Akhir Nikah Paksa

Akhir Nikah Paksa
Pindah Rumah


__ADS_3

"Yudha, mengapa mendadak sekali? Tidak bisakah kamu dan Viva menemani Mamah dan Papah selama satu minggu dulu?" tanya Ranty pada putra sulungnya itu.


"Lebih cepat lebih baik, Mah. Kebetulan kampus Viva lebih dekat dari sana," jawab Yudha. Viva menatap suaminya, ia bahkan tidak tahu kalau rumah Yudha dan kampusnya dekat.


"Mah, biarkan mereka membangun kehidupan barunya. Kitakan masih ada Adya dan Calisa. Siapa tahu hal itu juga akan mempercepat hadirnya keluarga baru untuk kita," jelas Fendo.


"Maksud Papa cucu?" tanya Ranty memastikan.


"Iya, Mah." Mendengar itu membuat Yudha dan Viva saling berpandangan. Viva merasa ngeri mendengarnya, ia menampakkan wajah terkejutnya. Sedang Viva melihat ekspresi Yudha yang datar seperti biasanya.


'Membayangkannya saja aku nggak sanggup. Punya anak dari seorang gay? Hah, nggak, nggak, nggak mau kubayangkan!' batin Viva menggerutu.


Sementara kedua orang tua itu tertawa lepas membayangkan jika nanti mereka mempunyai cucu. Mereka sungguh ingin. Maklum, kemauan itu sempat terkubur begitu saja setelah berharap besar pada Aneth, istri dari Adya yang waktu itu sedang hamil muda lalu meninggal dalam kecelakaan.


"Oh iya, Viva, kamu butuh asisten rumah tangga nggak, Sayang?" tanya Ranty.


"Nggak perlu, Mah. Viva bisa kok mengurus rumah," jawab Viva.


"Kamu yakin?" tanya Yudha dengan masih belum merubah mimik wajahnya.


"Yakin," jawab Viva.


"Ya sudah, nanti kalau butuh bilang saja pada Yudha, ya," ujar Ranty lagi.


"Iya, Mah."


"Ingat, makan makanan sehat biar cepat jadi," imbuh Ranty membuat Viva mual mendengarnya.


"Hehe, Mamah bisa aja," kata Viva yang dengan terpaksa masih mengeluarkan senyum.


"Oh, bagaimana dengan kerjaanmu itu, Va?" tanya Fendo.


"Baik, Pah. 2 hari lagi Viva masuk."


"Sebaiknya nanti kamu ajukan saja surat pengunduran diri," kata Fendo. Hal itu membuat Viva mengernyitkan dahi karena bingung.


"Kenapa, Pah?" tanya Viva.


"Benar kata Papah, Sayang. Sebaiknya kamu risegn saja. Kamu fokus saja pada suamimu, ya. Masalah lainnya biar Yudha yang atur. Tidak perlu memikirkan biaya lagi," jelas Ranty menambahkan.

__ADS_1


"Nanti Viva pikirkan lagi, Mah, Pah."


"Mengapa harus berpikir dua kali? Itu keputusan yang paling benar," imbuh Yudha. Viva seperti terpojok saja. Ia betah dengan pekerjaanya sekarang, tapi apa boleh buat jika begini keadaannya. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Bagaimanapun ia sudah mempunyai keluarga baru.


"Baiklah, besok aku akan ajukan surat pengunduran dirinya," jawab Viva.


**


"Haaa!! segede ini? ini seperti istana. Kalau tahu sebesar ini, aku akan bilang saja pada mertuaku untuk menyewa jasa IRT. Aku mana sanggup membersihkan rumah sebesar ini," gumam Viva. Ia menggigit bibirnya, membayangkan nanti ia menyapu dan mengepel rumah itu sampai tuntas. Bisa-bisa selesainya membutuhkan waktu tiga hari tiga malam.


"Mengapa diam saja? Mau sampai berapa jam berdiri di situ?" Suara Yudha mengagetkan Viva.


"Eh, iya, Mas. Barangnya, bentar aku ...." Viva bergegas menuju bagasi mobil Yudha untuk mengangkat barang-barang.


"Lansung masuk saja, biar aku yang angkat. Duluanlah, kodenya 161861," ujar Yudha tanpa melihat ke arah Viva.


"Oh begitu, baiklah." Viva menuruti perkataan suaminya.


"Hem."


"Mas! Apa tadi kodenya? Aku lupa," teriak Viva yang berdiri di depan pintu masuk.


"Maaf, Mas. Aku lupa," kata Viva yang merasa bersalah.


"Itu karena tidak mendengarkan dengan teliti." Yudha membalas dengan angkuh. Viva memanyunkan bibirnya.


Setelah masuk, Viva kembali terpukau melihat rumah yang sungguh mewah dan besar itu.


"Mas, rumahmu besar sekali. Kita bersihinnya berdua, yah." Viva memberi penawaran yang sebetulnya itu adalah mustahil disetujui Yudha.


"Kamu nggak butuh pembantu, jadi kamulah yang membersihkannya," sahut Yudha yang lalu berjalan meninggalkan Viva yang masih terpaku pada tempatnya berdiri.


"Oke, sekarang aku adalah pembantu laki-laki ini dan bukan istrinya. Sepertinya itu lebih bagus di dengar," ucap Viva bermonolog.


***


"Mas, kamar aku yang mana?" tanya Viva setelah mereka sampai di lantai atas.


"Di lantai bawah," sahut Yudha. Viva menyesal telah mengekori Yudha sampai ke lantai dua, yang ternyata kamarnya di bawah.

__ADS_1


"Tapi mengapa koperku dibawa ke atas, Mas?" tanya Viva yang melihat Yudha masih menarik koper milik dirinya dan milik Viva.


"Kamu berani tidur di bawah?" tanya Yudha kemudian. Viva baru menyadarinya. Walau ia terbiasa sendiri, tapi rumahnya cukup kecil dan rumahnya dengan para tetangganya saling berdekatan. Sehingga kadang masih bisa terdengar suara bayi yang menangis, ataupun suara perdebatan antara istri dan suami. Tapi sekarang, berteriak dari lantai bawah ke lantai dua saja sepertinya tidak terdengar.


"Nggak sih, tapi ... Jadi gimana dong, Mas?" rengek Viva. Ia memasang wajah sedihnya. Ia memutar bola matanya, mencari-cari kamar di lantai 2, namun tidak ada.


"Aku nggak suka beristirahat seperti di rumah Papa, suara bising orang masih terdengar membuatku terganggu," jelas Yudha mengingat Adya bersama istrinya dulu yang terdengar berisik.


"Kan bisa pakai kedap suara," sela Viva.


"Ini rumahku, maka desainnya pun sesukaku. Kalau mau tidur di bawah, silahkan," ujar Yudha.


"Mas, aku boleh satu kamar sama Mas?" tanya Viva dengan hati-hati. Ia tidak memikirkan takut karena ia tidur dengan laki-laki, karena ia sungguh yakin Yudha nggak akan macam-macam dengannya. Suaminya itukan gay. Tapi, ia hanya takut saja dengan Yudha yang terlalu dingin dan angkuh itu. Takut salah bicara.


"Terserahmu," jawab Yudha singkat lalu membuka pintu kamar dan memasukinya. Sedang Viva mengikuti suaminya.


Viva melihat desain kamar Yudha yang sama seperti kamar Yudha di rumah mertuanya. Desain kamar laki-laki berkelas. Walau itu benar-benar suasana ruangan laki-laki, tapi Viva tetap menyukainya.


"Mas, di sini nggak ada sofa. Apa aku tidur di sini?" Viva menunjuk sebuah meja dan kursi kerja Yudha.


"Tulang belakangmu akan bengkok tidur di situ," sahut Yudha sinis.


"Lalu?"


"Lihatlah ranjang itu, itu sangat luas."


"Apa nggak apa-apa aku tidur di situ juga?" tanya Viva lagi.


"Terserah padamu," sahut Yudha.


"Hem, iya deh. Aku tidur dengan Mas Yudha saja. Kalau gitu aku beres-beres dulu. Koperku kutaruh di situ, ya?"


"Tempat koper di atas lemari," jawab Yudha.


"Itu terlalu tinggi, bagaimana aku mengambil baju-bajuku?" tanya Viva yang mulai kesal dengan sikap Yudha.


"Kamu kira kamu menikah denganku hanya sehari dan lalu bercerai kemudian kamu keluar dari kamar dan rumahku ini?" pertanyaan terpanjang yang dilontarkan oleh Yudha.


"Mas, tinggal jawab saja yang sebenar dan sebetulnya bagaimana. Inikan rumah Mas Yudha, aku nggak berani jika sembarangan menyentuh dan meletakkan barang-barangku," ujar Viva kesal.

__ADS_1


__ADS_2