm, baiklah. Itu kabar yang baik. Jam berapa mereka akan datang? Aku akan pulang lebih awal kalau begitu," jawab Yudha.
"Ah, mereka akan ke sini pada malam hari. Mungkin sekitar jam 7," kata Fendo.
"Baiklah, Aku akan pulang jam 4 sore. Sepulangnya aku ingin beristirahat dulu agar tidak mengantuk ketika bertemu pak Ketut," jelas Yudha.
"Iya, itu bagus, dan sebenarnya ada yang ingin Papah katakan lagi."
"Apa itu, Pah?" tanya Yudha sedikit menaikkan alisnya.
"Apa kamu pernah bertemu anak pak Ketut?" tanya Fendo lagi.
"Tentu saja, namanya I Made Juna Arsana," jawab Yudha.
"E, bukan, yang perempuan, Yudh," sangkal Ranty lalu memberi kisi-kisi pula.
"Itu, aku kurang tahu," sahut Yudha.
__ADS_1
"I Made mempunyai adik perempuan, namanya Willow. Mamah lupa nama panjangnya, yang pasti dia baik hati dan sopan," ungkap Ranty dengan hati-hati agar suasana tetap hangat.
"Oh, itu bagus, zaman sekarang sopan santun jarang dimiliki anak muda bahkan orang tua sekalipun, yang harusnya memberi contoh. Pak Ketut berhasil mendidik anak-anaknya. I Made juga demikian, mempunyai karakter yang penuh kesopanan," jelas Yudha. Fendo dan Ranty sekali lagi bertukar tatapan, kali ini ditambah dengan senyuman tipis. Mereka senang mendengar pujian Yudha pada Willow. Itu artinya ia akan mudah menerima rencana mereka.
"E, syukurlah kamu dapat melihat sikap mereka dengan baik, Yudh. Jadi karena itu, Papah semakin bersemangat untuk memberi tahumu."
"Ceritakanlah,' ujar Yudha.
"Tadi siang Papah dan pak Ketut bertemu dan kami memperbincangkan kalian. Pada intinya saja, Papah sangat ingin sekali kamu berjodoh dengan Willow, anak pak Ketut," jelas Fendo dengan sangat hati-hati, Yudha yang mendengarnya menatap lekat pada ayahnya itu.
"Maksud Papah ingin aku menikah dengan anak pak Ketut itu?" tanya Yudha seraya membulatkan matanya. Ia cukup kaget mendengar pernyataan ayahnya, dan ia ingin semua hanya salah paham saja atau mungkin salah dengar.
"Iya, Yudh. Mamah dan Papah ingin kalian saling mencintai seperti Mamah dan Papah sekarang," kata Ranty membenarkan pertanyaan Yudha.
"Yudh, Papah khawatir dengan pendirianmu. Papah dan Mamah tidak mau jika kamu sampai tidak menikah hingga tua nanti. Seperti Papah dan Mamah, Yudh. Papah mempunyai saudara tapi mereka akhirnya mempunyai keluarga baru, jika saja Papah tidak menikah dengan Mamahmu, pastinya Papah tidak tahu ikut dengan siapa. Juga akan membuat Papah merasa kesepian sepanjang hidup Papah, Yudha. Papah sudah tidak tinggal dengan orang tua Papah lagi dan Mamahmu juga demikian. Suatu hari anak atau orang tua akan sama-sama saling meninggalkan, saudara kita juga akan meninggalkan kita, tapi pasanganmu kelak akan tetap bersamamu. Kecuali kamu atau pasanganmu terlepas dari jasadmu, maka dua ikatan nyata akan terlepas juga," jelas Fendo panjang lebar memberi nasehat pada Yudha.
"Tapi bagaimana jika aku membuat seseorang menderita? Aku tidak bisa mencintainya," ujar Yudha bersikeras.
"Cinta itu istimewa, tidak dapat diduga akan datang kapan ataupun sebaliknya, Yudh," lanjut Ranty
"Mah, Pah, aku pulang," adu Calis yang datang tiba-tiba, dan tentu saja mengagetkan kedua orang tuanya dan kakaknya yang menatapnya datar seperti biasanya itu.
"Iya, kalau belum makan malam, makanlah sendiri, yah," ujar Ranty.
"Tidak ah, aku ingin ngumpul di sini juga," kata Calis seraya melemparkan pantatnya di sofa. Semua orang hanya diam memperhatikannya.
__ADS_1
"Yudh, Papah ingin kamu menuruti kemauan orang tuamu ini," lanjut Fendo memohon.
"Baiklah, aku ikuti itu," kata Yudha membuat ayah dan ibunya tersenyum lebar saling berpandangan. Sementara Calis hanya terdiam seraya mengernyitkan dahi karena tidak mengerti.
***
Sementara di rumah Willow, Ketut dan istrinya juga berusaha meyakinkan Willow untuk menjadi istri dari rekan kerja mereka itu, yaitu, Fendo.
"Nggak! Will nggak mau, Pi! Will ingin belajar. Mana mungkin Will menikah dengan lelaki yang bahkan tidak Will kenal. Mami dan Papi saja dulu saling mencintai sebelum kalian menikah, lalu mengapa ingin menjadikan hidup Will seperti burung dalam sangkar. Will sudah berusaha untuk menjadi anak yang berprestasi dari sejak sekolah dasar. Tapi, kalian bisa-bisanya menghancurkan perjuangan dan mimpi besar Will!" Willow sangat terpukul dengan kemauan orang tuanya itu. Ia sungguh ingin berkarir dan bukan malah menikah.
"Turunkan nada suaramu, Will!" bentak Mitha pada putrinya itu. Willow menghela nafas panjang, menahan emosinya.
"Will mau belajar dan menjadi wanita yang tangguh, tidak kalah dengan laki-laki. Willow belum mau menikah," kata Willow yang sudah bisa mengatur intonasi suaranya.
"Will, kamu masih bisa melanjutkan belajarmu. Yudha pasti mengijinkanmu kuliah," ungkap I Made pada adiknya.
"Tapi kebebasan Will? Siapa yang akan bertanggung jawab dengan itu setelah pernikahan ini terjadi! Kakak, kah? Siapa yang akan bertanggung jawab jika saja suami Will nanti memperlakukan Will dengan tidak baik? Menikah bukan untuk satu dua bulan. Jika Will bercerai Will akan berstatus janda dan ...."
"Cukup, Will! Jangan menganggap kami ini bodoh sehingga kamu harus mengajari kami. Kamilah yang menghidupimu selama 21 tahun. Jadi, Papi dan Mamimu ini tentu sudah dapat menilai mana yang baik untukmu. Dan masalah bercerai, Papi tidak mengkehendaki itu. Papi ingin menikahkanmu sekali seumur hidup. Kamu harus tahu, tidak hanya karena masalah dijodohkan jika ada pasangan suami istri yang berpisah, tetapi banyak hal. Entah itu karena unsur perselingkuhan, KDRT, atau lain sebagainya. Semua itu sudah ada takdirnya masing-masing," jelas Ketut memberi nasehat anaknya itu. Willow yang sedari tadi menahan agar tidak menangis, kini akhirnya air mata itu berhasil keluar dari matanya.
"Baiklah, aturlah hidupku. Atur saja! Tubuh dan jiwaku ini memang bukan punyaku. Aku sebenarnya tidak punya apa-apa," lirih Willow sembari terisak.
"Bukan seperti itu, Will. Kamu tetap adalah kamu dan semua yang kamu miliki sekarang adalah benar kepunyaanmu. Kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak," kata Mitha lagi.
🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉
__ADS_1