
Mendengar pertanyaan Viva, membuat Yudha hanya tersenyum kecil. Ia menolehkan wajahnya menghadap Viva yang berada di sebelahnya. Lalu kemudian Yudha membenarkan kepalanya lagi seperti sedia kala, melihat langit-langit kamarnya.
"Kapan-kapan saja deh jawabnya, Mas. Aku tidur duluan," ujar Viva sembari menaikkan selimutnya hingga menutup perutnya.
Viva mulai memejamkan matanya, namun dirinya masih terjaga. Sememtara Yudha, kini sekilas memperhatikan Viva dan lalu membalikkan tubuhnya ke arah di mana Viva tidur. Viva yang sebenarnya tidak bisa tidur segera berbalik arah menghadap Yudha dan membuka matanya. Itu terlalu cepat terjadi, Yudha tidak sempat mengalihkan bola matanya apalagi membalikkan tubuhnya. Kini kedua sama-sama saling bertukar tatap. Seketika itu juga jantung wanita cantik itu berdegub kencang.
"M-Mas belum tidur?" tanya Viva berusaha menetralkan debaran jantungnya. Ia bahkan tidak bisa berpindah pandangan sekarang. Bola matanya seperti betah menatap wajah indah di depannya itu.
"Pakailah selimut itu sampai menutupi dadamu," ujar Yudha lalu berbalik, membelakangi Viva. Dengan refleks Viva melihat dadanya yang berisi dan terlihat karena baju tidurnya terbuka. Viva terbelalak sembari memegang dadanya dan menutup selimut sampai menutupi puncak kepalanya. Sungguh malu, pikirnya.
'Tapi mengapa ia bisa mempermalukanku seperti itu. Bukankah seharusnya perasaannya sama seperti aku melihat bagian intim tubuh teman perempuanku. Harusnya dia memberi respon biasa saja. Contohnya, nggak usah menegurku. Kalau begini aku jadi malu," batin Viva.
**
Keesokan paginya.
Matahari sudah menyongsong, melemparkan cahayanya hingga menembus kaca berlapis gorden abu-abu milik Yudha. Viva mengerjabkan matanya. Nyaman sekali tidurnya. Tapi guling yang seharusnya terasa empuk berubah rasa menjadi keras dan hangat. Perlahan Viva berhasil membuka matanya dengan sempurna. Dan alangkah terkejutnya ia, ternyata ia memeluk laki-laki yang tidak lain adalah Yudha. Dengan cepat Viva melepaskan pelukannya. Jantungnya berdebar lagi.
Viva cepat-cepat beranjak dari tidurnya dan berjalan mendekati jendela kamar. Disingsingnya gorden itu. Terlihat mentari yang timbul seperti cakrawala. Di bawah terlihat jalanan besar dan juga rumah-rumah mewah beragam model dan warna. Sensasinya seperti bangun di hotel bintang 5.
"Ini indah, tapi nanti tak lagi seperti ini. Hal yang setiap hari aku lihat sama, maka akan menjadi biasa saja akhirnya. Apalagi kalau aku sudah nggak bekerja. Bangun tidur dan mau tidur hanya pemandangan ini terus yang kulihat. Kuliahku jadi nggak berguna," cibir Viva pada dirinya sendiri.
Viva membalikkan tubuhnya, melihat Yudha yang masih tertidur pulas. Tidak dapat dipungkiri, Viva sungguh memuji ketampanannya. Namun baginya perangai laki-laki itu kurang baik.
Definisi fisik sempurna bagi Viva. Hidung mancung, putih, alis tebal, bulu matanya juga lentik dan postur tubuhnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi keindahannya.
'Sepertinya ia sering olahraga. Itu artinya di dalam hubungannya sebagai seorang gay ia mendominan menjadi laki-laki,' batin Viva.
"Huh, sudahlah. Aku harus memasak. Aku cari dapurnya dululah. Rumah besar begini, apa saja memang harus dicari. Nggak seperti rumahku, jalan lurus saja sudah bertemu kamar mandi, dapur, kamar tidur dan semuanya," gumamnya lagi sembari berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Yudha.
Viva menuruni anak tangga dan celingak celinguk mencari arah yang akan ia tuju. Ia bingung di mana dapurnya.
"Kiri, kanan, atau depan? Em, sepertinya kiri aja deh," ujar Viva yang lalu berjalan mengikuti pikirannya.
"Yey, bener. Ya ampun, gila! Ini dapur aja sepertinya lebih mahal dari rumahku. Aku saja bayar rumah mati-matian yang sekecil itu."
Viva berjalan pelan memperhatikan isi dapur itu dengan intens. Tidak terkecuali memegang beberapa barang yang dianggapnya terlalu unik dan tidak pernah ia lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Huh, kalau begini, kapan aku masaknya. Sudahlah." Viva menuju lemari pendingin. Banyak sekali bahan makanan di sana. Tapi semuanya, instan.
"Wow! Mas Yudha masak sendiri kelihatannya. Tapi ini ala-ala barat. Never mind, kenapa tidak dengan ini. Lidahku menyatu dengan makanan mahal juga," kata Viva bermonolog. Ia lalu mengambil beberapa potong sosis, daging, paprika, dan kubis ungu.
Beberapa saat kemudian, hidangan yang ia harapkan sudah selesai. Sosis bakar berselimut kubis ungu dan steak medium yang menjadi satu dengan potongan paprika hijau di atas steak itu.
"Memukau!" puji Viva pada masakannya sendiri.
Viva meletakkan makanan itu pada nampan dan lalu membawanya ke atas. Kemana lagi kalau bukan kamarnya bersama Yudha.
"Mas, Mas Yudha bangun." Viva menggoncang pelan lengan Yudha. Tidak butuh waktu lama, Yudha membuka matanya dan melihat Viva tersenyum manis di depannya.
"Ada apa?" tanya Yudha yang seperti tidak ikhlas dibangunkan oleh Viva.
"Mas, Sarapan bersama, yuk?"
Yudha beranjak dari tempatnya dan melihat hidangan cantik di sampingnya. Yudha mengangkat alisnya dan kemudian melihat ke arah Viva lagi.
"Bukannya di dapur ada bahan makanan. Mengapa harus beli lagi?" tanya Yudha.
"Kamu yang masak?" tanya Yudha tidak percaya.
"Iya," sahut Viva.
"Bagus, ini hasil yang bagus," kata Yudha sembari tersenyum kecil.
"Terima kasih."
"Dari mana kamu belajar?"
"Belajar? Em, muncul saja di kepalaku. Karena doyan makan, jadi aku selalu berusaha untuk masak sesuatu yang belum pernah aku coba sebelumnya," ungkap Viva.
Yudha mengambil piring untuknya sendiri dan segera mencoba isinya. Sementara Viva mengikuti Yudha. Ia juga mengambil piring yang juga berisi steak dan sosis bakar, sama seperti takaran milik Yudha. Keduanya melahap dengan nikmat.
"Mas, nanti anterin aku ke rumahku, ya? Aku mau mengambil baju-bajuku dan juga motorku," ujar Viva.
***
__ADS_1
Willow melangkah santai sembari menikmati sejuknya malam di negara Jepang. Sukurlah urusan kuliahnya sudah selesai. Besok ia sudah bisa mulai masuk kelas.
Di sini ia akan memulai hidup barunya. Tanpa orang tua dan bertahan hidup dengan tabungan yang sudah terkumpul dari ia masih kecil dulu. Namun ia juga harus mencari kerja sampingan. Tabungan miliknya tidak bisa berbunga sendiri, maka harus diselingi dengan mengisinya juga sedikit demi sedikit. Agar bisa menutupi pengeluarannya.
Rencananya ia akan kembali ke Indonesia setelah 5 tahun. Setelah semua pendidikannya terselesaikan dan mendapat uang yang banyak.
Willow menepikan dirinya pada kursi taman. Menikmati pemandangan di negeri impiannya sejak kecil dulu. Dan sekarang sudah menjadi kenyataan, walau harus membawa kenyataan pahit diperjalanannya ini. Yaitu meninggalkan orang tuanya dengan terpaksa.
"Sumimasen, anata no tonari ni suwatte mo īdesu ka? (Permisi, apa aku boleh duduk di sebelahmu?)" tanya seseorang yang membuat Willow tersadar dari lamunannya.
"oh sorry, i'm new in japan. Can you use English? (Oh, maaf. Aku baru di Jepang. Apa bisa kamu menggunakan bahasa inggris?)," ujar Willow.
"Yes, i can. I said can I sit next to you? (Ya, aku bisa. Aku berkata, apakah aku bisa duduk di sampingmu?)," tanyanya lagi.
"Oh yes. Certainly. Please just sit down. (Oh ya. Pasti. Silahkan duduk saja)."
"Thank you very much, (Terima kasih banyak)," ujar Laki-laki tinggi itu lalu duduk di samping Willow.
"Your welcome, ( Sama-sama), " sahut Willow.
"by the way, which country are you from? (Ngomong-ngomong, kamu dari negera mana?) tanya laki-laki itu.
"I'm from Indonesia, (Aku dari Indonesia)," sahut Willow.
"Selamat menikmati Negera Jepang," kata laki-laki itu kemudian. Willow menolehkan kepalanya. Mengerutkan dahinya karena orang di sebelahnya kini berbahasa Indonesia dengannya.
"Anda?"
"Ya, aku dari Indonesia, sama sepertimu. Namaku Biru Arata." Biru mengulurkan tangannya.
"Willow Selina," ujar Willow seraya menyambut uluran tangan Biru. "Tapi wajahmu seperti warga Jepang dan namamu juga terdengar seperti nama-nama orang Jepang," imbuh Willow sembari memperhatikan laki-laki berhidung mancung itu.
"Ayahku dari Jepang, sedangkan ibuku dari Indonesia."
"Em, tapi semua bahasa kamu kuasai dengan bagus dan lancar. Kamu tinggal di Jepang, tapi bahasa Indonesiamu lancar tanpa sendat dan logat Indonesiamu juga sangat bagus," ujar Willow.
"Aku sekolah dasar sampai dengan Strata 1 di Indonesia," balas Biru.
__ADS_1